
Acara resepsi selasai larut malam. Pagi setelah resepsi. Hanan dan Zahwa masih tertidur selepas sholat subuh. Mereka baru bisa benar tidur jam 3 pagi.
Mereka istirahat di ruangan yang di gunakan untuk sambangan para santri. Bangunan dengan deretan ruangan berukuran masing-masing 3 x 4 menjadi tempat singgah mereka sementara.
Untungnya selama mereka tinggal di sana, bangunan itu di khususkan untuk para saudara dan juga keluarga Hanan saja. Jadi tidak terlalu bising.
Tok tok tok
Pintu kamar di ketuk oleh seseorang, rasa kantuk masih bertahan merajai mereka. Hanan yang saat itu terganggu dengan ketukan pintu, berdiri sempoyongan. Matanya menatap Zahwa masih tertidur pulas dia tidak ingin ketukan pintu itu mengandung tidurnya.
''Iya, ada apa?'' Tanya Hanan seraya membuka pintu.
Dengan kondisi rambut acak-acakan muka bantal dan juga kemeja dengan kancing yang terbuka tiga. Sontak membuat mbak - mbak santri di depannya langsung menundukkan matanya.
''Ada apa?'' Tanya Hanan, dia masih merasa mengantuk. Tapi dua orang di depannya malah diam tidak menjawab. Bengong lagi.
''Nganu_ nganu _ niku," Salah satu dari mereka berbicara terbata-bata.
''Ada apa?'' Tanya Lagi Hanan.
''Niku , diaturi dahar sarapan. Sampun di tenggo kaleh Abah yai '(Itu, ajak sarapan. Sudah di tunggu Abah yai )'' Jawab santriwati itu segera. Mereka gugup, karena Hanan tidak melepaskan pandangannya dari mereka.
Para santriwati, tidak terbiasa menerima pandangan secara intens. Apalagi, dari laki-laki yang luar biasa tampan.
''Oh, iya. Terimakasih.'' Ucap Hanan.
''Assalamualaikum,'' Salam ke dua santriwati dan undur diri. Mereka langsung berlari kecil setelah jauh dari kamar Hanan.
Hanan menutup pintunya dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Tidak mengerti, kenapa mereka berlari setelah melihatnya.
Jam menunjukkan pukul 8 lebih. Zahwa masih terlelap, Hanan menghampiri dirinya. Memijat kakinya dan membenarkan posisi selimut yang tersibak.
Sepertinya Zahwa kelelahan. Wajar saj, seharian dia tidak berhenti bekerja. Mundar-mandir ke sana kemari. Hanan sempat melihat, Zahwa juga menemui beberapa tamu undangan. Menyuguhkan camilan, dan menawarkan minuman. Dia juga berbincang dengan beberapa sanak keluarga dari Zahra.
Semakin lama bersama, semakin ia mengetahui sosok istrinya seperti apa. Hanan berganti, mengelus lembut kening istrinya, menyibak rambut depan yang menutupi wajah cantiknya. Entah mengapa, Hanan tidak suka ada yang menghalanginya wajah cantik istri tersebut.
Setelah beberapa lama dia memandang istrinya dia mengambil ponselnya. Dia mengirim pesan pada kakaknya, Surya.
Kak , aku akan sarapan nanti saja. Zahwa masih belum bangun. Dia kecapekan. Salam saja nanti sama Abah yaim
Kemudian, mengirim pesan untuk Hanif. Dia belum sempat berbincang banyak karena acara pernikahan kemarin. Hanya bertegur sapa dan mereka sudah sibuk masing-masing.
Aku minta tolong. Belikan beberapa makan. Istri ku masih tidur. Nggak tega bangunin. Kirim ke kamarku, ya.
Selepas itu dia merapikan ruang tersebut. Cukup berantakan karena kemarin mereka lebih menghabiskan waktu di luar dari pada di kamar. Datang ke kamar hanya untuk ganti baju dan kemudian pergi lagi.
__ADS_1
Ponsel Hanan berbunyi, tanda ada pesan yang masuk . Hanan melihatnya, dari kakaknya dan juga Hanif.
*Kak Surya*
Apa Zahwa baik-baik saja? nanti agak siangan kita di ajak sowan Abah yai. kalian bisa ikut?
Hanan belum bisa memastikan. Dia akan melihat kondisi Zahwa terlebih dahulu. Jika tidak di mungkinkan, mereka akan tetap tinggal saja di sini.
*Surya .
Tempatnya di Trenggalek. Yang akan kita kunjungi di daerah pesisir pantai. Zahwa pasti senang di sana. Dia suka pantai*.
Hanan membaca kembali isi pesan dari kakaknya lagi. Mendengus kesal, karena kakaknya itu seperti lebih tahu apa yang di sukai istrinya.
Zahwa masih tidur. Ikut atau tidak, lihat kondisi dirinya dulu.
Hanan mengirim balasan untuk Surya. Kemudian berlanjut membaca pesan dari Hanif.
Ok. 15 menit lagi aku ke kamarmu.
Isi pesan dari Hanif. Hanan hanya membalas ok. Sambil menunggu Hanif datang, Hanan bersiap mandi. Tubuhnya akan lebih segar dan rasa lelah akan hilang juga.
Sehabis mandi, Hanan mendengar pintu di ketuk lagi. Sebelum pintu itu mengeluarkan suara ketukan berkali-kali lagi dia langsung membukanya.
''Taruh di situ aja kang," Kata Hanif meminta santri tersebut meletakkan nampan berisi beberapa macam makanan.
''Kenapa repot-repot. Aku kan minta untuk sarapan saja, tapi kamu membawa banyak makan ke sini'' Ujar Hanan.
Dia keluar , menutup pintu kamar. Dia mengambil nampan yang di bawa Hanif dan meletakkan pada meja yang ada di depan kamar tersebut. Kini meja tersebut , penuh dengan makanan.
''Seharusnya aku yang protes. Di sini aku di segani, tapi kau dengan santainya masih menyuruh-nyuruh ku.'' Protes Hanif, dia duduk di sisi kursi yang lain.
''Aku minta tolong, aku kira kau akan meminta santri mu untuk mengantar makanannya. Tapi malah, kau antar sendiri. Apa salah ku,'' Balas Hanan cuek.
Pertemanan mereka cukup lama. Meskipun latar belakang Hanif adalah dunia pesantren, tapi dia tetap tidak segan berteman dengan siapapun. Dan Hanan, dia juga teman yang menyenangkan karena dia tidak pernah membeda-bedakan pertemanan. Dan itulah yang membuat keduanya bisa bersahabat sampai sekarang.
''Apa Zahwa masih tidur?" Tanya Hanif.
''Iya. Mungkin kecapekan.'' Jawab Hanan
Dia malai mengemil gorengan yang masih hangat dengan lalap cabe hijau. Hanif, juga melakukan hal yang sama. Sudah lama mereka tidak duduk menghabiskan waktu bersama. Seperti sedang bernostalgia, saat-saat sedang nongkrong bersama.
''Selamat, aku dengar Zahwa hamil. Akhirnya kerja keras mu membuahkan hasil.'' Lontar Hanif.
''Hahaha... Pekerjaan yang paling aku suka itu, tidak akan lelah aku melakukannya.''
__ADS_1
Blush ! Hanif sampai malu sendiri mendengar Hanan mengatakan hal itu. Jiwa jomblonya meronta-ronta.
''Kau berbicara itu, tidak memikirkan perasaan ku bro!''
''Mangkanya. Cepetan nikah. Ada gadis gak yang mencuri perhatian mu?''
''Hah! Jangan bicara soal itu lah. Gadis mah banyak, tapi nyari yang cocok itu sulit. Enak dirimu, tanpa milih langsung nikah."
''Wajarlah bro! Kalau masih perjaka orang pasti nanya kapan nikah? Nanti kalau udah nikah ganti kapan punya anak ? dan setelah punya anak pertanyaan kapan kakaknya punya adik?''
Hanif manggut-manggut mendengar perkataan Hanan. Di saat ini, Hanan lebih berpengalaman dari pada dirinya.
''Tapi kayaknya aku gak bakalan nikah dulu deh . Pengen lulus dulu, terus bangun usaha kemudian nanti baru mikirin nikah.'' Ujar Hanif .
''Gua punya anak 5 Lo masih perjaka bro!''
''Hah... Ya gak lah. Masak Lo mau buat anak setahun sekali.''
''Kenapa tidak, udah punya pabriknya gua.''
Hanif hanya bisa menelan ludah. Saat ini berbicara soal pernikahan dan anak, tetap akan kalah dengan Hanan. Dia akan bisa menjawab bantahannya, walaupun itu adalah alasan yang masuk akal sekalipun.
''Ok ok! Paham - paham.'' Pasrah Hanif.
Kemudian mereka terdiam sejenak, menikmati semilir angin yang menerpa mereka. Hari mulai siang, namun suasana masih terasa senyap Mungkin karena banyak orang yang masih menghabiskan waktunya di kamarnya. Atau mungkin sudah berada di halaman pesantren untuk membereskan peralatan acara tadi malam.
''Tadi Abahnya Zahra mengajak ku ke Trenggalek. Apa kau juga ikut?'' Tanya Hanif.
Di bertanya karena Surya dan Zahra di ajak juga. Mungkin saja Hanan dan Zahwa di tawari juga.
''Iya. Tapi, gak tau juga. Lihat kondisi Zahwa dulu." Jawab Hanan
''Jalanan ke sana cukup curam. Kita akan melewati pegunungan dan juga jurang. Kalau kondisi Zahwa, tidak stabil mending di istirahat saja. Aku akan bilang ke Abah yai.'' Kata Hanif.
Hanan pernah sekali ke Trenggalek. Saat dia masih duduk di bangku SMA. Di sana dia sedang melakukan tamasya di pantai pasir putih. Jalan saat itu memang cukup mengkhawatirkan.Tapi tidak terlalu curam.
''Beda dengan pasir putih?'' tanya Hanan karena yang dia tau dari kota Trenggalek adalah pantai pasir putih saja.
''Hah! Pantainya? rumah saudara yang akan kita kunjungi ada di pelosok Trenggalek. Bahkan ujung gunung. Tapi, jika di bandingkan pasir putih pantai di sana lebih indah. Masih perawan istilah mereka, karena belum terjamah oleh banyak orang."
Hanan menuangkan air dari teko ke dua gelas air. Dan memberikan satu gelas lagi yang sudah berisi pada Hanif.
''Tapi, jalan menuju ke sana naik turun. Mangkanya, jika Zahwa gak stabil mending gak usah ikut aja. Kasihan nanti, tambah capek.''
Hanan masih diam. Dia memikirkan ucapan Hanif, tapi dia juga mempertimbangkan pesan Kakaknya yang mengatakan jika Zahwa suka pantai. Lagipula, selama ini mereka belum pernah ke pantai.
__ADS_1