
****
Zahwa masuk kamarnya dengan kesal. Dia lempar tas selempang yang di bawanya begitu saja.
"Dia berlagak bijak di depan semua karyawannya tapi saat bersamaku? Bersikap baik saja tidak pernah," Umpat Zahwa kesal.
Kejadian di kantor tadi seakan mengganggu pikirannya. Menyesal, karena dia pergi ke sana. Menyesal juga telah mengkhawatirkan suaminya yang bahkan tidak sama sekali membutuhkan dirinya.
"Aku bersumpah tidak akan lagi pergi ke sana!' Ujarnya lagi.
Cling
*Mas Surya*
[Kamu dimana? Sudah pulang, kah?]
Pesan singkat dari Surya. Karena marah, dia lupa berpamitan dengan Surya, Padahal tadi dia berangkat bersama dengan dirinya,
[Aku sudah pulang. Maaf aku lupa mengabari mu]
Balas Zahwa dan mengirim chat balasan itu.
"Non, ada tamu." Kata bik asih yang tiba-tiba sudah terlihat di ambang pintu.
"Siapa, Bik?" Tanya Zahwa
"Kurang tahu, Non.Mencari mas Hanan," jawab bik asih
"Baiklah. Aku akan menemuinya," kata Zahwa
Zahwa kembali ke ruang tamu, melihat siapa yang datang bertamu dan mencari suaminya itu.
"Assalamualaikum!" Salam Zahwa. Kepada dua orang di tamunya.
" Waaikumsalam..." balas mereka berdua
Zahwa terlihat mengamati ke dua tamu tersebut. Satu laki-laki dan perempuan berparas cantik dan terlihat lembut.
"Perkenalkan, saya Hanif. Teman Hanan," Kata Hanif dengan menjulurkan tangannya. Zahwa menyambut nya dengan senyuman.
"Saya Zahra," Kata wanita cantik itu. Bergantian bersalaman dengan Zahwa.
"Saya Zahwa," dia memperkenalkan dirinya.
Mata Hanif memandang Zahwa dari atas sampai bawah. Dia memang mengetahui tentang dirinya, tetapi ini pertama kalinya dia bertemu dengan Zahwa.
"Kalau boleh tahu, ada perlu apa?Apa perlu saya telepon kan mas Hanan?" Tanya Zahwa.Dia merasa sungkan karena melihat teman suaminya itu terlihat berkelas.
"Tidak. Aku sudah bertemu dengan dirinya tadi pagi. Hanya saja aku lupa mengantar kan ini. Jadi aku sengaja mampir," Kata Hanif. Dia menyodorkan beberapa kertas, seperti brosur.
Zahwa melihat kertas tersebut. Brosur
University College London (UCL). University yang saat ini menempati peringkat sebagai Universitas terbaik di dunia untuk belajar Arsitektur. Universitas ini berlokasi di London Inggris sebagai Universitas penelitian publik.
Zahwa memandang dengan bingung. Dari wajah nya sudah bisa ditebak , bahwa dia tidak mengerti maksud kenapa Hanif menyerahkan brosur itu. Untuk apa juga ?
__ADS_1
"Hanan sudah mendaftar, untuk selanjutnya dia bisa melihat informasi lainya di alamat email yang tertulis di brosur itu," kata Hanif seakan menjawab kebingungan Zahwa.
"Mas Hanan mendaftar di UCL? Dia tidak bilang apapun?" Zahwa semakin bingung. Hatinya seakan di remas mendengar kenyataan ini.
"Mungkin dia belum berani memberikan kabar ini. Tapi ini sudah dia rencanakan, setelah Surya kembali giliran dia melanjutkan studi pasca sarjananya, " terang Hanif
"Kamu istri nya Hanan. Mungkin dia takut memberi tahukan kepadamu. Dia perlu waktu," kata wanita bernama Zahra itu.
Zahwa masih belum percaya dengan apa yang ia ketahui sekarang. Ini seakan membuktikan bahwa dirinya tidak berarti apa-apa di hadapan Hanan. Bahkan orang luar, sudah lebih dulu mengetahuinya.
"Iya. Mungkin dia belum sempat memberitahukan masalah ini kepada ku," Kata Zahwa dengan senyum miris.
"Nanti saat kamu menanyakan masalah ini. Jangan membuat dirinya kesal, apalagi menyudutkan dirinya. Tolong beri dia waktu untuk menjelaskan," kata Zahra. Dia seakan tahu apa yang akan di lakukan Zahwa terhadap Hanan.
Zahwa menatap Zahra kenapa dia merasa bahwa wanita itu begitu peduli dengan suaminya.
"Baiklah. Terima kasih atas perhatiannya," balas Zahwa.
Bik asih membawa nampan berisi minuman dan beberapa cemilan. Zahwa mempersilahkan mereka untuk menikmati nya terlebih dahulu.
"Aku belum begitu mengenal mu , apa boleh aku meminta nomer ponselmu?" Tanya Zahra
"Boleh, " Zahra mengeluarkan ponselnya dari saku gamisnya. Menyebutkan beberapa digit nomor ponselnya.
"Aku juga boleh menyimpannya?" Tanya Hanif. Dia terlihat ragu.
"Silahkan," jawab Zahwa.
Ini pertama kalinya Zahwa berteman dengan teman suaminya. Mungkin ini tidak buruk pikir Zahwa.
"Iya, kami satu universitas. Tapi berbeda jurusan. Hanan teman yang baik. Kamu beruntung mendapatkan dirinya," kata Hanif
Zahwa senang mendengarnya. Terlihat dari bibirnya yang merekah.
"Begitu kah? Tapi aku lihat dia begitu jahil, " kata Zahwa menimpali.
"Hahahaha. Iya dia memang seperti itu , terkadang menjengkelkan sekali," Tambah Hanif
"Tapi dia banyak yang menyukai_" kata Zahra .
"Eh, " Zahwa terlihat tertarik dengan perkataan Zahra. Mengingat kejadian di kantor tadi perkataan Zahra cukup bisa di benarkan.
"Tetapi dia tidak pernah pacaran," Kata Hanif menenangkan hati Zahwa.
"Benarkah? Apa tidak ada yang dia sukai?" Tanya Zahwa. Dia mulai penasaran dengan kisah suamimya.
"Ada," kata Zahra cepat.
Lagi-lagi wanita itu lagi, entah mengapa Zahwa tidak menyukai nya. Apalagi senyuman yang mengembang di bibir merahnya itu.
"Itu tidak penting. Yang terpenting sekarang dia suamimu. Dan dia menyukai mu," kata Hanif menyela. Dia di antara dua wanita temannya itu , dia bisa saja gila. Jika kedua wanita itu , sama-sama saling beradu mulut.
"Baiklah, kami akan pulang. Sudah terlalu lama . Salam saja untuk Hanan," pamit Hanan. Dia harus segera memisahkan dua wanita itu.
Zahwa terlihat kurang senang, karena mereka tiba-tiba pamit pulang. Baru saja dia ingin mengetahui masa lalu Hanan.
__ADS_1
"Kenapa begitu cepat?'' Protes Zahwa.
Baru juga dia ingin mengetahui kisah-kisah masa lalunya suaminya. Tapi temannya sudah ingin berpamitan.
Hanif sudah berdiri. Dia mengisyaratkan Zahra untuk mengikutinya.
"Kamu lihat. Banyak sekali yang harus aku antar," kata Hanif dengan memperlihatkan segepok brosur dan lainya seperti yang dia berikan untuk dirinya.
"Wah, ternyata tukang pos juga," canda Zahwa .
Gelak tawa terdengar dari mereka berdua. Zahra terlihat masam, tapi dia juga ikut tertawa. Meskipun terlihat terpaksa.
Mereka berdua berpamitan dan Zahwa tidak bisa menahannyam Lagipula dia baru saja mengenal mereka.
Setelah kepergian mereka Zahwa membawa brosur beserta kertas lainya. Dia mengamati , membaca nya dan menimbang apa yang sedang bercampur di dalam pikirannya .
"Kali ini mas Hanan harus menjelaskan dengan sejelas-jelasnya, " katanya geram.
Zahwa menyimpan itu semua dalam lemari.
Ponsel Zahwa berbunyi, nama Bella tertera di layar ponselnya itu. Dia senang. Bella menelpon di waktu yang tepat.
"Assalamualaikum..." salam Zahwa. Dia menekan loads speaker.
"Waalaikumsalam," balas Bella , dia terdengar senang.
"Apa kabar?"
"Baik. Kamu sendiri Zahwa? Apa kabar mu? Bagaimana juga dengan Hanan ? Surya juga? " Tanya Bella beruntun.
"Baik dan sedikit buruk," jawab Zahwa masam
"Kenapa ? Apa yang terjadi ? Kau bertengkar dengan Hanan lagi, " Bella seakan hafal dengan keluhan Zahwa.
"Tidak hanya itu. Ini lebih parah," kata Zahwa. Dia seakan malam mengatakannya.
"Ada apa?" Tanya Bella penasaran
"Mas Hanan akan melanjutkan pasca sarjana nya ke London. Dan kau tahu? Aku mengetahui nya dari temannya yang baru saja bertamu, " jawab Zahwa
"Apa yang buruk dari itu? Kau bisa ikut dengannya. Tinggal di London beberapa tahun tidak masalah," kata Bella seakan itu bukan masalah buruk.
"Apa kau pikir mas Hanan akan mengajak ku?" Tanya Zahwa malas.
"Kenapa tidak, apa kau mau sendiri di sini. Atau jangan-jangan kau malah senang suami mu itu pergi , dan kau bisa bersama dengan Surya" Canda Bella .
"Keterlaluan. Kamu berfikir aku sampai seperti itu," kesal Zahwa.
''Lantas apa yang membuat mu berfikir bahwa Hanan tidak akan mengajak mu?" Bella seperti sedang mencari isi pikirannya Zahwa.
"Dia saja mengusir ku dari kantor. Aku dengar dia berbicara dengan sekretarisnya akan mencari calon istri dari salah satu pegawai magang di kantor itu. Bukankah itu menggelikan, " Zahwa terdengar marah menjelaskan hal itu.
"Kamu sedang cemburu?" tanya Bella dengan girang tanpa beban.
"Mana mungkin begitu. Aku bahkan tidak mencintainya," bantah Zahwa.
__ADS_1