
Seperti biasa kegiatan pagi dengan sarapan bersama dan menyiapkan keperluan kantor.
Kali ini Zahwa dan Hanan terlihat sama-sama canggung. Kejadian tadi malam, walaupun seperti tidak merasa apa-apa itu seakan membekas di benak keduanya.
Setelah bangun tidur hingga sarapan mereka sama sekali belum saling menyapa, malah terlihat sedang menghadiri satu sama lain. Menganggap tidak terjadi apa-apa sepertinya masih sulit.
"Bik, tolong ambilkan rotinya lagi." Pinta Hanan
Bik asih terlihat bingung karena posisi roti itu dekat dengan Zahwa. Tapi Hanan malah menyuruhnya yang sekarang ada di dapur.
Zahwa melihat bik asih, mengisyaratkan bahwa dirinya saja yang mengambilnya. Bik asih mengiyakan dengan mengangguk kan kepala.
Zahwa mengambil satu piring dan meletakkan satu potong roti yang masih belum di beri selai. Dia meletakkan di depan Hanan tanpa mereka bicara ataupun menatap.
"Kalian sedang bertengkar?" Tanya Elena yang sudah dari tadi memperhatikan tingkah Zahwa dan Hanan.
"Tidak!" Jawab Hanan dan Zahwa hampir bersamaan.
Elena menelan ludah mendengar jawaban keras dari keduanya. Hanan dan Zahwa saling melirik dan kemudian terlihat canggung lagi.
"Selamat pagi,'' Sapa Surya. Dia baru saja datang. Dan langsung bergabung untuk sarapan.
__ADS_1
Tidak ada yang menjawab salamnya. Surya melihat orang-orang di depannya. Dia menemukan suasana dingin diantara mereka.
"Ada apa?" Tanya Surya
Elena memberikan isyarat jika ada yang tidak beres antara Zahwa dan Hanan.
"Hanan, apa kalian sedang bertengkar?" tanya Surya, mengulangi pertanyaannya Elena.
"Tidak. Kami tidak bertengkar!" Jawab Hanan. Kali ini Zahwa diam.
"Ok," kata Surya. Dia tidak boleh ikut campur bukan.
Setelah mereka selesai makan, seperti biasa Zahwa mengantar Hanan berangkat kerja sampai teras belakang. Mereka masih sama-sama diam.
"Iya, hati-hati" kata Zahwa. Dia mencium punggung tangan Hanan.
Hanan ingin pergi tapi masih saja terpaku melihat Zahwa. Kejadian tadi malam benar mengusik dirinya.
"Aku tidak apa-apa, pergilah!" Ujar Zahwa setelah mengetahui Hanan masih saja tidak beranjak dari tempatnya, dan masih saja menatapnya. Sebenarnya dia sedang sangat malu di tatap seperti itu.
"Oh , baiklah. Hari ini aku tidak lembur, jadi kamu tidak usah menungguku," pesan Hanan. Dia terlihat salah tingkah. Gugup dan tidak mengerti harus berbuat apa.
__ADS_1
Zahwa mengangguk dengan lembut mendengar pesan suaminya itu. Dia tidak berani mengangkat kepalanya dan hanya menunduk. Tidak seperti biasanya bukan, tapi itu manis sekali.
Hanan mulai meninggalkan istrinya itu yang masih berdiri hingga dia tidak ia tidak terlihat lagi.
Setelah Hanan benar-benar pergi. Zahwa langsung masuk ke dalam, dia menghambur ke halaman belakang. Berharap tidak ada orang yang mengetahui dirinya seperti itu.
Zahwa duduk di kursi depan kolam renang. Dia mengusap wajahnya yang panas karena rasa malu dan rona merah yang entah sejak kapan sudah menghiasi wajahnya itu.
"Mbak Zahwa?" Panggil Elena.
"Eh, ada apa? Apa kau perlu sesuatu?" Kata Zahwa, dia menyembunyikan rasa gugupnya. Hingga membuat elena malah mengetahuinya.
"Kamu dan mas Hanan? Apa tadi malam__"
"Tidak! Tidak! Tidak! Aku tidak melakukan apa-apa yang seperti yang kamu pikirkan, " Sahut Zahwa sebelum Elena menyelesaikan omongannya.
"Eh, aku tidak sedang bertanya soal itu. Aku kira kalian sedang bertengkar lagi," Kata Elena dengan senyum jahil. Zahwa menepuk jidatnya. Dia sendiri yang malah mengatakannya sendiri tentang apa yang terjadi tadi malam.
"Tidak apa-apa. Kalian sudah menikah, itu wajar." Kata Elena lagi.
"Tidak. Sebenarnya aku dan mas Hanan_ "
__ADS_1
"Apa tadi malam masih pertama kalinya?" tanya Elena penasaran . Bola matanya terlihat membesar karena menunggu jawaban Zahwa. Dia sangat penasaran.
Dengan pelan Zahwa mengangguk seraya menutupi wajahnya yang kembali merona.