Hati Yang Terpilih

Hati Yang Terpilih
Episode 21


__ADS_3

Untung aku kembali pulang, karena ada beberapa berkas yang ketinggalan. Kalau tidak, aku tidak akan mendengar kan penghinaan tadi," kata Hanan


Zahwa diam dan merasa bersalah. Tapi dia juga tidak bisa membantah karena dia tahu apa yang di katakan tidaklah salah.


"Apa itu? Lukisan yang jelek!" Komentar Hanan dengan melihat lukisan Zahwa yang barusan ia jemur.


Seperti halilintar di siang bolong Kata itu begitu keras dan menusuk hati Zahwa. Bahkan orang yang di depan sama sekali tidak peduli sudah sekeras apa dia menamparnya dengan kata-kata itu. Dia pergi, memperlihatkan punggung yang semakin menjauh.


Kata-kata itu masih terngiang di benak Zahwa. Kenapa? Kenapa harus dia dengar lewat mulut suaminya. Apa benar jika setelah menikah, suami mengambil alih tugas orang tua. Dia mengantikan posisi mereka, termasuk menghina karyanya.


Jika memang salah? Kenapa tidak berbicara dengan baik. Dia akan meminta maaf dan tidak akan mengulanginya.


Tubuh Zahwa seketika lunglai, bersama punggung Hanan yang tidak lagi terlihat. Air matanya jatuh.


Kenapa? Kenapa dia menangis? Bukannya sudah banyak orang yang memperlakukan dirinya dan lukisannya seperti itu. Jika ada satu orang lagi kenapa harus selemah itu rasanya. Seakan persendian tidak lagi berfungsi, hanya nafas yang ada dan kenapa juga harus ada. Agar dia semakin yakin tidak lagi merasakan sakitnya.


Air matanya keluar, membasahi pipinya begitu deras, hingga tangan yang berkali-kali dia tugaskan untuk menghapusnya merasa lelah juga. Air mata itu tidak berhenti juga.


Hanan, dia sudah di bawah memegang berkas di tangannya. Dia ingin memasukan ke dalam mobil. Tapi tangannya terhenti, melihat tetesan air di pergelangan tangannya. Dia melihat sekitar, tidak hujan mungkin itu pikiranya dan segera mencari sumber dari tetesan air itu.


Hanan melihat atas dan melihat Zahwa dengan air matanya. Dia terkejut. Zahwa memegang lukisannya dengan cengkraman kuat.


Gantian Hanan yang merasa bersalah. Pandangannya nanar seketika. Dia ingin kembali kepada Zahwa , tetapi dia juga harus kembali ke kantor.


"Non Zahwa tidak apa-apa?" Tanya bik asih


Pertanyaan bodoh. Sudah jelas dia sedang menangis. Tetapi mungkin itu pertanyaan kasih sayang, yang juga mengartikan tidak apa-apa semua akan baik-baik saja.


"Yang sabar ya, Non," mungkin kalimat itu yang hanya bisa dia lontarkan saat itu.


Selama ini Zahwa begitu terlihat kuat. Dia tidak lagi mengeluh kepada siapa pun. Meskipun banyak sekali yang semestinya dia keluhkan dan sesalkan.


Hari ini dia melihat wajah Zahwa dengan senyum cerah dan bersemangat yang selalu dia perlihatkan saat dimana dia menyelesaikan lukisannya. Hanya dia dan lukisannya yang mengetahui rasa hatinya. Bahkan bik asih , hanya bisa ikut bahagia saja tanpa mengerti apa-apa. Mungkin asalkan dia bahagia.


Tetapi hari ini juga dia melihat air mata yang seakan dia tahan sejak lama. Bahkan dia tidak seperti ini ketika orang tuanya meninggal.


Bik asih menuntun Zahwa pergi ke kamar. Membaringkan nya dan memberikan air minum yang sudah ada di atas meja laci di sebelah tempat tidurnya.


Dia meminum dengan masih sesenggukan. Dia kembali menenggelamkan wajahnya pada bantal di sampingnya , merengkuh tubuhnya sendiri.


"Aku ingin sendiri," kata Zahwa .


Tanpa menambah bicara , bik asih segera keluar dari kamar Zahwa. Berharap dengan seperti itu dia akan baik-baik saja.


Mungkin hanya itu yang dia bisa lakukan. Mengeluarkan air matanya sebanyak yang bisa dia keluarkan. Berharap semua letih dan rasa sakit nya juga ikut keluar, menghilang bersamaan dengan air mata itu.


****


Sore itu Hanan pulang lebih cepat. Ingin segera menemui Zahwa. Seharian dia tidak konsentrasi dengan pekerjaan. Membuat Zahwa menangis untuk pertama kalinya, karena perkataan yang sebenarnya dia juga tidak bermaksud mengatakannya.


"Zahwa dimana, bik?'' tanya Hanan, ketika dia menemui bik asih yang sedang menyapu halaman.

__ADS_1


"Ada di kamar mas," jawab bik asih agak ketus. Di mungkin ikut kecewa dengan sikap Hanan tadi.


"Aku benar tidak bermaksud seperti itu. Aku kira dia akan menganggap itu candaan seperti biasanya," jelas Hanan. Walaupun bik asih tidak menanyakan kejadiannya tapi bik asih sudah menunjukkan sikap bahwa dia mengetahui semuanya. Bik Asih ikut marah dengan dirinya.


"Saya tidak tahu mas," kata bik asih dan langsung meninggalkan Hanan.


"Haduh, Bik jangan ikut marah. Aku sudah bilang aku tidak sengaja," jelas Hanan


Satu wanita saja sudah membuatnya kesulitan ini di tambah satu lagi.


"Tidak semuanya bisa di buat bercanda. Non Zahwa itu sangat suka melukis. Dia mencintai hobinya. Tetapi orang tua dan keluarga lainnya tidak menyukai non Zahwa melakukan hobi nya tersebut. Selama ini dia tertekan dengan larangan itu dan selalu diam - diam mengingkarinya. Belum lagi perasaan bersalah kepada orang tuanya," jelas bik asih membuat Hanan semakin bersalah. Dia sama sekali tidak mengetahui itu semua.


"Aku benar-benar tidak tahu bik dan tadi aku hanya ingin membalas perkataannya yang mengatakan aku tidak peduli dengan dirinya," kata Hanan menyesal. Dia terpukul.


"Bukankah itu benar, Mas?" Kata bik asih. Dia ingin segera pergi dari Hanan. Tapi di cegah olehnya.


"Aku tidak seperti itu. Hanya saja," Hanan tidak bisa meneruskan ucapannya.


"Mas tahu. Meskipun non Zahwa belum bisa sempurna menjadi istri tapi dia berusaha mengutamakan mas Hanan. Dia menangis dan khawatir saat mas Hanan keluar tanpa pamit kepada siapa pun. Dia sampai harus bertengkar dengan mas Surya, karena menganggap mas Surya ikut campuri urusan mas Hanan dan non Zahwa. Padahal mas Surya sudah baik kepada non Zahwa dia bahkan memasak tumis kangkung kesukaan non Zahwa. Tapi karena menunggu dan mengkhawatirkan mas Hanan dia tidak makan malam." Cerita bik asih. Dia sepertinya terbawa emosi juga.


Kali ini Hanan tidak mencegah bik asih pergi dari hadapannya. Dia masih terpaku berjalan lunglai menuju ruang tamu . Dia rebahkan tubuhnya meskipun yang lebih lelah adalah hatinya.


Sebenarnya dia tahu, Surya juga mengatakan hal yang sama malam itu. Dia pun juga mendengar isakan dalam kamarnya tetapi saat di lihatnya. Zahwa sedang menatap laptop di depannya. Dia pun juga tahu kalau dia hanya berpura-pura karena akan malu jika dia terlihat menangisi dirinya. Tapi apa dayanya dia juga tidak kuasa. Meskipun dia suaminya, apa dia sudah menjadi suami dalam artian di dalam hatinya.


Tidak ada yang mengetahui jika dia juga merasa sakit, saat dia melihat Zahwa menangis. Tapi apa dia di berikan hak untuk menghapus air matanya sekarang?


Hanan Frustasi. Dia mengusap-usap wajahnya . Dengan segera dia menuju lantai atas. Langkahnya terhenti, saat dia melihat lukisan Zahwa masih ada di teras. Dia mengambil dan memasukannya dalam tas. Dia juga melihat beberapa kuas dan cat air yang sudah usang. Masih bagus sebenarnya, tapi mungkin karena terlalu lama di simpan.


"Baru saja di bilangin, tapi sudah mengulanginya lagi," kesal bik asih. Entah karena kesal atau apa. Saat itu bik asih ikut tidak menyukai Hanan. Meskipun dia adalah majikannya.


Beberapa saat setelah Hanan pergi. Surya datang . Dia juga bingung dengan kepergian Hanan.


"Mau kemana hanan bik? Kok terlihat buru-buru?" tanya Surya


"Tidak bilang apa-apa kepada saya, Mas" jawab bik asih.


Surya menangkap perubahan sikap bik asih kepada Hanan.


"Ada apa, Bik?'' tanya Surya


"Non Zahwa mas," jawab bik asih ragu


Dia masih ragu. Akan menceritakan kejadian itu atau tidak kepada Surya. Tapi, melihat Hanan sekarang tidak ada di rumah dan malah pergi setelah mendengar keadaan Zahwa beliau semakin ingin menceritakan kejadian itu pada Surya.


"Kenapa Zahwa?" tanya Surya. Dia ikut khawatir


"Non Zahwa menangis, Mas. Sampai sekarang dia tidak keluar kamar," Jawab bik asih akhirnya


Surya terlihat masih bingung. Menangis, ada apa?


Bik asih menceritakan semua kronologi kejadiannya kepada Surya. Dia juga terlihat serius mendengarkan, bik asih juga terlihat menahan haru.

__ADS_1


"Aku akan coba berbicara dengannya," Kata Surya setelah dia mendengar cerita bik asih.


Melukis. Dia tahu kalau Zahwa suka melukis . Dia juga pernah melihatnya melakukan itu pada waktu di kampus dulu. Tetapi Zahwa, tidak pernah cerita jika hobinya itu di tentang banyak orang. Apa dia yang tidak menyadarinya ketika saat dia mengetahui Zahwa melukis dulu. Dia selalu membungkus lukisan itu dan bahkan ketika ada orang yang menginginkan nya dengan gampang dia akan memberikannya. Dia pikir mungkin itu hanya lukisan. Tetapi ternyata itu sangat berarti untuk dirinya.


"Zahwa, apa kau baik-baik saja?" Surya, dia sudah di depan pintu kamarnya. Dia juga bersalah saat itu , karena sampai saat ini dia tidak mengerti kalau Zahwa suka melukis.


Beberapa saat kemudian Zahwa membuka pintu. Dia terlihat berantakan. Bahkan matanya sebab, bengkak karena terlalu banyak air mata yang ia keluarkan.


" Maaf...Maafkan aku. Lagi-lagi aku berharap tidak akan ada lagi orang yang mencelaku," katanya lagi . Dia terlihat buruk .


Surya menuntunnya untuk kembali ke dalam kamar mendudukkan di atas ranjang.


"Kenapa semua orang membenci apa yang aku lakukan. Apa aku salah? Apa aku pernah berkata buruk dengan mereka sehingga mereka tidak menyukainya, "


"Kenapa selalu ada orang yang ingin mengatur hidupku. Seakaan yang di katakan itu adalah hal baik yang harus aku patuhi. Apa yang aku lakukan tidak ada artinya apa-apa. Salah ku apa? Aku tidak pernah mengganggu mereka, tidak juga mengomentari hidup mereka. Tapi kenapa banyak sekali orang yang ingin mengatur hidup ku. Apa yang aku suka dan tidak suka. Semua harus sesuai dengan karakter mereka?!"


"Aku menyukaimu. Tapi orang lain menyuruhku menikahi orang lain. Bahkan, dia saja tidak mengenal ku sebelumnya,"


Kata-kata itu seakan menusuk hati Surya. Mungkin yang di maksud adalah orang tuanya. Tapi, ada kebahagiaan juga, ketika dia mengatakan masih menyukai dirinya.


"Aku benci! Ketika ada orang mengunakan nama ku untuk kepentingan dirinya sendiri. Seolah berkata, ini untukmu. Tapi itu semua hanya untuk mereka sendiri," Lanjut Zahwa. Seperti nya dia sedang meluapkan emosinya setelah lama ia pendam.


Surya ingin memeluknya. Tapi, apa daya, dia hanya bisa melihat dan memberikan sapu tangan untuk dia hapus dengan tangan nya sendiri.


Untuk pertama kalinya dia melihat Zahwa begitu hancur seperti ini. Bahkan saat dia mengetahui bahwa Surya adalah kakak suami dia tidak se hancur ini.


Begitu berpengaruh kah perkataan Hanan. Hingga perkataan yang sebenarnya sederhana , bisa membuat nya hancur seperti itu. Bahkan Hanan saja mengakui jika dia hanya menggodanya. Atau mungkin, karena lukisan yang sangat berharga menurutnya. Hingga dia tidak bisa mendengar satupun orang mencelanya.


"Aku aku akan menyuruh Hanan untuk minta maaf," kata Surya menenangkan.


"Untuk apa? Tidak akan berarti lagi. Mungkin dengan kata maaf bisa menghapus kesalahannya. Tapi bagaimana dengan luka yang sudah di goresan kepadaku,"


Zahwa benar hancur. Entah mengapa itu membuat Surya merasa sakit, di tambah bahwa Zahwa benar menganggap keberadaan Hanan. Hingga sekecil apapun tentang dirinya Zahwa menganggap nya serius.


"Kenapa bukan kamu yang menjadi suami ku , kenapa kamu terlalu lama di Cairo. Jika lebih cepat sedikit saja, mungkin saat ini kamulah yang aku pilih. Dan lagi, kenapa mas Hanan itu adikmu? Kenapa aku tidak mengetahui nya sebelumnya?!" Tambah Zahwa. Dia marah. Sangat marah. Dia meluapkan semua emosinya.


"Aku sudah capek. Harus terus bersandiwara bahwa aku baik-baik saja. Apa kau tidak seperti ku. Bahkan kau terlihat baik-baik saja saat mengetahui bahwa aku sudah menjadi adik ipar mu. Dan dengan mudahnya mengatakan kalau kita sekarang adalah kakak adik,"


Begitu hancurnya hati Surya mendengar prasangka Zahwa terhadap. Mungkin ini lah yang dia rasakan juga, saat dirinya mengatakan kalau mereka sebatas kakak adik. Tapi apa Zahwa tidak mengetahuinya, bahwa dia yang paling hancur di antara keduanya.


"Bawa aku pergi, katakan semua nya kepada mas Hanan. Jika kita saling mencintai dan aku siap mengakhiri semuanya." Kata zahwa merengek. Seakan itu adalah keputusan yang terakhir untuk dirinya. Tapi saat ini dia sedang dalam keadaan tidak sadar, apalagi dengan kemarahan.


Surya mengingat pertemuan nya dengan pak Rosyid. Kenyataannya, yang seharusnya menikah dengan Zahwa adalah dirinya. Mungkin ini saat yang tepat juga menceritakan semuanya.


Tapi jika saat ini apa Zahwa akan menerimanya atau keadaan terburuknya dia menganggap bahwa keluarga mempermainkan dirinya. Seperti apa katanya, "Orang asing yang baru saja di kenalnya dengan begitu saja mengatur hidupnya. Dan dengan mudahnya mengatakan bahwa itu hanya kesalahan dan ingin mengembalikan situasinya seperti sedia kala,".


"Zahwa kau akan baik-baik saja. tidak akan ada lagi yang melarangmu untuk melukis. Percaya lah!" Kata Surya. Dia tidak ingin menambah keruh keadaan saat ini.


Mata mereka saling menatap. Cukup dalam. Seakan dalam tatapan mereka sedang mencurahkan kasih sayang dan rindu yang mendalam. Bagaimana tidak, seharusnya di waktu-waktu ini mereka bisa berbahagia. Menikmati waktu bersama. Namun ternyata, takdir menuliskan kisah yang lainya.


Iya mereka bersama.Namun buka seperti yang mereka impikan.

__ADS_1


__ADS_2