
"Bagaiman keadaannya?" Tanya Surya. Dia sudah datang membawa teh sesuai permintaan Zahwa.
"Dia demam, tapi badannya berkeringat." Jawab Zahwa panik
"Apa tipesnya kambuh? " kata Surya dia mengambil alih posisi Zahwa , dan memeriksa keadaan Hanan.
"Dia sudah meminum obat?" tanya Surya lagi
"Belum, aku pikir untuk membuat nya makan terlebih dahulu sebelum dia minum obat." Jawab Zahwa. Dia menyodorkan roti tawar tadi kepada Surya. Mungkin saja kakaknya itu mau menyuapinya. Surya menerima , kemudian meletakkan roti itu di atas meja.
"Hanan, kamu bisa duduk? makanlah sedikit , setelah itu minum obat," kata Surya. Dia membantu Hanan untuk duduk bersandar.
"Aku tidak apa-apa, jangan terlalu khawatir seperti itu," kata Hanan, dia masih saja bilang tidak apa-apa saat dia sendiri tidak bisa mengangkat badannya sendiri untuk duduk.
"Jangan keras kepala ! Makan dan minum obat ! " Seru Zahwa. Dia sedang khawatir, tapi malah di buat jengkel karena sikap keras kepala orang yang di khawatirannya.
Hanan diam. Dia mulai makan roti tawar yang di sodorkan oleh Surya. Hanya setengah nya dan meminta obat yang sudah di siapkan Zahwa untuk di minum nya segera.
"Tipes mu kambuh. Aku akan menghubungi dokter untuk memeriksa mu nanti." Kata Surya.
"Apa mas Hanan punya penyakit Tipes?" Tanya Zahwa.
"Dari sejak kecil dia sudah punya tipes. Jika dia salah makan saja atau kelelahan penyakit akan kambuh," Jawab Surya.
"Berarti obat-obat di laci itu obat untuk tipesnya?'" Tanya Zahwa.
"Iya, seharusnya jika merasa akan sakit , dia harus meminumnya. Terutama Vitamin dia harus rutin meminumnya," Kata Surya
"Kenapa mas Hanan tidak mengatakan jika dia harus minum vitamin setiap hari. Karena akhir-akhir ini sibuk, dia mungkin lupa." Ujar Zahwa. Mungkin jika Hanan sedang tidak sakit, pasti dia akan mengomelinya panjang lebar.
"Aku ingin tidur, bisakah kalian tidak berisik.' Kata Hanan. Dia terusik dengan pembicara Zahwa dan kakaknya.
"Kita keluar saja dulu , biarkan Hanan istirahat." Usul Surya.
Zahwa menyetujui dan kemudian ikut keluar bersama Surya. Setelah dia keluar Hanan mendengus kesal.
Tidakkah dia bisa tidak ikut keluar. Aku sakit ,tapi dia enak-enak dengan kakakku. Mungkin benar , dia tidak memperdulikan aku.
Hanan mencoba tidur setelah itu. Berharap obat yang dia minum segera bereaksi dan meringankan tubuhnya lagi.
__ADS_1
"Jangan terlalu khawatir , nanti kita panggil dokter . Pasti dia akan segera sembuh." Kata Surya, melihat Zahwa begitu khawatir kepada Hanan dia juga tidak tega melihatnya.
"Aku tahu , aku memang baru saja mengenal mas Hanan. tapi aku istrinya, setidaknya dia bisa mengatakan atau memberitahu tentang penyakitnya. Dengan begitu aku bisa mengontrol kesehatan juga, terutama Vitamin nya yang harus dia minum setiap hari."
"Mungkin Hanan belum sempat mengatakan itu semua. Tidak ingin membuat mu khawatir juga."
"Tidak. Seandainya penyakitnya tidak kambuh sia pasti masih menyimpannya sendiri," tangkas Zahwa. Dia kecewa dengan sikap Hanan yang tidak pernah menganggap nya ada itu.
"Sudahlah, toh pada akhirnya kamu juga sudah mengetahuinya. Jadi sekarang kamu bisa mengontrol kesehatannya." Kata Surya, dia tidak ingin membuat hati Zahwa semakin kecewa.
"Kalian sama saja, bertindak sesuka hati," Kata Zahwa mendengus kesal.
"Hahahaha. Tapi mungkin setelah ini tidak lagi , karena jika kami ketahuan menyembunyikan sesuatu darimu. kamu pasti akan ngomel-ngomel dan marah gak jelas." Kata Surya.
"Apa-apa! Apa aku suka marah! Aku marah pun ada sebabnya," bantah Zahwa.
"Lah itu, barusan kamu sudah marah." Ejek Surya
"Ah! Terserah. Tapi terimakasih sudah membantu mas Hanan minum obat," Kata Zahwa.
"Kenapa harus berterima kasih. Dia adik ku, apa kamu lupa,"
Surya tersenyum. Mungkin seperti ini saja sudah cukup membuat senang, karena Zahwa tidak lagi mengungkit kejadian di taman kemarin. Dan tidak marah terhadapnya. Walaupun dia harus rela, jika apapun yang di lakukannya sekarang hanya untuk adiknya, suaminya.
"Kamu mau kopi? " tawar Surya, mereka sudah ada di balkon lantai dua. Menikmati suasana malam yang sebentar lagi berganti pagi.
"Boleh," balas Zahwa.
Surya pergi sebentar, dan kemudian kembali membawa dua cangkir kopi. meletakkan di atas meja yang ada di antara dua kursi mereka.
"Terima kasih," Kata Zahwa. Dia langsung ingin meminum kopi itu karena terlihat lezat. Surya membuat kopi capuccino dengan busa di atasnya , di atas busa itu terukir nama Zahwa .
"Barista. Mungkin cocok untuk julukan mu saat ini," Tambah Zahwa. Dia tidak menyangka Surya bisa membuat kopi selezat dan seunik itu. Biasanya, dia harus pergi ke coffe shop untuk menikmati secangkir seperti itu.
"Hahahaha. Aku akan menjadi barista untuk seseorang yang aku kehendaki saja," Kata Surya.
Julukan Barista pemberian Zahwa membuatnya sedikit bangga.
"Dari mana kamu belajar membuatnya?" Tanya Zahwa. Dia terlihat menikmati kopi buatan Surya.
__ADS_1
"Saat di Cairo,teman-teman biasa membuat seperti itu. Bahkan sudah menjadi kebiasaan." Jawab Surya
Zahwa manggut-manggut, anpa mengerti. Surya juga mulai ikut menikmati kopinya juga. Tidak menyangka bahwa waktu seperti ini bisa dia ia nikmat bersama Zahwa.
"Oh, Iya. Apa boleh aku tanya sesuatu?" tanya Zahwa. Tiba-tiba dia teringat sesuatu.
"Aku akan menjawab sebisa ku," Jawab Surya Seperti murid yang siap menjawab pertanyaan gurunya.
"Apa Mas Surya mengenal Zahra?" Tanya Zahwa cukup penasaran.
"Sebelum aku menjawab, boleh tanya. Kenapa kamu jika ada orang rumah memanggil ku kakak , tapi saat kita sedang berdua seperti ini. Kamu memanggil mas saja ? " Tanya Surya.
Zahwa diam , di seperti memikirkan sesuatu atau mungkin sedang mengingat beberapa kejadian.
"Apa iya, aku bahkan tidak menyadarinya," kata Zahwa bingung.
"Ya sudahlah, walaupun sebenarnya aku lebih suka kamu memanggil ku dengan mas saja." Ujar Surya.
"Baiklah, aku akan memanggil mu seperti itu," balas Zahwa dengan senyum.
Surya tersenyum , jika dia bisa. Ingin sekali menghentikan waktu, tidak ingin waktu bersama Zahwa cepat berlalu.
"Lalu? " tanya Zahwa. Dia membuyarkan lamunan Surya.
"Apa?'' Tanya Surya lupa.
"Zahra. Apa kamu mengetahui tentang dirinya?" Tanya Zahwa mengulangi pertanyaannya.
"Oh...Dia aku mengenalnya. Cukup baik dan dia satu-satunya wanita yang terlihat dekat dengan Hanan," Jawab Surya jelas.
"Dia terlihat baik, santun dan lembut, juga cantik. Pasti juga pintar. Apalagi dia akan melanjutkan S3 nya ke London," Ujar Zahwa memuji Zahra walaupun ada rasa sakit di hatinya.
''Aku baru tahu jika dia akan melanjutkan S3 nya ke London. Apa kalian sudah saling kenal juga?"
"Sudah. Tapi belum terlalu dekat? Dia datang bersama mas Hanif beberapa hari yang lalu ke rumah. Untuk memberikan beberapa berkas untuk mas Hanan," Jawab Zahwa.
"Berkas? Berkas apa?'' Tanya Surya sama sekali tidak mengetahui apa-apa.
Zahwa diam sejenak. Melihat wajah Surya yang seperti tidak mengetahui bahwa Hanan akan pergi ke London untuk melanjutkan pendidikannya.
__ADS_1