
''Pendewasaan dini di mulai saat kita tidak saling menyalahkan, dan mulai introspeksi diri. Bukan tentang kita saja tapi juga orang sekitar kita yang kita pikirkan. karena bagaimanapun apa yang mungkin kita anggap benar belum tentu orang lain menganggapnya benar juga. Dan untuk membuat orang lain mengatakan benar juga kita mungkin butuh bukti." Lontar Bella di seberang telpon.
Hari ini Zahwa mulai ke rumah Bibi Ami dan paman Sam. Dia sendiri dia tidak ingin di temani oleh Hanan meskipun tadi sempat suaminya itu memaksa. Tapi dia tetap bersikeras untuk datang sendiri menjenguk dan juga ingin merawat Bibi Ami.
Dia tahu ini adalah yang pertama dalam hidupnya. Seperti tawanan yang menyerahkan diri namun dia tetap maju tak takut akan apa yang akan di perbuatan oleh tuannya nanti.
Beberapa orang telah menyalahkan perbuatannya. Termasuk suaminya, itu sedikit membuat hatinya berkecil hati. Tapi tidak menyurutkan keringanannya untuk terus maju. Dia tahu dia salah . Dia berbohong , dia melukai banyak orang.
Namun, melihat Bibi Ami saat itu dia tidak tega mengubur keinginannya. Mungkin saja itu adalah keinginan terakhirnya.
Bukankah hal itu juga pernah terjadi kepadanya. Dia menikah dengan Hanan, itu berdasarkan wasit terakhir orang tua dan mertuanya. Tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi orang tua mereka memberikan wasiat tersebut. Sama, Bibi Ami pun mungkin seperti itu. Mengingat bahwa apa yang beliau inginkan itu juga di keinginan mendiang ibu mertuanya.
Mungkin akan sakit, mungkin akan sulit. Karena kenyataannya dia hadir dengan membawa kecewa. Dia hadir dengan membawa kenyataan yang ada. Namun dia juga membawa cinta yang semoga bisa di terima. Dia membawa kasih sayang yang semoga bisa tersampaikan. Dia pun membawa doa yang semoga bisa di aminkan.
''Zahwa?" Seru Bella membuyarkan lamunan Zahwa.
''Oh, Iya. Maaf, aku melamun.'' Balas Zahwa tersadar.
Panggilan Bella juga menyadarkan bahwa dia masih di perjalan.
''Sepertinya aku hampir sampai. Nanti aku telpon lagi ya kak. Oh ya , aku lupa? bagaimana kabar mu? apa kamu?_ ''
Belum sempat di teruskan, Bella memotong pertanyaan tersebut.
''Aku baik-baik saja. Doakan aku," Balas Bella.
Bodoh. Zahwa memang bodoh. Sudah tahu Bella sedang dalam masa sulit, tapi dia masih saja memberikan banyak cerita kehidupannya dan menambah pusing dirinya. Tapi dia juga tidak tahu harus bercerita dengan siapa, hanya Bella yang biasa memberikan wejangan atau solusi untuk masalahnya.
''Amin amin amin. Semoga segala masalah mu cepat terselesaikan. Alloh maha adil kok, dan Alloh tau kamu kuat menghadapinya.'' Kata Bella.
''Hahahaha... Amin amin, sudah ya Assalamualaikum.'' Pamit Bella.
__ADS_1
''Waalaikumsalam...''
Zahwa menutup telponnya. Dia tidak sepintar kakaknya itu tak sebijak dirinya juga. Tapi dia punya doa yang tulis dan semoga doa itu bisa sedikit mengurangi bebannya.
Sebijak apapun seseorang tetap saja dia akan menemukan kesulitan nantinya. Karena pada hakikatnya hidup memang untuk menemukan rasa sulit. Agar nantinya, kita akan menghargai apa itu rasa bahagia. Walaupun hanya sedikit saja bahkan mungkin dari hal kecil di sekitar kita.
"Benar mbak ini gang rumahnya?" tanya sopir gocar tersebut.
Zahwa melihat sekitarnya. Dia terlihat bingung. Karena itu bukan wilayah juga dan saat pertama kali ke sana dia tidak begitu memperhatikan.
''Tunggu sebentar pak,''
Zahwa mengambil kertas kecil dalam tasnya. Dan memberikan kertas tersebut kepada sopir tersebut.
''Ini alamat rumahnya, aku belum hafal daerah ini. Tolong tanyakan pada orang-orang di sekitar sini. Mungkin mereka bisa membantu.'' Kata Zahwa meminta tolong.
''Baiklah, tunggu sebentar...''
Sopir tersebut keluar membawa kertas berisi alamat. Dia melihat beberapa orang di warung yang tidak jauh dari tempat mereka berhenti. Kemudian terlihat mereka sedang berbincang. Beberapa orang di sana seperti memberikan arah jalan yang benar pada sopir tersebut.
''Masih ada 2 gang lagi mbak...'' Kata nya setelah sampai mobil.
''Oh, iya.''
Syukurlah tadi Zahwa sempat meminta alamat kepada Hanan sebelum dia pergi. Mobil melaju kembali. Melewati 2 gang dan kemudian baru memasuki arah rumah Bibi Ami. Tanpa bertanya lagi sopir itu bisa langsung faham rumah mana yang menjadi tujuannya. Mungkin saja saat bertanya tadi dia beritahu alamat tepat rumah tersebut.
''Sampai mbak...'' Kata sopir.
''Iya pak. Benar." Zahwa langsung bergegas membawa bawaannya dan keluar dari mobil tersebut.
''Terimakasih, pak'' Ucap Zahwa sebelum mobil itu pergi.
__ADS_1
Zahwa menghela nafas dalam. Berusaha menenangkan diri dan berfikir positif.
Belum sampai di depan rumah. Paman Sam muncul dari ambang pintu dan langsung menghampiri Zahwa.
''Kamu ke sini dan Hanan?'' Tanya paman Sam setengah kaget.
''Mas Hanan gak ikut paman. Dia mungkin akan menyusul nanti.'' Jawab Zahwa.
''Oh, ayo masuk." Ajak paman Sam.
Mereka masuk bersama. Zahwa di persilahkan untuk duduk di ruang tamu.
''Aku ke sini untuk bertemu bibi Ami juga paman? Apa beliau sedang bangun?'' Tanya Zahwa.
''Baru saja Wardah selesai memandikannya . Mungkin sekarang sedang mau makan." Jawab paman Sam. Dia masih bertanya-tanya untuk apa Zahwa ke rumahnya sendirian. Dia juga ingin menanyakan perihal kebohongan yang ia lakukan waktu itu. Banyak pertanyaan yang ingin dengar jawaban dan kepastiannya.
''Boleh aku membantu merawat Bibi Ami juga?'' Tawar Zahwa.
''Hah. Tidak usah, ada Wardah yang sudah biasa melakukannya. Kamu tidak perlu repot-repot." Balas Paman Sam.
Paman Sam belum sepenuhnya mengerti apa yang sedang ingin Zahwa lakukan di sini. Dia bingung dengan sikap Zahwa yang seolah peduli.
''Kenapa? Meskipun aku belum pernah melakukannya, tapi aku bisa belajar. Aku juga tidak akan meminta apapun. Aku hanya ingin dekat dengan kalian. Itu saja,'' tanya Zahwa dengan alasannya.
''Tapi Nak, Bibi mu itu dia terlanjur terbiasa di rawat oleh Wardah. Jika tiba-tiba kami meminta Wardah untuk berhenti merawat Bibi mu itu tidak mungkin. Bibi mu sayang dengan Wardah, pun sebaliknya. Kami juga tidak apa-apa kalau Hanan tidak berjodoh dengan Hanan. Kami tidak tahu jika Hanan sudah beristri tadinya. Tapi aku masih bertanya-tanya, kenapa kemarin kamu tidak jujur saja kalau kamu adalah istrinya Hanan. Dengan begitu Bibi mu tidak akan terlalu berharap lagi, meskipun kecewa setidaknya dia tahu kebenarannya saat itu juga.'' Jawab Paman Sam panjang lebar.
''Maaf paman. Itu memang salahku. Aku kasihan melihat Bibi Ami. Jadi saat itu aku tidak tega melihat beliau kecewa. Karena itulah aku mengaku bahwa aku adalah sekretarisnya mas Hanan. Dan aku kesini, aku tidak akan meminta Wardah untuk tidak lagi merawat Bibi Ami. Justru aku ingin belajar banyak dari dia. Aku belum pernah merawat Bibi Ami, mungkin akan kesulitan awalanya. Tapi aku akan berusaha dan banyak meminta bantuan juga pada Wardah. Aku ke sini murni karena ingin lebih dekat dengan keluarga paman. Hingga akhirnya nanti saat Bibi Ami tahu aku adalah istri dari Mas Hanan. Kekecewaan itu tidak terlalu dalam. Semoga saja, aku bisa meraih hati Bibi Ami juga. Tidak beliau juga, tapi semua keluarga Mas Hanan.'' Terang Zahwa. Itulah tekatnya sekarang.
Paman Sam tercengang dengan apa yang di utarakan Zahwa. Jujur saja dia pun kecewa saat mengetahui bahwa Hanan sudah menikah. Apalagi keluarga mereka tidak mengetahuinya sama sekali.
Keluarga Hanan sudah terkenal tertutup dari keluarga besar lainya. Namun, keluarga tetaplah keluarga sejauh apapun mereka tetap pernah melakukan sesuatu hal bersama-sama. Meskipun keluarga Hanan paling kaya mereka tidak sombong hanya sedikit tertutup dan tidak ingin merepotkan keluarga lainnya.
__ADS_1
Dan sekarang, Zahwa istri dari Hanan datang seakan ingin mengembalikan tali yang beberapa waktu yang lalu terputus. Dia ingin merajut sedikit demi sedikit tali-tali yang mulai rapuh.
Namun Zahwa tidak tahu, untuk menyambung tali itu tidaklah mudah dan rumit. Butuh kesabarannya yang besar dan juga hati yang luas.