
***
Siang itu, di sebuah taman kota. Mereka sudah sangat lama di tempat itu. Jika bangku taman yang ada di samping mereka sudah beberapa kali berganti penduduknya lain bangku yang di duduki oleh keduanya. Zahwa dan Bella sudah menghabiskan waktu yang cukup lama, kadang mereka bercanda, kadang juga berdebat entah itu soal apa?
"Sebentar lagi mas Surya akan datang. Jadi tolong jangan pulang dulu," Rengek Zahwa. Setiap kali di hadapan Bella dia selalu terlihat manja.
"Baiklah, jika dia tidak datang dalam waktu lima belas menit , aku tidak akan menunggu lagi." Kata Bella tegas.
"Baiklah. Aku juga akan pergi," Pasrah Zahwa
Mereka sudah menunggu, kabar terakhir setengah jam yang lalu Surya sudah menuju tempat mereka. Tetapi sampai saat ini belum juga dia tiba.
"Aku akan pergi setelah dia datang," Ujar Bella. Dia sudah tidak sabar menunggu.
"Ah, itu dia!" Seru Zahwa
Surya terlihat baru saja memasuki pintu masuk taman itu. Dia masih memakai pakaian kantornya, langkahnya cepat menuju tempat dimana Zahwa berada.
"Maaf telat, jalanan macet." Kata Surya setelah sampai. Alasan yang biasa terdengar, tapi memang seperti itu kenyataannya.
"Baiklah. Kalian sudah bertemu aku akan pergi," Kata Bella, dia meraih tasnya dan hendak pergi.
"Hai, kita lama tidak bertemu. Tapi sudah akan pergi saja," Sapa Surya pada Bella. Mereka satu angkatan, bahkan partner di asrama dulu.
"Kamu terlalu lama. Aku sudah harus pergi," Ujar Bella.
"Hahaha. Kamu tidak berubah, masih saja galak," Ujar Surya.
"Hahaha...Kamu juga tidak berubah. Masih saja lemot," balas Bella.
Zahwa diam mendengar mereka beradu mulut. Mungkin sebenarnya mereka saling merindukan, sejak kelulusan ini pertama kali nya mereka bertemu kembali.
"Aku pergi dulu. Jika dia macam-macam bilang saja pada ku," Kata Bella pamit pada Zahwa. Dengan sedikit melirik Surya yang sedang tersenyum mengejek karena ancaman Bella.
"Baiklah, salam untuk paman dan bibi dan juga Juhar, " kata Zahwa.
Bella mengangguk, setelah itu dia beranjak pergi meninggalkan Zahwa dan Surya yang masih menatap kepergiannya.
"Apa yang ingin kak surya bicarakan?" tanya Zahwa langsung. Dia sudah duduk kembali di bangku tadi.
__ADS_1
"Kenapa aku merasa kamu sedang tegang Zahwa? Apa aku sekarang begitu menakutkan bagimu?" tanya Surya seraya duduk di samping Zahwa.
"Tidak. Kenapa aku harus takut, " Jawab Zahwa.
"Baguslah kalau begitu," Kata Surya.
Sejenak tidak ada yang bersuara. Bising kendaraan dan beberapa orang di sekitar menjadi background mereka.
"Apa kamu marah dengan ku? Tentang Elena dan juga barang - barang itu?" Tanya Surya memecah keheningan.
"Tidak untuk apa aku marah. Aku tidak mempunyai hak atas itu semua," Jawab Zahwa
"Kamu berbohong. Jelas kamu marah, kamu tidak perlu menyembunyikan itu semua. Di sini tidak ada Hanan, bik asih atau siapapun itu. Kamu tidak perlu pura-pura," kata Surya
Zahwa menatap Surya tajam. Dia tidak tahu apa maksud perkataan Surya kepada dirinya. Kenapa Surya berkata seperti itu kepadanya.
"Aku tidak tahu apa maksud mu kak ? Aku sama sekali tidak marah , untuk apa aku marah kepada Elena. Dia tidak pernah menyakiti aku . Dan tentang barang-barang itu , aku sama sekali tidak pernah memiliki nya. Jadi tidak ada alasan marah kepada siapapun atau apapun," Terang Zahwa.
"Banyak hal yang ingin aku katakan dan jelaskan . Tapi jika kamu marah dan bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa seperti ini. Aku akan semakin bingung," Ujar Surya.
"Aku tidak marah. Aku sudah bilangkan! Jika ingin mengatakan sesuatu katakan saja," Zahwa kini mulai emosi.
"Jika sebenarnya aku lah yang seharusnya menikahi mu bagaimana?" tanya Surya jelas.
Tidak seharusnya mereka kembali mengungkit masa lalu mereka. Toh , semuanya sudah terlihat baik-baik saja. Jika waktu yang mengubah takdir mereka, waktu pula yang akan menyempurnakan segalanya.
"Apa kamu tidak berpikir Zahwa, bahwa sebenarnya akulah yang di minta orang tua mu untuk menikahi mu? Tetapi ayah ku mengira Hananlah yang menjadi kekasihmu. Karena saat itu dia yang sedang ada di rumah." Jelas Surya
Zahwa terdiam. Mencerna setiap kata yang di ucapkan Surya barusan. Ini bukan mainan yang bisa di akhiri dan di mulai kapan saja yang mereka inginkan.
"Apa kamu sedang mengetes ku?" yanya Zahwa penuh selidik .
"Untuk apa? Aku bertanya, jika seperti itu apa yang akan kamu lakukan?" Jawab Surya, di kembali menanyakan lagi. Membuat Zahwa tertekan lagi.
"Apa? Aku bahkan tidak tahu apa itu benar atau salah. Jika memang itu benar, apa aku bisa mengembalikan waktu. Tapi jika itu salah, apa lagi yang bisa aku lakukan selain menjalaninya," terang Zahwa.
"Jadi kamu menyerah?"
"Menyerahkan untuk apa? Aku sama sekali tidak mengerti jalan pikiran mu. Aku bingung sebenarnya apa yang sedang kamu bicarakan!"
__ADS_1
"Sekali lagi. Kamu menganggap tidak pernah terjadi apa - apa!"
"Bukankah kamu sendiri yang menginginkan begitu! Kamu sendiri yang mengatakan bahwa kita sekarang hanya sebatas saudara ipar. Tidak lebih ! Jangan lagi. Aku mohon... " Seru Zahwa. Emosinya semakin tidak terkontrol. Apa yang di pikirkan dan dia rasakan seakan bertolak belakang.
"Jika memang aku lah yang seharusnya yang menikahimu. Aku akan berusaha memperjuangkan itu Zahwa! Apa kamu tidak ingin kita kembali seperti dulu. Atau kamu sudah mencintai Hanan? Apa kamu tahu.Hanan tidak pernah mencintaimu!"
"Aku tahu! Bahkan mas Hanan sendiri yang mengatakan itu kepada ku! Terus kenapa jika begitu? Tidak akan berubah kan? Atau kamu ingin mengubahnya?!"
"Aku tidak akan mengubahnya Zahwa . Biarkan Hanan tetap seperti itu , aku hanya ingin kita kembali seperti dulu,"
"Maaf kak, ini mungkin tidak sopan. Tapi aku ingin kamu menjaga batasan mu. Aku permisi dulu, Assalamualaikum," Kata Zahwa ,seraya berdiri dan pergi begitu saja. Situasinya sudah tidak bisa mendukung lagi untuk berbicara secara tenang.
"Zahwa!!" Panggil Surya
Zahwa tetap berjalan, ia enggan untuk menoleh ke arah Surya.
"Ada apa sebenarnya Surya?" Tanya Bella yang entah sejak kapan dia sudah berada di samping Surya. Dia menatap tajam kepada Surya menginginkan penjelasan.
"Aku tidak tahu. Kenapa Zahwa begitu cepat berubah. Dia tidak seperti Zahwa yang dulu," keluh Surya.
"Mau bagaimana lagi? Dia bahkan tidak mempunyai kesempatan untuk menjelaskan sesuatu," Kata Bella , dia duduk di samping Surya yang sedang frustasi .
"Kenapa kamu masih disini? Bukankah kamu sudah berpulang tadi ?" Tanya Surya
"Aku sengaja meninggalkan kalian. Tapi tidak tega jika meninggalkan Zahwa sendiri." Jawab Bella
"Apa aku begitu buruk , sampai kamu saja tidak tega meninggalkan Zahwa bersama ku, "
"Bukan karena itu. Tapi karena kalian masih sama-sama labil. Hanya mengendepankan perasaan kalian saja. Tidak berpikir bagaimana orang lain di sekitar kalian bagaimana nantinya."
"Seseorang yang jatuh cinta bisa menjadi majnun Bella. Kamu tidak akan mengerti, "
"Menjadi majnun itu pilihan mu Surya. Ada orang yang bisa menjadikan perasaan cinta itu sebagai pendewasaan untuk dirinya."
"Jika kamu hanya ingin memakiku, lebih baik kamu pergi saja "
"Aku tidak salah jika mengatakan kamu itu lemot . Dalam hal ini aku datang sebagai teman mu , dan aku adalah kakak sepupu orang yang kamu cintai . Jika orang waras pasti mereka ingin aku membantu mereka untuk mendekati Zahwa, tapi kamu malah mengusir ku,"
Bella ingin beranjak pergi lagi.
__ADS_1
"Iya iya maaf. Katakan apa yang harus aku lakukan , dan sebenarnya apa salah ku?'' Kata Surya menahan Bella untuk pergi.
"Sebelum itu, ceritakan semuanya kepada ku. Apa yang sebenarnya terjadi antara kamu, Zahwa dan adik mu," kata Bella. Dia sudah seperti penyelidikan kejahatan.