
"Mas, kamu ngapain, sih. Lihat semua berantakan. Kamu sedang nyari apa?"
Hanan mengeluarkan semua barang dalam lemari dan meletakkan semua nya begitu saja. Membuat isi kamar berantakan. Dia tetap mencari dan menghiraukan Zahwa yang sedari tadi mengekor mencoba mencari tahu apa yang sedang ia cari.
"Kamu gak akan tau."
"Mangkanya aku tanya, biar aku tahu. Lihat semua berantakan. Siapa nanti yang akan membereskan semuanya."
"Kamulah. Aku mau berangkat kerja,"
"Enak aja, beresin semuanya dulu. Kalau gak, gak ada sarapan." Ancam Zahwa.
"Gak papa, nanti aku bisa minta pegawai magang beliin aku makanan."
Hanan masih sibuk mencari sesuatu. Sedang Zahwa sudah terlihat kesal dengan tingkah suaminya. Dengan kesal, Zahwa keluar dari kamarnya dan tidak lagi peduli dengan apa yang di lakukan Hanan.
"Akhirnya ketemu," Kata Hanan. Dia memungut kotak kecil dengan isi memori card. Tidak hanya satu. Setelah itu dia memasukkan ke dalam tasnya. Di lihat Zahwa sudah tidak ada dia tidak sadar jika istri itu sudah meninggal dirinya.
Di bawah. Benar, Zahwa tidak menyiapkan makanan. Dia malah duduk dengan kaki di silangkan, majalah di tangannya.
"Sayang, beneran marah. Gak ada sarapan beneran?" tanya Hanan. Di menemukan tidak ada satupun makanan di meja makan. Hanya air putih , itupun setengah gelas.
"Aku gak pernah mengingkari omonganku. Toh, kamu bisa minta pegawai magang mu buat nyiapin sarapanmu."
Hanan menghela nafas, menghampiri Zahwa dan langsung mencium ujung kepalanya dari belakang.
"Aku bercanda, ayolah. Aku sudah telat," Kata Hanan merayu. Zahwa masih mengacuhkan.
"Telat, udah habis."
"Loh, kok bisa? Kamu buang masakanmu. Padahal masakan mu kan lezat banget yang." Kata Hanan, dia masih berusaha merayu Zahwa.
"Kata siapa aku membuangnya." Sewot Zahwa.
"La trus?''
"Udah aku kasih ke bodyguard di luar." Jawab Zahwa.
Sontak Hanan langsung melihat ke arah samping rumah mereka. Di sana, lewat jendela terlihat tiga bodyguard yang sedang asyik makan.
"Yah yang. Masak gak ada buat aku. Aku lapar." Keluh Hanan.
__ADS_1
"Gak!!!"
Kali ini Zahwa berdiri. Dan meninggalkan Hanan begitu saja.
Dengan rasa lapar dan gusar akhirnya Hanan membiarkan Zahwa seperti itu dulu. Dia harus segera ke kantor. Sebelum dia meninggal sepucuk kertas yang sudah ia tulis sesuatu dan meletakkan di atas meja.
Aku tidak akan makan sebelum istri ku datang untuk menyuapi ku.
Isi pucuk surat itu. Zahwa kesal, bisa-bisanya dia mengancam dirinya. Tapi rasa khawatir juga menyelinap masuk, teringat jika suaminya memiliki tipes jika dia terlambat makan, penyakitnya akan kambuh.
Akhirnya dia kembali ke dapur dan memulai memasak. Menyiapkan beberapa makanan lainya , dan juga buah. Dia melihat jam, sudah lebih 1 jam dia di dapur. Dan suaminya sedang menunggunya dengan perut kosong.
"Saya akan ke kantor. Kalian jaga rumah saja." Kata Zahwa pada para bodyguard.
"Tapi kami di tugaskan untuk menjaga nyonya." Bantah salah satu Bodyguard.
"Saya akan baik-baik saja. Tolong jaga rumah saja!'' Seru Zahwa. Rasa kesalnya masih tersisa gara-gara Hanan tadi. Dia menganggap Hanan dana para bodyguard nya sama saja. Berbuat semuanya.
''Jika Nyonya izinkan salah satu dari kami akan mengikuti dari belakang. Kami tidak mau mengambil resiko. Apalagi ini tugas kami, jika ada apa-apa dengan Nyonya, tuan pasti marah."
Zahwa menghela nafas, mereka keras kepala juga.
"Baiklah, tapi jangan seperti penguntit. Nantinya malah kalian yang di anggap berbahaya." Pesan Zahwa. Mereka mengangguk mengerti.
Sesampai di kantor dia langsung menuju ruangan Hanan. Kali ini, semua pegawai menyalami dan menaruh hormat kepadanya. Tidak lagi ada yang menghalanginya, semua sudah mengetahui jika dia adalah istri dari bosnya.
"Zahwa, kamu di sini?'' Sapa Surya, mereka berpapasan di loby.
"Eh, Mas Surya, iya. Nganter sarapan buat Mas Hanan." Jawab Zahwa.
"Oh, baiklah. Cepat temui dia. Pasti dia sedang menunggumu." Kata Surya dengan senyum. Zahwa membalas senyum dan meminta izin untuk melanjutkan jalannya.
Tidak menyangka jika sekarang mereka seperti itu. Ada ketenangan dan juga rasa persaudaraan . Yang dulu seakan tidak bisa terpisah, kini rasa itu berlahan punah. Yang dulu seakan tidak lagi bisa mencintai selain dia kini tak lagi ingin saling mengikat, bahkan saling melepas.
"Assalamualaikum," Salam Zahwa. Dia melihat senyum suaminya dengan kemenangan.
"Waalaikumsalam sayang. Aku tahu, kamu tidak akan tega," Hanan menghampiri dirinya dan langsung mencium keningnya. Zahwa cemberut dan langsung menghambur di sofa. Membuka semua makanan yang dia bawa.
"Cepat makan!" Seru Zahwa. Hanan duduk di samping. Menunggu Zahwa menyuapinya.
"Lain kali jangan membuat orang khawatir , jangan keras kepala. Kata Zahwa dengan mulai menyuapi Hanan. Hanan hanya mengangguk. Dengan senyum jahilnya dia mulai memakan setiap suapan dari Zahwa.
__ADS_1
"Kau itu seperti anak kecil saja." Omel Zahwa. Hanan meringis.
Setelah makan, Zahwa mengupas buah apel. Meskipun marah, dia tetap khawatir dengan suaminya.
"Hanan!" Seru Aldian. Sekretaris itu selalu peka jika ada makanan. Matanya terbelalak melihat banyak makan di meja Sofa. Tanpa permisi dia langsung menghampiri mereka.
"Hai Zahwa, apa kabar?" Tanya Aldian basa-basi.
"Baik. Kamu bagaimana kabarnya?" tanya balik Zahwa. Baru beberapa bulan mengenal Aldian, dia sudah bisa menebak apa yang di incar olehnya.
"Ada apa? Jika ada laporan nanti saja. Kamu keluar dulu, gih." Kata Hanan. Dia selalu mengganggu momentum dirinya dan Zahwa.
"Suamimu galak." Kata Aldian pada Zahwa. Membuat Zahwa tertawa.
"Silahkan jika mau ikut makan," Kata Zahwa, dia tau apa yang di mau Aldian.
"Jika kamu memaksa baiklah. Aku tidak akan sungkan." Kata Aldian membuat Zahwa tertawa, dia sering mengucapkan hal yang sama. Zahwa pindah dari duduknya, dan mempersilahkan Aldian makan. Hanan menunju lengannya karena tidak pernah peka dengan kondisinya.
"Biarin saja Mas," Bela Zahwa.
Hanan bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah Zahwa, mengajaknya keluar dari ruangan dan meninggalkan Aldian makan.
"Mau kemana?" Tanya Zahwa.
"Ada deh, pokoknya ikut." Jawab Hanan menggandeng tangan Zahwa.
"Kejutan lagi?" Tanya Zahwa penasaran dan berharap tebakan benar.
"Bukan. Libur dulu kejutannya, tekor aku kalau ngasih kejutan kamu terus." Jawab Hanan. Dia melepaskan pergelangan tangan Zahwa saat mereka mulai sampai di ruang para pegawai. Zahwa berjalan sejajar dengannya.
''Mulai perhitungan," Sewot Zahwa.
"Bercanda sayang. Udah jangan ribut lagi, ikut aja." Kata Hanan. Zahwa menuruti tanpa bertanya lagi . Mereka berjalan ke arah ruangan terbuka, di kelilingi dinding kaca yang memperlihatkan langit dan awan yang membentang luas. Beberapa karyawan juga ada di sana. Di ruang itu teryata di buat khusus untuk para arsitek yang sedang mendesain bangunannya. Dia melihat Surya juga ada di sana bersama beberapa pegawainya, sedang melihat kertas besar dan mendiskusikan sesuatu yang entah apa.
"Mas Surya tidak bilang mau berangkatnya kapan?" tanya Zahwa. Hanan menoleh ke arahnya dan mendapati dirinya sedang memperhatikan Surya.
"Kenapa? Galau mantannya mau pergi jauh." Sergah Hanan yang langsung menyilang kan tangannya ke pundak Zahwa dan menutup Matanya.
"Astaghfirullahhaladzim, Mas. Malu di lihat sama orang." Seru Zahwa dengan segera melepaskan tangan Hanan.
"Semestinya tambah malu lagi, kalau ketahuan lihat mantan. Padahal suaminya ada di sampingnya." Sewot Hanan. Masih saja dia cemburu dengan kakaknya.
__ADS_1
"Udahlah, ngomong sama kamu itu bawaanya baperan terus." Acuh Zahwa.
Mereka bertengkar tapi masih saja saling berjalan beriringan. Hanan mengajak di ke arah salah satu meja besar yang berada di ujung pojok ruangan itu. Di sana ada dua orang yang sudah menunggu mereka.