
"Apa mas Surya tidak tahu Mas Hanan sudah mendaftar di UCL dan mungkin tujuh bulan lagi mereka berangkat," Terang Zahwa.
"Aku sama sekali tidak mengetahui itu semua . Kebangetan Hanan dia bahkan tidak cerita atau berdiskusi sedikitpun kepadaku." Surya marah tidak habis pikir dengan kelakuan adiknya itu. Tidak semua hal bisa dia lakukan seenaknya saja.
"Hah! Aku kira hanya aku saja yang tidak mengetahui nya sebelumnya," Keluh Zahwa.
"Aku akan menanyakan itu saat dia sudah sembuh nanti," Geram Surya.
"Lebih dari itu aku masih penasaran dengan Zahra? Apa bisa kamu ceritakan lagi." Pinta Zahwa. Menjadi satu-satunya wanita yang katanya pernah di sukai oleh suaminya, menjadikan Zahwa sangat penasaran dengan Zahra.
"Dia putri kyai Jauhari, yang kemarin ceramah di masjid. Kamu ingat?"
"Hah! Masak!" Zahwa tidak percaya.
"Iya. Keluarga Zahra dari kalangan pesantren pesantren. Hanya saja, saat ini Zahra tinggal di Jakarta untuk menempuh pendidikannya. Juga karirnya,"
"Tapi kenapa aku merasa dia dekat sekali dengan mas Hanif? Bukankah, maaf. Jika anak yang hidup di lingkungan pesantren tidak sangat menjaga Etudenya terhadap lawan jenis,"
"Itu karena Hanif masih saudara dengan Zahra. Lagipula mereka sudah bersama sejak kecil,"
"Oh, pantesan."
Semakin kesini Zahwa merasa minder dengan Zahra. Tidak salah, jika Hanan menyukainya. Jika saja Hanan bisa memilih siapa yang mau dia nikahi, pastilah dia akan memilih Zahra.
"Kamu bisa berteman dengan dirinya. Dia anak yang baik," Puji Surya.
Zahwa tersenyum simpul. Bahkan Surya saja terlihat menyukainya. Padahal sudah jelas dia masih menyimpan perasaan kepada dirinya.
Setelah beberapa lama berbincang , Adzan subuh berkumandang. Terasa lama, tapi cepat menurut mereka berdua. Sudah lama mereka tidak berbincang seperti ini.
__ADS_1
"Aku akan melihat keadaan Mas Hanan," Ujar Zahwa.
"Ayo! Aku ikut bersamamu. Ini sudah subuh, dia juga harus sholat," kata Surya.
Keduanya beranjak dari balkon tersebut. Berjalan ke arah kamar Hanan. Sesampai di sana, Hanan masih tidur.
"Mas Surya sholat saja dulu. Mas Hanan masih tidur, kasihan jika harus di bangunin." Ujar Zahwa.
"Baiklah, jika perlu sesuatu panggil saja aku." Pesan Surya.
Zahwa mengangguk. Surya keluar dari kamar mereka, meninggalkan mereka berdua. Zahwa memeriksa suhu badan Hanan,
dan Menganti kompresnya yang sudah kering.
"Sudah, jangan lagi. Aku sudah agak membaik, bantu aku untuk ke kamar mandi." Kata Hanan. Tiba-tiba dia sudah membuka matanya dan mencegah Zahwa mengganti kompressanya.
"Bisa ambilkan baju untukku," pinta Hanan.
Zahwa meninggalkan Hanan di dalam kamar mandi, dan mengambilkan baju yang di minta Hanan. Kembali lagi ke dalam kamar mandi untuk memberikan kepada Hanan.
"Apa kamu bisa membantu melepaskan baju ku , aku kesulitan, " tanya Hanan, seperti perintah untuk Zahwa.
Zahwa masih ragu dia masih belum berani menyentuh baju Hanan. Tapi melihat Hanan menahan rasa sakit dia memberanikan diri. Dia mulai melepas kancing baju yang di kenakan Hanan. Dengan tangan bergetar dan perasaan was - was.
Semua kancing baju telah di lepaskan. Zahwa Dengan Hati-hati melepaskan baju itu dari tubuh Hanan. Tanpa sadar dia melepaskan baju itu dengan menutup mata. Membuat Hanan bebas menatap wajah Zahwa yang begitu takut memandangnya itu. Zahwa begitu dekat dengan dirinya , jarak satu sentimeter saja bisa membuat nya menyentuh apapun yang dia inginkan. Tapi Hanan tidak melakukannya Dia hanya menatap Zahwa saja dan merasakan setiap getaran yang ada pada diri Zahwa. Nafasnya yang tidak beraturan dan terkadang dia tahan lama entah kenapa. Tangan yang tidak sengaja menyentuh tubuhnya ia cepat hindari lagi . Rona wajah yang mulai merah panas dalam wajahnya. Hanan seakan menikmati semuanya itu .
"Aku akan memanggil Mas Surya untuk membantu mu membersihkan badan mu jika kamu mau," Kata Zahwa seraya ingin pergi membawa baju Hanan.
"Tidak, jangan pergi." Tahan Hanan dia mencegah Zahwa beranjak dan memegang pergelangan tangan Zahwa erat. Membuat Zahwa yang sedari tadi sudah merasakan perasaan tidak menentu kembali ingin cepat mengontrol dirinya kembali. Zahwa berbalik melihat Hanan yang sudah bertelanjang dada. Ini bukan pertama kali Zahwa melihat hal tersebut. Akan tetapi ini pertama kalinya dia melihatnya secara terang-terangan .
__ADS_1
"Aku tidak suka, ika setiap hal kamu sangkut kan dengan Kak Surya. Apa tadi, kamu juga memanggil nya Mas Surya. Terdengar manis." Kata Hanan dengan tubuh yang lemas Hanan masih bisa menarik tubuh Zahwa mendekat di hadapannya.
"Bukan begitu, ini sudah subuh. Kamu harus sholat . Aku tidak bisa membantu mu untuk bersuci, bahkan berwudhu karena pasti akan menyentuh mu " Alasan Zahwa dia mencoba melepaskan genggaman Hanan. Terlalu dekat.
"Apa kamu tidak ingin menyentuhku. Apa aku sangat menjijikkan," Kata Hanan dia menatap Zahwa lekat.
"Kamu sedang sakit, cepat lah membersihkan badan mu. Jika kamu tidak ingin aku memanggil mas Surya, aku akan menunggu mu di luar kamar mandi." Kata Zahwa, dia takut dengan sikap Hanan yang terlihat ingin menerkamnya.
Mas Surya, Mas Surya, Mas Surya lagi. Kenapa dia selalu menyebut nama itu. Begitu sulit kah jika tidak menyebutnya ?
Hanan masih mencekram tangan Zahwa kuat dan tidak melepaskan pandangannya dari Zahwa sedang Zahwa dia masih mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Hanan. Dia sangat takut.
"Pergilah! " Seru Hanan , dia melepaskan genggamannya dengan kasar. Zahwa memegang pergelangan tangannya yang sakit akibat cengkraman Hanan yang begitu kuat. Tanpa bicara lagi , dia keluar dari kamar mandi. Tidak peduli lagi dengan Hanan yang masih di dalam.
Hanan meninju dinding kamar mandi. Dia seperti tersadar dari alam bawah sadarnya. Mengingat apa yang baru saja dia lakukan kepada Zahwa , dia menyesalinya.
Dia mengguyur tubuhnya dengan air hangat dari shower kamar mandi. Berharap apa yang merasuki dirinya ikut terguyur dan hilang bersama air yang mengalir dari tubuhnya.
Di luar, Zahwa duduk terdiam di sofa. Kali ini memikirkan apa yang membuat Hanan marah. Dia merasakan jika Hanan tadi tidak sedang berpura-pura apalagi mengerjainya. Kenapa juga dia begitu tidak suka , jika dirinya menyebut nama Surya. Masih dengan pikirannya, Hanan keluar dari kamar mandi. Zahwa beranjak dari duduknya , ingin membantu Hanan berjalan. Tapi di cegah oleh Hanan.
"Aku mau sholat, tidak perlu membantu ku dulu," Kata Hanan.
Zahwa mengerti. Dia mengatakan sajadah untuk Hanan sholat, dengan sedikit sempoyongan Hanan menuju sajadah itu dan mulai Sholat.
"Kamu tidak ikut jama'ah?" tanya Hanan.
"Aku sedang Haid" Jawab Zahwa.
Hanan melengos lemas dan memulai sholat subuh.
__ADS_1