
Beberapa hari setelahnya Surya berangkat juga ke Jombang. Dia diantara oleh Hanan dan Zahwa ke bandara.
Perjalanan kali ini sangat ambigu. Karena tidak ada kejelasan kapan dan sampai kapan Surya kembali. Dia pergi untuk menebar ilmu, tapi seperti ingin mencari apa yang harus dia cari. Yang pasti saat ini dia harus pergi.
''Aku berangkat'' Kata Surya dengan senyum dan memeluk adiknya.
''Iya kak. Hati-hati, sering-sering kabari kami.'' Pesan Hanan.
''Ok. kalian juga baik-baik, jangan sering bertengkar.'' Balas Surya pada Hanan dan Zahwa.
''Aku tidak, tapi gak tau dia.'' Sindir Hanan dengan melirik Zahwa.
''Kok aku? kamu yang mulai biasanya.'' Balas Zahwa merasa di sindir.
''Tuh kan? Dia gampang banget sensi. Padahal cuman bercanda.'' Kata Hanan.
''Bercanda, bercanda. Itu namanya Nyindir.'' Sewot Zahwa.
''Udah. Belum juga aku pergi, kalian bertengkar lagi.''Sergah Surya kesal Setiap kali mereka bertengkar, dia yang harus merelai kan.
''Aku berangkat, Assalamualaikum... '' Salam Surya.
''Waalaikumsalam..." Balas Hanan dan Zahwa hampir bersamaan.
Setelah Surya hilang dari pandangan mereka. Barulah mereka pulang.
Setelah sampai rumah. Mereka di kejutkan oleh kedatangan Bella, bersama putranya.
''Aunty!'' Seru Jauhar, putra Bella dengan berlari melihat kedatangan Zahwa. Dengan sigap Zahwa langsung menyambutnya dengan pelukan.
''Assalamualaikum dulu," kata Zahwa seraya mencubit pipi bakpau Jauhar pelan.
''Oh iya lupa. Assalamualaikum Aunty!" Salam Jauhar dengan logat lucu.
''Waalaikumsalam..." Balas Zahwa.
'' Hallo paman!'' Sapa Jauhar dengan senyum manis dan menggemaskan kepada Hanan.
''Hallo, Jagoan.Apa kabar?'' Tanya Hanan
__ADS_1
Ini untuk pertama kalinya dia bertemu dengan Jauhar. Melihat anak laki-laki yang masih berusia 5 tahun ini sontak membuatnya gemas dan ingin mengajaknya bermain.
''Baik Om. Om punya mainan?'' Tanya Jauhar gemas.
Mendengar pertanyaan Jauhar, Hanan bingung menjawabnya. Mana ada mainan di rumahnya . Tidak ada anak kecil di rumah ini. Dia melihat ke arah Zahwa.
''Jauhar!" Panggil Bella dengan melotot.
''Hehehe gak papa Kak.'' Sabut Hanan cepat . Sebelum ibunya marah kepada anak Jauhar.
''Jauhar mau mainan?'' Tanya Zahwa .
''Iya, Ada?'' Tanya Jauhar.
''Gak ada sayang.'' Jawab Hanan. Mendengar jawaban tersebut Jauhar yang imut kecewa. Bibirnya manyun seketika.
''Tapi ... Mau gak beli mainan sama Paman?'' Tanya Hanan dengan wajah semangat.
''Mau!'' Seru Jauhar gembira .
''Siap jagoan! Pamit dulu sama Aunty dan Mama '' Kata Hanan.
Dengan segera Jauhar lucu berpamitan dengan Zahwa dan Bella. Kemudian segera meraih tangan Hanan dan menariknya. Dia sudah tidak sabaran.
''Santai Ka.. Aku juga seneng kok.'' Kata Hanan.
''Da.. dah Sayang.'' Ucap Zahwa setelah mereka sudah akan pergi menuju mobil.
Setelah mereka pergi. Zahwa dan Bella kembali ke dalam rumah.
''Tumben? Ada apa?'' Tanya Zahwa. Sejak pertama melihat kakak sepupu datang dia merasakan jika Bella sedang ada masalah. Wajahnya pucat dan tidak seceria biasanya.
''Aku bingung mau cerita atau enggak.'' Jawab Bella . Dia ragu, tapi semua terasa sesak jika dirinya saja yang memendamnya.
''Ada apa? Cerita lah. Dulu saat aku susah kamu yang bantuin. Sekarang gantian." Kata Zahwa. Dia semakin penasaran dengan masalah yang menimpa Bella.
Belum juga cerita. Bella yang biasanya kuat tiba-tiba meneteskan air mata , dan langsung sesenggukan. Membuktikan jika apa yang sedang ia alami sungguh menyakitkan.
''Minum dulu gih.'' Kata Zahwa semakin khawatir. Dia memberikan air minum kepada Bella.
__ADS_1
Dengan tangan sedikit gemetar Bella minum. Zahwa tidak pernah melihat sepupunya seperti itu . Yang dia tahu dia wanita kuat dan tidak pernah mengeluh. Sesakit apapun dia bisa menahannya. Tapi kali ini dia sampai tak sanggup menyimpannya sendiri. Ada apa sebenarnya?
Zahwa membiarkan Bella menangis dahulu. Dia hanya bisa mengelus pundak Sepupunya itu dan menghapus air matanya berlahan.
Setelah beberapa saat, Bella mulai ingin mencurahkan isi hatinya.
''Sebesar apapun pahalanya, ataupun hadiahnya . Aku memilih ke neraka dari pada aku harus mengikuti apa kata mereka!''
Tangannya mengepal, menguatkan hati yang semakin terguncang. Hawa panas seketika menguasai tubuhnya.
''Apa maksudnya? Siapa mereka?" Tanya Zahwa penasaran.
''Dalam hidup ku, aku hanya membenci satu orang. Dan banyak yang menentangnya. Siapakah mereka? Tuhan? Bahkan Tuhan ku mengizinkan rasa benci ini bersemayam. Melukainya saja aku gerah, apalagi harus harus hidup terus bersamanya.'' Kata Bella. Semakin membuat Zahwa binggung. Dia sama sekali tidak mengetahui siapa yang di maksud Bella.
''Tidakkah bisa menerima. Jika dalam hidup kita akan menemukan orang yang mencintai kita pun sebaliknya. Jika hidup dia penuh cinta. Seharusnya bisa menerima jika aku saja yang membencinya.'' Tambah Bella
''Siapa?'' Tanya Zahwa
''Ibu mertua ku." jawab Bella nanar.
Kabar tentang ketidak harmonisan Bella dengan mertuanya memang sudah terdengar lama. Bahkan awal pernikahan mereka saja sudah terlihat jika ibu mertuanya tidak menyukai Bella.
Meskipun begitu Bella tetap bertahan. Tetap bisa menguasai hatinya . Sejahat apapun dirinya dia tidak pernah berniat untuk menyakiti siapapun. Apalagi mertuanya.
Hati Zahwa ikut lunglai melihat sepupunya seperti ini. Entah apa yang terjadi, dan bagaimana perseteruan antara dia dan mertuanya. Yang dia tahu , dia pun juga tidak bisa membantu banyak kecuali mendengar keluh kesal Bella.
Zahwa tidak merasakan kehadiran mertua dalam hidupnya. Dia tidak tahu bagaimana harus menyikapinya.
Andaikan dia memiliki mertua.Akankah dia bisa mengganggap mereka seperti orang tua dia sendiri . Begitu sebaliknya akan kah mertuanya juga bisa mencintainya sebagaimana mereka mencintai anaknya.
Ataukah dia akan memiliki konflik seperti Bella seperti ini?
''Sabar, Coba cerita dulu. Sebenarnya ada masalah apa?" Tanya Zahwa.
''Mertua ku meminta kami untuk bercerai.'' Jawab Bella seketika langsung berurai air mata.
Zahwa terbelalak tidak percaya. Begitu bencikah mertua Bella kepada dirinya. Hingga tega menyuruh anaknya untuk bercerai.
''Aku kurang apa Wa. Selama ini aku diam, di omongi ke tetangga pun aku gak membela. Biarin orang mau berkata apa. Terserah, aku gak peduli . Tapi semakin lama di biarin, semakin menjadi. Capek aku.''
__ADS_1
''Salah ya wa kalau hati ku capek. Kalau aku benci dia. Aku tahu kalau dia orang tua suami aku. Tapi aku benar-benar capek wa. Meskipun aku tahu mungkin semua orang pasti membenci ku." Lanjut Bella.
Setiap mata memandang hanya amarah dan kebencian yang terlihat. Zahwa semakin tidak berani bersuara. Ini bukan tentang rasa benci saja, tapi rasa sakit yang dia harus terima. Jika saja orang tahu, bahwa tidak ada satupun manusia yang ingin merasakan apa dia sedang rasakan. Dia manusia, yang hanya membenci satu orang saja. Tapi dia harus menerima kebencian dari seluruh alam semesta. Salah apa? Dan harus bagaimana? Jika Tuhan saja masih mengeras rasa, apa mau di kata. Tidak ada.