
''Ya Alloh yang. Jangan keras-keras Napa?'' keluh Hanan, dia mengangkat tubuhnya.Menatap memelas pada istrinya.
''Maaf Mas, kelepasan.'' Pinta Zahwa. Sambil mengelus-elus pundaknya.
''Neng Zahra dan Gus Hanif juga akan pulang tapi baru saja Abah yai menelpon. Katanya, mereka terlambat di penerbangan hari in. Baru besok pagi, mereka bisa pulang." Terang Badrun.
''Oalah. Jauh-jauh, ternyata gak bawa pulang Zahra sama Hanif. '' Ujar Surya.
Surya mempersilahkan Badrun untuk duduk bersama mereka. Kebetulan pesanan mereka juga sudah datang.
" Kau mau makan apa drun?'' Tanya Surya.
Terlihat Badrun malu saat Surya mengajaknya makan bersama. Dia ke cafe ini tadi hanya ingin membeli minuman saja, eh tidak tahunya malah bertemu dengan Surya yang langsung menghampirinya.
''Ndak usah kang. Saya tadi mau pesan minum saja kok.''
''Gak papa. Aku traktir /, kamu pesan apa saja yang kamu mau.''
Surya menepuk punggung Badrun. Dia tahu, santri Dhalem itu mulai sungkan dengan dirinya dan keluarganya.
Akhirnya Badrun meminta Surya untuk memilihkan apa saja yang dia kehendaki. Badrun terlalu malu, jika dia memilih menu sendiri.
Bik Asih yang baru saja ke toilet, terlihat sudah kembali. Sepertinya beliau kelelahan. Usia senjanya, membuat kekuatan tubuhnya menurun. Tapi, saat kemarin Zahwa menanyai bahwa dia diperbolehkan ikut. Bik Asih senang bukan main
Beliau, tidak mengeluhkan tubuhnya yang mungkin saja akan kelelahan saat dalam perjalanan.
''Bik, perlu obat? Aku bawa obat pereda nyeri . Mungkin saja bisa membantu." Tawar Zahwa seraya mengobrak-abrik isi tasnya. Dan mengeluarkan beberapa tablet obat, menyerahkan pada Bik Asih.
''Terimakasih non.'' Balas Bik Asih. Dia mulai meminum obat tersebut.
Zahwa menyuruhnya untuk segera makan juga. Dan mengistirahatkan tubuhnya.
''Ngomong - ngomong kang_
Zahwa tersekat saat ingin memanggil Badrun, karena lupa namanya.
''Badrun neng,'' Sahut Badrun sambil sedikit membungkuk.
__ADS_1
''Oh iya. Kang Badrun apa setiap tahun Zahra pulang di saat acara haul pondok seperti besok itu?'' Tanya Zahwa.
''Iya neng. Neng Zahra dan Gus Hanif sesibuk apapun pasti pulang saat acara haul. Apalagi besok, saat pernikahannya."
Uhuk uhuk .
Semua tersedak makanannya setelah mendengar pernyataan Badrun.Semua mata tertuju pada dirinya .
''Maksudmu bagaimana?'' Tanya Zahwa. Dia yang paling antusias.
Surya yang ikut tersedak mengambil minuman. Hanan melakukan hal yang sama.Badrun sampai bingung ketika melihat orang-orang di depannya tersedak secara bersamaan.
''Lah iya, kan? Besok neng Zahra menikah dengan kang Surya. Itu cerita Abah yai.'' Kata Badrun lebih jelas .
Semua diam. Bengong dengan kalimat yang di utarakan Badrun . Besok neng Zahra menikah dengan kang Surya. Maksudnya bagaimana?
''Jadi besok Zahra juga menikah?" tanya Surya.
Tiba-tiba ada perasaan tidak menentu dalam hatinya.
"Tuh, kan gimana ini ceritanya.'' Sahut Zahwa.
''Bukanya bagus ya non. Mbak Zahra nikah, sama Mas Surya.'' Sahut Bik Asih.
Zahwa hanya bisa nyengir tanpa menjawab. Kepalanya pening seketika. Entah mengapa, otaknya buntu dan tak lagi bisa mencerna omongan siapapun.
"Apa yang di katakan Bik Asih benar? Mestinya seneng kan? Kenapa malah galau? Kita sudah tahu jawabannya, kan? Besok siapa yang menikah.'' Sahut Hanan. Dia meneruskan makanannya. Sempat, dia juga ikut terkejut saat Badrun mengatakan jika Zahra akan menikah tadi.
Ingin rasanya Zahwa mendumel pada suaminya. Tapi tidak dia lakukan karena ada Badrun di sana.
''Berarti besok yang menikah aku dan Zahra?'' Tanya Surya menegaskan.
''Iya kang. Masak kamu gak tahu." Jawab Badrun
''Memang tidak tahu. Aku kira hanya aku saja,'' kata Surya.
Hanan langsung tersenyum remeh mendengar pernyataan kakaknya. Namun, dia hanya diam setelah itu.
__ADS_1
''Lah, gimana kang Surya ini. Kok ya aneh sampean Iki.'' Celetuk Badrun.
Surya diam. Dia seperti memikirkan sesuatu.Tapi entah apa itu. Seperti ada yang janggal, tapi apa? Dia belum juga menemukan.
Pikiran Surya merambat pada malam perbincangan dia dan Kyai Jauhari. Saat itu, Zahra juga menelponnya. Dia memang mendengar jika kyai Jauhari akan memilihkan seorang pemuda untuk dirinya kelak. Tapi, Surya pikir itu hanya omongan saja. Tapi nyatanya, itu benar terjadi dan secepat itu juga.
Apa mungkin yang di maksud kyai Jauhari adalah Gus Hakim. Putra dari guru besarnya dulu. Malam itu juga kyai Jauhari mengatakan jika dia akan mengundang Gus Hakim ke acar haul tersebut. Dan meminta Surya untuk ikut sowan dengannya.
Namun , belum juga kesampaian. Dia mendapat kabar jika bibinya meninggal. Dan meminta izin pada kyai Jauhari untuk pulang terlebih dahulu.
Hah! Surya menghela nafas kasar . Ingatan tentang Zahra melambung tinggi di dalam pikirannya. Gadis berparas menawan itu sempat dekat dengan dirinya. Senyumannya, selalu menyejukkan siapapun yang memandang.Dia juga sangat sopan, cerdas dan yang paling utama dia Sholehah. Beruntung sekali lelaki yang akan mendampinginya nanti.
Pantas juga, jika Kyai Jauhari memilih seorang Gus untuk dirinya. Mereka akan cocok nantinya. Sama-sama dari keluarga pesantren dan juga berwawasan agama yang luas.
Senyum simpul tiba-tiba terpancar dari wajah Surya. Mengingat saat malam terakhir mereka di halaman masjid.Tempat , mereka biasa bertemu. Menyelami samudera ilmu dalam kitab-kitab kuning yang dia bawa.
Beberapa hari sebelum itu Zahra dengan telaten menerangkan bab demi bab isi dari kitab tersebut. Penuh kesabaran dan kadang di bumbui candaan saat Surya merasa tegang.
Hingga pada malam itu tiba. Karena terpancing haluan Zahwa dan Hanan mereka hampir saja salah faham. Mana mungkin, seorang Zahra bisa menyukai dirinya. Walaupun, iya bisa di terima jika sebelumnya dia sempat menyukai adiknya.
Tapi dia dan Hanan, mereka memiliki banyak perbedaan. Bahkan terkadang bertolak belakang. Adiknya itu, memiliki beribu pesona dalam dirinya. Sedang dia, untuk berjajar dengan dirinya saja. Dia harus bekerja keras.
Saat itu,dia sendiri belum bisa menerima seseorang dalam hidupnya. Masih merasa ragu akan apa yang harus dia lakukan. Baru saja dia terluka akan cinta yang tiba-tiba hilang di depan matanya dan itu membuatnya sulit untuk mempercayai dirinya sendiri lagi.
''Kalian kenapa bengong?" Tanya Hanan.
Dia mengamati istri dan kakaknya sedang melamun.Entah, apa yang sedang di pikiran mereka berdua.
Bukankah bagus. Jelas-jelas kang santri bernama Badrun itu mengatakan jika kakaknya akan menikah dengan Zahra. Tapi kenapa malah terlihat muram.
Atau jangan-jangan, sebenarnya mereka masih saling belum mengikhlaskan. Zahwa,istrinya galau karena baru tersadar jika mantan kekasihnya itu akan menikah. Dan kakaknya, Surya. Sebenarnya juga masih belum siap untuk menikah.
Isi pikiran itu meracuni Hanan. Tiba-tiba dia kesal dengan dua orang di depannya itu. Bisa-bisanya mereka memperlihatkan rasa terpuruk itu sekarang , tepat di depan matanya.
''Hai...Kalian berdua! Aku sedang bertanya? Kenapa tidak menjawab?'' Seru Hanan naik pitam.
Membuat lamunan Zahwa dan Surya buyar. Badrun yang sedang menyantap makanannya sampai tersedak karena kaget. Dia menelan makan itu tanpa mengunyahnya.
__ADS_1
Bik Asih, dia sampai menghentikan aktivitas makannya karena melihat Hanan marah.