Hati Yang Terpilih

Hati Yang Terpilih
Episode 102


__ADS_3

''Gimana kabar mu?'' Tanya Hanif girang. Setelah sekian lama dia baru bisa menelpon sahabatnya.


''Baik. Aku sedang di Sukabumi ini." Jawab Hanan.


''Ngapain? Zahwa Lo tinggal sendiri di rumah?" Tanya Hanif lagi.


''Tidak, dia selalu bersamaku. Bibi ku Sakit, dan kami di sini sudah hampir satu bulanan.'' Jawab Hanan.


''Oh... Salam buat bibimu. Semoga lekas sembuh . Tapi jangan lama-lama lah di sana. Kasih waktu buat Lo sama Zahwa. Masih aja sibuk ngurusin ini itu '' Ujar Hanif.


''Hahaha...Tiap hari kami berdua, malah kalau di rumah bakalan sering pisah. Karena aku harus kerja.'' Balas Hanif.


''Oh iya, Gimana- gimana? Udah ada kabar baik belum?" Tanya Hanif antusias. Mengingat saat-saat terakhir mereka bersama. Zahwa seperti sedang nyidam. Tapi saat itu mereka belum memberikan kepastian.


''Kabar apa?" Tanya Hanan bingung.


''Yah, kabar kehamilan? Zahwa udah positif belum?'' Tanya Hanif. Hal seperti itu saja, dia harus menjelaskan.


''Oh. Sepertinya belum, kami belum mengeceknya sama sekali. Tetapi Zahwa juga tidak memberikan tanda-tanda jika dirinya hamil. Dia biasa saja." Jawab Hanan. Ada sedikit kesedihan di dalamnya.


''Yah...Sesekali kalian pergilah ke rumah sakit. Coba cek gitu. Kalian sudah hampir satu tahun nikahnya. Terkadang itu bukan masalah kesuburan, tapi juga fikiran dari ke dua pasangan tersebut. Rasa lelah yang terus di biarkan juga menjadi penyebab gagalnya kehamilan. Usaha udah pasti, lo sering ngelakuin. Tapi juga harus tau lah, hal-hal yang membuat terlambatnya kehamilan." Kata Hanif panjang lebar.


''Hahaha...Sebentar,kamu di UCL pindah jurusan kah?'' Tanya Hanan sambil menahan tawa.


''Ya gak lah," Jawab Hanif spontan.


''Oh. Kirain, soalnya Lo kayak suster-suster di sini ngomongnya.'' Kata Hanan.


''Busset dah. Gak ngehargain banget. Sini pergantian, eh sana cengengesan.'' Sewot Hanif.


''Iya, iya. Makasih. Sensitif banget kayak cewek." Celetuk Hanan.


Keduanya kemudian bercanda panjang lebar. Banyak hal yang di ceritakan oleh Hanif. Tentang, tempat mereka, orang-orang di sana, lingkungan , dosen dan kebiasaan yang bertolak belakang dari kebiasaan mereka di Indonesia.


''Oh iya, gue 2 Minggu lagi pulang ke Indonesia. Tapi langsung ke Juanda. Kalau bisa kita ketemulah , tamu Lo yang ke Jawa." Ujar Hanif.


''He, ngapain pulang? bukanya belum liburan?'' Tanya Hanan pemasaran.


''Yah, ada acara haul kakak gua. Cuman izin sebentar. Paling cuman 2 Minggu. Habis itu langsung balik lagi ke sini.'' Jawab Hanif.


''Oh.''

__ADS_1


''Beneran Lo, gua tunggu. Ajak Zahwa sekalian.' seru Hanif.


''Inya Alloh. Lihat kondisi Bibi dulu, kalau bisa di tinggal aku ke sana. Kasian, Lo pasti kangen gua kan. Hahahaha.'' Ujar Hanan.


''Idih. Jijik gua dengernya."


''Hahahaha... Gue juga nahan bilang gitu ke Lo.''


Lagi-lagi terdengar gelak tawa di antara mereka.Hanan sampai menjadi pusat perhatian karena kelepasan tertawa.


''Yang?'' Panggil Zahwa.


Hanan menoleh ke asal suara tersebut. Di lihatnya Zahwa sedang berjalan ke arahnya. Wajahnya cemberut karena sebelumnya dia bingung mencari suaminya itu. Dan saat ketemu, suaminya malah sedang telponan seperti orang gila.


''Iya, ada apa?'' Tanya Hanan dengan polosnya.


''Aku cariin juga. Tadi, very nyariin kamu. Katanya ada sesuatu yang harus di tandatangani. Dia jelasin aku ini itu, aku gak faham. Hah! Kamu malah enak-enak an teleponan." Sewot Zahwa.


''Oh, iya. Tunggu sebentar.'' Pinta Hanan.


Setelah itu Hanan mengakhiri perbincangannya dengan Hanif. Dan kemudian mengajak Zahwa ke tempat very.


''Hanif.'' jawab Hanan singkat.


''Kok gak bilang tadi." sewot Zahwa.


''Kamu baru nanya. Datang juga langsung marah-marah.'' Balas Hanan.


''Hah. Tau gitu tadi aku bicara sebentar sama Zahra.'' Kesal Zahwa.


''Hanif yang telpon, bukan Zahra.'' jelas Hanan .


''Ya kan sama aja. Hanif sama Zahwa gak jauh-jauh kan? Pastinya di sana mereka juga sama-sama terus.''


''Hah. Ya gak sama juga sayang. Bisa saja Hanif lagi di apartemennya.'' Jelas Hanan.


'' Hmm...ya sudah lah. Bilang apa tadi?'' Tanya Zahwa.


''2 Minggu lagi katanya mau pulang. Sebentar tapi, cuma 2 Minggu. Itupun gak ke sini, ke jalan Jombang.'' jawab Hanan .


''Asyik. Kita ke sana yak, pas mereka pulang.'' Seru Zahwa .

__ADS_1


''Mereka? Siapa?"


''Ya Hanif sama Zahra."


''Yang bilang Hanif, bukan Zahra.''


''Sama aja.'' Greget Zahwa.


Hanan melepas nafas panjang. Bicara dengan istri akan membuat dia kesal sendiri. Dan akhirnya dia lagi yang harus mengalah.


Sesampainya di ruangan bibi Ami. Very berbicara dengan Hanan. Terlihat ketegangan di antara mereka. Zahwa tidak terlalu mengerti apa yang di bicarakan, apalagi Wardah dan paman Sam yang saat itu juga berada di sana.


''Kalau harus meminjam peralatan medis dari rumah sakit ibu kota. Apa gak mahal nanti? bukan apa-apa, aku juga ingin bibi mu sembuh. Tapi biaya rumah sakit di sini saja, keluarga kami sudah kualahan. Apalagi nanti.'' Keluh Paman Sam.


''Paman, apakah aku orang asing bagimu? sampai paman berkata seperti itu?'' Tanya Zahwa sedih.


Paman Sam diam. Dia tidak memiliki jawaban akan pertanyaan Zahwa. Logika mengatakan bahwa dirinya adalah keponakannya. Tapi hati, masih belum sepenuhnya menerima. Dia masih seperti orang asing. Yang tiba-tiba saja datang di keluarga mereka.


Bukan karena tidak menyukainya. Namun, dia seperti malaikat yang siap menaruhnya apa saja untuk keluarga mereka. Ada perasaan canggung saat dimana harus menerima bantuan begitu saja. Apalagi, setelah apa yang mereka lakukan kepada Zahwa.


''Aku tahu paman. Mungkin aku belum bisa menjadi seperti yang keluarga inginkan. Aku bukan pilihan kalian.Tapi izinkan aku untuk berusaha seperti yang kalian harapkan." Ujar Zahwa.


Mendengar hal tersebut, membuat paman Sam merasa bersalah.


''Bukan seperti itu. Kamu salah faham. Hanya saja, jika membebankan ini semua pada mu dan Hanan itu akan membuat kami tidak enak hati. Apalagi setelah apa yang di perbuat oleh kami." Ujar paman Sam.


''Tidak ada yang salah paman. Paman dan keluarga tidak pernah bersalah apapun kepada ku, pun dengan Mas Hanan. Mungkin keadaan saja saat itu kurang baik.'' Kata Zahwa.


''Paman dan bibi hanya menyampaikan amanah ibu mertua. Kalian baik, kalian tetap memikirkan keluarga mas Hanan. Padahal kami, yang muda tanpa sengaja telah melupakan kalian. Dengan tidak memberitahukan tentang pernikahan kami. Karena itulah, salah faham terjadi. Semestinya, kami yang minta maaf." Lanjut Zahwa.


''Iya paman...Zahwa benar, kami yang harus meminta maaf. Terutama aku, seharusnya setelah menikah setidaknya aku mengundang kerabat untuk memberikan kabar baik tersebut. Tapi tidak, kami sibuk dengan urusan kami dan lupa, jika menikah meskipun tak ada resepsi tetap harus meminta restu kepada keluarga lainya juga." Sahut Hanan.


''Ya sudahlah. Semua sudah terlanjur terjadi. Cukup untuk menjadi pelajaran untuk kita semua.'' Ujar paman Sam.


Setelah itu Zahwa sungkem kepada paman Sam. Dia meminta doa untuk keluarga kecilnya nanti. Hanan pun melakukan hal yang sama.


''Paman, aku keluar sebentar." Izin Wardah tiba-tiba. Tanpa menunggu jawaban dari paman Sam dia langsung keluar ruangan. Dan itu membuat Zahwa tidak enak hati.


''Dia gadis yang baik. Insya Allah dia akan mendapatkan lelaki yang baik juga. Jangan khawatir.'' Kata Hanan sambil melihat Zahwa. dia sadar jika saat itu istrinya merasa iba kepada Wardah.


''Insya Alloh, Amin amin amin.'' Balas paman Sam . Zahwa juga mengaminkan, namun dengan suara lirih.

__ADS_1


__ADS_2