
_Terkadang terlambat itu bagus , daripada tidak sama sekali_
" Ini kamar nya ?," tanya bik asih. Baru saja ia datang dan langsung bekerja .
" Mungkin bik , kata mas Hanan kamar bagian ujung . Ya ini paling ujung " jawab Zahwa. Dia juga baru beberapa hari di rumah itu dan belum semua tempat ia ketahui.
Zahwa membuka pinta kamar tersebut. Baru pertama membuka tercium bau hambar , mungkin terlalu lama tak di huni.
Tidak berbeda dengan kamarnya, kamar ini luas dengan cat berwar putih dan jendela lebar dari sisi lain kamar , bisa menjadi pembatas juga antara kamar dan balkon . Dengan gorden coklat tua dan juga vitrase putih . Berbeda dengan kamarnya yang memakai warna - warna lebih terang . Kamar ini terlihat sedikit gelap. Tidak ada sofa tetapi 2 kursi spon dengan warna coklat susu dan meja kayu di samping jendela lebar tersebut.
" Kamar ini seperti kamar Non " kata bik asih . Zahwa tertegun dia berkeliling melihat-lihat lagi .
" Iya bik , kebetulan sekali." Balas Zahwa senang , dia merasa kembali ke kamarnya. Dia membuka jendela besar itu dan terlihat balkon yang sedikit kotor tapi tidak meninggalkan kenyamanya. Ada kursi gantung setengah oval berbahan kayu , terdapat dua alas untuk duduk dan bersandar. Di bagian sisi dinding ada taman vertikal yang bernuansa alam. Di Tepian balkon juga ada beberapa tanaman.
" Nyaman. " Guman Zahwa tanpa sadar.
Zahwa mencoba duduk di kursi gantung tersebut , sedikit mengayunkan dan melepas lelah . Langit malam mulai memeperlihatkan pesonanya. Bintang-bintang di langit mulai bertaburan di temani bulan sabit yang terlihat sedang tersenyum.
Dia melihat bik asih , beliau sedang membersihkan kamar tersebut. Sebenarnya dia ingin membantu tetapi badannya terasa pegal-pegal. Hari ini dia sudah mengerjakan pekerjaan rumah, bukan masalah yang besar sebenarnya . Dia juga terkadang membantu pekerjaan bik asih , tapi hari ini hampir semua bagian rumah dia kerjakan sendiri. Melepas lelah tidak masalah bukan ?
" Malam ini sama seperti waktu itu , " kata Zahwa pelan .
Flash Back
Malam itu bintang juga bersinar terang , sama seperti hari ini . Bulan sabit juga tersenyum manis. Bedanya indahnya malam saat itu tidak seindah senyum bahagia gadis itu.
" Aku harap Zahwa mau bersabar dan menunggu , aku berjanji akan terus berusaha untuk Zahwa " kata laki-laki di depannya.
__ADS_1
" Kamu berjanji ?," Tanya Zahwa meyakinkan . Laki laki itu mengangguk tanpa ragu. Berbeda dengan pasangan lain yang akan memegang tangan pasangannya untuk menyakinkan , dia hanya menatap tanpa ragu dan penuh keyakinan.
" Baiklah, aku percaya. Tapi dengan satu syarat." Kata Zahwa
" Apa ? ,"
" Emm ,,, tulis semua janji mu di kertas ini." Kata Zahwa dengan mengeluarkan kertas dari tasnya.
" Baiklah , tapi kalo hanya selembar kertas tidak akan cukup ," tantang laki-laki tersebut.
" Baiklah, berapa pun yang kamu butuhkan aku akan berikan " kata Zahwa meyakinkan. Tidak mau kalah dia mengeluarkan beberapa kertas di dalam tas nya . Warna warni , dan banyak bentuknya.
" Seperti sudah di persiapkan dengan sangat matang , " sindir lelaki tersebut dengan melihat-lihat dan membolak-balikkan kertas pemberian Zahwa. Zahwa tersenyum bangga.
" Ok , aku akan mulai menulis nya. "
Satu kertas sudah penuh dengan tulis lelaki tersebut dan Zahwa membacanya. Ada binar haru di raut wajah nya setelah membaca tulisan itu. Sedang lelaki tersebut kembali mengisi kembali kertas kosong-kosong itu. Dan kembali lagi di baca oleh Zahwa , begitu seterusnya. Hingga kertas terakhir.
" Kok sudah ?," tanya Zahwa , melihat lelaki tersebut meletakkan bolpoin nya.
" Aku sudah , tapi kamu belum. Begitu banyak janji yang aku tulis, aku akan berusaha memenuhinya. Dan sekarang giliran mu , " jawabnya.
" Kamu ingin aku berjanji apa ? ," Tanya Zahwa
" Tidak, aku tidak akan meminta janji kepada mu , terkadang seseorang akan merasa terbebani dengan banyak janji." Jawabnya
" Berarti kamu terbebani," ujar Zahwa . Terlihat dari wajahnya , dia kecewa. Berbeda dengan lelaki di depannya. Dia tersenyum dan menggelengkan kepala.
__ADS_1
" Aku mencintaimu, sebagai cinta janji bukanlah beban tapi dorongan dan untaian rasa cinta,"
" Berarti aku juga bisa mengngangapnya seperti itu "
" Wah, kamu terlalu cepat. Aku kira , aku akan sedikit menunggu mendengar jawaban pernyataannya cinta ku. " Goda lelaki tersebut dangan sedikit terkekeh. Zahwa manyun , wajah nya merah.
" Sudah lah , aku tidak ingin berjanji. " Ujar Zahwa kesal , dia seakan di bully.
" Hahahaha... terserah lah , aku juga tidak meminta nya " balas lelaki itu.
Zahwa semakin manyun. Dia mengira bahwa dirinya sedang di permainkan. Tapi bukankah seharusnya lelaki tersebut yang sedang di permainkan. Dia sudah banyak berjanji , tetapi satu pun janji balasan tidak ada.
Zahwa mengeluarkan satu kotak berwarna biru. Dia memasukkan semua kertas-kertas berisikan tulisan janji tersebut kedalam kotak tersebut.
Setelah selesai semuanya, Zahwa menyodorkan kotak itu pada lelaki itu.
"Bawalah, agar kamu terus mengingat janji mu," kata Zahwa.
" Baik terima kasih " Ujar dia.
" Aku akan membawa kertas satu itu , aku akan menulis janji juga, saat setelah kamu kembali lagi. Tapi sebelum nya kamu harus tau_ '' Belum juga Zahwa menyelesaikan omongannya lelaki itu menghentikannya dengan cepat.
" Cukup . Aku sudah tau. Terkadang aku berfikir mendengar atau bahkan membiarkan seorang gadis menyatakan cinta itu sama saja menghancurkan harga diri seorang lelaki " Sahutnya. Zahwa tidak meneruskan perkataannya.
Malam yang panjang, tetapi menyenangkan. Meskipun akan menjadi sebuah kenangan.
***
__ADS_1