
"Aku akan telpon mas Surya. Kamu temani mereka," kata Hanan setelah Zahwa menyajikan minuman kepada mereka satu persatu.
Zahwa meringis, tidak setuju. Tapi Hanan melotot. Menandakan kalau dia tidak boleh menolak.
Hanan beranjak pergi, beralasan mengambil ponsel dan ingin menghubungi Surya.
"Sebenarnya ada apa? Kenapa kamu ada di rumah Surya? Apa kalian sudah nikah? Tapi kok kamu seperti malah dekat dengan Hanan? Terus di mana Surya?" tanya Mujib beruntun, agak pelan takut Hanan mendengar.
Para teman lainnya juga menunggu jawaban Zahwa. Mereka terlihat terpaku menunggu penjelasan Zahwa.
Zahwa merasa tegang karena ini kali pertama dia harus menceritakan pernikahan kepada orang lain selain keluarganya. Terlebih mereka adalah teman Surya dan lagi kakak angkatnya.
Berfikir, setelah ini akan ada banyak lagi yang akan mengetahui soal pernikahannya. Akan mengkhawatirkan lagi jika teman-temannya tahu kalau dia menikah bukan dengan Surya tetapi hanan, adiknya. Jawaban apa yang harus dia berikan. Bagaimana kalau nanti akhirnya Hanan tahu soal dirinya dan kakaknya.
"Zahwa, cepat ceritakan kepada kami. Sebelum Hanan datang," desak Mujib. Seperti dia yang paling antusias ingin mendengarkan kisah yang sebenarnya.
"Aku sekarang istrinya mas Hanan," Kata Zahwa. Membuat beberapa orang di depannya terkejut dan terbengong seakan tidak percaya.
"Kok bisa? Maksudku bagaimana ceritanya?" tanya sebagian dari mereka berbarengan.
"Sepertinya mas Surya tidak bisa di hubungi," kata Hanan, dia tiba-tiba sudah ada di berada di antara mereka.
"Oh, coba aku hubungi," Sela Zahwa dia mengambil ponsel dari saku gamis yang dia kenakan.
Dia menekan nomer Surya di ponselnya. Nomer yang tanpa di simpan pun bisa di hafal nya luar kepala.
"Kau hafal nomer kak Surya?" tanya Hanan.
Zahwa kaget, baru sadar kalau Hanan sedang memperhatikan dirinya
"Itu mah gampang, nomer Surya itu nomer cantik. Aku saja bisa menghafalnya dengan satu dengar." Kata Mujib dengan segera dia menyebutkan urutan nomer ponsel Surya. Agar Hanan tidak curiga dan bertanya lagi.
Zahwa melirik Mujib.Dari sorotan matanya dia mengatakan terima kasih kepada dirinya.
Nomer Surya memang tidak tersambung. Beberapa kali Zahwa menghubungi tapi tetap saja nihil, tidak ada jawaban.
"Tidak ada jawaban juga," kata Zahwa dengan menggeleng.
"Mungkin sedang ingin sendiri, kasihan dia," lontar dari salah satu dari mereka.
Membuat sebagian temannya melototi dirinya. Dia menutup mulutnya, karena keceplosan.
"Hehehehe, mungkin dia gak betah di rumah . Karena meratapi nasibnya, karena adiknya menikah duluan," lanjut dia dengan cengengesan.
Zahwa bernafas lega, teman yang lainnya juga. Hanya Hanan yang terlihat percaya begitu saja.
"Kalau begitu, kami langsung pamit saja. Takut mengganggu pengantin baru," pamit Mujib mewakili teman-temannya.
Zahwa dan Hanan saling berpandangan. Terlihat salah tingkah.
"Tidak apa-apa kok. Di sini saja, mungkin saja sebentar lagi Mas Surya datang," cegah Zahwa.
Tidak enak juga kalau sudah jauh-jauh di ke sini tetapi harus pergi begitu cepat. Lagipula mereka juga temannya.
"Tidak, kami kira tadi Surya ada di rumah . Tanpa mengabari dan langsung ke sini . Sebenarnya ada acara makan - makan , biasalah ngumpul-ngumpul di rumah Dion . Karena Surya baru saja balik ke Indonesia . Aku pikir langsung mengajaknya tidak apa-apa. Tapi ternyata dia tidak ada di rumah. " Jelas Mujib .
Zahwa tidak bisa lagi mencegahnya. Mempersilahkan kalau jika ingin pamit.
"Aku akan mengabari kak Surya jika dia sudah pulang. Jika kalian ke sini," kata Hanan. Sebelum mereka meninggal rumah mereka.
"Ok. Baiklah kami pamit dulu," Kata Mujib
Hanan mengangguk. Dia menyalami mereka satu persatu Begitu pun Zahwa. Setelah beberapa saat mereka pergi dengan dua mobil.
"Apa ada yang masih kau sembunyikan?" tanya Hanan. Sesaat setelah mereka pergi.
Zahwa terlihat membereskan beberapa gelas minuman tadi.
"Aku tidak mengerti maksudmu," jawab Zahwa
"Kau adik angkat Mas Surya, tapi aku mengetahui dari orang lain. Jika bukan karena mereka apa kau akan mengatakan kepadaku?"
"Itu bukan hal besar. Aku hanya adik angkat kak Surya itu saja," acuh Zahwa.
"Tapi kau bersikap tidak pernah mengenal kakakku pada waktu pertama kali kalian bertemu di bandara," tambah Hanan.
__ADS_1
"Itu karena aku terkejut, dan tidak menyangka kalau Mas Surya adalah kakakmu,"
"Begitu?"
Zahwa meninggalkan hanan yang masih menatapnya curiga. Membawa gelas yang sudah kosong dan pergi ke dapur. Mulai mencucinya.
"Kamu mau makan sekarang? Mau aku siapkan?'' tawar Zahwa
Melihat Hanan yang terlihat masih ingin tahu dan bertanya Zahwa mengalihkan pembicaraan.
"Terserah," balas hanan.
Dia ingin bertanya lagi, tapi bik asih sudah berada di dapur. Ikut menyiapkan makan malam.
Beberapa saat kemudian mereka sudah makan bersama. Tanpa berbicara.
Dari pada memikirkan pertanyaan yang akan di ajukan Hanan. Zahwa lebih mengkhawatirkan tentang Surya. Tiba-tiba dia pergi tanpa memberitahukan kenapa siapapun. Ponselnya juga tidak dapat di hubungi.
"Buatkan kopi. Antar ke ruang kerja ku," kata Hanan setelah selesai makan kepada bik asih.
Zahwa melamun dan begitu lambat saat makan. Dia tidak sadar kalau suami itu sudah selesai makan dan sudah ingin beranjak pergi.
Hanan yang melihat wajah masam Zahwa tidak lagi ingin menanyakan persoalan yang sebenarnya mengganggu pikirannya. Pastilah hatinya sedang terguncang saat ini.
"Bik, sisakan makan malam untuk mas Surya nanti," Pinta Zahwa setelah Hanan tidak ada berada di sana.
"Iya, Non. Sebenarnya ada apa to non?" tanya bik asih. Dia sadar dengan perubahan sikap Zahwa.
"Tidak apa-apa, Bik" jawab Zahwa dengan senyum simpul. Seakan mengatakan bahwa dia baik-baik saja di senyum itu.
"Kalau ada apa-apa cerita ke bibi gak apa-apa, seperti dulu," tambah bik asih. Mencoba mengatakan bahwa ada orang lain yang juga peduli akan dirinya.
Tetapi sekali lagi Zahwa hanya tersenyum simpul dan tidak mengatakan apapun.
"Terima kasih, Bik. Aku akan ke atas. Jika mas Surya datang jangan lupa suruh makan juga," pesan Zahwa.
Bik asih mengangguk. Dia tidak curiga sama sekali dengan perhatian Zahwa kepada Surya. Mungkin karena majikannya itu perhatikan kepada siapapun.
Zahwa tidak kembali ke kamar, dia berdiri di teras lantai dua. Menikmati suasana malam dan angin yang menerpa wajahnya berlahan.
Iya, dia masih menunggu Surya. Mungkin jika bukan karena ke khawatiran karena kekasih. Tidak apa kan jika mengkhawatirkan karena dia adalah kakak iparnya, walaupun itu sebuah kebohongan.
Ada tangis yang sedang ia sembunyikan.
Ada luka yang sedang ia sembuhkan.
Ada resah gelisah yang coba di tenangkan dan ada nyala api cinta yang tak sanggup dia padamkan .
Zahwa terlihat mondar-mandir, berkali-kali dia melihat ponselnya. Berharap ada kabar dari Surya, walaupun mungkin itu hanya sebuah pesan singkat.
Dan berharap, suaminya tidak mengetahui kegelisahannya. Dia juga sesekali melihat pintu, berharap Hanan tidak melihatnya berada di sana, dan mengusik dirinya.
Malam semakin larut malam, Zahwa semakin gelisah. Sudah hampir dua jam dia berada di tempat itu. Tetapi yang di tunggu tidak kunjung datang.
Jika dia semakin lama di sana, Hanan akan mencarinya. Akhirnya Zahwa beranjak, beberapa langkah dia mendengar gerbang utama terbuka. Zahwa berlari melihat siapa yang datang. Berharap itu Surya.
Begitu bahagia dirinya, sesaat setelah dia melihat mobil Surya memasuki halaman rumah.
Jika dia bisa, mungkin saja dia akan berlari menghampirinya. Tetapi dia harus mengingat status sekarang.
Zahwa berlari kecil, melihat dia masuk rumah. Kesedihannya kembali lagi, ketika melihat surya dengan wajah lusuh tak berdaya dan seakan tak mempunyai gairah dalam hidupnya.
Andaikan jika dia bisa menghampiri dan menghiburnya. Tetapi lagi-lagi dia harus menahan semua angan-angannya.
"Setidaknya dia pulang dengan selamat," kata Zahwa pelan.
Zahwa melihat Surya sedang mencari sesuatu atau mungkin seseorang. Zahwa masih belum mengetahuinya. Saat Surya ingin pergi ke lantai dua, Zahwa beranjak dari tempat dan masuk kedalam kamarnya.
Tidak ada sesuatu yang terjadi.
"Jika dia mencari sesuatu atau apapun itu, bukanlah dia bisa menanyakan kepadaku," kata Zahwa mengeluarkan isi pikirannya. Tetapi sepertinya tidak, Zahwa mengintip dari balik pintu kamarnya.
Surya sudah di bawah lagi dan lagi dia bersama Hanan. Dia merasa tegang lagi apa Hanan akan menanyakan sesuatu tentang dirinya dan Surya.
Kedua kakak beradik itu terlihat serius. Menambah kekhawatiran Zahwa. Akhirnya Zahwa mengambil ponselnya. Mengirim pesan singkat kepada Surya.
__ADS_1
Tolong jangan ceritakan apapun itu tentang kita kepada mas Hanan.
Pesan tersebut yang dia tulis untuk Surya. Berbeda saat setelah itu surau melihat ke arah kamar Zahwa dan sedikit tidak mengerti apa yang di maksudnya. Tapi kemudian tidak menghiraukan lagi dan mengikuti langkah Hanan ke paviliun.
Entah apa yang mereka bicarakan tapi pada saat itu Zahwa berharap apa yang di takut kan tidak terjadi.
Zahwa terlihat gelisah mondar - mandir di depan ranjangnya. Berhenti dan berbaring di tempat tidur , pura-pura memainkan ponselnya. Setelah dia mengetahui ada langkah kaki yang mendekati kamarnya.
Dia bernafas lega Hanan yang datang dengan wajar biasa.
Mungkin besok harus berbicara dengan Surya dan meluruskan semuanya.
*****
Hari ini suasana rumah sangat sepi. Tadi pagi Surya memutuskan untuk kembali bekerja. Hanan pun ikut senang, karena memang banyak kerjaan yang harus mereka kerjakan bersama. Meskipun begitu waktu untuk berbicara empat mata antara Zahwa dan Surya harus tertunda. Entah kapan mereka bisa melakukannya.
Terlihat Zahwa sedang duduk dengan posisi membungkuk. Jari jemarinya seakan sedang menari di sebuah kertas di depannya.
Dia terlihat sibuk dengan buku gambar ukuran besar dan beberapa peralatan melukis. Sepertinya peralatan itu sudah tersimpan cukup lama, terlihat banyak debu dan sedikit karat di beberapa kuas yang di sejajarkan. Angin teras lantai dua juga sedikit menyapu beberapa debu di beberapa bagiannya.
Banyak orang mengira bahwa mungkin yang di lakukannya hanyalah main-main saja. Membuang waktu dengan buku gambar, beberapa kuas dan cat air. Untuk apa seperti itu.
Di balik semua anggapan itu, ada mimpi besar. Yang mungkin tidak ada orang yang mengetahui nya kecuali dirinya.
Banyak orang menganggap nya sepele dan membuang bakatnya. Tetapi dia ingin terus mengasah dan melakukan apa yang dia sukai itu.
Menjadi seniman, apalagi melukis. Bagi kebanyakan orang pekerja itu mungkin mudah bagi yang mempunyai jiwa seni. Tetapi untuk di jadikan sebuah pekerjaan itu tidak ada artinya. Hanya membuang uang dan waktu saja.
Sebenarnya dia tidak jauh beda dengan Hanan dan Surya, dia juga kuliah dengan jurusan desain. Tetapi bedanya, dia mengambil fashion. Setidaknya dia tidak memikirkan hitungan yang terlalu banyak pada saat itu.
Tapi bakatnya ada di seni. Melukis dan menggambar. Tidak mendapatkan dukungan dari orang sekitar termasuk keluarganya. Dia melakukan hobinya itu secara diam-diam. Terkadang, tanpa sepengetahuan siapa pun dia menyimpan peralatan melukiskan.
"Indah sekali, Non" Ujar bik asih. Ketika datang menghampiri dan membawa kan minuman dan cemilan.
Mungkin hanya bik asih yang selalu mengucapkan hal seperti itu. Karena beliau lah, yang mungkin dari banyak orang di sekitarnya yang mengetahui bahwa dia masih melukis itupun secara diam-diam.
Zahwa terlihat tersenyum mendengar pujian bik asih. Dia tahu, lukisan ini tidak hanya indah tapi jika mempunyai makna.
Setangkai bunga mawar di dalam pot kaca dan air di dalamnya.
Mawar sendiri sudah begitu bermakna, di tambah pot kaca dengan sedikit air di dalamnya. Melukiskan bahwa setiap keindahan itu akan tetap hidup dengan adanya banyak unsur di dalamnya. Walaupun terkadang akan ada beberapa unsur yang tidak di sukainya. Seperti air yang jika di biarkan terus - menerus akan menjadi kotor dan menumbuhkan tumbuhan lumut.
"Apa non akan melukis lagi?" tanya bik asih
Mungkin pertanyaan itu datang kerena mengingat sekarang mungkin tidak ada lagi orang yang mencegah nya atau melarangnya untuk kembali melukis.
Dulu, kedua orang tuanya lah yang melarang . Banyak orang berfikir bahwa Zahwa hidup dengan sempurna. Memiliki orang tua yang menyayanginya, harta dan tahta. Tetapi sedikit yang mengetahui, bahwa semua itu hanyalah hiasan semata.
Menjadi pelukis adalah impian nya. Berharap suatu hari, namanya akan di kenal karena lukisannya dan beberapa karyanya.
Bukankah setiap seniman, selalu ingin membesarkan karyanya bukan namanya. Terbukti banyak karya seni yang hanya meninggalkan inisial saja di setiap karya yang di pandang banyak mata.
"Aku akan tetap melukis, Bik. Aku masih berharap suatu saat aku bisa memamerkan lukisanku," jawab Zahwa dengan mata penuh harap.
Meskipun saat melukis, dia akan teringat kepada orang tuanya. Mengingat bahwa melukis adalah hal yang di larang oleh orang tuanya, bahwa mereka tidak menyukainya. Mengingat kemarahan mereka, dan mengatakan dengan melukis dia tidak memiliki masa depan.
Siapa yang tidak hancur saat itu. Jika impiannya dan kebahagiaan di rengut oleh orang yang paling di cintanya. Siapa yang tidak terluka, jika apa yang menurutnya berharga harus di biarkan begitu saja.
Apa salahnya? Seperti cinta yang juga tidak bisa dia tentukan kepada siapa dia akan mencinta. Begitupun bakat dan kesenangannya. Dia juga tidak bisa memilih dan menentukan sendiri. Jika bisa? Dia akan memilih apa yang orang tuanya suka. Agar tidak ada luka dan semuanya sempurna.
"Aku yakin, suatu saat non Zahwa pasti menjadi pelukis yang terkenal," kata bik asih. Dia masih berdiri di tempat, mungkin terpesona dengan lukisan Zahwa dan cara melukisnya. Tidak semua orang bisa, kan?
"Terima kasih, Bik" balas Zahwa
Zahwa tersenyum manis. Mungkin ini senyuman yang paling manis setelah sekian purnama. Karena dia juga kembali melukis setelah ribuan purnama.
"Sepertinya aku besok harus membeli kanvas, easel, kuas dan beberapa cat air dan minyak!" Seru Zahwa terlihat semangat. Dia mengangkat kertas gambar yang sudah penuh dengan lukisan nya dengan bangga. Dia meletakkan di atas meja dan menindih bagian ujungnya. Mungkin karena yang dia gunakan cat air lama, jadi cat nya masih terlihat masih basah dan sedikit mengeluarkan bau. Dia mengangkat meja itu dan meletakkan di bawah sinar matahari. Bermaksud menjemur lukisan tersebut.
"Apa mas Hanan akan menyukainya?" tanya bik asih
"Sepertinya dia tidak akan peduli juga, Bik. Terkadang aku bersyukur karena setidaknya suami ku sedikit tidak memperdulikan aku," kata Zahwa dengan senyum bangga
"Apa katamu? Coba ulangi?!" Seru Hanan. Zahwa terlihat kaget mendengar suara Hanan yang tiba-tiba saja muncul di belakangnya. Begitupun bik asih. Dia terlihat salah tingkah dan kemudian meninggalkan kedua majikannya.
"Kau, ada disini?" tanya Zahwa, dia terlihat bingung dan gelisah. Dia tahu perkataannya barusan di dengar oleh suaminya.
__ADS_1