
****
''Kenapa tadi kamu bilang kalau kamu sekretaris ku. Kenapa gak jujur saja kalau kamu itu istriku. Kalau seperti ini bakalan rumit kan!'' Hanan tidak habis pikir dengan apa di pikiran Zahwa.
''Mau bagaimana lagi aku kasihan melihat bibi mu.'' Balas Zahwa.
''Tapi bukan dengan berbohong seperti ini. Ini sama saja kita mencari Masalah Zahwa. Sekarang bagaimana?'' tanya Hanan. Dia tidak bisa membendung emosinya.
''Semua orang tahu kalau aku adalah istri mu Mas Hanya bibi saja yang tidak tahu. Untuk beberapa waktu saja." Jawab Zahwa .
''Kamu tidak tahu bagaimana keluarga ku Zahwa. Mereka itu tidak suka basa-basi. Iya, kalau nanti Bibi membaik. Kalau tidak? dan beliau menyuruh ku cepat - cepat menikahi Wardah. Kalau itu sampai terjadi. Hah! Tamat lah kita.'' Kata Hanan mulai parau.
Salah satu hal kenapa keluarganya tidak terlalu dekat dengan sanak keluarga lainya adalah mereka selalu ingin ikut campur dalam masalah orang lain. Menganggap bahwa apa yang di miliki saudara lainya adalah miliknya juga. Termasuk anak.
''Tenang lah Mas. Kenapa kamu yang risau sih? mestinya aku kan? aku yang bakalan di madu." Kata Zahwa dia menarik lengan suaminya dan menyuruhnya duduk di sampingnya.
''Zahwa. Jangan mulai, kamu tahu aku gak bakalan lakuin itu.'' Kata Hanan keras.
Zahwa tersenyum. Dia tahu, suaminya tidak akan melakukan itu. Karena itulah dia sanggup untuk berbohong mengatakan bahwa dia adalah sekretarisnya. Walau sejujurnya, dia sendiri sakit melakukannya.
Tapi melihat kondisi Bibi Ami yang sekarang dia tidak tega mengatakan hal yang sebenarnya. Dia seperti melihat ibu mertua yang sejak awal belum pernah ia temui.
''Mangkanya, kalau nikahin anak orang ya di rayain di buatin Resepsi atau apa kek. Ini gak, di diemin aja, kayak simpanan. Kalau keluarga gak tau kayak gini kan, jadi salah faham. Salah siapa coba?'' Kata Zahwa berdiri dan menyingkuri Hanan.
''Kok kamu ngomong gitu? kesannya malah nyalahin aku.'' Bantah Hanan tidak terima.
''Ya gimana? Emang gitu kenyataannya.'' Ujar Zahwa.
__ADS_1
''Ok. Habis pulang dari sini kita adain resepsi pernikahan besar - besaran. Kita undang semua keluarga, teman, tetangga bahkan orang kantoran. Teman bisnis, semuanya. Biar mereka tahu aku sudah nikah. Biar semua tahu bahwa kamu istriku, biar gak ada lagi yang aneh-aneh minta di nikahin sama aku lagi.'' Ujar Hanan.
''Idih, PD banget kalimat akhirnya.'' Sinis Zahwa.
''Kenyataan kok. Kamu itu beruntung punya suami kayak aku. Tetap setia, meski banyak perempuan yang menggoda.'' Balas Hanan.
''Oh ya, masak? nyatanya istri mu ini rela Lo gadaian suaminya. Berarti kamu gak seistimewa yang kamu bayangkan.''
''Buktinya selama ini aku kan yang di incar banyak wanita. Zahra, Elena dan ini Wardah. Mereka semua gak bakalan nolak aku nikahin, bahkan aku madu pun pasti mau."
''Pak Hanan yang terhormat. Kamu ingat, sekali saja kau berfikir untuk mendua. Zahwa mu ini akan menjadi orang lain di hadapan mu.'' Tantang Zahwa dengan menarik kerah suaminya.
Dia yang dulu ingin menggoda suaminya dengan candaan. Tapi ternyata di yang terpancing duluan. Ah, saat berbicara dengan pasangan wanita tetaplah wanita yang tak suka dengan wanita lainya yang menjadi tema perbincangannya.
''Mungkin, aku tidak akan menjadi istri lagi. Tapi kakak iparmu. Kamu sepenuhnya tahu, bahwa kakak mu masih menyimpan cinta untuk ku.'' Tambah Zahwa dengan menatap tajam suaminya.
Dengan cepat,Hanan mengecup kening Zahwa. Membuat Zahwa tercengang. Dan kemudian terdengar gelak tawa dari Hanan.
Hahahahaha.'' Ujar Hanan .
Zahwa langsung duduk dengan kesal. Kali ini dia kalah telak dengan suaminya.
''Tapi aku gak masih gak habis pikir yang. Kenapa kamu ngelakuin ini. Padahal jika kita jujur, pasti Bibi Ami juga gak gimana-gimana. Beliau juga bakalan menerima ini semuanya.' Hanan masih bertanya-tanya.
''Aku ingin di terima bukan hanya karena kamu, tapi karena aku pantas untuk itu.'' Kata Zahwa.
''Apa yang ingin kamu dapatkan? toh, kita sudah menikah. Entah kamu atau aku selalu mengingat bahwa kita bersatu karena Alloh yang menyatukan. Dan jika ada yang mengusiknya Alloh sendiri yang akan menyingkirkannya. Kita yakin akan itu. Tapi jika kita sendiri yang tidak bisa menjaganya, tanpa orang lain pun ikatan itu akan putus juga.''Ujar Hanan.
__ADS_1
''Aku tahu mas. Aku melakukan ini untuk memperkuat ikatan tersebut. Aku sedang memperjuangkan restu dari keluargamu. Paman dan Bibi adalah keluarga mu saat ini, dan aku ingin mereka menerimaku. Bukan karena terpaksa karena aku telah menikah denganmh, tapi karena memang aku juga di pilih untuk mendampingimu." Terang Zahwa.
Dia teringat pada Bella pada tenan lainya yang bercerita tentang keluarga mereka. Tentang, penerimaan dan penolakan. Tentang perang batin yang kadang mereka lalu karena keluarga dari pasangan mereka tidak menyukai namun terpaksa merestui.
Zahwa ingin memperjuangkan restu itu. Dia ingin benar-benar di terima di keluarga suaminya. Karena baginya restu keluarga adalah akar dari setiap hubungan. Ada banyak doa, cinta dan kasih sayang di dalamnya. Hubungan tanpa restu ibarat pohon tanpa akar. Yang akan dengan mudahnya di tebang dan di rengkuh kapan saja.
''Tapi ini akan sulit, keluar kaku.'' Kata Hanan.
''Tapi nyatanya, mereka tetap menganggap ku ada meskipun mereka tidak menyukai kehadiran ku kemarin. Aku hanya perlu sedikit mengambil hati mereka dan memberikan keikhlasan pada mereka. Membuktikan bahwa aku, Zahwa mu ini memang pantas untukmu.'' kata Zahwa dengan menggenggam tangan Hanan erat.
''Baiklah, jika itu mau mu. Tapi, aku tidak peduli entah kamu mendapatkan restu atau tidak. Kamu tetap istri ku.'' Kekeh Hanan
''Hahahaha baiklah suamiku. Dia kan aku, semoga aku berhasil.'' Pinta Zahwa manja.
''Selalu, apapun itu.'' Balas Hanan
Kemudian mereka berpelukan . Saling menguatkan.
Zahwa teringat setelah kembali kejadian siang tadi. Saat mereka masih di rumah paman sama .
Hawa tegang menyelimuti seketika saat bibi Ami mengatakan bahwa suaminya harus menikah dengan Wardah. Bahwa ternyata, wardahlah gadis yang juga menjadi pilihan ibu mertuanya dahulu untuk mendampingi suaminya.
Bagaimana tidak hancur hati saat itu. Namun dia tetap berusaha menahannya, tetap diam dan mendengar apa yang sedang Bibi suaminya itu katakan dan ceritakan.
Hingga di ujungnya, saat bibi itu menanyakan siapa dirinya, tanpa pikir panjang dia mengatakan bahwa dirinya adalah sekretaris Hanan. Rekan kerja dan bukan siapa-siapa.
Tidak hanya Hanan, paman Sam yang mendengar pengakuannya terkejut dan sontak melihat ke arahnya. Dari matanya mengisyaratkan banyak tanya. Tapi Zahwa seakan tenang dan mengatakan bahwa itu adalah kebenaran.
__ADS_1
Hanan sendiri saat itu tidak langsung menjawab apakah dia mau menikahi Wardah atau tidak. Dia mengalihkan perbincangan dengan candaan dan mengatakan tidak harus membahas hal itu dulu.
Hingga akhirnya mereka pamit untuk mencari hotel untuk tinggal berberapa hari. Bibi Ami meminta Hanan untuk tinggal tapi Hanan beralasan jika dia datang bersama Zahwa. Tidak enak jika harus tinggal berdua dengan Zahwa juga. Terlanjur juga, Zahwa mengatakan bahwa dia sebatas sekertarisnya.