Hati Yang Terpilih

Hati Yang Terpilih
Episode 86


__ADS_3

"Masih ada waktu 2 jam kan sebelum jadwal keberangkatan?'' Tanya Zahra seraya melihat jam tangannya.


''Iya, tapi kita harus bersiap sekarang.'' Jawab Hanif. Dia sudah mengeluarkan koper-koper milik Zahra dan memasukkan ke dalam mobil.


''Aku mau keluar dulu, ya. Sebentar saja.'' Kata Zahra dengan mengemas tasnya.


''Mau kemana?'' Tanya Hanif penasaran.


''Cuman ke masjid. Sebentar saja.'' Jawab Zahra. Tanpa menunggu balasan dari Hanif dia sudah nyelonong pergi. Meninggalkan Hanif dengan tanda tanya besar.


Dia menuju masjid dengan taxi yang sudah ia pesan terlebih dahulu. Sengaja dia ingin pergi ke sana, mungkin untuk terkahir kalinya.


Jarak antar rumah dan Masjid tidak lah terlalu jauh. Sesampainya di sana terlihat masjid itu masih ramai oleh para jama'ah. Waktu magrib dan isya' sangat dekat. Dan mereka terbiasa untuk sekalian menunggu waktu Sholat Isya'.


Zahra turun dari Taxi. Berjalan lambat ke arah masjid yang di anggapnya banyak kenangan. Dengan para anak-anak yang ia ajak bersama-sama untuk mengaji dan juga kenangan antara dia dan Surya. Masjid itu tempat di mana mereka menghabiskan waktu untuk mentelaah banyak kitab, shering tentang banyak hal dan kadang canda.


Sudah lama dia merasakan cinta kepada kakak temannya itu. Tapi, sekali lagi hanya dia yang merasakannya. Surya tidak kunjung mengetahui perasaannya. Setiap saat dia harus menyembunyikan wajah merah saat mereka beradu tatap, menyembunyikan dada yang tak karuan berdetak saat ia mencuri pandang wajah lelaki yang sedang khusuk dengan kitab di tangannya. Banyak yang sudah ia lalu dengan kesendirian rasa, tapi orang di depannya tidak pernah peka.


''Cilok Neng,'' Kata Seseorang membuyarkan lamunannya. Zahra terkejut dengan bapak penjual cilok yang tiba-tiba di depannya. Memberikan ia satu bungkus cilok kepadanya. Zahra tanpa sadar langsung menerimanya.


''Pak, saya tidak memesan cilok?'' Tanya Zahra. Dia heran karena tiba-tiba dia di beri cilok.


''Cinloknya untuk mbak. Mas yang di ujung sana yang memesannya." Jawab Bapak cilok tersebut dengan menunjukkan ke arah serambi Masjid. Zahra mengikuti arah telunjuk Bapak cilok tersebut dan terkejut sesaat setelah dia tahu siapa yang di maksud.


Surya, dengan Koko abu, sarung hampir senada dan kopyah hitam sedang duduk dengan mempesonanya di serambi masjid bersama jamaah lainya.


''Permisi Neng.'' Kata Bapak cilok itu pamit. Zahra mengajak dan mengucapkan terimakasih


Surya yang tadinya masih duduk, berdiri dan berjalan menghampiri. Di berjalan membuat waktu berhenti berdetak, Zahra masih terpaku dan tidak percaya dengan apa yang di lihatnya.


''Assalamualaikum...'' Salam Surya dengan senyum manis.


''Waalaikumsalam...'' Jawab Zahra setengah gugup.


''Mas kok di sini?'' Tanya Zahra heran

__ADS_1


''Kebiasaan. Kamu kok masih di sini bukannya sebentar lagi udah berangkat?'' Tanya balik Surya.


''Oh. Tadi ada yang mau di beli, dan kebetulan lewat sini. Jadi sekalian mampir. Hehehe,'' Jawab Zahra bohong.


''Oh. Bukan karena pengen ketemu aku? Hehehe,'' Kata Surya sontak membuat Zahra salah tingkah.


"Emm...Nggak kok.'' Balas Zahra gugup.


"Ya udah, Masih ada waktu, kan? Yuk duduk di sana.'' Ajak Surya menunjuk ke arah tempat duduk yang berada di taman Masjid.


''Sebentar saja ya Mas'' Ujar Zahra. Dia takut jika terlalu lama bersama Surya saat ini membuatnya tidak bisa mengendalikan perasaannya.


''Iya.'' Surya mempersilahkan Zahra berjalan dahulu. Mereka duduk bersanding, tapi masih dengan jarak. Zahra masih memegang cilok di tangannya.


''Kok gak di makan ciloknya?" Tanya Surya dia melihat Zahra hanya meremas-remas cilok tersebut. Padahal itu panas.


''Oh iya. Nanti aja.'' Jawab Zahra.


''Mau kamu bawa ke UCL?'' Tanya Surya canda.


''Hehehe bercanda.'' Kata Surya masih dengan senyum manisnya.


Zahra hanya diam menunduk. Matanya melihat ke bawah. Tapi pikirannya tidak menentu.


''Aku ingat waktu itu kamu membelikan cilok ini untuk anak-anak yang kamu ajari mengaji . Kamu juga membelikannya untuk ku. Saat itu hal yang paling aku ingat kamu mengatakan sesuatu yang membuat ku selalu mengingatnya saat ini.'' Kata Surya. membuat Zahra tercengang.


''Aku mengatakan apa?'' tanya Zahra, dia tidak terlalu mengingat apa yang sudah dia katakan saat itu.


''Bahwa kita harus mensyukuri, kita bisa bahagia dengan hanya cilok yang harganya 2000 rupiah. Di luar sana banyak orang yang mempunyai banyak uang tapi tidak merasakan bahagia.'' Jawab Surya mengingatkan.


''Memang ada yang salah?'' Tanya Zahra.


''Tidak, berarti aja menurut ku.'' Jawab Surya.


''Oh, kan memang semua harus di syukuri Mas. Sedikit, banyak bukan ukuran. Yang menjadi tolak ukurnya kan ada pada rasa syukurnya.'' Terang Zahra.

__ADS_1


''Kamu memang wanita Sholehah Zahra.'' Ujar Surya tiba-tiba. Membuat Zahra sekali lagi tercengang, hati yang tadinya bisa dia kendalikan mulai bergerumuh lagi.


''Udah mau sholat Isya' Mas. Silahkan,'' Kata Zahra mengalihkan pembicaraan. Adzan Isya' berkumandang. Sedikit memberikan celah hati untuk bernafas dan menyembunyikan rasa grogi.


''Tunggu!" Cegah Surya ketika Zahra akan beranjak pergi. Zahra sontak menghentikan langkahnya. Dan berlahan berbalik ke arah Surya yang sudah berdiri.


''Ada apa lagi?'' Tanya Zahra.


''Terima kasih atas semua yang kamu berikan kepada ku. Maaf, jika aku tidak bisa membalas apapun untuk mu.'' Kata Surya serius. Membuat Zahra semakin salah tingkah.


''Kemarin kan sudah kita bahas Mas. Aku gak papa kok. Toh, seharusnya aku yang berterima kasih Mas." Kata Zahra.


"Bukan. Ini soal lain.'' Elak Surya.Semakin membuat Zahra deg-degan.


''Aku gak ngerti Mas.'' Kata Zahra


''Aku gak tau kenapa aku gak peka atau apalah itu . Tapi aku tidak bermaksud untuk mempermainkan perasaan mu. Aku selama ini menganggap mu sebagai adik, guru dan putri dari Kyai yang akan aku kunjungi. Maaf, jika aku menyakiti mu.'' Kata Surya , membuat Zahra meneteskan air mata, tapi segera ia hapus sebelum terlihat oleh Surya. Bagaimana bisa Surya berbicara seperti itu, sedang selama ini Zahra selalu menjaga perasaannya.


''Aku tidak tahu apa yang Mas maksud?'' Tanya Zahra berlagak tidak mengerti.


''Hah! Kata Zahwa , kamu menyukai ku.' Jawab Surya terus terang.


''Tidak, ah maksud ku. Iya suka, tapi suka sebagai kakak. Tidak lebih.'' Kata Zahra dengan sekuat tenaga.


''Alloh. Syukurlah. Jadi selama ini Zahwa salah. Dasar anak itu, aku sampai bingung harus bagaimana saat dia bilang kamu suka aku.'' Ujar Surya terlihat lega. Membuat Zahra semakin sesak.


''Tidak Mas. Mbak Zahwa salah...'' Kata Zahra pelan dengan berusaha tersenyum.


''Baiklah. Tidak apa. Semoga kelak kamu menemukan lelaki yang terbaik untuk mu, mencintai mu, menerima mu, membimbing mu dengan segenap hati mu.'' Ujar Surya sungguh-sunghuh.


"Ayo Mas sholat.'' Ajak Zahra. Dia ingin segera menjauh dari lelaki di depannya itu.


Dia tau bahwa lelaki itu tidaklah salah, rasa cintanya pun juga tidak salah. Lantas siapa yang harus dia persalahkan. Sekali lagi, cintanya bertepuk sebelah tangan.


Zahra tidak menghiraukan panggilan Surya yang masih ingin berbicara dengan dirinya. Dan terus berjalan menjauh, sekali berbalik memberikan senyum untuk terakhir kalinya untuk lelaki itu . Senyum yang ia paksakan untuk menunjukkan bahwa dia baik-baik saja.

__ADS_1


__ADS_2