
***
Kedai Kopi itu sudah ramai pengunjung, Biasanya Hanan dan Hanif ke sana pada saat pagi buta. Agar bisa menikmati secangkir kopi dan ketenangannya. Tapi kali ini, ramai pun tidak menjadi kendala untuk mereka bertemu.
"Bagaimana sekarang? Jika aku jadi kamu. Aku akan memberi kesempatan untuk pernikahanku." Ujar Hanif.
Mereka sudah lama berdiskusi tapi tidak juga menemukan titik terang yang harus di lakukan.
"Aku tidak ingin Zahwa terpaksa menerima ku. Dia mencintai kakak ku. Mas Surya pun begitu." Balas
Hanan, dia begitu frustasi dengan masalah ini.
"Zahwa saja menyerahkan keputusan pernikahan kalian pada mu. Berarti dia juga menginginkan pernikahan ini juga. Kenapa kamu jadi bodoh sekarang." Umpat Hanif , dia tidak segan sama sekali dengan ucapannya pada Hanan.
"Banyak yang harus di pertimbangankan. Kamu tidak akan mengerti jika saja kamu di posisi ku."
"Apa kejadian pada Surya, kakak mu itu ingin kamu ulang lagi!" Seru Hanif. Hanan tidak mengerti dan menunggu penjelasan lagi.
"Kakak mu menderita kerena melihat kekasihnya menikah dengan Adiknya sendiri. Dan Zahwa, dia harus melihat itu semua di depan matanya tanpa bisa berbuat apa-apa. Kamu seperti pecundang yang juga diam. Walaupun mengetahui segalanya." Lanjut Hanif.
"Sekarang kamu ingin mengulang lagi? Kamu mencintai Zahwa dan bahkan Zahwa pun juga mulai mencintai mu. Tapi kamu ingin Zahwa kembali ke kakak mu? Apa kamu pikir itu semua bisa membuat baik-baik saja?" Timpal Hanif lagi
"Tidak akan bahagia. Orang yang hidup bersama orang yang tidak di cintainya lagi Hanan. Terlebih , dia harus bertemu orang yang di cintainya setiap hari." Tambah Hanif lagi, dia mencoba terus menjelaskan.
"Tidak hanya kamu dan Zahwa yang tersakiti. Tapi juga Kakak mu. Mungkin dia mendapat cintanya lagi. Tapi dia harus menerima bahwa tidak ada lagi cinta yang tersisa untuk dirinya di dalam diri Zahwa. Apa kamu ingin itu terjadi lagi? Kamu di posisi itu kan ? Kamu pasti lebih faham itu." Tandas Hanif
"Tidak akan! Zahwa mencintai Mas Surya. Setidaknya ada hubungan yang harus di selamatkan," Seru Hanan menentang.
"Iya, Itu. Dan hubunganmu yang harus di selamat kan. Zahwa sudah mengatakan untuk menerima keputusan mu dan sekarang giliran mu. Jemputlah dia kembali," Jelas Hanif. Dia gemas karena Hanan masih saja keras kepala.
Sebenarnya Hanan tidak egois. Dia hanya tidak ingin ada keterpaksaan dia antara hubungan nya lagi. Dia pun juga memikirkan kakaknya , meskipun mereka tidak begitu akrab. Tapi akan sedih juga, jika harus melihat kakaknya itu sakit hati. Apalagi itu karena dirinya.
"Beberapa bulan lagi aku akan ke London. Aku juga harus memikirkan itu , jika aku memilih hubungan ku. Bagaimana bisa aku meninggalkan Zahwa sendiri di sini, apalagi dengan kakak ku." Kata Hanan.
Seorang tidak akan pernah rela, jika meninggalkan kekasihnya bersama mantan kekasihnya. Apalagi dengan waktu yang lama.
"Jika itu masalahnya, kamu bisa mengajak Zahwa tinggal di Londen, kan?" Ujar Hanif.
Hanan juga berfikir begitu, tapi Zahwa bagaimana? pasti dia memilih tetap tinggal di sini.
__ADS_1
"Atau kamu, tinggal lah disini. Saat aku kembali nanti, kamu bisa menjadi mahasiswa ku yang pertama. Haha " Tawar Hanif ,dengan tertawa membayangkan Hanan menjadi muridnya.
"Hahahaha... Aku bisa bodoh jika menjadi kamu menjadi dosen ku," Ejek Hanan.
"Kau meragukan kemampuanku?" Balas Hanif .
Hanan tersenyum mengejek.
"Aku akan berbicara dengan Mas Surya dulu. Dia yang tahu apa yang di inginkan Zahwa sekarang." Kata Hanan.
"Terserahlah. Aku bosan mendengarkan masalahmu. Ujung-ujungnya kamu kau sendiri yang menyelesaikannya." Kata Hanif.
"Aku pergi. Terima kasih sudah datang," Kata Hanan seraya berdiri dan akan pergi.
" Ya ya ! Habis sepah manis di buang." Ujar Hanif, dan ikut berdiri. Mengikuti langkah Hanan.
Mereka berpisah di parkiran dan saling bersalaman. Kemudian hilang bersama mobil mereka masing-masing.
Hanan langsung menuju kantor. Yang dia tuju adalah ruangan kakaknya.
"Selamat sore pak. Hari ini Pak Surya tidak masuk kerja." Kata karyawan Surya yang mengetahui Hanan datang mencari Surya.
"Oh. Baiklah,"
"Hanan!" Seru seseorang. Aldian dia berlari kecil untuk menghampiri bosnya itu.
"Kau baru saja sampai dan langsung pergi saja. Di kantor banyak kerjaan. " Ujarnya setelah sampai di dekatnya.
"Aku sedang ada urusan. Kamu urusan saja dulu bulan ini aku tambahin gaji mu." Kata Hanan. Dia terburu-buru .
"Kau tidak bisa seenaknya. Mentang-mentang Bos," Tambah Aldian.
"Aku tambah 30 % dari jumlah gajimu," Kata Hanan, dia tahu cara menghadapi sekretaris itu.
"Hari ini ada 2 klien yang ingin bertemu. Tidak bisa membatalkan lagi."
Hanan menghela nafas. Dia sudah akan masuk dalam mobil.
"Kau tangani semuanya. Aku akan tambah gajimu dua kali lipat untuk bulan ini. Puas!" Kata Hanan
__ADS_1
Aldian tersenyum buas kemudian cengengesan
"Baiklah. Jika kau memaksa. Kau boleh pergi." Kata Aldian puas.
Hanan geleng-geleng kepala. Memenangkan itulah tujuan Aldian, dia sudah sangat hafal dengan teman sekaligus sekretaris itu.
Mobil Hanan kembali meninggalkan kantor
Menelusuri jalan raya yang tidak pernah sepi.
Kirim alamat rumah Zahwa. Kamu masih di sana kan ? Aku akan ke sana segera .
Chat singkat dia kirim ke nomer Surya .
"Ah! Bodoh." Dia kembali mengambil ponselnya dan ingin menghapus pesan. Tapi sudah ada balasan dari kakaknya.
**Mas Surya
Perumahan Candra Kirana . No 20**
Hanan melihat alamat rumah Zahwa. Dia menghentikan mobilnya.
"Alamat ini ada di sekitar sini," Kata Hanan.
Mobil itu kembali berjalan menyusuri jalanan perumahan yang tanpa sadar sudah ia masuki. Dia sudah berhenti di Alamat yang di kirim oleh Surya.
Hanan masih terdiam di dalam mobil. Dia tidak mempunyai keberanian untuk beranjak keluar.
Selang beberapa menit , dia melihat mobil kakaknya keluar dari rumah itu. Dia bersama Bik Asih. Surya tidak mengetahui jika Hanan yang masih ada di dalam mobil.
Hanan menyalakan mesin mobilnya kembali. Bertemu dengan kakak di rumah itu akan lebih baik. Dia akan kembali meninggalkan tempat itu, tapi terhenti saat melihat Zahwa ada di hadapannya dia sedang menutup pintu pagar rumahnya.
Wajah sembabnya masih terlihat bahkan seperti tidak mempunyai tenaga. Dia memegangi perutnya, menahan sakit sepertinya. Sebelum pagar itu tertutup sepenuhnya. Dia terjatuh.
"Zahwa!" Teriak Hanan. Dia keluar dari mobil , berlari menghampiri Zahwa. Dia sudah tidak sadarkan diri.
Hanan membawa ke dalam, entah kamar mana yang dia tuju. Dia langsung membaringkannya begitu saja. Dia mengecek kondisi Zahwa , badannya tidak panas.Tapi dia masih saja pingsan, dia memberikan minyak putih yang dia temukan di kotak P3K.
"Very Cepat datang ke rumah!" Seru Hanan di panggilannya. Sebelumnya dia sudah mengirimkan pesan singkat pada Very , Dokter keluarganya.
__ADS_1
"Aku sudah di rumahmu. Kamu yang tidak ada," Balas Very di balik telpon.
"Oh , Ya Tuhan. Cepat ke perumahan Candra Kirana No 20. Cepat!" Bentak Hanan