
*****
Di sisi lain terlihat Hanan berbicara dengan seseorang. Dia terlihat sedang mendengarkan penjelasan orang tersebut, terlihat bahwa yang mereka bicarakan sama sekali tidak dia fahami .
"Aku tidak tahu pak. Berikan kwalitas yang terbaik," kata Hanan. Dia pusing karena dia tetap tidak faham dengan apa yang di jelaskan orang di depannya.
"Baiklah, saya akan mengirimkan barang yang paling bagus dari toko kami," Kata orang itu.
"Tidak. Aku akan membawa nya sekarang. Aku tidak bisa menunggu kalian mengirimnya besok," bantah Hanan.
"Baiklah..." kata orang itu
Setelah itu dia terlihat memilih dan memilah beberapa barang di tokonya. Tidak salah lagi , terlihat beberapa kanvas , easel dengan beberapa ukuran . Ada pegawai lainya juga mengambil kan kotak yang terlihat berisi kuas. Mereka memasukkan ke dalam mobil Hanan. Agak sulit , karena sebagian ada yang berukuran besar.
"Ini lukisan yang sudah di bingkai tuan," kata salah satu pegawai wanita. Dia membawa lukisan Zahwa yang sudah terbingkai indah.
"Terima kasih," kata Hanan.
Setelah selesai di masukkan ke dalam mobil semua. Hanan berpamitan , pemilik toko merasa senang jika lain waktu Hanan bisa datang lagi ke toko tersebut. Mungkin ini pertama kali dia ke toko itu.
"Baik lah terima kasih. Mungkin lain waktu saya akan mengajak istri saya," kata Hanan.
Menyesal karena dia tidak langsung mengajak Zahwa. Karena tadi dia kebingungan dengan berbagai macam alat lukis yang sama sekali tidak dia fahami. Dan dia harap , apa yang di belinya tidak sia-sia.
Mobilnya melaju kencang menembus jalanan. Dia ingin cepat sampai rumah.
Setengah jam , dia sampai juga di rumah. Dia tidak bisa mengeluarkan semua barang nya sediri . Tetapi tidak ada seorang pun yang bisa membantu nya.
"Zahwa!!!" Panggil Hanan keras
Hanan terlihat bergegas ke lantai atas dan menuju kamarnya. Begitu terkejutnya dia. Saat di dapati kakaknya juga berada di sana.
"Aku ingin bicara denganmu!" Seru Surya dengan mengajak Hanan keluar kamar. Dia bahkan belum sempat berbicara dengan Zahwa.
"Ada apa? Jika kamu juga menyalahkan aku juga . Oke aku terima. Sekarang aku mau menemui Zahwa dulu," kata Hanan. Dia tidak senang dengan sikap Surya , apalagi melihat nya berduaan dengan Zahwa di kamarnya.
"Ini tidak lagi tentang kau dan Zahwa , tapi kita bertiga," Kata Surya serius
"Apa maksudmu, Mas?"
Hanan menangkap keseriusan dalam mata kakaknya. Mungkinkah dia akan mengatakan kebenarannya?
"Ku harap kamu tidak marah setelah mendengar ini, dan bisa menerimanya," kata Surya
"Aku tidak mengerti," Hanan berusaha menghindari pembicaraan.
"Aku dan Zahwa...Seperti dugaan mu malam itu," K
kata Surya
"Maksud, mu?" Hanan tegang.
Surya juga terlihat tegang. Sulit sebenarnya mengatakan ini semua. Tetapi melihat Zahwa seperti tadi dia tidak mau jika kejadian itu terulang kembali.
"Mas Surya?!" panggil Zahwa. Dia keluar dari kamar.
Kedua kakak beradik itu terlihat khawatir melihat kondisi Zahwa. Tanpa menunggu lama, Hanan langsung menghampiri Zahwa.
"Kau ikut aku!" Seru Hanan yang langsung menghampiri Zahwa dan langsung menggandengnya untuk mengikuti dirinya.
"Aku bisa jalan sendiri. Lepaskan," kata Zahwa kesal. Hanan begitu keras memegang pergelangan tangannya.
Mereka turun dari lantai dua menuju teras depan. Ada mobil Hanan yang belum sengaja dia parkir.
"Buka!" Seru Hanan memerintah.
Zahwa melengos tapi dia tetap menuruti perintah suaminya itu. Dia membuka pintu mobil bagian belakang.
Zahwa terlihat tertegun dengan apa yang di lihatnya. Dia masih tidak percaya apa yang dilihat , itu terlihat dari wajahnya.
"Aku minta maaf. Aku tidak bermaksud mengatakan hal buruk tadi. Aku kira, kau akan menganggap itu candaan saja. Aku tidak tahu, jika lukisan itu berarti untuk mu. Aku juga tidak tahu , kalau selama ini kamu kesulitan untuk sekedar melakukan hobi mu itu. Aku_"
Belum genap dia berbicara. Tiba-tiba Zahwa berbalik dan memeluknya. Hanan kaget. Bagaimana tidak. Ini pertama kalinya dia di pelukan oleh seorang wanita kecuali ibunya.
Zahwa menangis lagi, menambah ke khawatiran Hanan lagi. Ada apa lagi, pikiranya, apa salah yang dia beli kan. Tapi kenapa dia memeluk dirinya.
"Terima kasih," kata Zahwa dengan melepaskan pelukannya. Dia terlihat malu, seketika.
Hanan terlihat bingung. Dia belum bisa mencerna apa yang sedang terjadi .
"Maaf. Aku tadi terlalu emosi. Aku juga salah," kata Zahwa akhirnya.
"Kau memaafkan aku?" Tanya Hanan. Dia masih saja tidak mengerti.
__ADS_1
"Bukannya aku yang meminta maaf. Mestinya kamu yang memaafkan aku," jelas Zahwa. Dia terlihat emosi lagi.
"Baiklah... Baiklah. Aku memaafkan mu," kata Hanan segera. Takut jika tidak begitu, itu akan membuat Zahwa marah lagi. Wanita memang aneh, kadang kita yang salah mereka yang meminta maaf. Kandang mereka yang salah, tapi kita yang harus mengalah.
Memang benar apa kata orang wanita selalu benar. Mungkin dengan hanya menuruti perkataannya laki-laki akan merasa aman.
"Jadi?" Tanya Zahwa,
"Apa?" Tanya balik Hanan. Apalagi ini. Dia tidak mengerti apa yang di pikirkan wanita di hadapannya itu.
"Semua itu untuk ku?" tanya Zahwa menunjuk ke arah isi mobil.
"Mau bagaimana lagi," jawab Hanan dengan wajah menyesal.
"Kau tidak ikhlas membelikannya?" Tanya Zahwa kesalnya kambuh lagi.
"Tidak. Lagi pula aku membelinya untuk diri mu," bantah Hanan. Akan sulit lagi jika wanita di depan nya lagi menangis.
Zahwa terlihat tersenyum gembira. Mata sembab nya sudah berbinar-binar.
"Tentu saja dengan memotong uang bulanan mu, " lanjut Hanan dengan senyum kemenangan. Seketika membuat senyum Zahwa pudar. Dia terlihat cemberut juga
"Hanya bercanda," kata Hanan sebelum Zahwa mengomentari pedas dirinya.
"Kau! Tidak semua nya bisa di jadikan lelucon!" sewot Zahwa
Surya. Dia berdiri di ambang pintu ruang tamu . Melihat Zahwa dan hanan, menjadi penonton yang tidak di anggap sama sekali.
Baru saja dia bersama Zahwa dan wanita itu meminta untuk membawa dirinya pergi bersama dirinya. Tetapi saat ini dia sudah mengacuhkan dirinya , dan kembali ke pelukan laki-laki lain. Seakan apa yang di katakan tadi, sama sekali tidak pernah terjadi.
"Selamat Zahwa, seperti kataku. Tidak ada lagi yang akan melarang mu untuk melukis. Bahkan suami mu langsung membelikan semua yang kamu butuhkan," kata Surya sedikit menekan.
Zahwa tersadar, dan mengingat beberapa menit yang lalu apa yang sudah dia katakan kepada Surya. Dia sedikit menyesal karena telah mengatakan itu seakan memberi harapan dan hanya menjadi kan pelariannya saja.
"Terima kasih, Mas." balas Zahwa. Mungkin hanya itu yang bisa dia katakan sekarang.
"Kau menangis hanya karena masalah kecil. Lain kali jika ingin sesuatu langsung bilang saja," kata Hanan.
Dia tidak sengaja dengar rencana Zahwa yang akan ingin membeli peralatan melukis tadi. Dan setelah itu kejadian lukisan jelek yang dia lontarkan itu terjadi.
"Hayoo, kita angkat semua itu ke dalam rumah," Kata Surya
Mereka saling bahu membahu mengeluarkan beberapa peralatan itu. Sebenarnya tidak sesulit itu. Tapi Hanan membeli kanvas dengan berbagai ukuran , papan penyangga pun juga begitu.
"Dan nona, boleh kah saya mandi dan berganti pakaian. Semua barang sudah kami masukan ke dalam kamar ini," kata Hanan. Dia terlihat lelah dan juga berkeringat .
"Ok! Terima kasih," balas Zahwa.
Hanan mendengus kesal. Bagaimana bisa seorang wanita bisa begitu cepat berubah moodnya. Dia berjalan menuju keluar kamar meninggalkan Zahwa yang tidak peduli lagi dengan apa yang sudah dia lakukan untuk dirinya.
"Kau puas?" tanya Surya
"Aku menginginkan semua ini sejak lama," jawab Zahwa dengan senyum.
"Bagus lah. Sepertinya Hanan bisa di andalkan. Kau tidak perlu lagi meminta ku untuk membawa mu pergi lagi," Kata Surya seakan menyindir.
"Tapi apa yang aku katakan tadi memang benar adanya. Aku merasakan sesak jika harus seperti ini terus,"
Lagi-lagi Zahwa berkata seperti itu lagi. Memberikan harapan dan kemudian dalam sekejap mata mematahkan nya begitu saja.
"Jika ingin berkata seperti itu. Aku mohon untuk memikirkan nya lagi. Bukankah kau yang bilang . Tidak semuanya bisa di anggap lelucon, "
Surya kini yang terbawa emosi. Wajar perasaannya kini yang di permainan.
"Apa kau marah padaku?" Tanya Zahwa , dia seakan tidak melihat guratan kekecewaan di wajah surya.
"Kenapa harus marah. Asalkan kamu bahagia itu sudah cukup, " Kata Surya menjelaskan pun dia tidak akan mengerti jika saat ini.
Seseorang akan tidak sulit menerima penjelasan ketika dalam keadaan marah dan senang. Itu akan bertolak belakang dengan perasaannya.
Surya tidak ingin terlalu lama lagi, dan kemudian segera pergi. Meninggalkan Zahwa yang masih dengan rasa puas melihat barang-barang impiannya.
*****
"Mas Hanan. Ayo bangun! Aku membawakan makan malam untuk mu,"
Suara Zahwa seperti lonceng yang berdering begitu keras di telinga Hanan. Dia sangat mengantuk dan badannya terasa lemas. Seharian di bekerja , Zahwa tidak tahu sebagai mana kerasnya dia bekerja hari ini. Di tambah drama lukisan yang menambah beban pikirannya.
"Aku tidak makan. Aku ingin tidur. Jangan ganggu aku, " gerutu Hanan. Dia masih susah membuka matanya. Kembali menenggelamkan kepalanya pada bantal. Kali ini bantal itu menutupi telinganya.
"Apa tidak lapar? Ayolah ! Aku sudah membawakan ini untuk mu," kata Zahwa tidak menyerah.
Hanan semakin tergantung, dia terlihat risih. Apa dia tidak bisa melakukan yang dia inginkan sekarang.
__ADS_1
"Sudahlah....Aku bilang tidak ya tidak. Jangan memaksa ku "
Kali ini hanan marah dalam kantuknya. Zahwa menghela nafas. Hanan benar, mungkin dia terlalu memaksanya.
Nampan berisi makanan , dia angkat dari meja sofa dari kamar nya itu. Membawanya ke luar.
"Apa dia akan menangis lagi," kata Hanan ketika dia melihat Zahwa keluar kamar. Tapi sekali lagi dia sangat mengantuk dan tidak bisa berfikir lain lagi.
Zahwa meletakkan makanan tersebut di dapur. Dia mengambil air minum ke dalam teko kaca mengisinya dengan penuh.
"Belum tidur, Non?" Tanya bik asih . Dia terlihat dari kamar mandi dapur.
"Belum bik. Bibi sendiri? Kenapa akhir-akhir ini suka tidur malam?" Tanya bik asih
Malam kemarin dia juga melihat bik asih belum tidur padahal sudah tengah malam.
"Tidak apa-apa non. Hanya saja kemarin mas Surya ngajak ngobrol. Kelihatan nya dia sedang galau. Jadi saya tidak tega menolaknya,"
"Apa aja bik yang mas,eh kak ceritakan?" tanya Zahwa penasaran.
"Saya hanya menemani yang cerita malah saya," jawab bik asih, dengan sedikit malu.
"Walah, Bik. Cerita soal saya pasti," kata Zahwa curiga.
"Bukan non. Pokok bukan non lah," jawab cepat bik asih dia akan malu jika Zahwa mengetahui apa yang di cerita nya kepada Surya.
"Oh"
Zahwa sedikit kecewa. Ternyata bukan dia yang menjadi topik pembicaraan.
"Bik, temani aku tidur yuk. Aku ingin tidur di kamar baru tadi," kata Zahwa
"Maksud, Non kamar yang buat non melukis?' Tanya bik asih
"Iya. Sebenarnya banyak sekali kamar di sini. Tapi kamar yang di pilihkan tadi besar sekali. Aku takut jika harus tidur sendiri," jawab bik asih
"Kenapa tidak meminta mas Hanan saja yang menemani?" Tanya bik asih.
Zahwa terlihat salah tingkah bagaimana mungkin dia meminta hanan untuk menemani . Bisa jadi dia akan jadi bual-bualanya nanti.
"Mas Hanan sudah tidur, tidak enak jika membangunkannya," alasan Zahwa.
"Oh iya udah non tidak apa-apa,"
Zahwa merasa senang. Mereka menuju kamar yang di maksud. Menyalakan lampu dan terbentang ruangan kamar yang cukup luas. Hampir dua kali lipat dari kamarnya dan Hanan. Kamar Surya juga sepertinya tidak sebesar ini.
Ada kamar tidur cukup besar juga dan lemari kayu dengan ukiran apik berderet lima pintu. Dan tentu satu kamar mandi .
Tidak ada foto atau hiasan di dinding. Kecuali lampu gantung ukuran sedang.
Di depan jendela besar dengan gorden berwarna navy , berderet beberapa easel , dan kanvas yang masih belum tertata dan kosong.
Zahwa mengambil satu kanvas dan meletakkan pada easel , dia melihat sekeliling nya mencari cat air nya.
"Mau melukis, Non?" Tanya bik asih
"Iya bik. Sebenarnya aku tidak sabar menunggu besok untuk mulai melukis." Jawab Zahwa senang
"Saya tidak sampai berfikir bahwa mas Hanan langsung membeli kan semua ini. Saya sampai malu , karena sempat berprasangka buruk kepadanya," kata bik asih
"Aku juga tidak menduganya bik , dia itu tidak bisa di tebak," tambah Zahwa dengan mulai memoles kanvas putih depan nya dengan cara air.
"Mereka berdua seperti menyayangi, Non. Terlihat sekali saat non menangis tadi. Kedua adik kakak itu mengkhawatirkan non Zahwa. Apa lagi mas Surya," kata bik asih
"Aku bersyukur akan itu, Bik. Setelah orang tua ku tidak ada. Aku ada di antara mereka,"
"Tapi non aku melihat dari pada mas Hanan , mas Surya lebih terlihat menyayangi, Non," kata bik asih , Zahwa menoleh. Membuat sedikit goresan yang salah di kanvasnya.
"Saat pertama kali bertemu pun mas Surya sudah seperti lama mengenal non Zahwa tidak ada rasa canggung seperti seseorang yang pertama bertemu ," tambah bik asih.
"Bik asih menyadari hal seperti itu , tetapi mas Hanan kenapa dia tidak curiga sama sekali," batin Zahwa .
"Jika saya boleh ikut memilih, kalau saja non Zahwa belum menikah. Saya akan lebih setuju non Zahwa dengan mas Surya. Bahkan dia tahu dengan cepat makanan kesukaan non Zahwa waktu itu? Apa non Zahwa memberitahu kan kepadanya?" Tanya bik asih
Zahwa tersenyum getir. Bagaimana bisa Bik Asih tidak menyadarinya? Kalau Surya dengan mudah memperlihatkan kepedulian nya saat mereka masih beberapa hari baru bertemu.
"Kebetulan saja, Bik. Mungkin saat itu Mas Surya ingin masak. Kebetulan lagi, itu adalah tumis kangkung kesukaan ku," kata Zahwa dengan memalingkan mukanya dan terlihat fokus lagi dengan lukisan di di depannya.
"Apa bukan karena mas Surya adalah laki-laki yang non Zahwa ceritakan dulu? Pacar non Zahwa saat di kampus dulu?" Tmtanya bik asih penuh curiga.
Deg
Zahwa terkejut. Kenapa bik asih menanyakan itu semua? Apa dia mengetahui sesuatu setelah bertemu dengan Surya? Zahwa mulai bertanya-tanya.
__ADS_1