
"Aku pikir kamu mulai mencintainya Zahwa," kata Bella ringan tapi meyakinkan.
"Baiklah, sekarang apa yang bisa membuat mu berkesimpulan seperti itu? Bahkan aku saja tidak tahu dari sisi apa dan dimana aku harus menyukai dia, "
Zahwa melempar ponselnya. Mengambil cemilan di dalam laci meja samping ranjangnya. Kemudian merebahkan tubuhnya lagi. Membuka camilan itu dengan menunggu jawaban dari Bella.
"Kenapa diam? Masih di sana kan?" Tanya Zahwa setelah sesaat tidak mendengar jawaban Bella. Dia melihat ponselnya , apa mungkin terputus. Tetapi tidak, masih tersambung.
"Aku masih memikirkannya. Diam sebentar," kata Bella.
"Tuh kan. Kau saja tidak tahu. Tapi sok berasumsi ngawur," kata Zahwa. Dia merasa menang.
"Sebenarnya aku tidak perlu menjawab itu , karena kau sendiri sudah mengakuinya," kata Bella
"Kapan?" Seru Zahwa heran
"Cinta itu tidak perlu alasan Zahwa , tidak perlu kenapa dan mengapa dan kamu seperti itu," Kata Bella.
Zahwa terlihat bingung. Bella selalu membuat teka teki di dalam perkataan.
"Aku tidak mengerti, tolong jangan bicara puitis kepadaku," kata Zahwa.
Ada gelak tawa dari arah Bella . Tidak hanya Bella, seperti nya juga ada suara seorang pria.
"Kamu sedang bersama suami mu? Hah!Lagi-lagi mempermainkan aku, " kesal Zahwa dia menyadari sedari tadi tidak hanya Bella saja yang mendengar kan curhatannya. Malu, kan.
"Tidak apa-apa. Lagi pula kamu cerita dengan ku akan sama saja, kamu juga akan bercerita dengan mas Fahri," kata Bella. Menambah bingung Zahwa lagi.
"Aku tidak faham, tolong jangan berbicara lagi dengan ku," marah Zahwa.
Hari ini banyak sekali orang yang membuat emosinya naik. Semuanya menyebalkan
"Baiklah, aku akan jelaskan sedikit demi sedikit," kata Bella pelan. Dia tidak ingin Zahwa bertambah marah.
"Aku pernah mengatakan bukan , jika pernikahan itu perlu tujuan? Sekarang apa kamu sudah mengetahui tujuanmu?" tanya Bella
"Belum," jawab Zahwa refleks mengelengkan kepala walaupun dia tahu Bella pun juga tidak akan melihatnya.
"Nah, itu lah. Sampai saat ini kamu tidak mengetahui tujuanmu. Orang tidak akan melakukan itu jika bukan karena adanya cinta. Kamu tidak mempunyai alasan, tetapi masih ingin bersama dirinya. Itulah yang aku maksud, cinta tidak perlu kenapa dan mengapa tidak punya alasan atau dasar apapun. Yang kamu inginkan dia ada di sisi mu , itu saja. Bahkan meskipun terlihat terpaksa saat menikah, sampai sekarang kau masih terus bertahan dengannya. Padahal sudah tidak ada lagi yang akan melarang. Jika kalian berpisah misalnya," jelas Bella.
"Aku pernah ingin berpisah dengannya," kata Zahwa. Mengingat kemarin dia mengatakan ingin pergi bersama Surya saat dia menangis.
__ADS_1
"Lantas? Apa yang kau lakukan?" Tanya Bella
"Tidak ada," Jawab Zahwa cepat. Karena memang tidak ada.
"Nah, itu. Kau hanya berfikir untuk berpisah. Tapi tidak melakukan apapun untuk mewujudkannya. Bahkan sekarang kau marah saat ada orang lain memperhatikan suamimu," Terang Bella.
"Ah, sudah lah! Kau menambah beban fikiran ku. Aku tidak akan memikirkannya lagi. " Umpat Zahwa. Lagi-lagi Bella terdengar terkekeh.
"Terserah, tapi jangan menyesal. Cepat sadar lah sebelum terlambat," kata Bella .
"Hahahaha ... Terlambat pun tidak apa-apa, itu tidak akan terjadi,"
" Ya ya ya... Aku akan tutup telponnya. Jika aku ada di rumah papa aku akan mengabari mu. Seperti nya aku perlu bertemu dengan suami mu itu," kata Bella
"Iya tutup saja. Kamu sudah berhasil menambah beban pikiranku, " balas zahwa .
"Aku tidak sejahat itu Zahwa. Jika suami yang tidak kau akui itu tidak berarti apa-apa. Kenapa saat ini kamu merasa terbebani? Jawaban sudah pasti. Kamu mulai mencintainya," kata Bella.
Zahwa sebal dan ingin memukul sepupunya itu. Tapi dia tidak ada hanya tersambung lewat ponsel . Akan sayang bukan jika dia melampiaskan itu pada ponsel nya sendiri. Dia akan rugi sendiri.
Tidak terasa, telponan itu memakan banyak waktu . Zahwa merasa lelah , tidak badannya tapi juga pikirannya. Terlalu banyak hal hari ini, belum lagi dia harus menyiapkan tenaga untuk mengintrogasi Hanan saat pulang nanti.
****
Jam pulang kantor tiba. Hanan masih duduk di kursi kerjanya dia terlihat lelah dan banyak pikiranya. Dia ingin cepat pulang rasanya, tapi mengingat Zahwa akan menerkam dirinya nanti, membuat dirinya malas untuk segera pulang.
"Kenapa juga Hanif pergi ke rumah. Bukankah berkas itu bisa dia kirim lewat gojek atau apalah . Tanpa harus bertemu Zahwa dan menjelaskan semuanya," umpat Hanan.
Sudah terbayang bagaimana Zahwa akan menciptakan drama dan memerankan istri yang kejam.
Dengan lunglai Hanan menarik tubuh nya dari kursi kerjanya. Berjalan ke luar ruangan. Terlihat suasana kantor sudah sepi , hanya beberapa karyawan yang mungkin ada tugas lembur.
Hanan menuju parkiran , hanya ada beberapa mobil di sana. Mobil kakaknya pun sudah tidak ada .
Selang beberapa waktu mobil itu sudah membawa pengemudi nya menelusuri jalanan sore .
Di tengah jalan mobilnya berhenti , dia melihat sosok yang di kenalnya berada di persimpangan jalan .
"Mas Surya, " Katanya .
Hanan segera mengarahkan mobilnya mendekati Surya . Dia sedang bersama seorang wanita yang belum pernah dia kenal.
__ADS_1
" Kak , ada apa ? " Tanya Hanan , dia terlihat khawatir karena kakak nya terlihat lusuh . Di samping nya wanita itu , dia lebih lusuh lagi. Pakainya kotor dan bagian lengannya sobek.
Surya melepaskan jasnya dan memakainya pada wanita tersebut . Hanan masih terlihat bingung dan khawatir.
" Wanita ini tadi mau di culik oleh preman aku menolongnya . Lebih baik dia ikut pulang saja sekarang " kata Surya . Dia tidak tega melihat wanita itu.
Tanpa mengatakan apapun lagi Surya menuntun wanita itu ke dalam mobilnya. Hanan masih mematung .
" Aku juga belum tahu pastinya , karena itu kita akan ajak dia bicara di rumah saja. " Kata Surya , ketika dia ingin beranjak .
" Baiklah " hanya kata itu yang keluar dari mulut hanan.
Mobil Surya sudah pergi meninggalkan dirinya .
" Ya Alloh . Belum juga pulang sudah mendapatkan masalah lagi " keluh Hanan.
Dia semakin lunglai saja . Wanita satu saja sudah membuatnya begitu berat menjalani hidupnya . Dan ini tambah lagi.
" Kenapa juga harus kak Surya yang menolong nya . Apa tidak ada orang lain gitu " umpat Hanan .
Dia menuju mobilnya , menancapkan gas nya begitu cepat . Dia harus cepat menyusul mobil kakaknya itu. Setidaknya mereka akan sampai di waktu yang sama.
Mobil Hanan sampai tepat saat mobil Surya baru saja masuk dan di parkiran.
Hanan tidak langsung memarkirkan mobilnya dia bergegas cepat kedalam . Fikirannya sudah pada Zahwa . Dia tidak ingin menambah bencana lagi , jika Zahwa tahu Surya membawa perempuan ke rumahnya pasti dia kan kesal .
Dengan nya saja yang tidak di cintai nya sudah seperti terlihat cemburu seperti tadi . Apalagi ini Surya yang di cintai nya.
Hanan masuk rumah dan langsung ingin ke kamar nya . Langkah nya terhenti , Zahwa sudah ada di tangga . Menatap nya dengan tajam dan kemudian bergantian pada seseorang di belakang nya . Hanan mengikuti arah tatapannya itu. Iya , tatapan itu pada perempuan itu. Meskipun dia sangat lusuh tapi kenapa Zahwa memandang dengan curiga.
" Kau membawa wanita mu ke rumah ?" Tanya Zahwa langsung. Dia menatap dengan risih pada Hanan.
" Bukan , bukan aku yang membawa nya . " Balas Hanan. Dia payah , kenapa juga dia terlihat takut di hadapan Zahwa. Seakan jika betul dia yang membawa perempuan itu . Akan membuat hati Zahwa terluka.
" Aku yang membawa nya " kata Surya , dia baru saja terlihat dari ambang pintu.
Zahwa terlihat kaget dan tidak percaya. Tatapannya nanar , seakan bertanya kenapa ? Ada apa ?
Saat itu juga entah kenapa , tangan Hanan segera meraih pergelangan tangan Zahwa . Menggandeng nya , mengajaknya kembali menaiki tangga . Dan menuju arah kamar mereka.
Hanan tidak melihatnya, saat mata Zahwa masih saja menatap Surya dan perempuan itu. Saat bertolak arah pun , kepalanya dia arah kan kepada mereka berdua . Seakan menanti jawaban dari pertanyaannya.
__ADS_1
Sakit , entah itu milik siapa ? Hanan , Zahwa atau Surya .