Hati Yang Terpilih

Hati Yang Terpilih
Episode 93


__ADS_3

''Bibi mu sakit. Dia ingin ketemu dengan mu.'' Kata Paman Sam.


Zahwa datang dengan minuman hangat di atas nampan dan beberapa makanan ringan.


''Sakit apa? kenapa tidak telpon saja. Aku bisa langsung ke kebumen,'' Jawab Hanan. Dia merasa khawatir.


Zahwa sudah duduk di samping Hanan. Ikut menyimak pembicaraan mereka. Meski belum faham betul.


''Nomer kamu hilang. Nomernya Surya yang ada. Dan pasti aku menghubungi Surya, katanya kamu lagi di Daeng. Jadi kami langsung ke sini.''


''Kak Surya tidak bilang apa-apa.'' Kata Hanan. Dia melihat Zahwa, mungkin saja dia mengetahui sesuatu.


''Mungkin Mas Surya belum sempat cerita.'' Kata Zahwa memberi jawaban dari tatapan suaminya. Dia juga tidak tahu apa-apa.


''Kedatangan paman kesini buat jemput kamu. Bisa Ndak kamu ikut kami ke kebumen. Bibi mu pengen ketemu kamu.'' Kata paman Sam.


Hanan melihat ke arah Zahwa lagi mencari jawaban persetujuan. Zahwa mengangguk pelan.


''Insya Alloh paman. Besok pagi kami akan langsung ke kebumen.'' Balas Hanan.


''Baiklah. Alhamdulillah kalau gak merepotkanmu." Kata Paman Sam.


''Kalau boleh tau sakit apa Bibi?'' Tanya Zahwa . Meski belum mengenal, tapi itu adalah saudara suaminya. Dia ikut khawatir juga.


''Jantung.Sudah lama sakitnya. Tapi kali ini seperti umurnya sudah tidak lama. Dokter sudah mendiagnosa kalau umurnya tinggal 2 bulan lagi. '' Kata paman Sam.Sontak membuat beliau meneteskan air mata.


''Astaghfirullah,'' Ucap Hanan dan Zahwa lirih.


Beberapa saat setelah itu Paman Sam menceritakan penyakit Istrinya.


Istrinya Bibi Ami sudah lama mengidap penyakit jantung. Keluarga baru menyadari setelah beliau tiba-tiba pingsan di perkebunan. Usianya sudah cukup senja, tapi beliau tetap ingin bekerja di perkebunan.


''Nan, sejak kapan kamu menikah? kenapa tidak ada yang mengabari kami?'' Tanya Laki-laki yang sedari tadi diam.


''Ceritanya panjang. Yang pasti kami menikah saat Mama dan papa meninggal, Zahwa adalah wasiat terakhir mereka untuk ku." Jawab Hanan dengan menggenggam tangan Zahwa.


''Wasiat terakhir gimana? Apa kalian sebelumnya pacaran?''


''Tidak Fiz. Bahkan dia mantannya Kak Surya.'' Jawab Hanan dengan terkekeh. Seakan itu adalah hal yang lucu. Sekarang, dulu dia mesti uringa-uringan.


''Maaf ya Nan. Hafiz tanya-tanya.'' Kata Paman Sam.


Hafiz mendapat jawelan dari bapaknya itu. Mengisyaratkan bahwa tidak perlu banyak bertanya.


''Gak papa. Memang gak ada yang tahu soal pernikahan kami.'' Kata Hanan.


Malam itupun Hanan dan Zahwa juga menceritakan tragedi pernikahan mereka. Hingga larut malam. Pada akhirnya mereka di persilahkan menginap di Villa dan berangkat ke kebumen esok harinya.

__ADS_1


''Apa kita perlu menghubungi Mas Surya juga Mas?'' Tanya Zahwa setelah mereka sudah di kamar.


''Beri kabar aja. Ndak perlu nyuruh ikut ke kebumen.Dia kan baru aja sampai sana . Masak mau pulang lagi. Katanya kalau orang mondok untuk pertama kalinya, selama 40 hari gak boleh keluar pondok.'' Jawab Hanan. Dia sudah berbaring di ranjang.


''Aku juga pernah dengar hal seperti itu. Tapi kenapa cuma kamu ya g di cariin? apa ada masalah lainnya?'' Tanya Zahwa curiga. Hatinya masih menyembunyikan kegelisahan yang entah kenapa.


''Gak tau aku. Yah, mungkin aku ponakan paling di sayang. Atau mungkin mau dapat warisan." Jawab Hanan ngasal.


''Hahahaha kamu mas mas."


''Loh kalau dapat warisan kan tambah kaya.Kalau aku kaya kamu kan tambah cinta?"


Dengan segera Zahwa menganggukkan kepala dengan senyum puas.


''Hahahahaha ... Istriku matre." Ucap Hanan yang malah tertawa.


''Tapi sayang,'' Sahut Zahwa dengan expresi manja.


Mereka berbincang cukup lama, karena Zahwa harus mengemas barang-barang juga.


Hanan menceritakan sosok bibinya tersebut. Bahwa dia termasuk bibi yang menyayangi dirinya, pun juga Surya.


Saat orang tuanya meninggal, beliau yang paling terpukul. Namun kerena keadaan, pun juga jauh keluarga mereka tidak dapat datang saat pemakaman.


Hanan sendiri saat itu tidak terlalu fokus dengan itu semua. Dia kehilangan orang tuanya dan tiba-tiba dia menjadi seorang suami. Itu sudah menjadikan fikiran terpecah kemana-mana. Belum lagi dengan masalah lainya.


Pagi sekali mereka sudah berangkat ke kebumen. Paman Sam dan juga Hafiz sekalian bersama mereka.


Di perjalanan entah mengapa mereka hanya diam. Hanan dan Zahwa sudah mengajak mereka untuk berbincang, namun jawaban mereka hanya sekedarnya saja.


Syukur ,karena mereka berangkat dari Dieng, jadi tidak terlalu jauh untuk sampai ke kebumen. Sekitar 3 jam mereka sampai .


Hanan sedikit lupa jalan ke arah rumah mereka Karena sudah lama tidak ke sana. Belum lag, keadaan jalan sudah berbeda dari terakhir dia berkunjung ke kediaman mereka.


''Assalamualaikum,"


Paman Sam masuk terlebih dahulu sebelum Hanan dan Zahwa masuk. Mereka masih merapikan oleh-oleh yang dia bawa.


''Waalaikumsalam...''


Paman Sam di sambut oleh seorang gadis berparas ayu dengan lesung pipi yang menawan. Dia mengenakan hijab dengan pakaian atasan kemeja dan juga sarung gloyor.


Dia mencium tangan Paman Sam dan langsung membawakan tas yang di bawa Paman Sam.


''Warda, kau kah itu?'' Tanya Hanan seketika setelah melihat gadis tersebut. Matanya berbinar seakan tidak percaya dengan apa yang di lihatnya.


''Mas Hanan?'' Gadis yang di sebut namanya itu juga terpana melihat sosok laki-laki di depannya.

__ADS_1


''Ayo masuk. Bibi mu sudah menunggu.'' Sahut paman Sam. Membuat keduanya tidak lagi berkata. Dan langsung masuk ke dalam.


Hanan menunggu Zahwa yang sedang mengambil oleh-oleh kemudian mereka masuk bersama.


''Assalamualaikum,'' salam mereka berdua.


Paman Sam langsung mempersilahkan duduk. Sedang gadis yang bernama Warda telah pergi ke belakang , untuk mengambil air minum.


''Bibi di mana paman? kita langsung bertemu dengan beliau saja." Tanya Hanan.


''Ada di kamar. Ayo, aku antar.'' Jawab Paman Sam .


mereka menuju bagian ruangan rumah lainya, menuju kamar yang ada di ujung rumah tersebut.


''Bu, Hanan sudah datang.'' Kata Paman Sam.


Wanita paruh baya yang berbaring tadi. Berusaha bangun dari tidurnya. Hanan dengan cekatan langsung membantu bibi nya itu untuk duduk bersandar.


''Alhamdulillah, kamu datang juga nan. Gimana kabarnya?'' Tanya Bibi


''Alhamdulillah, baik Bi. Oh iya...kenalkan ini Zahwa." Jawab Hanan.


Zahwa yang sedari tadi mengekor di belakang maju berjajar, menyalami bibi Hanan.


''Zahwa?'' Terlihat Bibi Ami bertanya-tanya dengan Zahwa.


''Ini _'' Belum sempat selesai berbicara. Warda datang membawa minum.


''Minumannya,'' Tawarnya dan menaruh nampan berisi makanan di atas meja depan ranjang.


''Lah, ini Wardah nan. Udah ketemu kamu?'' Tanya bibi Ami girang menunjuk Warda.


''Iya Bi. Sudah. Tapi hampir nggak bisa ngenalin.'' Jawab Hanan.


Wardah dan Hanan teman waktu kecil. Mereka berteman saat di desa. Sebelum Hanan dan keluarga pindah Jakarta. Meskipun usia terpaut 3 5 tahun , tapi mereka bisa di bilang sahabat pada masa kecil dulu.


''Tambah cantik, anggun dan Masya Alloh Wardah. Bibi pengen kamu kesini, mau jodohin kamu sama Warda.'' Ujar Bibi Ami tanpa basa-basi.


Zahwa yang sedari tadi diam, sontak shock dan menjatuhkan bawaan oleh-olehnya. Dan berjalan mundur, tertahan.


Hanan menoleh ke arah Zahwa dan langsung memegang tangannya yang semakin menjauh dari dirinya.


''Bi bukannya apa-apa. Tapi hanan_" Belum juga menyelesaikan ucapannya tangan Zahwa mencengkeram lengan Hanan membuat nya tertahan.


''Ada apa? Apa ini terlalu mengejutkan? Atau karena? _'' Pandangan Bibi Ami tertuju pada Zahwa yang terlihat memegang lengan Hanan. Terlihat jelas, jika bibinya menatap tajam kearahnya.


Merasa hawa menyengat dari tatapan Bibi Ami. Zahwa dengan pelan melepas lengan Hanan. Dan sedikit memberikan isyarat untuk menenangkan Hanan. Walau dia sendiri saat ini pun sedang tak karuan.

__ADS_1


__ADS_2