Hati Yang Terpilih

Hati Yang Terpilih
Episode 3


__ADS_3

_ Seperti halnya pagi yang selalu datang , begitu pun harapan _


" Kamu tidak keberatan ?, " tanya Hanan seakan meragukan , tidak menyangka istri yang terlihat lugu mengatakan seperti itu.


" Maksud ku ," Zahwa seakan ingin mengutuk dirinya sendiri karena telah mengatakan itu semua. Hanan sedang tersenyum jahil , dan berdiri menghampiri nya. Kaki Zahwa bergetar , melihat suaminya itu berjalan ke arah nya. Fikirannya tidak karuan lagi. Dia hanya diam berdiri, dan menutup matanya. Beberapa saat , tidak terjadi apa- apa. Zahwa membuka matanya lagi.


" Eh " Gumamnya, dia tidak melihat Hanan, dan langsung berbalik. Hanan sudah berbaring di tepian ranjang. Menyingkuri nya. Hah! Zahwa bernafas lega. Telapak tangannya menempel di dadanya, seperti nya hari ini beberapa kali dia olah raga jantung.


Akhirnya Zahwa ikut berbaring , dan tentu saja dia tidak berani berbaring terlentang, apalagi menghadap ke Hanan. Mereka saling bersingkuran.


Setidaknya bukan awal yang buruk kan?


****



Pagi begitu cerah , Hanan terlihat memakai kemeja putih dan kaca mata  sedang duduk di ruang tengah fokus dengan Leptop di depannya. Jari-jarinya lincah di atas keyboard Leptop tersebut , sesekali matanya melihat kertas dokumen yang dia letakkan di samping Leptop. Mungkin dia akan kembali bekerja.


"Mas Hanan, ini kopinya," kata Zahwa yang tiba membawa secangkir kopi panas.


"Terima kasih," balas Hanan , tapi sepertinya dia terlalu fokus dengan pekerjaan, sampai tidak sempat melihat Zahwa di depannya. Zahwa yang melihat suaminya sibuk segera kembali lagi ke belakang , takut mengganggu karena dia juga tidak tau harus melakukan apa lagi.


Selang beberapa menit , Hanan terlihat sudah rapi , dia tenteng tas kantornya. Dia sudah bersiap berangkat kerja.

__ADS_1


" Zahwa ? " Panggil hanan agak keras.


" Iya mas , " Zahwa terlihat bergegas menemui suaminya itu.


" Aku berangkat ke kantor , dan kalo kamu ingin pergi belanja atau apalah terserah , pakai ini, " kata hanan , dia menyodorkan satu ATM kepada Zahwa . Zahwa agak ragu menerimanya.


" Ini sudah atas namamu , ayah sudah membuatkan ini jauh sebelum kita menikah , staf bank yang memberikan itu beberapa hari yang lalu. Jadi kamu tidak perlu sungkan , " jelas Hanan.


" Terima kasih , "  kata itu yang bisa dia ucapakan.


" Baik lah aku berangkat , Assalamualaikum. " Salam Hanan


" Waalaikumsalam , hati-hati mas." Balas zahwa , ingin dia bersalaman tapi sepertinya Hanan cepat berlalu. Mengendarai mobil nya dan meninggal pekarangan rumah nya.


***


Cling


Suara ponsel Zahwa , seperti ada pesan masuk di WhatsApp nya.


***Mas Hanan**


Aku meminta seseorang untuk mengirim  asisten rumah tangga. Jadi beristirahat lah*.

__ADS_1


Isi chat nya , seakan Hanan tahu bahwa saat ini Zahwa sedang kelelahan. Bagaimana tidak , rumah yang cukup luas. Menyapu halaman nya saja membutuhkan waktu setidaknya setengah jam, jika itu di lakukan dengan cepat. Belum dengan isi rumahnya.


Terima kasih mas, jika tidak keberatan sebenarnya tadi saya minta izin untuk memperkerjakan bik Asih, selama ini beliau yang merawat Ayah dan Ibu


Zahwa membalas chat hanan. Dia baru teringat bahwa rumah nya sendiri sekarang sedang kosong. Dan setelah Orang tuanya meninggal bik asih , asisten rumah tangga nya dulu izin mengundurkan diri. Berat hati sebenarnya karena selama ini bik asih lah yang juga merawat nya sedari kecil, tapi saat itu dia juga tidak bisa meminta untuk tinggal, karena dia pun juga tidak tahu bagaimana rumah suaminya nanti. Dan untuk sementara rumah nya dulu dia kontrak.


*Mas Hanan


Ok. Gak papa**


Balas Hanan. Sebuah senyum merekah di bibir zahwa, meskipun dia tidak begitu dekat  dengan suaminya, tetapi setidaknya dia tidak merasa tertekan. Hanan pun sepertinya juga sedikit memperhatikannya.


Zahwa segera menghubungi bik Asih. Memberikan kabar, bahwa beliau bisa bekerja lagi. Mungkin bedanya tidak lagi di rumahnya, tapi di rumah suaminya.


"Iya Bik, aku nanti kirim alamat nya setelah ini. Syukurlah kalo Bik asih belum pulang kampung. Aku senang bisa  bersama bik Asih lagi , terima kasih sudah mau nemenin Zahwa lagi ya bik " kata Zahwa . Rasa bahagia terpancar di wajahnya mendengar dan berbicara dengan orang yang mungkin juga sudah dia anggap orang tuanya itu , meskipun sebenarnya hanya seorang asisten rumah tangga. Terkadang orang lain bisa lebih dekat dari pada keluarga lainya.


*Mas Hanan


Zahwa, nanti kalo bik asih sudah datang boleh minta tolong? Suruh bersihkan kamar atas bagian ujung. Kakak ku lusa akan kembali dari studinya**.


Chat masuk lagi dari Hanan. Tanpa Fikir panjang , Zahwa langsung membalas pesan tersebut dengan " Ok " saja.


"Aku kira mas Hanan anak tunggal,'' guman Zahwa. Tapi dia tidak terlalu peduli, dan segera masuk kedalam rumah. Tanpa sadar dia sudah terlalu lama di luar. Padahal  menjemur nya sudah selesai dari tadi.

__ADS_1


__ADS_2