Hati Yang Terpilih

Hati Yang Terpilih
Episode 62


__ADS_3

Di lobby kantor Surya dan Zahra berjalan seiring . Tampak ada beberapa candaan dia antara perbincangan mereka. Sesekali pegawai kantor yang kebetulan berpapasan dengan mereka menyapa dan kemudian meninggalkan mimik wajah tanda tanya dan rasa penasaran.


"Kita duduk di sana,"


Surya menunjukan ke arah meja panjang dengan deretan kursi yang menghadapnya. Di depannya kaca raksasa menyuguhkan pemandangan langit yang membentang dan juga gedung yang menjulang.


"Aku suka bagian kantor kamu yang ini, Mas." Kata Zahra dia menikmatinya. Matanya berbinar takjub melihat Langit biru.


"Di desain seperti ini agar para karyawan bisa lebih leluasa mengexpos pemikiran mereka. Jika hanya duduk di meja dan ruang lainnya pasti mereka akan bosen."


Zahra kagum. Ternyata kakak temannya itu memikirkan orang lain juga. Jika bos lainya mungkin akan mengejar pekerjaan mereka bagaimana caranya. Tapi Surya malah memberikan wewenang karyawan nya untuk bekerja santai di kantornya.


"Jadi apa yang membuat mu mencari ku?" Tanya Surya


"Anu Mas_ Abah kemarin bilang kalau saja tidak keberatan. Mas mau membantu mengembangkan pesantren kami." Jawab Zahra. Dia sedikit ragu mengutarakan maksudnya.


Sudah lama Abahnya mencari seseorang untuk bisa membantu mengembangkan pesantren mereka . Sedangkan dia sendiri belum bisa membantu sepenuhnya karena sebentar lagi dia harus meneruskan studinya di Londen. Beberapa orang memang sempat di percaya tapi entah Abahnya masih saja kurang Sreg.


Hingga akhirnya setelah malam waktu itu, di mana beliau bertamu di rumah Hanan dan Surya. Hatinya mengatakan jika Surya bisa membantu nya mengembangkan pesantren miliknya.


Dia melihat ada cahaya dalam diri Surya yang entah orang awam tidak bisa melihatnya. Dia mungkin bukan alumni Al Azhar. Tapi dia juga kuliah di Cairo juga, kebiasaan dan adab di sama pasti menyatu dalam dirinya.


Zahra ragu awalnya. Surya sudah begitu matang di dunianya mana mungkin mau berbalut dengan lingkungan pesantren yang notabene wong ndeso. Tapi Abahnya meyakinkan dirinya bahwa Surya tidak lah seperti yang dia pikirkan. Bahkan mungkin dia akan senang mendapatkan kesempatan tersebut. Hal itu membuat Zahra memberikan diri untuk menawarinya.


" Masya Alloh. Apa pantas aku berada di sana Ra Aku tidak pernah mondok sama sekali."


Surya terperanjat.Tidak menyangka bahwa dia mendapatkan tawaran yang begitu mulia. Dari dulu dia ingin sekali mengenyam dua pesantren tapi tidak pernah ada kesempatan. Orang tuanya meminta dia untuk tinggal di Asrama saja saat kuliah. Takut , jika nanti saat dia tinggal di pesantren urusan kuliah dan pesantren akan berbenturan dan akhirnya tidak ada yang berhasil.


Meskipun begitu Saat di Cairo dulu dia biasa bersama para mahasiswa Al Azhar. Ikut nimbrung bersama mereka. Apa saja yang mereka pelajari , bagaimana mereka melakukan nya dan kitab-kitab apa saja yang harus mereka miliki. Surya menanyakan. Dan juga ikut mempelajari .


"Loh Mas , saya kira malah mas gak akan tertarik . Abah sendiri yang bilang kalau Mas pasti bisa. "


Zahra meyakinkan. Tidak menyangka jika Surya malah merendahkan dirinya dan merasa tak pantas. Dan bisa di katakan jika dia senang dengan tawarannya. Seperti yang Abahnya bilang.


"Aku takut mengecewakan Abah mu. Aku gak Faham ilmu pesantren Lo. "

__ADS_1


Surya masih ragu. Walaupun Zahra sudah mengatakan jika Abahnya yakin jika dirinya mampu. Tapi pesantren adalah hal baru nantinya. Jika hanya mondok di sana mungkin dia masih sanggup. Tapi ini langsung dia beri ganggu jawab mengembangkan. Bagaimana dia bisa? Sedangkan untuk mendapatkan tanaman yang subur dia harus tahu cara merawatnya. Gak Sukur menanamnya.


"Nanti kalau sudah di sana pasti Abah mengajari Mas."


Zahra menambah lagi keyakinan. Dia orang di depan sanggup menerima ilmu dengan cepat. Apalagi ada niat yang kuat di dalamnya.


"Kenapa gak calon mu saja? Masak kamu beneran belum punya calon? "


Menurut Surya, Zahra tipe wanita yang istimewa


Dia tidak cantik parasnya saja, tapi juga hatinya. Apalagi dia adalah putri kyai besar di daerahnya. Walaupun saat hidup di sini dia terlihat sama seperti wanita pada umumnya.


"Walah Mas. Mana ada yang mau sama aku."


Zahra merendah. Pengalaman hidup tentang teman hidup memang tak menyenangkan. Dia seperti putri di kerajaan pesantrenn , yang di agung-agungkan oleh banyak santrinya. Tapi saat dia keluar dari Zonanya, ternyata dia adalah wanita biasa yang sama pada umumnya. Ada yang lebih jauh lebih cantik , pintar , cekatan dan berhati mulia.


"Banyaklah pastinya. Kamunya saja yang pilih-pilih Mungkin." Ujar Surya


"Hahaha. Wajarlah kalau pilih-pilih. Nikah kan untuk seumur hidup. Gak ada expayed nya. Bahkan sampai nanti di surga."


"Tapi, Mas. Kenyataannya emang belum ada yang mau. Mas saja nolak pas di tawarin Abah buat Minang aku. Haha..."


Zahra tertawa lepas, entah apa yang membuat bisa seperti itu. Seakan hal itu adalah hal biasa.


Surya ikut tertawa, meskipun dalam hatinya juga merasa bersalah saat itu dia langsung menolak tawaran Abah Zahra tanpa mempertimbangkan dulu.


"Kamu itu lucu. Di tolak kok malah seneng." Kata Surya.


"Biasa aku Mas. Berarti memang bukan Jodoh. Saya santai. Toh,jodoh itu takdir Alloh yang sudah di tetapkan sejak sebelum kita di lahirkan. Gak akan tertukar. Anggap saja kita masih LDR an.'' Jelas Zahra.


Surya seakan tertampar dengan penuturan Zahra. Di tersenyum tapi hatinya merajuk. Sebelumnya dia lupa akan hal itu. Bahwa jodoh sudah di tentukan dan manusia tinggal berikhtiar dengan harap semoga jodoh mereka adalah orang yang akan mencintainya dan juga ia cintai sepenuhnya.


"Memangnya kamu pengen jodoh seperti apa?" Tanya Surya tiba-tiba. Pertanyaan itu datang tanpa di rasa.


Zahra terdiam , meringankan tawanya. Dia mengetuk-ngetuk keningnya seakan sedang berfikir keras.

__ADS_1


"Gimana ya Mas. Aku sih sebenarnya tidak minta muluk-muluk sama Alloh. Sungkan , soalnya aku wanita biasa saja. Jauh dari kata sempurna. Kalau minta lelaki yang sempurna aku malah takut tidak bisa mengimbanginya. Gimana ya, gak bisa jelasinya Heheheh..." Jawab Zahra.


Surya tersenyum simpul Zahra terlihat mengemaskan saat sedang berfikir seperti itu. Entah apa yang di kepalanya tapi dia tidak bisa mengutarakannya.


"Memangnya selama ini gak ada yang kamu suka? Gimana dengan Hanif. Kalian kemana-mana bersama. Toh, meskipun saudara tapi bukan mahrom juga, kan?" Lontar Surya membuka celah dia seperti penasaran dengan karakter yang di sukai Zahra.


"Ya Alloh Mas. Mas Hanif, kok bisa berpikir aku dengan Mas Hanif. Pasti Mas Hanif terpingkal-pingkal mendengarnya. Hahahahaha...''


Dia tertawa terbahak sampai harus menutup mulutnya. Orang yang berjalan melewati mereka sampai melihatnya.


"Apa yang lucu. Sah sah saja, kan?" Lanjut Surya.


"Sah Mas. Tapi aku sama Mas Hanif udah lengket banget. Kami dari dulu selalu bersama. Kayak anak kembar. Bosen aku nanti kalau sama dia terus." Kata Zahra. Dia mulai mereda tawanya.


"Punya bosen juga to. Aku kira Trisno jalaran Soko kulino itu bisa terjalin di antara kalian." Kata Surya .


"Ndak Mas. Gak mungkin. Aku sudah menganggap Mas Hanif kakak ku pun sebaliknya." Balas Zahra.


''Oh gitu. Kalau nanti aku berubah pikiran ,dan mau melamar mu. Kamu mau, Ndak?" Tanya Surya tiba-tiba.


Zahra terkejut. Tersedak. Padahal dia tidak sedang makan atau minum. Pertanyaan Surya sedikit mengguncang hatinya.


"Yah , itu mah gak tau. Hehehe.." Jawab Zahra seadanya . Dia pikir Surya hanya bercanda , jadi dia tidak juga menolak atau menerima .


"Ya weslah. Aku juga gak tau. " Kata Surya.


Keduanya bertukar senyum. Tidak terasa mereka sudah berbicara panjang lebar. Hingga akhirnya Zahra pamitan karena tidak enak mengganggu jam kerja Surya.


"Kalau Mas setuju cepat hubungi aku ya mas. Biar aku cepat matur teng Abah." Kata Zahra setelah mereka sudah di depan kantor. Surya mengantar Zahra sampai depan kantor.


"Yang mana, Nih? Lamaran atau tawaran pekerjaan?" Tanya Surya menggoda.


Zahra tersipu malu tanpa sadar menepuk lenggan Surya manja. Yang di tepuk malah terkekeh.


"Terserahlah, Mas. Aku pulang dulu. Assalamualaikum..." Pamit Zahra dia langsung cepat pergi , sebelum Surya menggodanya lagi .

__ADS_1


Surya menunggu sampai mobil Zahra hilang dari matanya. Setelah itu dia kembali ke dalam kantor melanjutkan pekerjaannya.


__ADS_2