
"Menurutmu bagaimana? Apa aku menerima saja tawaran Abahnya Zahra untuk membantu mengembangkan pesantrennya?" Tanya Surya
Orang pertama yang dia temui untuk mendiskusikan masalah ini adalah Bella. Sepupu Zahwa.
"Itu terserah kamu. Tapi sebelumnya pikir lebih matang lagi, pekerjaanmu juga dan juga niatmu" Jawab Bella di Via telpon.
Mau bagaimana lagi, Surya tidak enak jika harus berkunjung ke rumah Bella terlalu sering. Apalagi di sudah bersuami. Tapi dia perlu teman diskusi. Sedang untuk menghubungi Hanan apalagi Zahwa untuk sementara tidak bisa.
Setelah kejadian hari itu, Surya tidak ingin menggangu mereka terlebih dahulu.
"Bantu aku berpikirlah. Menurut mu bagaimana?" Jangan jawab terserah."
"Kamu pergi, apa kamu sudah memikirkan pekerjaanmu? "
"Aku bisa mengerjakan itu di sana juga. Toh pekerjaan ku tidak mengharuskan aku di kantor,"
"Ok. Kalau begitu. Sekarang bagaimana dengan niat mu? Itu yang terpenting."
"Niat. Niat untuk mencari pengalaman , menambah ilmu dan juga mengamalkan. Mengabdi begitu."
Terdengar tarikan nafas yang panjang dari telpon. Bella sepertinya belum mendapatkan jawaban yang benar dari pertanyaannya.
"Apa kamu benar ingin pergi ke sana untuk mengabdi? Atau alasan mu saja. Untuk menghindari Hanan dan Zahwa?" Bella memperjelas maksud dari pertanyaan. Membuat Surya terdiam lama.
"Jika hanya untuk melarikan diri saja , itu akan sia-sia. Tapi jika memang keinginan mu memang untuk mengabdi. Mencari ilmu lagi aku akan mendukung itu." Tambah Bella.
Surya masih diam. Pikiran dan hatinya masih bergelimut mencari kebenaran dari dugaan Bella. Apakah dia ingin pergi karena ingin melarikan diri, atau memang sepenuhnya ingin mengabdi. Padahal ia sadar hal yang dia lakukan nanti di luar jangkauan selama ini.
"Tidak bisa kah aku memilih ke duanya ? melarikan diri dan juga mengabdi. Gak ada yang sia-sia. Aku bisa cepat melupakan Zahwa dan aku bisa membuatnya diri ku lebih bermanfaat." Kini dia menjawab dengan pertanyaan.
"Haha...Apa kamu yakin dengan semua itu. Kamu salah meletakkan niat awal mu?" Lontar Bella. Dia selalu memberikan pertanyaan yang sulit untuk di pikirkan.
"Lantas bagaimana?"
"Niat kan untuk mengabdi. Sepenuhnya. Dan dalam pengabdian mu itu nanti pastikan, kamu tidak lagi mengingat Zahwa."
__ADS_1
"Sama saja,kan?"
"Tidak. Beda. Jika kamu niat melarikan diri untuk melupakan Zahwa, kamu akan terfokus pada pelarian mu saja. Bukan tugasmu untuk mengabdi." Terang Bella. Surya, dia masih mencerna apa yang di utarakan Bella. Baginya masih sama saja.
"Oh iya. Pikiran ku juga wanita simpanan mu." Ujar Bella.
"Wanita simpanan?" Surya tidak mengerti.
"Itu si Elena. Mau kau kemana kan dia nanti. Jika kamu tinggalkan."
"Oh. Aku lupa soal dia. Hehehehe..."
Surya kembali mengingat Elena. Kebingungan kembali melandanya. Bella benar, Elena mau dia kemana kan? Tidak mungkin dia meminta Hanan dan Zahwa untuk menampungnya. Semua permasalahan mereka di karenakan oleh Elena. Tapi jika dia pindah, dan tinggal di kontrakan yang sempat dia sewa dulu. Dia takut jika preman-preman yang mengejarnya dulu kembali menemukan dirinya dan menyakitinya. Jika Tinggal di sini akan mengundang fitnah di antara tetangga.
"Lah, gimana sih kamu? Ngumpetin wanita tapi lupa. Sebaiknya dia kamu titipin di Panti Sosial wanita saja. Aku kenal orang - orang di sana. Dia juga pasti a man." Tawar Bella.
"Panti Sosial? Apa tidak kasihan?"
" Yah, di sana bukan seperti panti Asuhan atau panti Jompo. Jangan membayangkan seperti itu. Memang di sana tempat wanita jalanan dan mantan para wanita malam tapi di sana mereka di belajari wirausaha, keterampilan dan lainya. Tidak cuman tidur makan saja. Jadi wanita mu itu bisa berkembang. Gak nyusahin orang.'' Lontar Bella. Dia sedikit kesal dengan Elena. Selain dia merasa bahwa Elena mengganggu kehidupan Zahwa dan Hanan. Dia juga menjadi parasut Surya.
"Bagus juga kalo begitu. Aku akan bicara dengan Elena nanti."
"Ya sudah. Terima kasih masukannya. Nanti aku kabari lagi. Sudah malam. Salam untuk keluargamu." Kata Surya pamitan.
"Ok. nsya Allah. Ingat! Pkirin dulu niatnya." Pesan Bella.
Surya tertawa. Itu yang di sukai dari Bella dia seperti ibu yang selalu mengingatkan segala hal. Mengatakan hal yang memang harus di katakan. Tidak peduli itu akan menyakiti atau tidak untuk lawan bicaranya. Walaupun begitu tidak ada sebesit rasa ingin menyakiti.
Surya mengakhiri telpon. Dia kembali mengangan - angan perkataan Bella. Dia juga tidak ingin membuat Abah Zahra menunggu lama.
Tok tok
"Mas Surya. Makan malam sudah siap."
Suara Elena terdengar setelah ketika pintu kamarnya. Surya bangkit dari pembaringannya. Dia melangkah menuju pintu kamar dan membukanya, di depan Elena sudah menunggunya.
__ADS_1
"Ayo!" Seru Surya.
Mereka menuju ruang makan. Sesampai di sana makan sudah di siapkan.
"Elena... Seandainya saja. Kamu jangan tersinggung dulu. Kamu tinggal di Panti Sosial Wanita. Apa kamu mau?" Tanya Surya.
Elena seketika menghentikan makanannya. Terkejut dengan apa yang di katakan Surya.
"Maksud, Mas? Apa mas mau aku pergi dari rumah ini lagi?" tanya Elena. ***** makannya hilang seketika.
"Bukan. Sebelumnya kita sudah memutuskan jika kamu pindah ke kontrakan. Tapi karena ada kejadian preman itu. Aku tidak tega.Tapi masalahnya sekarang. Aku akan pergi ke Jombang. Dengan waktu lama, dan bahkan belum bisa aku tentukan sampai kapan." Jelas Surya. Dia masih menjaga perasaan Elena agar dia tidak tersinggung dengan maksudnya.
"Aku kembali bersama ibu saja jika begitu .Mas Surya tidak perlu lagi mengurusiku. Toh , saya hanya beban."
Surya menghela nafas. Elena belum - belum sudah salah faham dengan maksudnya.
"Itu sama saja kamu menyerahkan diri mu kepada Madam Nur lagi. Sia-sia kamu selama ini menghindari mereka selam ini." Ujar Surya.
"Setidaknya aku bisa bebas dan ada ibu yang menemaniku."
"Di panti itu tidak seperti yang kamu pikirkan. Di sana banyak wanita yang sepertimu. Mereka di bimbing untuk berwirausaha,keterampilan , dan lainya. Teman ku juga mengenal orang-orang di sana. Kamu akan aman. Kamu juga bisa mengajak ibu mu ke sana." Jelas Surya.
Elena diam. Dia tidak bisa mengelak sekarang,dia juga tidak bisa menjelaskan apapun apalagi membantah.
"Kenapa aku tidak ikut dengan Mas Surya saja?!"
Surya diam. Mengajak Elena ke pondok? Apa itu mungkin. Di Panti Saja dia sepertinya menolak , apalagi di pondok yang begitu banyak peraturan. Dia tidak akan kuat. Lingkungan pesantren bertolak belakang dengan dirinya.
"Aku ke pondok. Aku kamu tetap ingin ikut?"
Elena diam. Pondok,dia tidak mengetahui apa itu pondok. Tempat apa dia juga tidak tahu.
"Pondok, apa itu? Maksudnya Tempat seperti apa itu?" Tanya Elena penasaran.
Surya menghela nafas. Bahkan Elena tidak mengetahui apa itu pondok. Sudah pasti dia tidak akan sanggup tinggal di sana.
__ADS_1
"Pondok pesantren. Apa kamu pernah mendengarnya?" Tanya Surya
Elena menggeleng. Dia terlihat tidak mengerti.