Hati Yang Terpilih

Hati Yang Terpilih
Episode 122


__ADS_3

Wanita paruh baya menyambut mereka semua dengan senyum sumringah. Di sampingnya, seorang pemuda tampan dengan setelan Koko lengkap dengan sarungnya. Ikut menyalami mereka satu persatu.


''Dharma, ini benar kamu?''


Zahra terngaga melihat pemuda di depannya tersebut. Dia tinggi semampai , putih bersih , mata sipit dengan jambang halus. Lesung pipinya membuat wajahnya tidak mudah bosan di pandang.


''Hehehehe, iya lah Mbak.''


Dia menggaruk rambut belakang yang tidak gatal. Sifatnya masih saja cengengesan. Zahra gelang-geleng kepala dan masih tidak percaya dengan perubahan tubuh adik sepupunya itu.


''Nanti aja mbak, komentarnya. Kita masuk dulu, Monggo!"


Pemuda yang bernama Dharma tersebut mempersilahkan untuk masuk. Karena hari mulai sore. Perjalanan cukup jauh , hampir 4 jam untuk sampai di tempat tujuan.


Semua orang berkumpul di ruang tamu depan. Kyai Jauhari memperkenalkan Surya, sebagai menantu pada tuan rumah. Beliau juga menceritakan dari mana asal usul Surya.


Sedang Zahra, yang sudah lama tidak berkunjung di rumah bibinya itu. Ingin berkeliling di sekitar rumah tersebut. Dia melihat banyak perubahan.


Bibi Aisyah, adik dari ibunya itu juga memiliki pesantren. Tepat di belakang rumahnya. Namun rumah tersebut langsung terhubung dengan pondok santri putri. Setelah melewati dapur, dia akan bisa melihat langsung mushola pondok putri. Tapi, sebelum menuju mushola tersebut. Harus melewati sebuah lorong dengan jalanan paving dan dia atasnya ada pohon anggur dan markisa yang merambat membentuk setengah lingkaran.


Dari kejauhan terdengar gemericik air berpadu suara para santriwati yang sedang mengantri di tempat wudhu dan kamar mandi.


Adzan sholat magrib memang akan berkumandang, jika santri mengantri itu hal biasa. Tapi, ada yang membuat pandangan fokus pada seseorang di arah lain. Dia berdiri, menatap keluar jendela yang bertiraikan bambu. Dia terlihat intens mengamati targetnya.


Zahra yang mengenali sosok tersebut, meskipun tadi sempat pangling langsung mengejutkan dirinya.


Duaar


Zahra menepuk bahu Dharma. Sontak membuat dirinya terkejut dan langsung gegabah melihat Zahra di sana.


''Hayo! Kau sedang lihatin apa? Nakal ya sekarang. Mentang-mentang Gus semena-mena lihatin santri putri. Diam - diam lagi,'' Selidiki Zahra.


''Ah Mbak. Jangan berisik. Nanti kalau ada yang nyadar gimana?" Balas Dharma. Dia gelisah bukan main, dia melihat Zahra dan sesekali melihat ke arah luar jendela tersebut m Membuat Zahra semakin penasaran.


''Kalau bukan ngintip, lalu kenapa kamu di sini? kayak maling aja.''


''Ck... Gak papa. Ayo, kita ke dalam."


Dharma mendorong punggung Zahra, berbalik berjalan menuju ke arah jalan rumah?


''Gak ah. Aku pengen tahu apa yang sedang kamu lakukan. Terus ), tadi siapa yang sedang kamu intip?'' Tanya Zahra penasaran. Dia kembali lagi, dan penasaran ingin melihat siapa atau apa yang ada di balik jendela tirai bambu itu.


Dharma menghadang sebelum dia berhasil melihat ke luar jendela. Dia melentangkan kedua tangannya. Melarang Zahra untuk melihatnya.


''Jika kau tidak biarkan aku melihatnya sekarang . Aku akan laporkan kamu ke umimu. Biar kamu, di larang dekat-dekat lagi ke pondok putri." Ancam Zahra.


Dharma memelas, wajahnya memohon agar Zahra tidak melakukan hal itu. Memelas agar tidak melaporkan kejadian itu kepada uminya.


"Nanti deh. Aku cerita, tapi sekarang balik ke ndalem yuk. Kamu kan belum memperkenalkan suami mu.'' Ujar Dharma mencari alasan.


''Kau semakin mencurigakan, aku ingin lihat.'' Paksa Zahra.


Dia meminta Dharma untuk menyingkirkan. Hingga akhirnya, dia terpaksa mendorong Dharma ke samping.


Zahra berhasil melihat ke luar jendela. Tidak ada apapun. Mushola yang masih sepi dan beberapa santriwati yang mondar-mandir. Tapi, di sudut mushola hampir tidak kelihatan ada seorang santri putri. Duduk, masih dengan baju biasa sedang membaca Al Qur'an.


"Siapa dia?'' Tanya Zahra langsung Dharma semakin cemas.


''Siapa? Tidak ada siapapun.'' Jawab Dharma, sambil berlalu. Zahra mengikuti dia dengan mata menyipit, terlihat sekali jika Dharma tahu siapa yang di maksud Zahra.


''Jika kau tidak bilang. Aku akan tanyakan langsung pada Bibi Aisyah dan akan aku cari tau sendiri siapa santriwati tersebut.'' Ancam Zahra


Dharma berdecak berkali-kali. Menyesali perbuatannya hari ini. Seharusnya dia tidak melakukan hal itu lagi dan saat ini dia ketahui. Apalagi oleh kakak sepupu yang selalu kepo itu.


''Jangan bilang ke Ibu. Beliau belum tahu apa-apa. Bahkan aku takut, jika beliau mengetahui perbuatan ku hari ini.''


"Lalu. Siapa dia?" Tanya Zahra lagi.

__ADS_1


Tapi sebelum Dharma menjawab suara Surya mengalihkan fokusnya. Suaminya itu sudah berdiri di ambang pintu pembatasan antara dapur rumah dan lorong tersebut.


''Kamu harus ceritakan semua. Sebelum aku pulang besok.'' Kata Zahra dan kemudian meninggalkan Dharma berjalan menemui Surya.


''Ada apa?'' Tanya Surya.


''Tidak ada apa-apa. Sedang berbincang saja, lama tidak bertemu.'' Jawab Zahra senyum simpul.


''Oh iya. Aku juga sudah lama tidak bertemu dengan mu. Tapi, sepertinya kamu malah menghindariku.'' Ujar Surya.


''Ah maaf. Bukan maksud ku seperti itu.'' Kata Zahra menyesal. Dia tidak enak hati dengan Surya.


''Hahaha. Bercanda. Ayo sholat!'' Ajak Surya


Zahra mengangguk. Dia mengikuti langkah kaki suaminya. Sebelum itu dia mampir ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu dan sedikit membuat segar.


Hari ini mereka akan menghabis malam di sana. Zahra dan Surya di berikan kamar sendiri di lantai dua. Sebelumnya itu adalah kamar adik Dharma, tapi saat ini dia ada di pesantren.


Kamar yang lumayan luas. Satu kamar tidur berukuran besar satu lemari jati dengan tidak pintu. Meja rias dan beberapa perabotan pernak-pernik perempuan.


Paling menarik , jendela kamar itu. Dengan dua daun pintu, dan saat di buka bukan hanya angin saja yang masuk. Tapi juga hamparan laut terlihat jelas dari sana. Saat ini, matahari sedang tenggelam memancarkan seluit warna orange hampir merah di angkasa.


''Sudah Mas."


Zahra sudah lengkap mengenakan mukena. Dia membawa sajadah di tangannya.


''Kita bisa jama'ah berdua saja di sini kan?'' tanya Surya.


Zahra menelan ludah. Dia masih belum terbiasa dengan sorot mata suaminya. Langsung menundukkan kepala.


''Nggeh."


Mereka sholat berjamaah bersama. Syahdu dan mendayu-dayu. Saat dua insan bersama menghadap sang pencipta.


Setelah lama berdzikir, Zahra melepaskan mukenanya. Dengan cepat mengunakan hijabnya kembali.


Surya sedari tadi sudah mengamati istrinya itu. Senyum tidak lepas dari bibirnya. Kemudian dia menoleh ke arah jendela. Angin malam,menerpa wajahnya.


''Dingin. Hanggati dong.'' Tiba-tiba Surya sudah melingkarkan tangannya pada tubuh Zahra. Memeluk tubuh ramping itu dari belakang. Sukses membuat Jantung Zahra berdetak kencang.


''Mas. Malu ah, nanti kalau ada yang lihat.'' Zahra berusaha melepas tangan Surya. Namun, pelukannya semakin erat. Surya menikmati aroma tubuh Zahra dari tengkuk lehernya.


''Tidak ada, lagipula malam ini kamar ini untuk kita berdua.''


Zahra akhirnya berhenti meronta. Tubuhnya, mulai memanas, merasakan geli tiba-tiba saat Surya mulai mengibaskan hijabnya. Berhasil meraba lehernya.


''Aku tutup dulu jendelanya.'' Kata Zahra.


''Gak usah. Biarin saja, semakin dingin semakin membuat ku ingin hangat.'' Cegah Surya.


Zahra tersenyum simpul. Dia membalikkan badan menghadap suaminyam


''Mas, aku masih penasaran. Kenapa kamu menerima perjodohan kita? Sejak kapan, kamu menyukaiku?'' Tanya Zahra.


Sampai detik ini di masih penasaran dengan persamaan suaminya itu. Masih teringat jelas, saat malam di mana dia menolaknya. Tapi, saat ini dia menerimanya begitu saja.


''Apa ya ...Kasihan mungkin sama kamu. Gak laku-laku. Hahahaham'' Ujar Surya sambil tertawa.


''Ah... Males ah. Aku serius ini tanyanya?''


''Apa ya? Ya emang itu jawabnya. Abah nawarin seorang perempuan. Katanya, dia cantik, lemah lembut, baik hati, pintar. Tapi gak laku-laku. Yang datang melamar dan di lamar gak ada yang cocok."


''Emang benar Abah bilang gitu?''


''Benar. Tanya Abah aja, kalau gak percaya.''


''Terus Mas mau aja gitu?"

__ADS_1


''Iya..."


''Gak takut gitu, perempuan itu jelek atau gendut. Gak sesuai kreteria mas?"


''Pernah sih bayangin itu. Apalagi, Hanan dan Zahwa sering Malut - nakutin itu juga. Tapi ya, kalau jodoh harus di terima kan. Kurang lebihnya pasangan kita ya cukup kita yang tau.''


''Seandainya ya mas? Kalau mas di berikan pilihan. Sama Aku, dengan Orang yang di pilihkan Abah yang saat itu Mas belum tahu. Mas pilih siapa?''


Surya diam. Menimbang- nimbang.


''Gak tau, kan sekarang pilihannya semuanya kamu.''


''Ih... Seumpama. Bayangin seandainya belum nikah. Dan Mas harus memilih itu.''


''Ya gak tau. Kecuali, kalau kamu sebelumnya memang sudah suka sama aku. Aku bakal milih kamu, tapi kan gak seperti itu.''


Zahra diam. Jadi selama ini Surya tidak pernah mengetahui perasaan cintanya. Zahra dan Hanan juga tidak pernah mengatakannya.


''Hanan dan Zahwa sih pernah bilang kalau kamu suka aku. Tapi, saat malam sebelum berangkat ke UCL aku tanya perasaanmu. Kamu jawab Tidak.''


''Dan selama ini gak pengen tahu gitu,perasaan ku yang sebenarnya?''


Surya geleng-geleng. Zahra menghela nafas kasar. Dongkol, ternyata suaminya begitu kaku tidak peka sama sekali.


''Jangan-jangan selama ini apa yang di katakan Hanan dan Zahwa benar? Kamu punya perasaan terhadapku.'' Selidik Surya


Zahra tidak membalas. Dia pergi, berlalu begitu saja.


''Yah... Kok diam? jadi benar?''


Melihat sikap Zahra yang dongkol itu menjawab pertanyaan Surya.


''Maaf,'' Kata Surya. Dengan menyodorkan kotak merah di hadapan Zahra.


''Apa ini?" tanya Zahra, bingung.


Surya membuka isi kotak tersebut. Terlihat sebuah Bros permata berbentuk bunga dengan hiasan mutiara dia tengahnya.


Zahra tercengang.


''Aku gak bisa seromantis Hanan ya.'' Ujar Surya tiba-tiba setelah melihat wajah Zahra yang biasa saja saat dia memperlihatkan isi kotak tersebu


''Hah. Kenapa tiba-tiba bahas Mas Hanan?''


''Hanan cinta pertama mu kan? jadi aku juga ingin seperti dia...'


''Tapi aku bukan Mbak Zahwa mas'' Jawab Zahra


Surya tertegun. Zahra tersenyum.


''Yang aku punya adalah Mas Surya. Apapun yang di lakukan Suami Zahra, itu akan selalu membuat Zahra bahagia." Ujar Zahra.


****


Haichu


Zahwa dan Hanan bersin secara bersaman. Kemudian saling pandang.


''Apa ada yang sedang membicarakan kita?'' tanya Zahwa.


''Mana aku tahu.'' Balas Hanan.


Gara-gara Hanan melarang Zahwa ikut ke Trenggalek. Saat ini dia harus menemani istrinya itu jalan - jalan dan menjadi pengangkut barang-barangnya.


Dan saat ini mereka sedang di sebuah pusat perbelanjaan Makam Auliya di Jombang. Zahwa membeli banyak barang. Selain harus membayarnya, Hanan juga yang harus membawanya.


''Yang, tangan ku sudah gak muat. Sudah ya belanjaannya.'' Kata Hananm Dia sampai menjadi pusat perhatian orang-orang karena membawa banyak belanjaan.

__ADS_1


Zahwa cekikikan. Sebenarnya dia tidak tega, tapi senang saja mengerjai suaminya. Dengan begitu pesona suaminya akan sedikit menurun.


Sebenarnya kesal karena tidak mengizinkan ikut ke Trenggalek tidak seberapa. Dia lebih kesal karena Bibi Asih datang ke kamarnya membawa banyak surat cinta dari para santriwati untuk Hanan. Dia mengira jika Hanan masih perjaka.


__ADS_2