
Mobil kembali membawa mereka menyusuri jalanan. Beberapa kali Bella bertanya arah rumah Zahwa karena dia belum mengenal jalanan tersebut.
Lagipula , dia sudah lama tidak tinggal di kota itu. Kesini hanya saat liburan dan itu pun tidak pernah lama.
"Ituu rumahku. Langsung masuk saja," kata Zahwa .
Bella membelokan mobilnya dan memasuki halaman rumah Zahwa.
"Keren rumahmu," puji Bella setelah turun dari mobil dan melihat sekeliling rumah tersebut.
"Ayah mertuaku dulu seorang arsitek.Jadi mungkin ini adalah rumah hasil desain nya juga." Kata Zahwa.
"Oh iya? Surya juga mengambil jurusan arsitektur di Cairo, kan? Apa suami mu juga?" Tanya Bella.
"Iya begitulah," Jawab Zahwa. Dia langsung mengajak Bella masuk ke dalam rumah.
"Assalamualaikum," salam Zahwa. Tidak ada seorang pun. Mungkin yang lain sedang ada di tempat lain.
Zahwa mempersilahkan bella untuk duduk sebentar dan dia menuju dapur untuk mengambil minuman.
"Apa tidak ada orang?" Tanya Bella. Melihat tidak ada siapapun yang di temuinya.
"Mungkin sedang di kamar atau di ruangan lain," jawab Zahwa
Dia menuangkan jus kedalam gelas yang di bawanya tadi, dan memberikan nya kepada Bella.
"Berbeda sekali dengan rumah mertua ku. Rumah di sana tidak pernah sepi seperti ini. Terkadang aku sampai jengkel karena tidak bisa konsentrasi saat bekerja," lontar bella
"Tapi kau sudah terbiasa kan, setidaknya kamu tidak merasa kesepian," kata Zahwa
Bella tersenyum, jika dia bercerita tentang bagaimana rumahnya di sana. Akan terlihat sekali perbedaannya. Itu akan membuatnya semakin mengerti bahwa mereka sekarang sudah tidak sama lagi.
Kehidupannya sudah jauh berbeda sebelum dia menikah.
"Aku akan langsung pamit saja," kata Bella setelah sedikit melepaskan lelah.
"Kenapa terburu-buru? Tinggal lah sebentar lagi," Rengek Zahwa. Itu artinya dia akan kesepian lagi.
"Tidak bisa, aku harus cepat pulang. Ini juga sudah terlalu lama aku keluar. Jauhar pasti menunggu ku di rumah," kata Bella
Sebenarnya bukan itu. Bella lebih berfikir lagi jika nanti dia harus bertemu Surya dan suami Zahwa.
Jika hanya Surya tidak apa-apa. Tapi jika suami Zahwa juga ikut menemui nya. Dan dia tahu bahwa dirinya dan Surya saling kenal? Apa yang harus dia jelaskan.Masasalahnya akan rumit lagi, jika dia tahu kalau Zahwa juga sudah lebih dulu mengenalnya.
"Baiklah, jika ada waktu lagi mainlah kesini," kata Zahwa akhirnya.
Bella tersenyum dan berpamitan pulang dan dengan cepat meninggalkan halaman rumah tersebut.
"Kau sudah pulang Zahwa? Kau di antar oleh siapa?" Tanya Surya. Dia sempat melihat mobil Bella tetap tidak mengetahui siapa pengemudinya.
"Kak Bella, tadi dia langsung pamit pulang." Jawab Zahwa.
"Oh... Sayang sekali, aku juga sudah lama tidak bertemu dan mendengar kabarnya. Dia baik-baik saja kan? Aku dengar dia sudah menikah dan mempunyai anak," kata Surya.
"Iya, dia sudah menikah dan sekarang tinggal bersama suaminya dan mertuanya."
Zahwa ingin duduk dulu bersama Surya. Tapi kelihatannya tubuhnya terlalu letih.
"Aku ke atas kak," pamit Zahwa dan meninggalkan dirinya. Surya mengangguk dan tersenyum tipis.
"Keatas sama hal nya ingin bersama suaminya. Ayolah Surya, kau jangan lupa bahwa dia sudah menjadi istri adik mu," umpat Surya pada diri sendiri.
Zahwa masuk kamar dan dia bernafas lega saat dia tidak menemukan suaminya berada di kamar.
Dia mulai merebahkan tubuhnya. Melepas lelah nya. Dan tidak terasa dia tertidur.
****
Malam ini Surya berniat menemui pak Rosyid Banyak pertanyaan untuk dirinya. Terutama tentang pernikahan Zahwa dan Hanan.
Mobil Surya memasuki parkiran sebuah restoran. Tempat ini yang sudah di janjikan pak Rosyid untuk bertemu. Karena mungkin dekat dengan kantor nya juga.
Surya langsung menuju tempat di mana pak Rosyid berada. Dia sudah lebih dulu datang rupanya .
"Selamat malam pak Ruslan," Sapa Surya memberi salam seraya bersalaman dengan beliau.
__ADS_1
"Malam Surya, lama tidak berjumpa," balik sapa pak Ruslan. Dia terlihat akrab dengan Surya.
"Iya pak. Saya baru beberapa hari kembali dari Cairo," Kata Surya.
Setelah Basa-basi menanyakan kabar dan beberapa persoalan lainnya. Surya mulai ingin menanyakan soal pernikahan Zahwa dan Hanan.
"Sebenarnya saya juga kurang tahu mas.Karena kejadiannya begitu tidak terduga. Saya juga pertama kali bertemu dengan istri Hanan saat itu. Tetapi ayahmu saat kecelakaan itu yang terlihat masih sadar. Kedua orang tua Zahwa sudah koma dan keselamatannya sudah tidak terjamin. Begitu pun ibumu."
"Ayah mu memanggil saya, pada saat itu juga dia meminta di buat kan surat warisan. Sedikit membicarakan tentang orang tua Zahwa. Beliau berkata jika orang tua Zahwa lah yang meminta Hanan untuk melamar Zahwa. Mereka saling mencintai. Awalnya ayah mu tidak percaya, karena mereka juga masih beberapa kali bertemu dengan mereka. Tetapi setelah menemukan foto Zahwa dalam kotak biru di kamar Hanan. Ayahmu memutuskan untuk menerima Zahwa," terang pak Rosyid
"Kotak biru pak?" Tanya Surya terkejut. Apa jangan-jangan yang di maksud adalah kotak biru miliknya.
"Tentang kotak biru itu, saya sama sekali tidak tahu. Zahwa dan Hanan datang mereka terlihat tidak saling kenal, tetapi saat itu juga mereka di suruh menikah dengan ayah mu. Tanpa berfikir alasannya apa, mereka setuju menikah. Mungkin dengan cara itu bisa membuat keadaan orang tuanya membaik," Lanjut pak Rosyid
Surya terdiam.Jika benar begitu, Surya lah yang di maksud oleh orang tua Zahwa. Mungkin saat itu orang tua Zahwa belum mengenal sepenuhnya mencari tahu soal dirinya, hanya mengetahui bahwa anaknya menyukai putra dari orang tuanya. Terlebih saat itu mereka sudah tidak sadarkan diri dan kotak biru itu di temukan di kamar Hanan.
"Surya, ada apa? Apa yang kamu fikirkan? Apa ada masalah dengan pernikahan mereka?" tanya pak Rosyid, dia juga terlihat khawatir dan ingin tahu.
"Tidak. Mereka baik-baik saja," Jawab Surya menyembunyikan pikirannya.
"Syukurlah, meskipun begitu mereka sebenarnya sangat cocok," Ujar pak Rosyid. Surya tersenyum tipis.
"Baiklah pak, terimakasih atas waktunya. Jika nanti aku butuh bantuan lagi, bisakan bapak membantu ku dan Hanan?"
"Dengan senang hati, kalian sudah seperti keluarga sendiri. Soal warisan kalian memiliki hak yang sama. Jadi jangan khawatir," kata pak Ruslan
Beberapa saat setelah itu pak Ruslan pamit untuk pulang duluan, karena tiba-tiba ada permasalahan di rumahnya. Surya memakluminya.
Surya tidak langsung pulang. Hal yang baru saja dia ketahui semakin membuatnya bingung harus melakukan apa. Jika Zahwa mengetahui persoalan ini apa dia mau tetap menjalani pernikahan dengan Hanan?
"Kenapa? Seakan takdir sedang mempermainkan diri ku," kata Surya, dia menyesali dirinya sendiri . Karena di saat dia mengetahui semuanya dia sama sekali tidak bisa melakukan apapun.
Jika dirinya memiliki hak yang sama apa dia juga memiliki hak pula kepada zahwa? Lebih dari semua hak yang di berikan oleh dirinya hak atas zahwa lah yang dia inginkan.
Dia tidak bisa melupakan bahwa dirinya masih mencintai Zahwa. Meskipun sudah berkali-kali dia mengatakan pada dirinya bahwa hak itu sudah mutlak menjadi milik adiknya sendiri.
Jika bisa dia lebih rela tidak memiliki hak warisan apapun. Bersedia menukarnya dengan Zahwa.
Tapi Zahwa bukan barang atau apapun yang bisa di wariskan.
"Aku harus berbicara dengan Zahwa," katanya dan segera meninggalkan restoran itu dengan mobilnya.
"Tidak! Jika dia bicara dengannya di rumah. Hanan akan curiga," pikir Surya dia terlihat berfikir keras.
Sesampainya di rumah Surya tidak sabar mencari Zahwa, semua penjuru ruangan dia cari tetapi tidak terlihat keberadaan.
Mata Surya tertuju pada salah satu ruangan yang hanya satu-satunya yang belum dia datangi. Kamar Zahwa dan Hanan.
"Sudah pulang ? tadi ada beberapa temanmu datang kesini. Mereka mencarimu, tapi kau tidak ada." Kata Hanan,entah sejak kapan dia sudah ada di sampingnya.
"Kenapa kau tidak meneleponku?" kata Surya
"Aku sudah melakukannya. Lihat ponselmu," kata Hanan
Surya melihat ponselnya dan beberapa panggilan dari Zahwa dan hanan.
"Aku mematikan dering telponnya,"kata Surya.
Surya ingin beranjak pergi, tapi di cegah oleh Hanan lagi.
"Aku ingin bicara denganmu," kata Hanan. Dia terlihat serius. Dia ingin Surya mengikutinya.
"Ada apa?" tanya Surya. Setelah keduanya berada di paviliun samping rumah. Duduk di berdampingan di kursi yang memang sudah terletak di sana.
Angin malam menerpa wajah keduanya tanpa cadar.
"Sebenarnya apa hubungan mu dengan Zahwa?" Tanya Hanan langsung. Dia ingin tahu reaksi apa yang akan kakaknya itu tunjukkan.
"Maksudmu?" tanya balik Surya. Dia ingin tahu sebenarnya arah pembicaraan Hanan kemana. Jika dia menjawab secara gegabah yang ada hanya salah faham.
"Beberapa temanmu tadi sudah mengenal baik Zahwa. Apa sebelumnya kalian sudah pernah ketemu dan bahkan mengenal?" tanya Hanan
"Sebenarnya dia adik tingkat ku semasa di kuliah dan dia cukup terkenal di kalangan kakak angkatan nya," jawab Hanan.
Meskipun dia ingin berbicara yang sebenarnya tetapi seakan ada yang mencegah nya.
__ADS_1
"Karena itulah Zahwa terlihat tegang saat pertama kali bertemu dengan mu di bandara dan keesokan sikap berubah, seakan dia takut ada di dekat mu " terang Hanan. Dia masih mencari tahu kebenaran yang sesungguhnya.
"Iya. Mungkin dia terkejut, karena tidak menyangka kalau aku adalah kakak dari suaminya. Hahahaha," kata Surya, mencairkan suasana.
"Tetapi kenapa dia begitu takut. Jika kau punya salah sepertinya tidak mungkin. Kau begitu membelanya saat aku tidak sengaja membuatnya marah."
"Mungkin bukan takut tapi grogi. Aku dulu cukup populer di kampus,mungkin saja kan dia salah satu pengemar ku." Sanggah Surya dengan menyeringai. Sungguh percaya diri.
Hanan tertawa kecil, geli dengan alasan seperti itu. Melihat reaksi kakaknya seperti itu. Hanan bisa menjamin jika saat ini mereka masih ingin menutupi kebenaran tentang hubungan mereka.
"Apa yang kau fikirkan?" Tanya Surya. Mencari tahu apa yang sedang mengusik fikiran adik nya itu.
"Tidak. Sempat aku berfikir bahwa kau dan Zahwa pernah menjalin hubungan sebelumnya," Jawab Hanan. Dia mengatakan tanpa jeda.
Surya terdiam. Dia tahu sebenarnya Hanan itu sangat peka. Tapi kali ini, meskipun dia berbohong dia membiarkan begitu saja. Seakan dia menerima bahwa seperti itulah kenyataannya.
"Baiklah, aku akan tidur. Zahwa pasti menungguku. Selamat malam, Mas Surya," kata Hanan dengan senyum sumringah. Entah apa artinya itu.
"Selamat malam," balas Surya .
Sebenarnya sesaat sebelum dia berbincang dengan Hanan di paviliun. Zahwa mengirim chat WhatsApp kepada dirinya. Mengatakan bahwa jangan menceritakan soal hubungan mereka yang sebenarnya.
Surya belum sempat membalasnya. Karena dia sendiri belum mengerti maksudnya.
Sikap Hanan seolah-olah dia tahu tapi tidak ingin mengakuinya. Zahwa menambah kegalauannya dengan meminta untuk tidak mengatakan hal yang sebenarnya.
Jika di gambarkan sebenarnya dia korban perselingkuhan atau menjadi selingkuhan.
"Mas Surya, mau saya buat kan kopi?" tanya bik asih.
Entah kesadarannya sedang dimana. Dia sama sekali tidak menyadari kehadiran orang di sekitarnya.
"Boleh bik, dua ya, Bik" Jawab Surya dengan sedikit senyum
Tanpa bertanya bik asih mengiyakan dan kembali dengan dua gelas cangkir kopi.
"Apa bibi sudah mengantuk? Kalau belum bisa temani saya ngobrol," Pinta Zahwa
Sebenarnya dia tidak bertanya, tapi meminta.
Berbicara dengan bik asih mungkin akan sedikit menenangkan nya. Setidaknya ada seseorang yang dia ajak bicara sekarang.
"Memang ada apa to mas? Kok kelihatan galau?" Tanya bik asih.
Surya tersenyum, mendengar pertanyaan bik asih.
"Memangnya bik asih tau galau itu apa?" Tanya surya menggoda.
"Yo faham to mas. Bibi ini juga belum terlalu tua Lo . Bibi juga pernah muda, tapi di jaman bibi dulu gak ada istilah galau seperti sekarang," jawab bik asih. Membuat Surya tertawa.
"Berarti bik asih juga pernah jatuh cinta dong?" tanya Surya menggoda.
"Yo mesti to mas, sampean Iki," jawab bik asih dengan logat Jawa, dia memukul lengan Surya dengan malu-malu. Membuat Surya tidak bisa menahan tawanya.
"Ceritain, Bik. Dulu pas mudanya bagaimana," seru Surya. Dia terlihat senang menggoda wanita paruh baya itu.
"Isin aku mas. Jaman dulu sama jaman sekarang beda mas.Dulu kalau suka sama seseorang itu malu-malu. Ketemu saja gak berani, mesti ndelek tur isin."
"Terus bagaimana, Bik? Kalau seperti itu terus bagaimana orang yang bibi sukai bisa tahu perasaannya bibi?" tanya Surya.
"Ndak apa-apa ini bibi cerita? Nanti mas jangan cerita ke siapa-siapa, ya." Jawab bik asih. Surya semakin geli mendengar penjelasan bik asih.
"Tidak bik, janji." kata Surya
Bik asih memicingkan mata, mencari tahu bahwa Surya akan menepati janji. Surya semakin terkekeh dengan tingkah bik asih.
"Baik lah say akan cerita , tapi janji Lo jangan di cerita in siapa-siapa," kata bik asih setelah melihat keseriusan Surya. Walaupun sebenarnya Surya sedang meyakinkan dirinya untuk tidak tertawa agar bik asih tidak tersinggung.
"Saat bibi masih muda. Bibi suka sama teman sekolah bibi, Mas. Dia itu ganteng, eh masih ding," kata bik asih terlihat sedang menerawang ingatan tentang seseorang yang di cerita itu.
"Dia juga pintar. Juara kelas terus. Bibi dulu suka dia karena teman-teman bibi suka jodoh-jodohin bibi dengan orang itu. Lama-lama suka, tapi sayang mas orang nya gak suka sama bibi," kata bik asih dengan cemberut.
"Kok bibi tahu kalau orang nya tidak suka? Apa bibi nembak duluan dan di tolak?" tanya Surya
"Aduh mas, bagaimana ya ceritanya.Malu saya,"
__ADS_1
Surya semakin terkekeh dengan tingkah bik asih.