Hati Yang Terpilih

Hati Yang Terpilih
Episode 48


__ADS_3

"Aku kerja. Apa yang kamu lakukan di sini?" Tanya balik Hanan.


"Aku_ aku mau belanja." Jawab Zahwa cengengesan, menyembunyikan rasa gugupnya.


"Kebetulan sekali." Ujar Hanan.


"Hehehehe. Kamu kerja di sini? Maksudku, apa yang kamu kerjakan di Boutique ini?" Tanya Zahwa lagi, curiga.


"Aku_


"Hai, kalian sudah sampai. Aku kira kamu akan sendiri yang datang, " Kata Alfin. Dia datang dari arah tangga lantai dua.


"Sebenarnya kita datang sendiri-sendiri. Aku kesini untuk belanja , dan dia untuk bekerja." Kata Zahwa.


Alfin melihat Hanan, terlihat bingung. Tapi Hanan mengisyaratkan untuk mengatakan iya saja untuk menyelamatkan dari banyak pertanyaan lagi dari Zahwa.


"Aku akan ke atas bersama Alfin, kamu lanjutkan saja belanjanya." Ujar Hanan. Dia ingin cepat menghindar dari Zahwa.


"Ok," Balas Zahwa. Dia juga merasa Hanan cepet pergi dari hadapannya.


Mereka saling menyembunyikan maksud sebenarnya mereka berada di Boutique itu. Setelah mereka berpisah, Zahwa merasa usahanya menguntit Elena sia-sia. Dia bahkan tidak menemukan Elena di Boutique tersebut dan merencanakan untuk pulang saja.


Baru sampai parkiran, Zahwa melihat Elena bersama Surya. Mereka sedang berada di toko baju di seberang sana. Tanpa berpikir lagi, Zahwa mengikuti mereka lagi. Dia menyebrang jalan, meninggalkan mobilnya tetap di parkiran Boutique Al Habsyi.


Meskipun sudah dekat dan terlihat jelas Zahwa tidak bisa mendengar pembicaraan Surya dan Elena sama sekali. Mereka sedang terlihat asyik memilih gamis Elena dengan senang mengambil dan memilih. Kadang juga menempelkan baju ke tubuhnya untuk meminta persetujuan Surya. Jika Surya suka Elena mengambilnya.


"Mbak, ada yang bisa saya bantu?" Tanya pramuniaga kepada Zahwa, yang sedang fokus mengintai mereka.


"Oh, tidak mbak." Jawab Zahwa gelagapan. Dia terkejut dengan kehadiran Pramuniaga itu yang secara tiba-tiba.


"Oh baik lah," Pramuniaga itu undur diri.


"Eh, tunggu mbak _ " Cegah Zahwa. Pramuniaga itu berhenti dan menghampiri Zahwa lagi.


"Kalau boleh tahu, apa yang sedang mereka cari mbak, maksudku Apa mereka memesan sesuatu?" Tanya Zahwa degan menunjuk ke arah Elena dan Surya.


"Oh, tuan Surya maksudnya. Dia sedang memilihkan beberapa gaun untuk calon tunangannya." Jawab Pramuniaga itu.


"Tunangannya?" Zahwa tidak percaya

__ADS_1


"Iya, wanita di samping nya itu yang mengatakannya. Mungkin saja, dia sendiri yang menjadi tunangan nya Pak Surya." Ujar pramuniaga itu. Setelah itu dia meminta izin untuk kembali bekerja, karena Zahwa tidak memerlukan bantuannya.


Satu orang lagi yang mengatakan bahwa Surya dan Elena sedang memiliki hubungan yang istimewa. Tapi kenapa dia tidak menerimanya, kenapa dia merasa Surya masih sama masih menyimpan cinta nya hanya untuk dirinya. Dia tidak boleh egois. Jika dia sudah mendapatkan orang yang harus dia dampingi, kenapa Surya tidak boleh.


Zahwa berjalan ke arah mereka berdua. Menahan sakit , selama ini dia mengira akan baik-baik saja. Semua mudah dia bersama Hanan dan di tempat lain dia bisa tetap bersama Surya, walaupun hanya sebagai Adik ipar. Tapi kali ini berbeda , dia melihat Surya bersama orang lain. Bukan hanya dirinya saat ini yang ada dalam hatinya. Kenapa rasanya masih tidak rela, padahal ada Hanan yang sudah menjadi suaminya.


"Selamat untuk kalian, kenapa tidak memberikan kabar ini kepada keluarga lainya." Kata Zahwa berada di tengah-tengah Surya dan Elena. Keduanya terkejut.


"Zahwa, kamu disini?" Tanya Surya.


"Kebetulan aku sedang mencari sesuatu dan tanpa sengaja aku melihat kalian berdua." Bohong Zahwa.


"Mbak Elena, maaf." Kata Elena


"Tidak apa-apa. Aku yang harus meminta maaf , karena mengganggu kalian." Ujar Zahwa. Dia tersenyum tipis.


"Zahwa, tunggu! Aku dan Elena_"


"Tidak! Kita sudah berbedakan. Kita sudah bukan kekasih lagi, kamu tidak perlu menjelaskan apapun. Lagipula aku harus bahagia. Kakak iparku akan menikah." Kata Zahwa. Dia sudah mulai meneteskan air mata. Kenapa masih saja sakit?


"Mbak Zahwa, apa kamu dan Mas Surya pernah Pacaran?" Tanya Elena, berlagak terkejut.


"Tidak apa-apa. Lebih baik dia tahu soalnya, kalian tidak boleh memulai hubungan dengan kebohongan atau rahasia di antara kita" Kata Zahwa.


"Jadi kalian sepasang kekasih sebelumnya?" Tanya Elena lebih menekan.


"Elena hentikan," Gertak Surya, kenapa Elena bersikap seperti tidak mengetahui sebelumnya.


"Iya. Aku dan Mas Surya dulu pernah_,"


"Pacaran," Lanjut seseorang di belakang mereka. Surya dan Zahwa terlihat sibuk memberikan penjelasan. Tanpa menyadari bahwa, bahwa Hanan sudah sedari tadi berada di belakang mereka. Mendengar semuanya dan hanya Elena yang menyadarinya .


"Mas Hanan,"


"Hanan."


Seakan tersengat listrik. Hanan berada di antara mereka. Belum selesai mereka saling menjelaskan sudah kembali mereka mendapatkan masalah baru.


"Aku mendengarnya. Tidak perlu menjelaskan apapun. Aku permisi. Aku masih banyak pekerjaan." Kata Hanan, dia biasa saja. Tapi pergi begitu saja, dia tidak ingin mendengarkan apapun lagi.

__ADS_1


Zahwa menyusul Hanan.Hanan mempercepat jalannya, tidak ingin Zahwa mengejarnya.


"Mas! Tolong dengarkan dulu!!" Ujar Zahwa. Dia sangat kebingungan. Kenapa ini terjadi kepada dirinya. Dia diantara Kakak beradik.


Hanan tidak menggubris panggilan Zahwa. Dia terus melangkah dan bahkan berharap Zahwa tidak sampai untuk menghentikannya.


Mobil itu membawa Hanan pergi, Zahwa menangis meraung sendirian. Kali ini dia yang salah, dari awal dia yang salah. Mengabaikan perasaan Hanan dan terus berupaya menjadi Istri yang sempurna. Tapi lupa, bahwa berusaha mencintai nya adalah tugasnya sejak awal.


Zahwa mencoba mengikuti laju mobil Hanan, tapi mobil itu terlalu cepat. Hingga dia benar-benar kehilangannya.


*


Sesampai di rumah , Zahwa mencari sosok Hanan , tapi di juga tidak ada di manapun.


*Mas Surya


Dia tidak ada di Kantor juga* .


Pesan singkat itu membunuh harapannya lagi. Yang dia lakukan saat ini hanya menunggu dia sendiri datang kepadanya.


Malam tiba. Hanan tidak juga datang, telpon, chat singkat juga tidak di balas. Dia hilang seperti di telan bumi.


Tidak ada yang berani berbicara, Zahwa pun tidak membiarkan seorang pun bicara kepadanya. Semua dia , ibarat terdakwa yang menunggu keputusan hukumannya.


Lewat tengah malam dia baru pulang dan Zahwa masih menunggu, kali ini dia tidak tidur sama sekali.


"Mas, aku bisa menjelaskan." Kata Zahwa setelah dia melihat suaminya itu.


"Tidak perlu. Aku sudah mengetahui segalanya. Jadi, sudahi ini semua secepatnya." Kata Hanan, dia tidak marah. Tapi sikap dinginnya kembali lagi.


"Aku akan tidur di kamar lain, jadi tolong jangan ganggu aku." Tambah Hanan, baru saja dia masuk kamar dan berganti. Tapi dia sudah mengatakan jarak kepada Zahwa agar mengganggu nya lagi.


"Tapi mas, aku ingin kita bicara sekarang. Kita selesaikan semua ini saat ini." Kata Zahwa.


"Hanan , tolong. Kita perlu menjelaskan semuanya." Kali ini Surya sudah ada di antara mereka lagi.


"Sepertinya kalian yang harus berbicara . Bukan aku , aku akan menunggu keputusan kalian. Itu keputusan ku," Kata Hanan.


Dia tidak lagi ingin mengetahui apapun itu. Hari ini tiba, hari dimana semuanya terbongkar dan dia harus merelakan semua keputusan kepada mereka berdua. Padahal, dia sudah mengetahui sejak lama kenyataannya yang sesungguhnya, tapi saat di mana ini benar terjadi kenapa masih saja terasa sakit.

__ADS_1


Kenyataannya bahwa selama ini dia hanya sendiri. Kenyataannya bahwa orang yang selama ini bersama nya tidak sepenuhnya ada bersamanya. Kenyataannya bahwa hanya ada Hanan saja . Bukan Hanan dan Zahwa.


__ADS_2