
Surya sedikit mengatur nafasnya. Dia terlihat berusaha menghilangkan ketegangan. Mulai menceritakan semuanya kepada Bella.
"Sejak awal aku sudah merasa janggal dengan pernikahan Hanan dan Zahwa. Aku mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Sebelum nya Zahwa sama sekali tidak mengenal Hanan, begitu pun sebaliknya. Orang tua kami pun juga tidak saling mengenal satu sama lain." Terang Surya.
"Jadi? Apa kamu sudah mengetahui jawabannya?" Tanya Bella. Ternyata tidak hanya dia yang merasakan kejanggalan pernikahan Zahwa dan Hanan.
"Sudah. Aku menemui pak Ruslan, dia pengacara keluarga kami. Dia menceritakan kejadian sebelum dan sesudah mereka menikah dan penyebab nya ternyata pada kotak biru," Lanjut Surya
''Kotak biru? Apa kotak yang berisi tulisan janji-janji mu kepada Zahwa sebelum kamu berangkat ke Cairo?" Tanya Bella memastikan.
"Benar? Kamu juga mengetahuinya?" tanya Surya.
"Zahwa pernah cerita sebelumnya. Aku kira saat itu hanya kebetulan saja. Tapi ternyata memang itu punya kalian," Jawab Bella.
"Kotak biru itu yang menjadi akar permasalahannya. Sebelum berangkat ke Cairo aku menyimpan kotak itu di kamar Hanan, mungkin akan bisa terawat. Tapi ternyata, malah membuat salah faham seperti ini."
"Maksudmu?"
"Orang tua Zahwa meminta untuk menjadikan dirinya menantu di rumah kami. Awalnya ayah tidak mengerti apa-apa, bahkan sempat menolak. Tapi saat dia menemukan kotak biru itu, ayah ku mulai menerima Zahwa. Fatalnya, ayah mengira Hanan lah yang menjadi kekasihnya Zahwa selama ini."
"Hah! Sebuah kotak saja bisa mengubah takdir beberapa orang," komentar Bella. Dia tidak menyangka bahwa permasalahan mereka hanya karena sebuah kotak.
"Aku bermaksud mengatakan kebenaran itu kepada Zahwa tadi, tapi sepertinya Zahwa sudah tidak peduli lagi. Dia sudah mulai mencintai dan menerima Hanan sebagai suaminya."
"Tentangan itu aku juga merasa begitu. Tapi aku juga tidak rela, jika Zahwa selamanya hidup dengan orang yang tidak mencintainya,"
" Apa Zahwa sering menceritakan Hanan?''
"Sering. Bahkan setiap kali kami bertemu atau sekedar telponan. Yang dia bahas adalah Hanan itu,"
Surya diam, mengingat kebersamaan Hanan dan Zahwa yang terang-terangan di depannya.
"Tapi, dia juga masih sering mengatakan jika dia masih menyukaimu," Tambah Bella
Surya merasa mempunyai harapan lagi setelah mendengar Bella mengatakan itu.
"Aku juga masih mencintainya. Karena itulah aku ingin memperjuangkan dirinya.
"Tapi caramu salah, kamu seperti mengajak dia untuk selingkuh di belakang suaminya." Kata Bella
"Aku tidak bermaksud begitu. Aku ingin kita saling terbuka dan mengatakan semua kepada Hanan. Setelah itu kita bisa seperti semula, tidak ada yang akan tersakiti,"
"Kamu yakin? Apa kamu pikir Zahwa akan mengikuti caramu? Mungkin dia belum benar mencintai Hanan, tapi selama ini dia berusaha menjadi istri yang baik untuk Hanan. Bahkan dia sampai tidak memperdulikan lagi perasaannya kepadamu,"
"Lantas aku harus berbuat apa?" Tanya Surya, ia kembali putus asa.
"Jangan memaksakan kehendakmu. Biarkan Zahwa yang memilih apa yang terbaik untuk dirinya. Dia berhak untuk itu, jika kamu terus memaksanya seperti tadi. Aku tidak yakin, jika kebenaran itu terungkap Zahwa akan mau bersama mu lagi. Bahkan mungkin, tidak lagi ingin bersama mu ataupun Hanan." Jawab Bella.
"Beri dia waktu untuk sedikit memikirkan apa yang dia mau," Tambah Bella.
"Kamu benar. Aku juga yang salah, jika saja saat itu aku lebih sering berinteraksi dengannya saat kami terpisah . Mungkin ini semua tidak akan terjadi," Kata Surya dengan penyesalan.
"Semoga semua cepat membaik dan kalian bisa saling terbuka," harap Bella
"Amin..."
__ADS_1
"Aku akan coba bicara dengan Zahwa tentang ini. Tapi aku juga tidak bisa menjanjikan apapun saat ini," Kata Bella seraya berdiri
"Terima kasih, syukurlah kamu ada di sini." Ujar Surya.
Setelah mereka berbincang dan bertukar pikiran cukup lama. Mereka berpisah, karena jam istirahat siang sudah habis. Surya harus cepat kembali ke kantor, begitupun Bella dia harus segera pulang . Sudah terlalu lama dia keluar dan meninggalkan Jauhar di rumah orang tuanya.
***
Malam hari.
"Sudah malam, Non.Tidak tidur?'' tanya Bik asih
"Masih nunggu mas Hanan pulang bik," jawab Zahwa.
Dia sedang duduk di sofa ruang tengah. Di depannya tv sedang menyala. Tapi chenel nya berganti - ganti. Tidak rusak, mungkin hati yang memegang remot nya yang sedang rusak. Zahwa memencet remot itu seperti mainan, tidak tahu apa yang sedang ingin ia tonton.
"Di tunggu di kamar saja. Nanti juga pulang," Sahut Surya dia juga belum tidur. Mana bisa dia tidur, perasaan bersalahnya kepada Zahwa tentang kejadian tadi siang masih saja menghantuinya.
"Aku ingin di sini. Kalian tidurlah!" Kata Zahwa. Dia sedang tidak ingin di ganggu oleh siapapun.
Surya dan bik asih saling tukar pandang. Keduanya mengangkat bahu, tanda tidak harus berbuat apa dan hanya bisa menuruti kemauan Zahwa.
Sudah hampir larut malam. Hanan tidak kunjung pulang. Memang dia pamit akan lembur, tapi tidak mengira jika sampai malam seperti ini.
Zahwa merasa mengantuk. Dia juga berpergian seharian ini. Pulang ke rumah sudah hampir magrib. Biasanya, dia akan cepat ingin tidur setelah berpergian seharian seperti itu. Tapi kali ini dia masih ingin melawan kantuk dan lelahnya untuk menunggu Hanan pulang .
Beberapa kali dia melihat jam dan menoleh ke arah pintu utama, berharap suaminya itu sudah berada di sana. Tetapi harapan nya itu berkali-kali kandas. Hanan belum juga datang.
Tanpa sadar Zahwa tertidur. Meringkuk di sofa. Tanpa alas kepala ataupun selimut untuk menutupi tubuhnya. Lampu ruangan itu masih menyala. Tv juga masih memperlihatkan acaranya. Tapi tubuh itu sudah tidak bisa lagi mendengar atau merasakan sesuatu di sekitarnya. Dia sudah tertidur pulas.
Sesampai di sana, dilihatnya Zahwa sudah tidur pulas. Pelan, Surya mengambil remote tv yang ada di tangan Zahwa. Remote itu hampir jatuh karena Zahwa sudah sepenuhnya tidak sadar. Surya mematikan Tv yang masih menyala dan menaruh remote itu di atas Tv. Dia juga mengganti lampu ruangan dengan lampu malam. Agar Zahwa tidak merasa terganggu dengan silau lampu yang terang.
Zahwa tertidur pulas, dia bahkan tidak menyadari kehadiran Surya di hadapannya. Surya memandang penuh kasih sama sekali dia tidak ingin mengalihkan pandangannya itu. Sudah lama dia tidak melihat Zahwa sepuas ini.
Beberapa detik kemudian, Surya beranjak ke kamarnya lagi. Dia mengambil selimut dan juga sepasang bantal untuk Zahwa.
Kreek
Suara pintu utama di buka. Hanan dengan wajah lesu berada di sana. Surya melihat datang dan langsung mengurungkan niat nya untuk menyelimuti Zahwa.
"Mas kamu belum tidur?'' Tanya Hanan. Lampu remang di ruang tengah itu memperlihatkan kakaknya yang sedang mematung dengan selimut tebal di tangannya.
"Kamu terlalu mementingkan pekerjaanmu. Lihatlah Zahwa. Dia sampai lelah menunggumu," kata Surya. Sejak Hanan menikahi Zahwa. Entah mengapa Surya selalu mencari-cari kesalahannya.
"Kenapa dia tidur di sini?'' Tanya Hanan setelah menyadari ada Zahwa yang sudah tertidur pulas di sofa.
"Dia menunggumu pulang," jawab Surya
Hanan tertegun. Dia tidak menyangka jika Zahwa akan menunggunya. Lagi pula dia tahu jika dirinya akan lembur.
"Aku akan membawanya ke kamar. Mas Surya tidur lah,'' kata Hanan dia mulai membopong Zahwa ke dalam pelukannya.
Surya masih diam, melihat Hanan mulai mengangkat nya dan membawanya ke dalam kamar mereka.
"Seandainya jika itu aku. Mungkin rasa lelahku akan hilang seketika," Batin Surya .
__ADS_1
Sesampainya di kamar Hanan membaringkan Zahwa di tempat tidur. Menidurkan dia dengan senyaman mungkin kemudian menyelimutinya. Hanan menatap lekat wajah Zahwa, dia terlihat pulas dalam tidurnya.
*Jika saja kamu menelponku. Aku tidak akan pulang selarut ini Zahwa. Aku kira hari ini kamu dan Mas Surya akan terus terang. Karena itu aku malas untuk pulang*
Maafkan aku*
Dengan lembut Hanan mengusap ubun-ubun Zahwa dan akan mencium penuh kehangatan.
"Kamu sudah pulang? Syukurlah... Aku akan tidur sekarang," kata Zahwa. Dia sempat membuka matanya dan melihat Hanan tepat di depan wajahnya. Dengan melawan kantuk dia juga mengatakan itu tadi. Dan kembali tidur, membalikan badannya. Mennyingkuri Hanan yang masih berjongkok melihatnya.
Hanan menghela nafas dia bangkit dan langsung menghambur ke kamar mandi. Beberapa saat kemudian dia sudah keluar dengan baju tidurnya. Wajahnya sudah terlihat segar kembali. Tanpa menunggu dia langsung ikut berbaring di samping Zahwa.
Hanan masih belum bisa tidur, dia terusik dengan Zahwa yang begitu dekat dengan dirinya. Biasanya juga begitu tapi kali ini Zahwa tidak mennyingkurinya saat sedang tidur.
Pikiran Hanan melayang. Mengingat kejadian di kantor nya tadi.
Saat jam makan siang dia dan Aldian ingin pergi makan siang di luar. Mereka menuju parkiran untuk mengambil mobil saat itu Hanan melihat Surya juga sedang mengambil mobilnya. Dia terlihat tergesa-gesa. Membuat Hanan curiga dan ingin mengikutinyam
"Eh, bukanya kita makan. Kenapa arah jalannya berbeda?" tanya Aldian. Dia yang berbeda di samping Hanan yang saat itu sedang mengikuti mobil Surya.
"Kita cari tempat makan yang lain saja," kata Hanan mencari alasan.
"Tapi ini terlalu jauh. Malah tidak akan sempat menikmati nya nanti," bantah Aldian. Dia selalu over terhadap makanan.
"Tidak akan. Sebentar lagi sampai," kata Hanan. Dia terlihat konsentrasi melihat mobil Surya seakan tidak ingin sedikitpun tertinggal jejaknya.
Mobil Surya berhenti di sebuah taman. Hanan menghentikan mobilnya juga. Dia penasaran kenapa kakaknya mengunjungi taman tersebut.
"Tunggu di mobil. Aku akan pergi sebentar," kata Hanan , dia turun dari mobil. Tanpa mempedulikan protesan dari Aldian dia sudah pergi. Mencari kakak yang sempat hilang dari pandangannya.
Di sebelah taman itu dari arah berlawanan dia kembali menemukan kakaknya. Dia sedang bersama dua wanita. Pertama dia tidak mengenalnya dan kedua adalah Zahwa, istrinya. Mereka terlihat akrab dan bergembira.
Dengan lunglai Hanan berbalik dan menuju mobilnya. Aldian sudah menunggunya. Tanpa berbicara dia sudah mengemudikan mobilnya kembali. Meninggalkan berjuta pertanyaan dan kegundahan hatinya.
Kembali, Hanan terbuai akan suasana malam. Yang semakin dingin dan menginginkan kehangatan. Dia melihat Zahwa lekat, entah keberanian dari mana dia merengkuh tubuh Zahwa dalam pelukannya.
*Aku lega, apa yang aku takutkan tidak terjadi sekarang. Entah apa yang kamu sedang diskusi dengan kakak ku , asal itu bukan rencana mu untuk mengatakan kebenaran kepadaku. Aku tidak akan masalah.*
Sekarang aku mulai egois. Semoga kamu memaafkan aku. Aku rasa aku belum mencintai mu.kamu terlalu bodoh bagiku.Tapi aku tidak ingin ada orang lain mengganggap atau mengetahui kebodohan mu selain diriku.
Dan aku memang tidak mencintaimu. Itu yang selalu aku katakan pada diriku. Agar aku bisa tetap menjadi raja di matamu. Karena yang aku tahu, saat seseorang mulai mencintai. Dia akan menjadi pengabdi cintanya.
Aku tidak ingin itu, aku tidak mencintaimu karena aku tidak ingin kehilanganmu. Itulah cara ku. Jika salah semoga kamu bisa memaafkan aku.
Aku tidak mencintaimu
Aku tidak mencintaimu
Aku tidak mencintaimu
Karena aku tidak ingin kehilanganmu**.
Hati Hanan bergejolak, membuatnya semakin erat merengkuh tubuh Zahwa dalam pelukannya. Tanpa dia sadari Zahwa merasakan itu, dia tersadar dari tidurnya. Tapi tidak ingin memperlihatkan itu.
Zahwa tidak tahu apa yang dirasakan suaminya sekarang. Tapi yang terlihat, dia sedang melawan sesuatu yang ada pada dirinya. dan dia tidak ingin mengganggunya.
__ADS_1
"Selamat malam, semoga mimpi indah. Maafkan aku..." Kata Hanan. Dia mulai tidur, menyibakkan seisi pikirannya. Dan hanya ingin melepaskannya dengan ikut terlelap bersama istrinya.