Hati Yang Terpilih

Hati Yang Terpilih
Episode 78


__ADS_3

Zahra tidak menunggu lama lagi. Dia langsung menuju rumah Zahwa, dalam hal ini sempat kebingungan kerena dia pernah pergi ke sana. Sebelum berangkat tadi. Surya sempat memberikan alamat. Tapi, meskipun dia sudah cukup lama tinggal di kota tersebut. Dia masih belum terlalu hafal daerah-daerah-nya.


''Candra Kirana No 20.'' Kata Zahra saat dia menemukan rumah yang dia tuju. Dia mencocok lagi no rumah tersebut dan benar.


Dia segera turun dari mobil, memencet bel yang berada di samping pagar besar rumah tersebut. Seseorang lelaki besar membukakan pagar tersebut. Zahra terlihat terkejut dan takut saat pertama melihatnya.


''Anda siapa? sedang mencari siapa?'' Tanya lelaki itu dengan wajah garang.


''Anu pak. Maaf mau tanya, ini benar rumahnya mbak Zahwa dan Mas Hanan?'' Tanya balik Zahra dengan sedikit terbata-bata. Dia menahan takut.


''Benar. Anda siapa dan ada perlu apa?'' Tanya lagi lelaki tersebut. Dia tetap tidak meninggalkan muka garangnya. Malah terlihat mengintrogasi.


''Saya Zahra. Teman mereka. Apa saya bisa bertemu dengan mereka? Ini sangat penting . '' Jawab Zahra.


''Tunggu sebentar. Saya akan laporkan dulu kedatangan anda.'' Kata lelaki itu. Zahra mengangguk. Lelaki tersebut masuk lagi ke dalam dan dirinya berdiri tanpa berani mengintip isi rumah tersebut.


Dalam pikirannya tidak menyangka jika rumah Hanan dan Zahwa begitu ketatnya. Tamu hadir harus melalui para penjaga yang seram. Zahra bergidik sendiri mengingat lelaki besar tadi.


''Zahra!'' Seru Zahwa. Zahra yang membelakangi gerbang langsung menoleh.


''Mbak Zahwa. Syukurlah.'' Kata Zahra. Mereka berpelukan. Zahwa mengajak dirinya langsung ke dalam rumah.


''Maaf ya. Pertama kali kamu ke sini tapi di sambut sama bodyguard.'' Kata Zahwa. Tidak enak, karena Zahra di perlukan seperti orang yang mencurigakan.


''Hehehe tidak apa-apa mbak. Gak nyangka aja kalau rumah mbak ada Bodyguard - bodyguard itu.'' Balas Zahra. Dia kembali bertemu dengan bapak besar yang pertama menemui tadi. Dia sudah bersama teman lainya yang tak kalah seremnya.


''Kerjaannya mas Hanan itu. Dia sok khawatir, takut jika ada jahat ke rumah. Dan aku pas di rumah sendiri.'' Kata Zahwa.


Mereka sampai di ruang tamu. Zahwa mempersilahkan dirinya duduk dan dirinya permisi ke belakang sebentar untuk membuatkan minuman.


''Zahra?" Panggil Hanan.


Zahra menoleh ke arah suara itu. Di lihatnya Hanan turun dari tangga. Dia sudah terlihat rapi dengan kemeja coklat. Tangannya dengan ringan sedang merapikan dasi.


''Sayang? Ada Zahra, nih.'' Teriak Hanan. Dia mengira jika Istrinya belum mengetahui kehadiran Zahra.


''Aku sudah bertemu Mbak Zahwa tadi.'' Kata Zahra.


''Oh, sudah. Kamu tahu alamat rumah ini dari siapa?'' Tanya Hana . Dia sudah duduk bersama Zahra, di kursi depannya.


''Mas Surya. Sebenarnya aku ingin menceritakan sesuatu.'' Jawab Zahra.


''Ada apa? apa kamu sedang ada masalah?''


''Tidak.. Ini soal Elena.''


''Silahkan minum dulu. Biar agak tenang. Kalau bahas dia pasti ujung-ujungnya meradang.'' Kata Zahwa. Dia kembali membawa nampan berisi minuman dan beberapa cemilan.


''Kamu menemui Elena?'' Tanya Hanan.


''Aku kira kalian menginap di rumah sana. Jadi aku bermaksud untuk mencari tahu kelanjutannya bagaimana. Aku ke rumah mu tadi. Dan Elena menemui ku.'' Jawab Zahra.

__ADS_1


''Apa yang dia katakan?" tanya Zahwa.


''Mungkin sama dengan apa yang katakan kepada kalian tadi malam.'' Jawab Zahra.


Zahwa dan Hanan seketika berpandangan dan lemas. Hah. Bahkan dia tidak malu mengatakannya motifnya kepada orang yang baru saja dia kenal.


''Tapi ada satu hal yang menarik.'' Lanjut Zahra.


''Apa?"Tanya Zahwa dan Hanan hampir bersamaan.


''Dia mengaku jika anak yang ia kandungan bukanlah anak Mas Surya.'' Jawab Zahra senang .


''Serius?'' Tanya Zahwa dan Hanan. Wajah berbinar memancar seketika.


''Iya. Tapi kita tidak memiliki bukti untuk membenarkan cerita ku.'' Kata Zahra.


''Alhamdulillah. Akhirnya dia terjebak.'' Kata Zahwa.


''Terjebak?'' Tanya Zahra tidak mengerti.


''Kami memasang beberapa CCTV di beberapa sudut ruangan. Semoga saja saat dia mengakui hal tersebut pas terekam oleh Cctv. Kita bisa menggunakan itu sebagai bukti." Jawab Hanan menjelaskan.


''Alhamdulillah... Pantas saja, Mas Surya langsung menyuruh ku untuk ke sini. Kalian sudah merencanakan secara matang." Kata Zahra . Dia ikut bahagia. Merasa lega. Surya akan bebas sebentar lagi.


''Kita harus cepat ke rumah itu lagi dan mengambil memorycard yang ada di kamera tersebut untuk menjadi barang bukti.'' Kata Zahwa.


''Ok. tapi jangan gegabah. Kita harus tetap waspada.'' Ujar Hanan.


''Jangan! Lebih baik Bik asih tidak tahu akan hal ini. Ini akan berbahaya. Kita tidak tahu keadaan di sana bagaimana." Cegah Hanan.


''Terus bagaimana?" Tanya Zahwa


''Kita harus membuat mereka keluar dari rumah. Agar kita bisa leluasa mengambil bukti tersebut.'' Jawab Hanan.


''Bagaimana caranya?'' Tanya Zahwa dan Zahra


''Mereka wanita panggilan. Kita sewa orang untuk berpura-pura memanggil mereka berdua.Tidak waktu yang bersamaan, ambil jarak saat menghubungi mereka. Agar tidak curiga," jawab Hanan.


''Tapi sepertinya Elena tidak akan mau.'' kata Zahra.


''Kenapa?'' Tanya Hanan


''Dia hamil, rawan untuk wanita hamil melakukan hubungan intim kan? dia tidak akan melakukan hal yang akan mencelakai kandung. Apalagi itu adalah aset dia untuk mencapai keinginannya.'' Jawab Zahra.


Semua diam. Apa yang di pikiran Zahra ada benarnya. Elena akan sulit untuk di pengaruhi jika itu menyangkut kehamilannya.


''Aku punya ide. Tapi hanya Mas Hanan yang bisa melakukannya.'' Kata Zahwa. Matanya lantas menatap suaminya berat.


''Apa? katakan? Jika itu bisa menyelesaikan masalah ini dengan cepat aku akan melakukannya.'' Kata Hanan.


''Tapi jangan marah.'' Kata Zahwa. Membuat Hanan bingung. Zahra juga.

__ADS_1


''Apa?'' Tanya Hanan lagi.


''Terima Elena. Anggap kamu menerima tawarannya untuk menjadikan dia istri mu.'' Jawab Zahwa.


Seketika membuat Hanan lemas tak berdaya. Istrinya menginginkan dirinya untuk memilih wanita lain.


''Apa maksud mu? Aku tidak mungkin melakukannya.'' Bantah Hanan.


''Untuk satu hari saja, aku rela.'' Kata Zahwa


''Mbak apa kamu yakin? Kita bisa membuat rencana lain.'' Zahra juga tidak menyetujui rencana Zahwa.


''Tidak ada waktu lagi. Aku bukan akan menyerahkan suami ku pada Elena. Aku ingin Mas Hanan pura-pura menerimanya.Hanya untuk hari ini saja.'' Terang Zahra.


''Tidak. Aku tidak setuju.'' Bantah Hanan. Mana mungkin dia bisa melakukan hal tersebut. Terlebih di depan istrinya langsung.


''Hanya ini yang terpikir saat ini mas. Mas cukup mengajaknya jalan-jalan. Dan selama itu aku dan Zahra akan mengambil bukti rekaman tersebut. Setelah itu sudah.'' Terang Zahwa menyakinkan.


''Kita bisa menipu dia dengan mengatakan bahwa dia mendapatkan undian kupon belanja. Itu tidak akan menyakiti mu, aku juga tidak harus berpura-pura menerimanya . Bagaimana kamu berfikir aku bisa. Bahkan aku sangat membencinya.'' Balas Hanan


''Mana bisa kita menipu dia dengan hadiah kupon seperti itu. Sedang dia tidak pernah mengikuti undian apapun.'' Kata Zahwa.


''Kita fikirkan cara lain. Pokok jangan suruh aku melakukan itu. '' Kata Hanan.


''Aku mohon... Hanya hari ini saja. Ini juga untuk kakak mu.'' Mohon Zahwa.


''Apa ini karena kamu masih mencintai kakak. Kamu rela memberikan Suami untuk wanita lain?" Hanan tegang.


''Kamu masih meragukan aku mas.'' Ujar Zahwa


''Maaf. Aku permisi. Ada telpon.'' Sahut Zahra. Dia tahu, jika masalahnya bukan lagi menjadi haknya untuk ikut campur.


''Lantas apa?'' Tanya Hanan.


''Aku hanya ingin masalah ini selesai. Aku ingin Elena cepat hilang dari kehidupan kita. Aku tidak ingin ada wanita lain yang terlihat mencintai mu di depan mata ku. Apa kamu tahu, aku cemburu. Meskipun aku tahu, kamu tidak tertarik dengannya. Tapi perasaan takut ku tetap ada. Aku selalu saja takut dia berhasil merebut mu dari ku." Jawab Zahwa. Dia mulai terisak.


Hanan menghela nafas. Dan langsung di pelukannya istrinya tersebut.


''Aku tidak akan bisa melakukannya Zahwa. Aku tidak akan tega melakukan itu, walaupun hanya berpura-pura.'' Jelas Hanan.


''Lebih tak tega mana. Jika melihat ku sendiri menangis tanpa dirimu nanti.'' Kata Zahwa.


''Aku tidak akan meninggalkan mu. Aku sudah meyakinkan itu.'' kata Hanan.


''Aku tahu. Tapi aku takut dengan orang yang berusaha merebut mu. Aku ikhlas jika harus melihat mu bersamanya sekali saja. Asal itu untuk pertama dan terakhir kalinya.'' Terang Zahwa.


'' Baiklah. Jika itu mau mu. Tapi ingatlah, bahwa aku melakukan ini hanya karena mu. Hanya demi kamu.'' Kata Hanan meyakinkan.


Zahwa mengangguk. Dia menahan kecambuk hatinya dengan tenaganya. Dia sendiri yang mengoresnya dia sendiri pula yang akan menikmati setiap rasa sakitnya.


Terkadang seseorang harus menutupi sakit hatinya. Bukan untuk dirinya, tapi untuk orang yang mencintainya. Agar ia tahu, bahwa dia baik-baik saja.

__ADS_1


__ADS_2