Hati Yang Terpilih

Hati Yang Terpilih
Episode 96


__ADS_3

Zahwa datang menawarikan diri untuk menyuapi Bibi Ami. Wardah yang sebelumnya ingin melakukan hal tersebut langsung memberikan mangkok bubur yang sudah di tangannya.


''Tidak usah repot-repot! Wardah yang biasa menyuapiku." Tolak Bibi Ami.


Ciut, penolakan yang dia terima lagi. Zahwa menghela nafas, tubuhnya sudah ia tahan agar tidak gemetar dan tetap mengalun senyum mengalah.


''Wardah kamu saja yang menyuapiku.'' Ujar Bibi Ami.


Wardah tak enak hati dengan Zahwa. Namun dia juga tidak bisa berbuat apa-apa dan menuruti apa kata Bik Asih.


Dia sudah tahu, bahwa Zahwa adalah istri dari Hanan. Dari laki-laki yang setiap malam dia tunggu kedatangannya. Dari laki-laki yang selalu menjadi perbincangannya setiap kali keluarga Bik Ami bersamanya.


Keluarga itu memberikan dia harapan bahwa laki-laki yang sudah bersuami itu akan menikahinya. Dia akan membawa dia pergi dan membahagiakan dirinya. Dia juga akan mencintainya layaknya sang Arjuna pada Shinta.


Dia mengenal Hanan. Mereka teman sejak kecil, dia cukup mengetahui sifat Hanan. Bagaimana dirinya , dan juga apa yang tidak di sukainya. Namun dia juga tidak pernah berfikir bahwa nantinya. Ibu dan Bibi Ami yang sudah menjadi ibu angkatnya itu telah memilihnya untuk menjadi istrinya.


Sejak saat itu hatinya seakan jatuh cinta. Padahal saat itu di masih SMA. Namun, perjodohan itu seakan menutup rapat hatinya untuk tidak lagi menerima laki-laki lain selain Hanan. Hatinya sudah berbunga-bunga saja saat dia mendengar kabar ataupun cerita dari Bibi Amin tentang keberhasilan Hanan. Terkadang juga, Bibi Ami memberikan foto Hanan yang mulai dewasa.


Setiap apapun yang di lakukan Hanan di hidupnya Bibi Ami memberitahu kepada Wardah. Dia juga tak jarang mendapatkan telpon langsung dari ibu Hanan. Mereka berbincang dan bergurau bersama, selayaknya menantu dan mertua.


Setiap kali Hanan akan melakukan sesuatu hal yang besar. Dengan lapangannya Wardah akan mendoakan keberhasilannya. Tak jarang dia juga memberikan sedekah kepada beberapa orang atau anak yatim untuk meminta doa agar Hanan mendapatkan keberhasilan kesuksesan dan kesejahteraan. Dia melakukan hal tersebut dengan senang. Seakan Hanan lah yang benar akan menjadi suaminya.


Dia tidak pernah bertanya, apakah Hanan juga mengetahui bahwa dia dan dirinya akan di jodohkan. Ibu Hanan selalu bilang, bahwa Hanan akan menikah dengan gadis pilihannya, Ibu nya itu sangat menyakini hal tersebut. Karena itulah Wardah tidak pernah bertanya tentang perjodohan tersebut.


Namun takdir sedang bermain di kehidupannya. Hancur hatinya ketika dia tahu bahwa laki-laki yang selama ini ia dambakan, dia doakan dan dia tunggu kedatangannya telah menikah. Itupun atas keinginan orang tuanya. Dan diapun mulai bertanya-tanya apakah yang di lakukan selama ini itu sia-sia.


Tidak jarang dia berlama-lama bersujud di persetiga malamnya hanya untuk mendoakan Hanan. Menangis dan mengiba, untuk semua keberhasilannya. Namun, itu seakan tidak berarti apa-apa. Dia berdoa untuk jodoh orang.


''Wardah,'' Dia terkejut. Semua mata sedang menatapnya.


''Ada apa? aku memanggil mu berkali-kali." Bibi Ami.


Zahwa juga sedang menatapnya. Mungkinkah dia tergantung akan kehadirannya? itulah yang ia pikirkan.


''Oh, maaf bi...'' Kata Warda. Dia menyodorkan lagi suapan kepada Bibi Ami.


''Aku ingin minum.'' Kata Bibi Ami.

__ADS_1


Wardah segera mengambil air minum. Namun , dia melihat cangkir di atas nakas kosong. Dia lupa mengisi tadi.


''Aku akan ambilkan di dapur, '' tawar Zahwa segera bergegas.


''Tidak usahm Wardah, kau ambilkan ke dapur.'' Tolak bibi Ami.


Wardah segera bangkit. Lagi-lagi Zahwa ciut dan kembali duduk.Dan bisa diam melihat Wardah mengambil cangkir dan bergegas ke keluar kamar.


''Kau lihat, dia tidak biasanya diam seperti itu. Dia gadis yang ceria dia juga suka bercanda. Tapi, karena kamu datang dia hanya diam.'' Hujat Bibi Ami seketika Wardah pergi.


''Maafkan aku, Bi. Aku tidak bermaksud membuat orang lain tak enak hati.'' Kata Wardah.


''Lebih baik kamu pulang saja. Kamu hanya sekretaris Hanan. Sedang Wardah adalah calon istri Hanan. Meskipun mungkin kalian ada hubungan, tapi Hanan akan menikahi Wardah. Dia adalah jodoh yang di pilihkan keluarganya untuknya.'' Tambah Bibi Ami


Jantung Zahwa berdetak kencang. Tubuhnya mulai gemetaran. Dia tidak pernah sekecil itu di hadapan orang. Rasanya dia ingin mengatakan kebenaran jika dia adalah istri dari ponakannya tersebut. Bahwa dia juga adalah pilihan mertuanya. Pun mendapat restunya.


Namun, dia menahan itu semua Ingat tujuan awalnya adalah membuat keluarga tersebut menerimanya.


''Baiklah Bibi. Aku akan pergi, maaf jika aku menganggu. Dan jika ada sesuatu bisa hubungi aku.'' Ujar Zahwa. Dia mengambil tasnya dan kemudian beranjak pergi.


''Mbak, mau kemana?'' tanya Wardah


''Aku keluar sebentar. Kamu lanjutkan saja menyuapi Bibi.'' Jawab Zahwa dengan senyum manis.


Zahwa tidak mempunyai masalah dengan Wardah. Dia gadis yang baik, tapi mungkin dia terusik akan kehadirannya. Gadis cantik itu juga yang telah di kecewakan akan kenyataan pernikahannya.


Zahwa berkeliling ke rumah tersebut. Rumah itu tidak seluas rumahnya. Namun, cukup besar dari rumah lainya di daerah tersebut. Di bagi 3 bagian ruangan. Depan dengan ruang tamu dan dua kamar, ruang tengah yang lumayan agak luas, ada 3 kamar dan juga ruang keluarga. Terakhir dapur , beserta ruang makan. Masih dengan desain rumah jaman 90 an. Dia tidak terlalu lama untuk mengetahui bagian-bagian rumah tersebut, karena memang berbentuk persegi panjang dan yang paling belakang sudah tentu dapur dan kamar mandi.


''Kamu mencari sesuatu?'' Tanya Hafiz sedikit mengejutkan Zahwa.


''Ah, maaf. Aku hanya berkeliling. Maaf jika tidak sopan.'' kata Zahwa.


''Silahkan duduk, kau pasti jenuh di sini. Aku akan ambilkan minuman untukmu.'' Ujar Hafiz


Zahwa mengikuti apa kata Hafiz. Dia duduk di sofa yang berbeda di ruang tengah tersebut.


''Tidak usah repot-repot. '' Ujar Zahwa ketika hafiz ingin pergi ke dapur untuk mengambil minuman.

__ADS_1


Namun hafiz tidak menghiraukan dan tetap ngeloyor ke belakang. Membuat Zahwa tak enak hati.


Tiba- tiba ponselnya berdering. Di lihatnya nama suaminya yang menelpon.


'' Assalamualaikum,'' Salam Zahwa


''Waalaikumsalam, bagaimana kabarmu? Apa mereka merepotkanmu? Apa mereka berkata buruk terhadapmu? Kau sedang apa? Jawab? Aku sedari tadi khawatir dan akhirnya tak tahan menelpomu? setidaknya kabari aku. Aku disini_ '' Hanan Taka berhenti berbicara.


''STOP!'' Seru Zahwa. Sontak membuat Hanan berhenti berbicara.


''Aku baik-baik saja di sini, Sayang. Mereka tidak melakukan apapun terhadapku. Malahan aku hanya duduk santai saja. Tidak ada yang berbicara buruk juga. Kamu jangan terlalu khawatir. Mereka keluargamu dan aku yakin mereka tidak akan berbuat buruk terhadapku.'' Jelas Zahwa. Dia mengibas rasa kekhawatiran suaminya.


''Hah. Syukurlah. Aku sedang perjalan ke sana. Tunggu aku,'' Kata Hanan.


''Heh.Kenapa kamu ke seni sekarang? Aku tadi bilangkan jika kamu bisa ke sini sore atau malam. Aku masih ingin berbincang dengan mereka dan mungkin saja, bibi butuh bantuan ku.'' Ujar Zahwa.


''Istriku meninggalkanku di hotel sendirian dan sekarang aku sedang merindukan dirinya.'' Kata Hanan manja.


''Utu utu utu kacian. Sini peluk,'' ujar Zahwa membalas manja.


''Iih. Gemes, pengen cium!'' Greget Hanan.


Zahwa tertawa. Senang sekali menggoda suaminya itu.


Namun tanpa sadar. Ada seseorang yang sedang mendengarkan pembicaraan mereka. Dia berdiri bersandarkan tembok, tubuhnya lunglai, tulang sendi-sendi seakan tak kuasa menahan tubuh kecilnya. Tangannya mengelus jantungnya yang berdetak tak normal, seakan tertusuk dan nyeri tiada arti.


''Ku kira tidak akan apa-apa, namun rasanya sesakit ini.'' Ujar Wardah ,dan berlahan mundur berjalan menjauh dari perbincangan suami istri tersebut.


***


Assalamualaikum


Saya Author tidak menuntut apapun pada pembaca . Kalian setia saja sudah Alhamdulillah. Maaf beribu maaf jika sering mengecewakan.


Namun sekali lagi maaf, jika jalan cerita tak seindah yang di inginkan para pembaca . Tapi mohon, sedikit menghargai apa yang di tulis Author.


Sekali lagi Mohon maaf dan terimakasih

__ADS_1


__ADS_2