
''Kok disini?'' Tanya Zahwa.
''Aku dapat kabar dari teman seangkatan kalau Surya di penjara. Jadi aku langsung ke sini.'' Jawab Bella.
''Walah! Sampai menyebar begitu beritanya.'' Komentar Surya.
''Kamu mah parah Zahwa.Ada kejadian seperti ini gak kabar-kabar.'' lontar Bella.
''Yah! Semua terjadi begitu cepat kak. Jadi ya mau bagaimana? Kami juga di sini binggung sendiri. Tapi Alhamdulillah semua sudah selesai.'' Kata Zahwa.
''Kamu sudah bebas?'' Tanya Bella pada Surya.
''Iya begitulah. Alhamdulillah,'' Jawab Surya dengan senyum lega.
''Mohon maaf. Seperti kalian asyik sendiri.'' Kata Hanan. Dia belum mengenal Bella.Merasa terasingkan, karena di acuhkan begitu saja.
''Oh..Kamu Hanan? Aku Bella, sepupunya Zahwa.'' Kata Bella memperkenalkan diri dengan mengukur tangan.
''Hanan.'' Balas Hanan membalas jabat tangan Bella.
''Aku juga teman Surya. Kita satu angkatan saat kuliah dulu.'' Terang Bella.
''Oh...Jadi anda yang memperkenalkan Zahwa dengan kakak saya?'' Tanya Hanan.
''Bukan. Mereka kenalan sendiri.Kebetulan saja saat itu Surya menjadi partner kerja saya juga saat di Asrama. Jadi ya gimana ya dulu. Ah! Kamu minta cerita aja sama Zahwa. Nanti aku salah ngomong lagi. Hehehe...'' Jawab Bella.
Hanan melirik ke arah Zahwa dan Surya dengan tatapan curiga.
''Udah. Itu masa lalu. Yang terpenting sekarang kalian sudah bersama.Kita juga tidak bisa mengubah masa lalu kita.Hehe'' Lontar Bella sesaat setelah melihat Expresi Hanan yang cemburu.
''Tahu, nih! Masih aja curiga.'' sewot Zahwa.
Semua tertawa dan hanya Hanan yang cemberut .
''Oh iya perkenalkan.DiaZahra.'' Kata Surya. Zahra uang yang sedari tadi diam mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Bella.
''Zahra,'' Zahra dengan senang hati mengulurkan tangannya ke arah Bella.
''Bella," balas seraya menyambut tangan Zahra dengan senyum hangat.
''Udah yuk kita pulang.Masak mau di sini terus.'' Kata Zahwa.
Semua menyetujui perkataan ZahwaMereka bersama-sama pulang.Untuk sementara mereka menuju rumah Zahwa.
Hanan menyuruh kakaknya untuk menggunakan mobilnya Karena dirinya akan bersama Zahwa. Sedang Surya bersama Zahra. Bella mengikuti mereka juga.
''Jadi bagaimana ceritanya?'' Tanya Hanan ketika mereka dalam perjalanan pulang.
''Aku akan ceritakan nanti. Saat ini kamu sedang melupakan sesuatu." Jawab Zahwa.Dia sedang membawa ponsel suaminya.
''Jangan mencari topik lain. Aku ingin tahu ceritamu dengan mas Surya.'' Kata Hanan kesal .
''Aku tidak sedang mencari topik lain. Tapi ini lebih penting!''
''Apa yang lebih penting dari rasa cemburu ku saat ini.'' Hanan menggerutu karena Zahwa tidak peduli dengan perasaannya sekarang.
''Kamu masih saja baperan. Nih! Kamu ninggalin anak orang di Mall Gimana coba?" Tanya Zahwa. Memperlihatkan panggilan tak terjawab dari Elena. Dan beberapa pesan juga.
__ADS_1
''Aku lupa,'' Kata Hanan enteng.
''Gimana dong?'' Tanya Hanan lagi.Dia juga tidak tahu harus di apakan Elena.
''Hah! Aku sudah balas. Aku suruh dia pulang saja. Soal tagihan belanjanya aku aku sudah membayar lewat Bangking.'' Jawab Zahwa.
''Oh.. Ya sudah,'' balas Hanan acuh.
''Tapi, keterlaluan banget Elena itu. Dia belanja puluhan juta. Gila apa ni wanita!'' Umpat Zahwa kesal.
''Emang gila!" tambah Hanan.
''Aku saja gak pernah di belanjain sebanyak itu." Kesal Zahwa
''Nyindir nih,'' Ujar Hanan sambil melirik istrinya.
''Hehe...Setelah ini belanja ya sayang?!" Rayu Zahwa.
''Habis sayang uangku,'' Kata Hanan dengan meringis.
''Buat Elena aja kamu bisa ngeluarin banyak uang. Buat aku enggak.'' Sewot Zahwa.
''Kamu sendiri tadi kan yang minta aku jalan sama dia. Jadi itu termasuk pengeluaran kamu juga."
''Ya udah. Aku minta Mas Surya saja buat traktir aku. Dia pasti gak keberatan." Ujar Zahwa acuh.
''Tuh kan ngancem.Kamu itu masih saja mengharapkan kakak ku Zahwa." Balas Hanan kesal.
''Iyalah. Suami gak bisa di ngasih aku nafkah buat apa?!'' Sewot Zahwa.
''Suami gak bisa ngasih Nafkah.Week,'' Ledek Zahwa.
Ciiettt.
Mobil berhenti mendadak. Sontak membuat Zahwa terkejut.Dia hampir saja terbentur.
''Kamu_ '' Belum juga Zahwa melanjutkan omongannya. Hanan menarik dirinya dan tangkas langsung mencium Bibir Zahwa.Sontak membuat Zahwa terbelalak.
''Lain kali jika kamu bicara aku tidak menafkahi mu .Aku bisa melakukan yang lebih dari itu.'' Ujar Hanan setelah melepas ciumannya.
Zahwa masih tersengal-sengal. Dia masih Shock dengan ciuman Hanan yang begitu mendadak. Dadanya seketika berdebar tak beraturan. Terlihat dia juga berusaha mengatur nafasnya lagi.
''Dasar mesum! Gak pikir-pikir. Nanti kalau ada yang lihat bagaimana?'' Seru Zahwa.
''Biarin.Toh kamu istriku. Beda lagi kalau tiba-tiba aku nyium Elena.'' Kata Hanan. Dia Sudah menjalankan mobilnya kembali.
''Gantian ngancem nih ceritanya?!'' Seru Zahwa.
''Enggak. Ngapain?'' Sewot Hanan. Dia kembali fokus pada jalanan.
''Terserah. Mau kamu sama Elena kek atau sama cewek lain kek. Bodoh amat!''
''Ya udah,'' acuh Hanan. Sesekali dia harus mengajarkan pada Zahwa bahwa mencintainya bukanlah untuk menjadikan dia lemah akan dirinya.
Mobil melaju dengan cepat.Menapaki jalanan yang sudah mulai di hafal-ny. Di halaman rumah Zahwa sudah terparkir dua mobil yang tadinya berjalan di belakangnya. Entah sejak kapan mobil dua itu menyalip mereka dan menjadikan mobilnya yang paling akhir datang.
Zahwa segera turun dari mobil. Para tamunya sudah menunggu dirinya.
__ADS_1
''Kalian pasti nunggu lama, ya? Akan buatkan minum dulu.'' Kata Zahwa setelah sampai ruang tamu. Di lihat Surya dan Zahra sudah duduk di sofa ruang tamu.
''Udah aku buatin. Kamu duduk aja.'' Ujar Bella dia dari arah belakang membawa nampan berisi minuman dan juga makanan ringan.
''Lagian kayak gak ada waktu lagi aja. Sampai harus berhenti di tepi jalan.'' Sindir Bella. Membuat rona wajah Zahwa berbuah merah. Hanan yang baru saja datang tidak ambil pusing dengan ledekan Bella. Dia terlihat santai dan langsung duduk di sofa begitu saja.
Zahwa melihat ke arah Surya dan Zahra sepertinya tidak hanya sepupunya saja yang mengetahui tentang kejadian di tepi jalan tadi. Terlihat mereka sedang memalingkan muka kikuk dan juga menyelipkan senyum malu.
''Kamu sih," grutu Zahwa pada Hanan lirih.
''Apa salah ku? Memang ada apa?'' tanya Hanan berlagak tidak tahu.
Melihat itu Zahwa membuang muka.Daripada dia harus menanggung malu sendirian.
''Baru saja dapat kabar. Kalau Elena dan Ibunya akan di ringkus. Jadi kita bisa tenang sekarang.'' Kata Hanan. Dia baru saja mendapatkan WhatsApp dari salah satu rekan kepolisian.
''Alhamdulillah...'' Ucap mereka hampir bersamaan.
''Aku gak ambil keputusan kakak soalnya yang di incar sebenarnya bukanlah kakak tapi aku. Yah sebagai laki-laki sejati dan bertanggung jawab gak mungkin kan aku memberikan celah buat orang menghancurkan rumah tanggaku.'' Kata Hanan dengan sok dan percaya diri. Bahkan tanpa melihat Zahwa yang sedang di sindirnya.
''Jika itu keputusan mu baiklah. Semoga dengan ini mereka bertaubat dan tidak mengulangi kesalahannya yang sama lagi." Kata Surya.
''Amin,'' balas Zahra.
''Apa yang aku bilang. Wanita itu emang agak gak beres. Kamu masih aja percaya?'' Kata Bella untuk Surya.
''Bukan begitu.Aku udah ngelakuin apa yang kamu suruh. Tapi ya apesnya aja belum sempat di lakuin dia udah bertindak duluan.'' Balas Surya.
''Lemot mah kamu!'' Ledek Bella.
''Terserahlah,'' pasrah Surya.
Bella melihat pertengkaran antara Bella dan Surya. Meskipun terlihat bantah-bantahan tapi kedua nya saling mengkhawatirkan. Ada rasa yang tiba-tiba mengusik hatinya. Seakan ada yang *******-***** perasaannya.
''Zahra sini?'' Pinta Zahwa. Sepertinya hanya Zahwa yang peka akan kediaman Zahra.Dia mengajak Zahra menjauh dari mereka.
''Tenang.Dia sepupuku. Dia teman Mas Surya dan Alhamdulillah dia sudah menikah. Jadi jangan cemburu.'' Bisik Zahwa.Membuat rona merah pada wajah Zahra seketika.
''Ah! Tidak. Mana mungkin aku cemburu.'' elak Zahra malu.
''Gak usah malu gitu. Aku dulu juga seperti itu
hehe," goda Zahwa.
Zahra semakin tersipu malu.
''Aku yakin.Nanti Mas Surya juga suka sama kamu . Sabar saja.Dia agak lemot juga, sih. Benar kata Kak Bella. Hehe...'' Ujar Zahwa.
''Tapi kami pernah mencintainya,'' balas Zahra.
''Iya. Dulu, sekarang pun juga.'' Kata Zahwa membuka Zahra kaget.
''Sebagai kakak.'' Lanjut Zahwa dengan meringis
Zahra menghela nafas lega dan membuat Zahwa semakin ingin menggodanya.
Pada akhirnya kita akan saling mengikhlaskan. Waktu yang membuat luka, waktu pula yang akan menyembuhkan luka.
__ADS_1