Hati Yang Terpilih

Hati Yang Terpilih
Episode 61


__ADS_3

Setelah kejadian itu Zahwa tidak di perbolehkan berhubungan dengan Elena. Meskipun saat ini Elena masih ada di rumah Surya .


Hanan juga memutuskan untuk tidak pindah kerumahnya sendiri. Sampai wanita yang membuat istrinya itu celaka pergi dan tidak lagi mengganggu kehidupannya.


Setiap Hari seperti tahanan.Rumah Zahwa di jaga oleh bodyguard.Hanan menyewa mereka khusus untuk menjadi Zahwa. Bahkan saat waktu malam seperti sekarang.


"Sayang , jika mereka terus di sini. Kita tidak bisa leluasa." Rayu Zahwa. Alasan karena dia risih dengan keberadaan Bodyguard di sekitar rumahnya.


"Mereka akan tetapi di sini. Jangan merayuku." Elak Hanan.


Zahwa mengerucut bibirnya. Usahanya sia-sia. Hanan sedang sibuk dengan bukunya .


" Aku bosan jika di rumah terus. Tapi jika keluar, aku akan seperti orang aneh karena harus di ikuti oleh orang-orang itu." Protes Zahwa.


"Ok. Kita keluar. Untuk hari ini aku akan yang menjadi bodyguard mu. Tapi dengan satu syarat." Kata Hanan. Dia menutup bukunya meletakkan di meja yang ada di depannya.


Zahwa berbinar. Setidaknya dia bisa merasakan kebebasan walau sesaat. Tapi saat mendengar ada syarat yang harus dia kerjakan membuat nya malas lagi. Suami pasti sedang merencanakan hal yang tidak mengenakkan lagi.


"Apa?" Tanya Zahwa. Dalam hati berdoa semoga itu bukan hal aneh-aneh.


"Kamu harus menuruti apapun yang aku mau." Jawab Hanan menang.


"Apaan! Curang itu mah. Bodyguard tugasnya menjaga aja." Protes Zahwa.


"Jika tidak mau ya sudah." Cuek Hanan dia kembali mengambil bukunya dan kembali ingin membacanya.


"Ya sudah. Tapi jangan aneh-aneh." Pasrah Zahwa.


Hanan tersenyum menang.Sedang Zahwa sedikit kesal , tapi tidak mempunyai pilihan lain.


"Baik. Ayo kita pergi!" Seru Hanan seraya berdiri .


Setelah mereka bersiap. Hanan menyuruh para bodyguard untuk menjaga rumah selama mereka pergi.


Selang beberapa saat mereka sudah menyusuri jalanan yang ramai.


"Sekarang apa yang kamu inginkan?" Tanya Zahwa . Dia ingin tahu apa yang di pikiran Hanan.


"Tenanglah. Sebentar lagi juga tahu." Jawab Hanan santai.


Dalam perjalanan Zahwa memikirkan apa yang sedang di rencanakan Hanan.

__ADS_1


"Kita sampai. Turun!" Perintah Hanan.


Zahwa melihat sekelilingnya. Mereka ada di depan hotel bintang lima.Pikiran Zahwa mulai mesum.


"Aku tahu, kamu pasti ingin kita mesum." Selidik Zahwa cemberut.


"Hahahaha. Apa salahnya, sekali-kali saja." Balas Hanan.


Zahwa menuruti perintah suami. Berjalan berdampingan karena Hanan mengandeng tangannya.


Mereka berjalan menyusuri lobi hotel,menaiki lift. Zahwa tidak tahu Hanan akan merencanakan apa , yang dia tahu mereka sedang menuju lantai paling atas.


Sesampai di sana. Lorong sepi. Mungkin kondisi saat itu sudah malam. Apalagi lantai paling atas adalah kamar untuk VIP.


Hanan menuju kamar paling ujung.Dia langsung membuka kamar tersebut dengan card kamar tersebut.


"Assalamualaikum...." Salam Hanan.


Zahwa celingak-celinguk. Tidak ada seorang pun , dan entah Hanan tadi memberi salam untuk siapa . Kini pandangan terfokus pada tatanan ruang kamar tersebut. Terlebih pada ranjang putih dengan beribu kelopak mawar di atasnya. Dan baru dia sadari ada aroma wangi yang menyeruak memenuhi hidung.


"Mas, ini apa?" Tanya Zahwa. Dia terkejut bercampur bingung. Dadanya berdebar seketika.


Hanan dengan romantis nya dari belakang tiba-tiba merengkuh jemari Zahwa dan memeluknya dari belakang.


Zahwa terharu. Tidak menyangka jika akan ada waktu seperti ini khusus untuk dirinya. Dia mengira bahwa kejadian seperti ini hanya ada di Novel atau film saja. Tapi sekarang dia merasakannya .


"Sholat Isya' dulu, Yuk." Ajak Hanan. Zahwa mengangguk mengiyakan.


Selepas Sholat Isya' Zahwa kira mereka akan langsung menghabiskan waktu mereka di atas ranjang. Membalut mesra dan mengadu cinta. Tapi tidak Hanan mengajaknya naik ke rooftop dimana letak Swimming poll Berada.


Mereka bermain air berenang berdua. Menikmati malam yang bertabur bintang. Seluas mata memandang , yang terlihat di depan mereka adalah lampu-lampu gedung dan rumah penduduk yang berkerlap -kerlip . Seakan tidak mau kalah dengan kemesraan mereka.


Setelah selesai menghabiskan waktu di kolam renang. Mereka duduk berdua , duduk di tepian kolam renang.Bercanda dan tertawa , seakan baru pertama kali mereka merasakan indahnya berdua saja.


"Dingin sayang. Kita kembali ke kamar," Kata Hanan. Zahwa terkekeh. Dia merasa hari ini Hanan begitu romantis sebuah oppa-oppa Korea yang sedang merayu kekasihnya.


"Gendong," Pinta Zahwa manja.


Tanpa menunggu lama Hanan dengan mudahnya mengangkat Zahwa dalam pelukannya. Mendekapnya dan membiarkan dirinya bersandar pada pundaknya.


"Bodyguard plus-plus mu ini meminta bayaran sangat mahal apa Nona sanggup membayarnya?" Tanya Hanan. Mereka sudah sampai di kamar. Hanan tidak menurunkan Zahwa malah langsung membawanya ke dalam kamar mandi. Merebahkan dirinya di bathtub. Zahwa menampar pelan pipi Hanan.

__ADS_1


"Aku akan meminta suami ku untuk membayar mu nanti. Sekarang Pak Bodyguard silahkan keluar dulu." Jawab Zahwa


"Tidak. Enakan di sini. Nemenin Nona."


Hanan mulai menyalakan air pada Bathtub tersebut. Membuat sebagian tubuh Zahwa basah. Hanan membelai tangan Zahwa nakal.


"Pak Bodyguard. Jika kamu keluar sekarang mungkin aku akan membayar mu berkali-kali lipat nantinya." Kata Zahwa. Dia sedang berusaha mengusir suaminya itu dia masih malu jika harus mandi bersama.


Hanan tidak mengindahkan perkataan Zahwa. Dia malah mulai mencium lengan Zahwa lembut. Membuat Zahwa mulai merasa desiran dalam hatinya . Dengan cepat Zahwa mendorong Hanan .


"Iya iya. Aku keluar. Tapi awas gak setimpal bayaran." Hanan pasrah. Dia tahu, istrinya masih malu.


Zahwa tersenyum puas. Tanpa menjawab Hanan dia mengisyaratkan suaminya itu untuk cepat keluar. Kemudian dia melanjutkan mandi.


Selang beberapa menit. Zahwa keluar dengan mengunakan piyama bulu berwarna putih dengan rambut basah berurai beranjak karena habis keramas. Hanan yang duduk bersandar di ranjang menatap takjub, dia tidak bisa mengelak jika saat ini Zahwa sangat menggodanya.


"Aku laper Mas. Pesan makan gih, " Ujar Zahwa. Dia masih mengibas-ibaskan rambutnya yang basah , mengering kan dengan Hair Dryer . Tidak menyadari bahwa Hanan masih menatapnya .


''Santapan ku lebih lezat malam ini." Kata Hanan membuat Zahwa yang tadinya fokus dengan rambutnya beralih memandang suaminya. Seketika dia bergidik menemukan tatapan Hanan yang seakan ingin menerkamnya dia penuh hasrat.


"Mandilah dulu. Biar aku saja yang pesan makanan." Kata Zahwa memalingkan muka.


Hanan mengiyakan tanpa menjawab. Dia masuk ke dalam kamar mandi. Sedang Zahwa dia memesan beberapa makanan lewat telpon hotel. Dia Menganti piyama bulu nya dengan daster kelelawar yang dia pesan langsung bersama dengan makanan. Untung saja hotel ini juga menyediakan baju ganti, yang bisa mereka beli secara mendadak seperti ini.


Hanan keluar dari kamar mandi. Dia menemukan Zahwa sudah di sofa lengkap dengan makan penuh di meja.


"Kenapa ganti baju,padahal aku lebih suka kamu memakai piyama tadi." Kata Hanan.Kecewa karena melihat Zahwa sudah berganti pakaian.


"Sudah. Makan dulu. " Zahwa merengkuh tangannya dan mengajaknya duduk di sampingnya.Hanan mengenakan Celana pendek oblong dengan kaos putih. Handuk masih di kalungnya di lehernya untuk mengeringkan rambutnya yang masih basah.


Zahwa menyiapkan satu porsi makanan dia mengambil sendok dan mulai menyuapi suaminya


"Terkadang cinta bukan tentang harsat saja sayang. Hal - hal kecil juga bisa menumbuhkan rasa cinta , seperti saat ini. Aku menyuapimu." Kata Zahwa. Dia bertutur kata dengan halus dan masih terus menyuapi suaminya.


"Kamu tahu. Di India ada tradisi kuno. Yang mengharuskan istri makan di bekas piring suaminya. Mereka mempercayai itu semua akan menumbuhkan rasa cinta dan menambah ikatan di antara mereka." Lanjut Zahwa. Dia tahu saat makan Suaminya tidak akan berbicara.


"Karena apa? Karena Di sana suami di anggap dewa." Tambah Zahwa.


Kini giliran Hanan yang mengambil piring di tangan Zahwa dan kemudian mulai menyuapinya.Hanan sudah selesai dengan makanya.


"Itu tidak hanya terjadi di India saja sayang.Bahkan saat aku berkunjungan ke rumah Zahra dulu yang notabene pondok pesantren. Mereka biasa makan bersama tidak hanya para santrinya tapi juga para kyai dan keluarga lainnya. Saat aku tanya kenapa? ayah Zahra mengatakan kalau itu sudah kebiasaan mereka dan hal itu bisa menambah kerukunan di antara mereka. "

__ADS_1


Zahwa tersenyum tdak juga tersinggung. Malah senang, jika suaminya lebih mengetahui hal yang sedemikian rupa dari pada dirinya.


__ADS_2