Hati Yang Terpilih

Hati Yang Terpilih
Episode 71


__ADS_3

Setelah kepergian Surya. Mereka terduduk lunglai. Hanan memijat kepalanya sendiri, dia merasa pening. Zahwa dan Zahra sama - sama masih tersedu. Tidak pernah membayangkan jika semua ini bisa terjadi.


''Bik, ambilkan minum.'' Perintah Hanan. Bik Asih yang juga tadinya masih bersimpuh dan juga ikut bersedih mendengar perintah Hanan langsung bangkit dari posisinya. Dia langsung pergi ke dapur.


Tidak ada yang berbicara. Elena dan ibunya tanpa malu mereka masih saja di rumah itu. Malah pergi ke kamar Elena tanpa meminta izin terlebih dahulu. Dan kedua antek-antek mereka keluar rumah. Tapi tidak pergi malah nongkrong seakan itu adalah rumah mereka juga.


''Aku kebelakang dulu.'' Pamit Hanan


Zahwa ataupun Zahra tidak menjawab. Hanya mengangguk.


"Sebenarnya apa yang terjadi? Aku tidak mengerti sama sekali." Tanya Zahwa pada dirinya sendiri.


''Aku juga tidak tahu. Sore tadi saat kami pulang dari masjid,Mas Surya bermaksud mengantarkan aku pulang. Kebetulan aku tidak membawa mobil" Cerita Zahra.


''Sebentar. Kalian di masjid bersama? Maksudku apa kalian kebetulan sedang bersama?'' Tanya Zahwa.


''Setiap Sore aku dan Mas Surya di Masjid Al Aqso


. Kami sedang berdiskusi soal kitab-kitab yang akan di pelajari di pesantren. Lebih tepatnya,Mas Surya meminta ku menyimak ngaji kitabnya sebelum dia benar-benar ke pesantren. Seperti biasanya, kami pulang selepas sholat magrib. Dan saat di pertengahan jalan menuju rumahku, Mas Surya mendapatkan telpon dari rumah. Dia tegang, dan kemudian bertanya padaku apa aku bisa sebentar mampir ke rumahnya. Karena ada masalah genting yang mengharuskan dia harus cepat sampai ke rumah. Aku mengiyakan begitu saja. Dan sampai rumah ini sudah banyak warga , dan polisi di sini. Kami sama terkejutnya. Mas Surya menanyakan kenapa banyak orang di rumah


dan untuk apa polisi sampai datang. Kemudian polisi tersebut mengatakan bahwa dia harus menangkap Mas Surya kerena tuduhan memperkosa Elena dan juga menyembunyikan dirinya selama ini. Mas Surya sempat marah, tapi banyaknya tuduhan dan juga ia tidak memiliki banyak bukti untuk menyatakan dia tidak bersalah membuat untuk mengalah. Apalagi semua warga menjadi saksi bahwa memang selama ini Elena tinggal di rumah ini.'' Cerita Zahra .


''Andaikan aku dan Mas Hanan tidak pindah rumah mungkin fitnah ini tidak akan terjadi.'' Zahwa menyalahkan dirinya sendiri.


''Sudah kita tidak perlu menyalahkan diri sendiri ataupun menyesalinya. Yang harus kita lakukan adalah bagaimana membuktikan kalau Kakak tidak bersalah." Sahut Hanan dengan membawa nampan berisi air minum untuk Zahwa dan Zahra.

__ADS_1


''Tapi bagaimana? Jika semua warga saja bersaksi bahwa Elena memang tinggal di rumah ini selama ini.'' Bantah Zahwa.


''Tenanglah. Kita akan menemukan jalannya . Kalau kita berfikir dengan tenang dan tidak gegabah pasti kita menang. Sekarang minum dulu." Ujar Hanan menyodorkan segelas air kepada Zahwa. Dia juga memberikan kepada Zahra.


"Aku ingin membantu Mas Surya. Semoga kalian tidak keberatan.'' Kata Zahra.


''Kami malah berterima kasih." Balas Zahwa


''Sekarang kita pulang saja. Zahra kamu kami antar pulang." Kata Hanan.


''Kita tidak tinggal di sini saja? Bagaimana mungkin kita membiarkan mereka menang begitu saja dan malah seenaknya tinggal di sini.'' Protes Zahwa. Tidak mengerti jalan pikiran suaminya.


''Sudahlah, nanti aku kasih tahu sesampai di rumah. Rumah ini sudah tidak aman dan banyak jebakan. Aku mohon percaya padaku.'' Kata Hanan meyakinkan.


''Bik Asih bagaimana? masak kamu tega membiarkan dia tinggal bersama mereka.'' Kata Zahwa.


''Kami pulang, Bik. Jadi diri bibi baik-baik. Kalau ada apa-apa langsung hubungi kami. Jangan pernah mematikan ponsel bibi,'' Pesan Hanan. Entah apa yang di rencanakan, tapi Bik asih mengangguk mengerti.


Akhirnya mereka pulang. Di perjalanan tidak banyak bicara. Sudah terlalu lelah atau mungkin sudah habis kata-kata untuk mengatakan hal lainya. Semua terjadi begitu cepat hingga mereka harus menerima begitu saja.


''Apa kalian tidak ingin ke kantor polisi dulu?" Tanya Zahra membuka kesunyian.


''Sudah malam. Kamu pulang saja. Aku sudah menghubungi pengacara dan setelah memulangkan Zahwa aku akan ke kantor polisi." Jawab Hanan.


''Aku ikut aku tidak apa-apa.'' Kata Zahwa dan Zahra hampir bersamaan. Keduanya kemudian bertukar pandang.

__ADS_1


''Hah! Susah,ya kalau sudah menyangkut orang yang di cinta.'' Kata Hanan menghela nafas. Dia merasa ke dua wanita bersamanya tidak lah benar ada. Pikiran mereka hanya pada Kakaknya saat ini.


''Ini Masalah yang besar, Mas. Bukan soal cinta-cintaan. Kamu ini!" Umpat Zahwa kesal


''Iya. Aku juga tidak akan bisa tidur dengan tenang di saat Mas Surya kesusahan seperti ini.'' Sahut Zahra.


''Tidak ada yang ikut kalian berdua di rumah . Tidak dan istirahat. Apa yang kalian lakukan nanti , menangis, saling berpelukan dan berlagak saling menguatkan. Tidak akan ada yang ikut ke kantor polisi. Titik. Ini keputusanku. Tidak ada yang boleh membantahnya." Ujar Hanan tegas. Kedua wanita itu diam tidak berani menjawab dan membantah.


'Beberapa saat kemudian Zahra sampai di rumah. Hanan sekali lagi berpesan untuk tenang dan beristirahat. Kakaknya juga akan baik-baik saja. Dia memerlukan doanya.


''Kita pamit. Assalamualaikum... Jaga dirimu baik-baik.'' Pamit Hanan. Zahwa menunggu di dalam mobil. Tidak ada rasa cemburu, hanya saling bersimpati. Dia juga merasa hal yang sama saat ini.


Mobil melaju meninggalkan rumah Zahra. Kembali menyusuri jalanan malam. Jarak antara rumah Zahra ke rumah Zahwa cukup jauh. Sepanjang perjalanan Zahwa menguap. Sehabis menangis seseorang terkadang mengantuk tanpa mereka sadari. Tapi beban pikiran saat ini tidak bisa membuat terpejam begitu saja.


''Tidurlah. Saat sampai rumah aku akan membangunkan mu." Kata Hanan dengan mengelus kepala Zahwa yang berbalut hijab. Pandang Zahwa kosong menghadap keluar jendela mobil.


''Mana bisa aku tidur. Saat keluarga sendiri dalam masalah." Balas Zahwa.


''Semua akan baik-baik saja sayang. Percayalah, Aku berjanji kakak tidak akan lama di dalam penjara.'' Hibur Hanan.


''Bagaimana caranya?'' tanya Zahwa.


''Kita akan mengajukan tes kehamilan. Dan jika memang Elena hamil, kita harus menyelidiki siapa laki-laki yang benar menghamilinya. Paling mereka tidak jauh dari Lokalisasi itu. Kita juga bisa tes DNA. Dan aku juga mempunyai rencana lainya. Jadi kamu tenanglah,'' Jawab Hanan. Dia tidak tega melihat Zahwa seperti itu. Dia begitu mengkhawatirkan kakaknya. Dia hanya berdoa semoga rasa khawatirnya itu sebatas adik kepada kakaknya . Bukan seorang kepada kekasihnya.


"Beri tahu aku semua rencana mu. Aku ingin tah.''

__ADS_1


''Iya, aku akan beritahu semuanya. Tapi saat ini istirahat lah. Aku tidak ingin kamu terlalu capek . '' Pinta Hanan. Zahwa mengangguk. Dia mulai mengatur posisi duduknya membuat nya nyaman dan kemudian memejamkan mata.


Jalanan masih panjang. Dan Hanan harus lekas sampai rumah. Dan kemudian segera pergi ke kantor polisi. Kakaknya sudah menunggu dirinya.


__ADS_2