Hati Yang Terpilih

Hati Yang Terpilih
Episode 75


__ADS_3

''Mereka pergi kemana?'' Tanya Hanan.


Bik Asih meletakan nampan berisi minuman ke atas meja dan menyediakan kepada majikannya tersebut. Hanan masih terlihat intens berbicara dengan seseorang di telponnya. Dan Zahwa menyuruh Bik Asih duduk di sampingnya.


Setelah dari kantor polisi mereka tidak membuang waktu lagi. Dan langsung pergi ke rumah. Memasang beberapa Cctv di beberapa tempat lagi.


''Bik, apa mereka menyakitimu?" Tanya Zahwa. Khawatir jika Bik Asih menjadi bulan-bulanan mereka.


''Tidak Non. Hanya saja ibunya Mbak Elena hampir saja memukul, tapi Mbak Elena mencegahnya. Sampai saat ini Mbak Elena tetap baik dengan saya. Saya juga tidak pernah membicarakan persoalan ini. Takut." Jawab Bik Asih.


''Baguslah. Aku pikir mereka akan menyakiti Bik Asih.'' Kata Zahwa.


''Mereka menuju tempat Lokalisasi. Beberapa orang ku akan ke menyamar masuk ke sana.'' Sahut Hanan dia sudah selesai berbicara dengan rekannya.


''Mas Surya bagaimana keadaannya?'' Tanya Bik Asih. Dia mengingat Surya seketika, majikannya itu sangatlah baik dia tidak pernah sekalipun menunjukkan sikap buruknya kepada siapa pun. Bahkan saat dirinya terpojok sekalipun.


''Alhamdulillah baik.Hanya saja dia sempat di pukuli.'' Jawab Zahwa.


''Ya Alloh. Mas Surya sungguh baik,tapi kenapa dia harus di beri cobaan seberat ini.'' Ujar Bik Asih.


''Gak apa-apa bik. Mas Surya baik-baik saja. Mas Hanan juga menyuruh para polisi untuk tidak memperlakukan dia dengan kasar. Mereka akan terkena sangsi jika melakukan kekerasan lagi.'' Hibur Zahwa.


''Bik pastikan jika mereka tidak curiga kalau kita memasang Cctv di rumah ini. Aku dapat WhatsApp jika Elena dan ibunya menemui madam Nor.'' Kata Hanan dia masih terfokus pada handphone-nya. Mungkin seseorang masih memberikan kabar kepada dirinya.


''Aku ingin cepat menangkap basah mereka. Aku harap Semua cepat selesai.'' Kata Zahwa.


''Kita tidak boleh gegabah.Aku takut ini hanya jebakan. Jika di tempat tersebut kita tidak menemukan bukti, terpaksa kita yang harus turun tangan.'' Ujar Hanan.


''Maksudnya?" Tanya Zahwa kurang faham.


''Mereka melakukan ini untuk mendapatkan sesuatu. Kita langsung menanyakan saja apa tujuan dan incaran mereka.'' Jawab Hanan geram.


"Tapi mas, itu sama saja kita menyerah dan pasrah. Itu juga akan lebih membuktikan bahwa Mas Surya bersalah. Aku tidak setuju jika seperti itu.'' Bantah Zahwa.


"Kita akan tes kehamilan setelah mereka pulang nanti. Aku akan menghubungi Very agar mengajak teman Dokter wanitanya ke rumah.Bahkan saat memilih dokter untuk dirinya saja aku harus hati-hati. Hah,'' Kesal Hanan.

__ADS_1


''Aku harap semua berjalan dengan lancar." Harap Zahwa.


Hingga malam mereka tetap di rumah tersebut. Menunggu kehadiran Elena dan Ibunya pulang


Very dan teman dokter nya sudah datang, entah mereka di bayar berapa tapi kali ini mereka seperti lembur, tidak di perbolehkan pulang sebelum pasien mereka benar-benar datang. Dan terkendali semuanya.


''Mereka pulang. Kalian siap-siap lah, '' Kata Hanan dia mendapat kabar lagi.


Selama mereka berada di sana tidak ada bukti yang bisa di ambil. Mereka hanya bertemu dengan Madam Nor, berbincang seperti teman yang sudah lama tidak bertemu. Dan sialnya lagi, tidak satupun pembicaraan tentang masalah Elena dan Surya. Tidak ada gerak gerik yang mencurigakan.


''Mas, Aku sedari tadi WhatsApp-pan dengan Zahra katanya dia ingin kesini juga," Kata Zahwa


''Kenapa para wanita selalu ingin tampil menonjol jika itu menyangkut kekasihnya.'' Keluh Hanan. Mereka bukan sedang main drama atau merencanakan liburan tapi sedang ingin mencari kebenaran.


''Dia juga ingin tahu kebenaran Mas. Wajarlah,'' bantah Zahwa.


''Terserahlah. Tapi jangan sampai ada kroyokan atau jambak-jambak an nanti,'' ujar Hanan


''Ya gak lah. Kamu itu bayanginya ngawur.'' Bantah Zahwa sewot.


''Sebentar. Sabar..." Ujar Hanan


Zahwa melihat dokter wanita di samping Very. Dia juga terlihat lelah beberapa kali tak sengaja dia lepas kendali dari kesadaran. Dia menahan rasa kantuk yang sedang merajainya.


''Bik tolong buatkan kopi buat Bu dokter.'' Pinta Zahwa.


''Ah tidak usah . Ini sudah cukup.'' Kata dokter tersebut. Dia lelah tapi tidak ingin memperlihatkan rasa kelelahannya Tersebut. Bahkan masih bisa memperlihatkan senyum ramahnya.


Suara mobil terdengar dari halaman. Sontak membuat mereka yang ada di ruang tamu berdiri. Segera ingin tahu siapa yang datang. Berharap kali ini Memang Elena yang datang.


Zahwa mengintip lewat jendela ruang tamu. Di luar gelap , tapi bisa terlihat jika mobil milik Surya baru saja masuk dalam pekarangan rumahnya.


''Mereka datang.'' Kata Zahwa pasti.


Beberapa saat kemudian , Elena dan Ibunya datang. Wajah mereka terkejut melihat isi ruang tamu penuh dengan orang-orang yang sedang menatapnya.

__ADS_1


''Kalian? Ada apa?'' Tanya Ibunya Elena.


''Waduh Bu. Sepertinya Ibu sudah sangat nyaman tinggal di sini. Hingga lupa, siapa pemilik rumah ini.'' Kata Hanan.


''Bukan begitu, maksud ku ada apa kalian ramai-ramai di sini. Jika saja aku tahu kalian di sini pasti kami cepat pulang.'' Ujar Ibu Elena dengan senyum pahit yang di sembunyikan.


''Aku tidak akan basa-basi lagi. Aku ingin Elena tes kehamilan sekarang juga. Kami juga sudah mengundang dokter untuk memeriksa kandungannya.'' Kata Hanan. Ada ketegangan di wajah keduanya. Rasa takut dan juga saling mencari perlindungan.


''Aku juga sudah cukup lama di sini. Jadi aku harap tidak ada lagi yang harus di tunda. mbak Elena mohon ikut kami ke kamar untuk di periksa" Kata Very. Dia langsung menuntun Elena menuju kamar tamu di ikuti oleh dokter wanita tadi.


''Kalian bisa menghubungi kami jika ingin melakukan pemeriksaan. Tidak harus mendadak seperti ini." Kata Ibu Elena. Dia melihat Elena di bawa dengan perasaan was-was.


''Tenanglah ibu... Jika memang dia sedang mengandung anak kakak ku berarti sudah menjadi kewajiban keluarganya kan untuk menjaganya.'' Kata Hanan.


Ibu Elena diam tidak berkutik. Tidak ada yang mendukung. Bahkan semua mata yang ada di ruang tersebut seakan tidak membiarkan dirinya berbicara.


Beberapa saat kemudian very keluar dari kamar tersebut. Dia membawa tespack di tangannya.


''Elena benar hamil.'' Kata Very dengan menunjukkan garis dua di tespack tersebut.


Semua orang di ruang tersebut langsung tegang. Kenyataan pertama sudah benar terungkap.


''Tapi untuk usia kandungannya. Kita menunggu teman ku dulu.'' Kata Very.


''Siapa yang menghamilinya Bu?'' Jawab Zahwa dia meradang seketika.


''Kakak iparmu. Siapa lagi! Dia tinggal di sini selama ini.'' Jawab Ibu Elena.


''Jangan menurunkan martabat mu Bu. Jika kamu bisa jujur sekarang kita akan memaafkan. Tapi masih terus bersikeras, bahkan saat anak itu lahir pun aku Pastika kamu tidak akan melihatnya." Ancam Hanan.


''Aku berbicara apa adanya. Inilah kenyataannya.'' Ujar Ibu Elena tidak takut.


''Kebenaran tetap akan menang. Cepat atau lambat, semuanya pasti akan terbongkar


Aku pastikan itu.'' Ancam Hanan. Jika saja dia buka wanita paruh baya sudah dia terkam dengan tangannya.

__ADS_1


__ADS_2