
Sudah beberapa hari mereka di puncak. Menikmati setiap detik kebersamaan dan kemesraan.
''Sampai kapan kita di sini?" Tanya Zahwa.
Malam ini para bintang sedang ingin memanjakan malam. Ia bertaburan tanpa hentinya bersinar. Semakin larut semakin terang dan terlihat ribuan. Sang purnama sempurna dengan pesonanya. Merajai bak ratu yang sedang duduk di singgasananya.
''Kamu mau sampai kapan?'' Tanya balik Hanan.
''Kok malah tanya balik,''
''Terserah kamu, sampai kapan kamu mau di sini. Yang terpenting kamu senang.'' Terang Hanan.
Mereka sedang duduk di teras Villa. Dengan secangkir kopi hangat di tangan mereka. Hawa dingin mengharuskan mereka untuk terus memakai pakaian tebal dan juga syal.
''Lah, gimana pekerjaanmu. Aku gak mau hanya karena aku, kamu harus ninggalin pekerjaan.'' Kata Zahwa.
Tidak enak jika terus menerus di manja seperti ini. Bukankah ada banyak kewajiban lainya.
''Gampang. Aku sudah minta Aldian untuk mengurus semuanya.''
''Tapi Mas, di perusahaan saat ini tidak ada Mas Surya. Jika kamu ninggalin perusahaan begitu saja, pasti Aldian kewalahan.''
''Biarin. Kamu gak usah khawatir. Aku tetap memantau dari sini kok."
''Beneran mantau? Aku gak pernah lihat kamu sibuk kerja. Perasaan dari kemarin sibuk kelilingi perkebunan dan olah raga. Terus main sama par tetangga.''
''Mumpung di sini, Yang . Udah ah! Jangan bahas pekerjaan. Liburan ya liburan.''
Tidak habis pikir dengan istri itu. Biasanya wanita paling suka di ajak liburan dan bisa menghabiskan waktu bersama pasangan. Lah ini dia malah mengkhawatirkan pekerjaan.
''Nanti kalau kamu bangkrut aku gak mau Lo sama kamu.''
''Oh. Jadi selama ini kamu cintanya sama hartaku."
''Yah, masih belum sada, kah? Mana ada perempuan jaman sekarang yang mau sama cowok kere.'' Kata Zahwa menekan.
Dia sedikit memiringkan tubuhnya. Membelakangi Hanan . Pura-pura kesal dan mengancam.
''Baiklah Nona. Jika anda menyukai saya karena harta saya. Dengan senang hati saya akan memberikan semua itu untuk ada.''
Hanan tiba-tiba sudah berdiri di depan Zahwa.
Membuat terkejut. Dia menatap tajam ke arah Zahwa. Sedikit demi sedikit mendekatkan tubuhnya ke Zahwa.
__ADS_1
Zahwa yang masih tercengang, hanya bisa menarik tubuhnya berlahan dan kemudian terpaku karena tangan Hanan sudah mengunci tubuhnya. Matanya menatap tajam, dengan senyuman jahil.
''Aku cuma bercanda!" Seru Zahwa.
Dia mencoba bangkit dari kursinya. Tapi Hanan mencegahnya.
''Nasi sudah menjadi bubur Nona. Anda jual saya beli.'' Kata Hanan menambah ketakutan Zahwa.
Zahwa menutup matanya. Wajah Hanan semakin dekat. Nafas nya terdengar dan tubuh panasnya bisa dia rasakan. Zahwa semakin mempererat memejamkan mata.
Sudah bisa di pastikan jika Hanan seperti ini pasti dia menginginkan dirinya. Walau sudah sering melakukan tapi tetap saja. Zahwa masih merasa takut.
Dengan gerakan cepat. Hanan meraih tubuh Zahwa dan mengangkat tubuh mungil itu dalam dekapannya.
Zahwa pasrah dengan apa yang di lakukan suaminya. Dia selalu lupa ,menggodanya untuk menjauh. Akan semakin membuatnya mendekat.
''Sayang, kita akan tetap di sini sampai kamu positif hamil.'' Bisik Hanan lirih di telinga Zahwa.
Sontak membuat Zahwa membuka matanya. Terbelalak tercengang dengan apa yang barusan suaminya ucapkan. Hanan dengan senyum jahil menanti dirinya membuka mata. Dia sudah di rebahkan di tempat tidur.
Hanan manarik tubuhnya, dan kemudian berpindah berbaring miring di sampingnya.
''Gak mungkin lah Mas.Nanti kalau lama gimana?'' Ujar Zahwa.
Dia menghitung waktu dengan jarinya. Dan pandangan mesumnya.
''Apaa ! Itu mah enak di kamu. Akunya enggak.'' Sewot Zahwa.
Sehari melakukan saja bisa membuat Zahwa seharian kecapekan. Apalagi empat kali.
Bagaimana nasibnya nanti.
''Yah kan namanya usaha. Ayolah Yang, aku pengen cepat punya anak. Beberapa hari ini aku lihat anak kecil rasanya pengen gendong terus. Naluri ke ayahan ku sudah keluar.'' Jelas Hanan dengan sok sok an.
Zahwa gemas melihatnya.Dan tanpa sadar menampolnya.
''Gaya. Entar, beneran punya anak. Malah aku di cuekin,"
''Ya enggak lah. Tambah sayang malah. Kamu kan ibu dari anak-anakku. Satu - satunya cinta ku.'' Rayu Hanan dengan wajah menggemaskan.
Dia seperti anak yang sedang merayu Ibunya untuk di belikan jajan. Zahwa semakin gemas melihatnya.
Tapi mendengar permintaan Hanan. Tiba-tiba Zahwa bungkam senyuman memudar
__ADS_1
Sudah lama pernikahan mereka.Tapi sampai saat ini belum ada tanda-tanda bahwa mereka akan memiliki putra.
Tanpa sepengetahuan Hanan. Sebenarnya Zahwa sudah sering membeli taspeck tapi belum juga mendapatkan hasil positif. Membayangkan jika tiba-tiba taspeck tersebut menunjukkan dua garis dan kemudian memberikan kejutan kepada suaminya. Sudah bisa di bayangkan bagaimana bahagia mereka nantinya. Tapi sampai sekarang, hal tersebut belum terjadi kepada mereka.
''Tapi Yang. Sampai saat ini aku belum hamil, apa jangan - jangan _"
Belum juga Zahwa melanjutkan bicara Hanan sudah mencium bibirnya. Spontan membuat Zahwa terbelalak.
''Anak adalah titipan. Kita hanya perlu berikhtiar, selebihnya biarkan Alloh yang mengurus. Satu hal , apapun nantinya. Aku bisa menjanjikan bahwa kita akan tetap bersama. Selamanya... '' Kata Hanan selepas mencium Zahwa.
Zahwa menangis terharu. Bahagia mendapatkan suami Hanan. Tanpa berkata, dia tahu apa yang sedang dia fikiran.
Satu hal yang kadang tidak di miliki pasangan lainnya. Adalah ketika dia bisa mengerti keadaan kita, tanpa harus kita berbicara apalagi menjelaskan.
Baru saja mereka ingin memadu cinta. Pintu Villa di ketuk ada seseorang berkunjung.
''Siapa yang datang malam - malam seperti ini
Mengganggu saja." Kesal Hanan.
Dia merapikan kemejanya dan kemudian dengan kasar keluar kamar. Membuat Zahwa terkekeh melihat tingkah suaminya. Dia pun segera merapikan bajunya dan mengenakan hijabnya. Zahwa juga ingin tahu siapa yang bertamu
''Siapa Mas?'' Tanya Zahwa ketika sampai di ruang tamu.
Zahwa melihat seorang bapak dan lelaki yang tidak dia kenal. Mungkin saja warga sekitar. Tapi kenapa wajah mereka begitu tegang.
''Kenalkan,Beliau paman Sam. Adik dari ibuku.'' Kata Hanan.
Dengan segera Zahwa bersalaman dengan beliau. Mencium punggung tangan beliau dan bersalam saja pada lelaki di sebelahnya.
''Dia Zahwa istriku,'' Kata Hanan.
Kedua wajah lelaki di depannya itu kembali menegang. Terkejut, seakan hal tersebut adalah berita tidak baik.
''Saya buatkan minum. Silahkan kalian melanjutkan ngobrolnya.'' Kata Zahwa.
Dia segera kembali ke belakang. Menuju dapur membuatkan minum untuk mereka. Tiba-tiba saja hatinya bergetar tak karuan. Entah kenapa, ada rasa ke khawatir menyelinap begitu saja
Semestinya dia bahagia karena kerabat dari suaminya berkunjung. Dia bisa lebih dekat dengan mereka juga.
Tapi melihat raut wajah mereka membuat Zahwa kembali di rundung pilu. Kenapa mereka seakan tidak suka dengan ke hadiran dirinya
Mungkinkah karena selama ini tidak ada yang mengetahui soal pernikahan mereka. Dan sampai sekarang belum ada yang memberitahukan mereka. Hingga membuat kecewa. Apalagi paman saudara masih di bilang dekat.
__ADS_1
''Semoga tidak ada hal buruk lainya,'' Batin Zahwa berdoa.