
***
Setelah Dokter Very pulang semua kembali ke aktivitas biasanya. Bedanya hari ini Hanan tidak masuk ke kantor dan harus banyak istirahat.
"Non, makan dulu. Dari pagi belum makan, nanti ikut sakit," Kata Bik asih. Zahwa baru saja turun dari tangga. Wajahnya tidak berias apapun. Seperti bangun tidur.
"Iya bik, ini mau makan. Mumpung mas Hanan sedang tidur." Balas Zahwa.
Bik asih yang mulanya ingin pergi entah kemana, langsung beranjak ke dapur. Menyiapkan makanan untuk Zahwa.
"Elena. Dia tidak kelihatan. Kemana dia bik?'' Tanya Zahwa melihat suasana sepi dan tidak menemukan dirinya setelah pertemuan mereka bersama dokter Very.
"Tadi pamit keluar sebentar, Non" Jawab bik Asih.
"Oh,"
Zahwa mulai makan perutnya sangat lapar. Karena harus mengurus Hanan yang sakit dia hampir lupa makan.
Bik asih tiba-tiba mengeluarkan ponsel, memotret Zahwa yang sedang asyik makan.
"Kenapa di foto, Bik? "
"Saya tadi di minta Mas Surya untuk memastikan Non Zahwa makan. Jadi ini sebagai tanda buktinya Hehehehe," Kekeh bik Asih.
Zahwa tersenyum melihat tingkah Bik Asih. Mengingat Surya dia bahkan masih saja memperhatikan dirinya. Meskipun waktu lalu dia sudah sering membuat nya marah dan pasti menyakiti hatinya.
"Bilang sama mas Surya. Aku sudah makan, jadi tidak perlu khawatir lagi." Kata Zahwa, mungkin hanya itu yang bisa dia lakukan untuk membalas perhatian Surya.
Di tempat lain.
Surya tersenyum menerima chat dari Bik Asih dan juga salam dari Zahwa.
"Apa tentang mbak Zahwa?" Tanya Elena
Mereka sedang duduk di sebuah taman dekat dengan kantor Surya. Beberapa waktu yang lalu Elena meminta bertemu dengan Surya di luar rumah karena ada hal yang tidak bisa mereka bicarakan di dalam rumah.
"Tidak, " Jawab Surya menutupi.
"Mas Surya tidak perlu menyembunyikan tentang hubungan mas dengan mbak Zahwa. Aku tahu yang sebenarnya." Kata Elena. Surya terkejut mendengarnya.
__ADS_1
"Apa yang kamu tahu , aku dan Zahwa tidak ada hubungan apa-apa." Elak Surya. Berharap Elena hanya mengada-ada.
"Aku tahu semuanya. Saat mas Surya memberikan aku baju pertama kali, sebenarnya itu semua untuk mbak Zahwa kan? Mungkin mas Lupa mengambil kartu nama atas nama mbak Zahwa." Terang Elena.
"Bik asih pernah bilang jika kamu sebenarnya mempunyai kekasih. Tapi sampai sekarang tidak pernah kamu ajak main ke rumah. Aku yang orang baru . Malah kamu biarkan tinggal di rumahmu." Lanjut Elena.
"Zahwa juga. Dia kemarin cerita. Jika pernikahannya dengan Mas Hanan karena terpaksa. Bahkan sampai sekarang mereka belum melakukan hubungan suami istri yang semestinya." Tambah Elena.
Surya tidak menyangka jika Elena begitu memperhatikan semuanya. Dia kira Elena lugu dan pendiam.
"Perhatian mu kepada Zahwa berbeda. Kamu selalu memandang nya penuh kasih," lanjut Elena.
Surya diam. Perempuan di samping nya itu tidak seperti bayangannya.
"Aku akan membantu untuk menyatukan kalian. Aku melihat Zahwa juga kurang bahagia bersama mas Hanan." Kata Elena.
"Tidak. Aku merasa dia sudah mulai mencintai Hanan."
"Berarti benar. Jika Zahwa adalah kekasihmu!" Seru Elena.
Surya diam. Tanpa sadar dia berterus terang tentang hubungannya dengan Zahwa.
"Aku tidak akan menceritakan kepada siapapun. Tapi aku juga ingin membantu mu untuk mendapatkan mbak Zahwa lagi. Aku tidak tega melihat kalian terpisah seperti ini." Kata Elena, memperhatikan perhatiannya. Surya tersentuh dengan perhatian Elena, bersyukur ada orang yang masih mendukung nya untuk mendapatkan Zahwa lagi.
"Karena itulah. Perjuangankan cintamu. Karena yang bisa membuat mbak Zahwa bahagia adalah Mas Surya." Kata Elena dengan meyakinkan.
Elena membuat Surya kembali ingin mendapatkan Zahwa lagi. Mungkin seharusnya begitu. Jika antara Hanan dan Zahwa tidak ada cinta, kenapa mereka harus bersama? Itu akan menyakitkan untuk mereka berdua.
Di rumah.
Zahwa sedang mengupas buah-buahan untuk hanan. Sedang Hanan sedang asyik membaca bukunya.
"Apa kamu tidak bosan dengan buku-buku mu itu?" Tanya Zahwa. Dia sedari tadi Hanan hanya fokus pada bukunya saja.
"Aku menghilangkan bosan dengan membaca buku. Jika kamu tidak suka. Diamlah!"
"Sepertinya aku harus menjadi buku agar kamu bisa memperhatikan," kata Zahwa. Dia merajuk membuat Hanan menurunkan bukunya dan melihat Zahwa.
"Aku membaca buku hanya satu kali. Jika aku sudah mengkhatamkan buku tersebut.Aku tidak akan membacanya kembali. Apa kamu ingin seperti itu?"
__ADS_1
"Hah! Sombong sekali kamu tuan!"
"Itu urusanku," cuek Hanan.
Tidak lama kemudian ponsel Hanan berdering. Dengan sigap Hanan segera mengambil ponselnya tersebut. Tertera nama Zahra di layar ponsel itu. Zahwa membuang muka ketika dia juga tahu siapa yang menelepon suaminya.
"Assalamualaikum, Mas Hanan." Suara Zahra terdengar dari sebrang telpon itu. Zahwa juga mendengarnya. Hanan sengaja membuat panggilan itu terdengar keras dengan menekan tombol loads speaker.
"Waalaikumsalam , ada apa Zahra? " Tanya Hanan .
Zahwa yang merasa tidak enak ingin beranjak . Tapi di cegah oleh Hanan. Dia menarik tangan Zahwa sebelum dia pergi. Mengisyaratkan untuk mengambil kan buah yang sudah dia kupas tadi. Untuk dia makan.
"Apa Mas Hanan sedang tidak sibuk. Maaf jika Zahra mengganggu Mas Hanan. "
"Tidak. Ada apa?"
"Abi mau pulang. Kembali ke Jombang. Jika Mas tidak keberatan , bisa mampir ke rumah nanti. Abi ingin bertemu Mas Hanan sebelum dia pulang, " Tutur Zahra. Zahwa mendengar itu langsung mengerutkan dahinya ada urusan apa Mas Hanan dengan abunya Zahra ? Sedekat itukah? Mungkin itu yang tersirat dari wajahnya.
"Maaf Zahra. Sebenarnya Aku sedang tidak enak badan. Jadi salam untuk Abi mu. Maaf kan jika hari ini tidak bisa menemuinya. Mungkin Mas Surya bisa," Kata Hanan.
Sedikit mematahkan anggapan Zahwa. Ternyata tidak hanya Hanan saja yang dekat dengan Abinya Zahra. Tapi juga Surya juga.
"Abi...Mas Hanan Sakit. Dia tidak bisa ke sini." Terdengar Zahra berbicara agak keras kepada Abunya. Dia tidak tahu, jika di posisi Hanan telepon itu sedang di losd speaker.
"Kita ke rumah mereka saja kalau begitu." Kata kyai Jauhar terdengar , menjawab perkataan Zahra.
"Mas Hanan. Abi minta ke Rumah mas? Apa boleh?" Kali ini Zahra meminta izin , dan mengatakan apa yang di bilang abinya tadi.
Hanan masih diam. Dia meminta persetujuan Zahwa. Zahwa juga tidak enak menolaknya dan hanya mengangguk mengiyakan.
"Tidak apa-apa Zahra. Kehormatan, jika Abi mu mau bertamu di rumah ku." Kata Hanan.
"Maaf ya mas. Jika merepotkan." Kata Zahra merasa tidak enak.
"Tidak apa-apa. Akhirnya dan Mas Surya pasti senang dengan kunjungan kalian nanti. "
Setelah beberapa kali percakapan lagi, telpon di akhiri. Kini Hanan berganti harus menjelaskan kepada Zahwa, dia sudah sudah menunggu penjelasan darinya sepertinya.
"Aku sudah tahu semuanya. Aku akan menyiapkan beberapa makanan dan camilan untuk menyambut mereka nanti. " Kata Zahwa. Tanpa menunggu Hanan menjelaskan semuanya, dia sudah kabur saja keluar kamar.
__ADS_1
Jika bukan aku yang memberi tahu , pasti Kak Surya
. Dan sekali lagi, kamu membuat ku tidak berarti Zahwa.