
*Aku tahu, kamu hadir hanya untuk sementara. Aku tahu jika suatu hari kamu akan pergi dariku.
Aku tahu aku hanya sebatas bayangan untuk mu, tak lebih dari itu.
pergilah! Aku akan merelakan itu.
pergilah! Pergilah! Pergilah!*
Hati Hanan berkecamuk. Hari yang dia takutkan telah terjadi. Di mana dia harus menerima kenyataan hubungan antara Kakak dan Istrinya secara terang-terangan.
"Mas Hanan! Dengar penjelasan ku!" Zahwa masih belum menyerah. Dia terus mengejar deru langkah kaki Hanan. Dia mulai takut suaminya salah faham.
"Pergilah Zahwa! Apa kamu belum cukup melakukan itu semua kepadaku!" Bentak Hanan, kali ini dia mengeluarkan emosinya. Tidak peduli jika saat itu banyak orang yang sedang melihat mereka. Banyak lisan yang mulai ingin campur urusan mereka.
"Kamu bersama ku! Tapi kamu mencintai Mas Surya. Kamu menjadi istri ku, tapi yang selama ini yang kamu pikirkan hanya Kakak ku. Kalian hanya menganggap ku orang bodoh! Kau pikir aku ini apa!"
"Aku tidak mencintaimu! Jadi pergilah! Kembalilah kepada kakak ku. Aku melepaskan mu!" Seruan itu meluap begitu saja. Menggores luka tiada tara.
Melepaskan adalah cara Hanan untuk melanjutkan kehidupannya selanjutnya.
"Apa itu keputusanmu? Apa kamu tidak ingin mendengarkan aku?" tanya Zahwa. Dia sudah lelah. Semua orang mengatakan keputusannya hari ini. Sekali lagi dia harus mengikuti keputusan mereka tanpa mendengarkan keputusannya, bahkan apa yang menjadi keinginan.
"Zahwa. Biarkan Hanan sendiri dulu," Kata Surya. Zahwa menatap tajam ke arah Surya .
"Kau puas sekarang! Oh... Untuk apa aku menyalahkan mu?! Sejak awal aku lah yang salah!"
Zahwa pergi. Dia muak dengan semua masalah ini.
Tidak ada yang tahu persis siapa yang benar-benar bersalah saat ini. Tidak ada yang mengetahui pula siapa yang sebenarnya paling terluka saat ini.
"Aku akan bicara dengan Hanan. Kamu istirahatlah," Pinta Surya.
Hanan sudah pergi. Dia tidak berpaling melihat kondisi istrinya. Meninggalkannya begitu saja dengan semua kejanggalan dalam hatinya.
"Aku lelah," Kata itu yang terucap.
Surya juga tidak tega melihat Zahwa seperti itu. Dia terbuai dengan perkataan Elena dengan ingin membuat nya cemburu dan mengetahui perasaan yang sesungguhnya kepadanya. Tidak di sangka kali ini dia melihat bahwa perasaan itu sudah tidak ada lagi, perasaan itu telah hilang. Yang kini dia lihat adalah perasaan Zahwa kepada Suaminya, kepada Hanan.
***
__ADS_1
Malam itu Zahwa mengemasi barang-barangnya dan tanpa orang mengetahuinya dia pergi dari rumah itu. Meninggalkan sepucuk surat untuk suaminya.
**Assalamualaikum,
aku minta maaf. Aku salah. Selama ini aku membohongimu. Kamu berhak marah. Itu keputusan ku. Kamu tidak perlu sungkan.
Terima kasih. Sudah menjadi suami idial untuk ku. Walaupun kamu tidak pernah mencintaiku. Mungkin kamu benar. Bahwa kita harus saling merelakan. Jika aku bersama mu terus, itu akan semakin menyakitimu bukan? Kamu bebas sekarang. Sepertinya katamu.
Jaga kesehatanmu,
Aku meletakkan vitamin mu di laci paling atas dekat tempat tidur mu. Jangan lupa meminumnya.
Aku meletakkan kemeja di sisi lemari sebelah kiri. Buku-buku mu sebagian aku letakkan di ruang kerja mu. Saat buku-buku itu ada di kamar kamu akan lupa untuk tidur dan melakukan apapun.
Jangan terlalu sibuk. Kamu tidak mempunyai tugas lagi untuk menghidupi aku lagi. Jaga kesehatan mu. Makan yang banyak. Kamu bebas menerima roti dari karyawan magang mu juga.
Aku terlalu banyak bicara, ya...
Pasti kamu akan muak dengan diri ku saat ini .
Mas Hanan, terimakasih, ya ....
Maaf jika aku tidak bisa mengembalikan semua barang yang kamu berikan kepada ku. Aku meminta izin untuk menyimpannya.
Karena selama ini kamu selalu melindungi ku dan menjaga ku. Kapan lalu ada seorang yang mengatakan bahwa kamu lah yang menyuruh orang untuk menyembunyikan high heels itu. Agar aku tidak memakainya lagi dan membuat kaki ku sakit.
Mas Hanan terimakasih...
Kerena selama ini aku hanya menyusahkan dirimu, tidak menjadi istri yang sempurna untuk mu dan kamu tetap menerima ku. Kamu tidak pernah memaksaku. Terima kasih telah menjaga ku.
Jika tidak mencintai ku adalah keputusan mu. Aku harus apa?
Aku bisa berusaha menjadi Istri yang sempurna, tapi aku tidak bisa membuat mu untuk mencintai ku.
Sekali lagi, jaga kesehatan mu. Jika tidak, cepat lah mencari istri lagi. Agar ada yang yang mengurus mu. Zahra wanita yang baik. Kamu bisa mempertimbangkan dia. Lagipula kamu menyukainya. Mudah nantinya rasa suka itu akan menjadi cinta**.
"Hanan! Di mana Zahwa?" Tanya Surya.
Sudah hampir siang, tapi dia tidak menemukan Zahwa.
__ADS_1
"Apa kamu mencintai Dia?" Tanya Hanan tajam .
"Aku_
"Jika mencintainya kenapa kamu membiarkan dirinya pergi. Hah! Perasaan cinta macam apa itu? Membiarkan dia pergi begitu saja?!"
"Apa yang kamu katakan? Kamu pikir aku menginginkan itu?! Jika saja aku bisa aku tidak akan membiarkan dirinya pergi sedetik pun dari ku . Tapi aku tidak kuasa akan itu. Dia tidak lagi mencintaiku seperti dulu. Tapi mencintaimu!!" Kata Surya. Dia yang menjadi korban sebenarnya dia yang merasakan sakit yang paling dalam.
"Apa kamu sedang melimpah kesalahan mu pada ku? Hah! Sejak awal, jika saja kamu terus terang tentang Zahwa adalah kekasih mu kepada orang tua kita semua ini tidak akan terjadi. Aku tidak harus menikahinya dan kalian bisa bahagia sekarang . Tidak perlu melibatkan aku.Tidak perlu membuat ku menjadi pecundang karena dikira merebut kekasih kakakku sendiri." Hanan sama emosinya.
"Kamu sudah mengetahui itu? Sejak kapan?" Tanya Surya, dia kecewa lagi. Adiknya ternyata sudah mengetahui segalanya sejak lama.
"Apa kamu pikir aku bodoh. Aku diam karena menunggu kalian mengatakan nya sendiri pada ku. Aku yang kalian bohong i selama ini!" Bentak Hanan.
"Mas Surya, Mas Hanan, bertengkar tidak akan menyelesaikan semuanya. Kita harus mencari Non Zahwa sekarang. Maaf, jika bibi lancang ikut campur masalah ini. Tapi bibi tidak tahan jika ini menyangkut Non Zahwa. Sekarang dia sedang sendiri." Sahut Bik Asih melerai Kakak beradik itu .
Hanan dan Surya meredakan emosi mereka masing-masing. Benar apa kata Bik Asih , mereka harus menemukan Zahwa saat ini.
"Bik Asih tahu, dimana kira-kira Zahwa pergi?" Tanya Surya.
"Mungkin dia pulang ke rumah, Mas." Jawab Bik Asih. Hanya itu kemungkinan yang benar saat ini .
"Kita harus segera pergi sekarang," Ujar Surya
Surya dan Bik Asih segera pergi. Hanan masih berdiri mematung.
"Kamu tidak ingin pergi? " tanya Surya menyadari jika Hanan tidak ikut beranjak pergi.
"Kamu saja. Aku ada urusan." Jawab Hanan. Dia tidak ingin ada bantahan, terlihat dari mata dan tingkahnya. Surya tidak bicara. Hanya menggeleng kepala dan segera pergi.
Hanan memungut kembali surat dari Zahwa kembali. Dia menyembunyikannya tadi saat Surya akan datang menemuinya. Melanjutkan membaca surat tersebut.
*Dan tentang aku dan Mas Surya. Aku tidak akan menyayangkan, karena itulah kebenarannya. Aku mencintai kakak mu . Itulah yang tejadi saat itu. Tapi aku menikah dengan mu. Itulah takdir ku.
Aku tidak pernah memiliki kesempatan untuk memilih salah satunya , karena itu terjadi begitu saja.
Andai kan bisa memilih. Mungkin aku akan memilih kakak mu. Kami saling mencintai sebelumnya. Kami juga sudah merencanakan pernikahan sebelumnya. Terlebih aku tidak ingin membuat mu sakit hati
Tapi takdir berkata lain bukan? Aku menjadi Istri mu. Semua aku pasrahkan kepadamu. Aku tidak ingin lagi ada kebohongan dan rahasia di antara kita.
__ADS_1
Sekali lagi aku minta maaf. Aku akan menghormati keputusan mu. Karena kamu adalah Suami Ku, itu tidak akan mengubah apapun yang telah terjadi.
Wassalamu'alaikum*