
Malam ini, tidak hanya kedua mempelai saja yang merasakannya debaran - debaran yang ambigu. Tapi juga Zahwa dan Hanan yang saat itu berpisah tempat.
Baru beberapa lama lalu, mereka masih bercengkrama bertiga. Malam ini, keluarga mereka akan menambah personal lagi. Tak lain, tak bukan adalah Zahra. Wanita yang memang mereka ingin jadikan pendamping kakaknya.
Waktu memiliki cara sendiri dalam memutar takdir. Kadang kala, mereka berjalan lambat untuk membuat mereka merasa pasrah akan penantian juga. Kadang pula, akan berjalan cepat. Ketika waktu yang telah di tentukan telah tiba.
Suara sholawat menggema, bertalu-talu memenuhi penjuru pondok Assidiqiyah. Beberapa tamu sudah memenuhi tempat yang telah di persiapkan.
Kyai Jauhari keluar dari dhalem. Mengapit tangan kanan Surya. Di kirinya, ada Gus Hakim sebagai tamu kehormatan pada malam hari itu.
Ternyata beliau tidak seperti yang di pikirkan. Dia muda, benar. Termuda dari jajaran para gawagis yang di undang pada acara tersebut. Termuda yang memenuhi syarat untuk berkiprah di dunia pesantren salaf.
Tetapi kenyataannya, Beliau datang bersama Istri dan ke dua putranya. Beliau menginjak umur 35 lima tahun lebih muda dari pada yang di bayangkan.
''Drun, itu siapa yang rawuh?'' Tanya Surya.
Gus Hakim rawuh ke kediaman kyai Jauhari Sehabis sholat duhur. Saat itu para santri baru saja akan berangkat ke makbarroh untuk menghantamkan Al Quran dan juga membaca doa Khotmil Qur'an.
''Beliau Gus Hakim.'' Badrun menjawab.
''Loh loh kok sudah beristri? Katamu muda.''
Surya terkejut melihat Gus Hakim datang bersama istri dan kedua putranya. Saat itu dia masih mengira jika Gus hakim yang akan menikah Zahra.
''Usianya masih 35 kang. Dari gawagis lainya, beliau yang mempunyai jam terbang yang lumayan banyak." Terang Badrun.
Tapi bukan itu pertanyaan yang ingin di jawab. Kenapa kyai Jauhari memperbolehkan Zahra di mana? Itulah pertanyaan yang jelas dalam benaknya saat itu.
''Iya tapi dia sudah beristri Lo drun, '' Surya mempertegas.
Badrun menatap heran Surya. Lalu kenapa jika Gus hakim sudah beristri? Sudah sewajarnya bukan?
''La terus kenapa? wajar to kang."
Surya semakin bingung. Ingin sekali dia bertanya banyak hal. Tapi pertanyaan itu harus dia tunda, karena dia di timbali kyai Jauhari.
''Drun? Kok tak interogasi. Awak mu nak kene ae.'' Ujar Surya.
''Tapi kang_''
__ADS_1
Badrun mau memberi tahukan sesuatu. Tapi Surya sudah keburu pergi.
Dia pergi membawa banyak tanda tanya di benaknya. Dia menghadap Kyai Jauhari, sungkem pada beliau dan juga Gus Hakim yang saat itu memang sedang ada di situ.
''Niki yai calonipun ( Ini yai calonnya )?"
Baru sebentar saja Surya ikut duduk di sana. Gus hakim menanyakan hal tersebut.
''Nggeh Gus. Pangestune nggeh. Mugi-mugi barokah , maslahat sedantene (Ya Gus. Minta doa restunya. Semoga berkah dan manfaat semuanya)''
''Amin amin amin...''
Gus hakim memperhatikan Surya dengan manggut-manggut. Dia juga menepuk-nepuk pelan pundak Surya.
''La mana Zahra. Kok belum kelihatan?" tanya Gus Hakim , dia penasaran dengan sosok Zahra sekarang . Sudah lama mereka tidak bertemu.
''Ini mau di jemput Gus. Sampai Juanda nanti jam setengah empat. Badrun, baru saja aku suruh berangkat."
''Kok ya memepet pulangnya yai. Npo mboten kesusu mengke?(Apa tidak tergesa-gesa nanti)''
''Insya Alloh mboten. Badrun niku pembalap kok Gus. ''
Atau mungkin benar, jika bukan Gus hakim yang akan menikahi Zahra? Lalu siapa? Jika di lihat semua persiapan tidak mungkin jika semua ini hanya untuk dirinya. Badrun juga bilang jika Zahra juga akan menikah? Semua persiapan pernikahan semua serba mewah. Tukang rias pengantin pun juga di pesan khusus yang terbaik di kota ini. Tapi sampai sekarang dia tidak tahu siapa sebenarnya calon Zahra.
Dari pada itu, dia juga mulai cemas. Sampai sekarang, dia juga belum bertemu dengan calon istrinya. Setidaknya keluarganya saja, jika dia tidak di perbolehkan untuk mengetahui sosok calon istrinya tersebut. Bayangan, akan pernikahan yang samar-samar seperti ini mulai membuatnya ragu. Apakah keputusannya menikah sekarang benar atau tidak?
''Kalau begitu ayo kita ke makbarroh.''
Kyai Jauhari berdiri, di susul dengan Gus hakim. Surya tertegun, Indra pendengarannya mendadak tuli. Dia sama sekali tidak mendengar apa saja yang di bicarakan oleh Kyai dan Gus nya itum Dia hanya tunduk dan mengikuti beliau berdua pergi ke Makbarrohm
''Abah, Saya boleh ajak Hanan?"
''Iyo, Iyo...Monggo - Monggo."
Surya tersenyum. Bukan maksud menipu apalagi mempermainkan kyainya tersebut. Tapi dia ingin bertemu dengan Badrun terlebih dahulu. Hanya dia yang bisa menjawab semua pertanyaannya sekarang. Dan nanti, dia benar akan mengajak Hanan bersamanya ke Makbarroh. Setelah semuanya jelas.
Surya melipir menjauh, dia langsung mencari Badrun di garasi Dhalem. Surya melihat mobil INNOVA hitam akan keluar dari halaman pondok. Sudah di pastikan jika itu adalah Badrun yang akan menjemput Zahra dan Hanif. Untunglah dia belum keluar dari gerbang, jadi Surya bisa menghentikannya.
''Berhenti sebentar kang!"
__ADS_1
Surya tiba-tiba berdiri di depan mobil tersebut . Untung saja Badrun bisa langsung mengendalikan mobil tersebut. Jika tidak, pasti Surya sudah di tabrakannya.
''Ada apa kang? Aku mau jemput Ning Zahra sama Gus Hanif Lo, nanti telat.''
Badrun turun dari mobil .
"Sek kang? Aku mau tanya?"
''Apa lagi to?''
''Sebenarnya siapa calon suami Zahra?"
Badrun tidak langsung menjawab. Dia tertegun bingung dan juga menatap aneh pada Surya.
''Jangan ngajak guyon sekarang to kang. Kalau saya gak jemput Ning Zahra, kamu mau Ijab Qobulnya di batalin?''
Surya mencoba mencerna setiap kalimat yang di ucapkan oleh Badrun. Dia mengingat obrolan saat mereka pulang dari Juanda kemarin. Jika dirinya akan menikah bersama Zahra.
Seperti tersambar petir. Surya diam, tanpa bergerak. Memori tentang obrolannya dengan Abah yai saat malam beliau telponan dengan Zahra juga ikut terputar di benaknya.
Dia ingat, jika saat itu Abah yai mengatakan.'' Semoga kamu bisa membimbing dia, dia masih seperti anak kecil. Sama seperti ibunya ''. Dia yang di maksud adalah Zahra dan semoga yang di ucapkan adalah doa beliau untuk dirinya. Karena saat itu Abah yai juga tidak menyebut nama siapapun lagi.
'' Wes ya kang. Aku tak menjemput calon istri mu dulu , kamu sing tenang! aman aman dalam lindunganku, nyawa akan aku taruhkan.''
Badrun mengatakan dengan bangga. Kemudian dia pergi, meninggalkan Surya yang masih terpaku.
''Sudah siap?"
Kyai Jauhari menjabat tangan Surya erat. Beliau sendiri yang akan menikahkan putrinya sendiri. Surya menatap mata kyai Jauhari. Dengan keteguhan hati dan kepercayaan diri dia mulai berdoa melafazkan bismillah . Semoga di berikan kelancarannya.
''Siap bah,''
Beberapa saat kemudian, lafadz ijab Qobul terdengar lantang di seantero pondok. Semua terlihat tegang, dan was - was menunggu dua kalimat tanya dan jawab tersebut. Bagaimana lagi, kalimat itu menjadi sakral karena setelah itu kehidupan dua insan manusia akan berubah. Perjalanan hidup mereka akan memulai fase dimana seseorang bukan lagi menjadi aku tapi kita.
''Sah....Sah ...Sah...''
Setelah sekian detik,satu kata itu melegakan hati. Pernikahan itu sudah terjadi, Surya dan Zahra.
Lantunan doa berkumandang bergantian. Para kyai sepuh yang juga di undang memberikan hadiah doa untuk pengantin.
__ADS_1
Sahutan kalimat amin... amin... amin terdengar bersahutan. Mereka ikut merasakan kebahagiaan dua insan yang baru saja di satukan.