
Terik matahari mulai membuat peluh keringat di kening. Hal itu membuat kyai Jauhari mulai merasa tidak nyaman. Sudah lama mereka berbincang dia bawah rindangnya pepohonan. Tapi pohon itu sudah tidak kuasa menahan sinar matahari.
Zahra juga melihat Surya kelelahan. Dia berkali-kali, mengusap keringatnya.
''Kau pulanglah dulu. Aku akan menyusul nanti.'' Kata Zahra.
''Kamu gak ikut?'' Tanya Surya penasaran.
''Nanti aku menyusul. Ada keperluan sedikit," Jawab Zahra.
''Keperluan apa? Apa aku boleh tahu?'' Tanya Surya.
Zahra menunjukkan pada salah satu orang di antara dedudukan di pesisir pantai tersebut. Dia sedang duduk, dengan kertas dan penanya. Wajahnya menunduk, tangannya menari-nari di atas kertas tersebut.
''Itu Gus Dharma?'' Tebak Surya.
''Iya. Aku ingin menggodanya sebelum pulang nanti. Boleh kan?'' Izin Zahra.
''Baiklah. Tapi jangan lama-lama. Aku akan cemburu jika kau terlalu lama dengan dirinya.'' Kata Surya.
Zahra tersipu malu. Baru kali ini dia merasakan bahagia karena suaminya cemburu.
''Baiklah tuan ku.'' Balas Zahra.
Surya gemas sekali dengan Zahra. Tapi Abah Yai sudah menunggunya. Jadi dia langsung berpamitan saja.
Zahra berjalan pelan ke arah di mana Dharma sedang duduk. Agar, tidak di ketahui kedatangannya. Tapi, tanpa harus begitu pun Dharma sangat serius dengan apa yang sedang ia tulis.
Dooor
Zahra mengagetkan dirinya. Sontak membuat Dharma terjungkal.
''Astaghfirullah, jika jantung ku copot siapa yang akan memasangnya lagi nanti.'' Semprot Dharma.
Zahwa tertawa puas.
''Lebay, mana ada jantung copot hanya karena di kejutkan."
''Adalah, yang punya penyakit jantung itu. Nyatanya ada sebagai orang bisa mat, karena di kejutkan."
Dia langsung membereskan kertas dan penanya agar tidak di ketahui sepupu perempuannya itu.
''Hem...Hem, gak usah di sembunyikan juga kali . Lihatlah."
__ADS_1
Zahra menunjukkan kertas kusam yang tadi dia temukan.
Dharma melongo. Kenapa bisa kertas itu ada pada dirinya?
"Etss, gak boleh...''
Dharma langsung ingin merebut kertas itu.
''Ceritakan dulu, untuk siapa bait-bait ini?"
Zahra menarik kertas itu lagi. Dan menyimpannya lagi.
''Apa setiap kata harus memiliki tuan?"
''Tidak juga, tapi kata memiliki maknanya adik ku sayang.''
Dharma menghela nafas. Dia lupa, di depannya adalah saudaranya. Yang sama garangnya seperti dirinya.
''Apa ini soal gadis itu? Aku berjanji tidak akan menceritakan apapun kepada siapapun.'' Tebak Zahra.
''Mana bisa seorang wanita seperti itu. Mereka selalu memiliki cara untuk mengungkapkan semua rahasia yang ia pendam sendiri. Entah itu secar langsung , ataupun tidak langsung.''
''Haduh...Aku sedang berhadapan dengan seseorang yang sedang bucin." Keluh Zahra.Dia menepuk jidatnya sediri.
"Ini tak semudah yang di bayangkan, kau bisa mendapatkan orang yang kamu cinta. Tapi entah denganku.'' Dharma mulai membuka cerita. Zahra mengubah posisi, duduk di sampingnya dan kemudian dengan seksama mendengarnya.
''Namanya LaylaSeperti namanya, dia seperti malam. Sunyi, namun menyembunyikan keindahan. Dia salah satu santri yang di kirim kyai Musthofa, Rembang. Di utus mengabdi di sini."
''Lalu?'' Tanya Zahra.
''Entah sejak kapan aku mencintai dirinya. Tapi, setiap hari hati ku terus mengingat dirinya. Dia seperti kebutuhanku, nafas ku dan detak jantung ku.''
''Jika kami mencintainya kenapa kamu tidak melamarnya saja. Itu mudah bagimu.'' todong Zahra.
Dharma tersenyum kecut. Matanya menerawang ke atas awan - awan. Kemudian melihat lautan luas.
''Sudah aku bilang. Ini tak semudah yang di bayangkan. Kau ingat Ning Nada?'' Tanya Dharma. Mungkin dengan mengingat siapa salah satu pemeran dalam hidupnya, Zahra akan sedikit faham.
''Putrinya Kyai Mustofa kan, Yang artinya Ning nya Layla.''
Dharma mengangguk.
''Beberapa hari yang lalu keluarga kyai Mustofa datang ke sini. Beliau melamarku, untuk putrinya Ning Nada.'' Lanjut Dharma.
__ADS_1
Hah! Zahra sontak melongo. Dia tahu bagaimana masyhur nya kyai Mustofa. Begitupun keluarganya, walaupun mereka masih satu buyut tapi kemasyhuran dari keluarga Kyai Musthofa sudah sangat terkenal di kalangan priyayi.
''Terus?'' Zahra semakin penasaran dengan cerita sepupunya.
''Ibu sangat senang. Dan langsung ingin mengiyakan. Tapi, aku meminta untuk istikharah dulu. Walaupun percuma saja, istikharah ku bukan apa-apa di banding Kyai Mustofa. Itu hanya alasan ku saja. Sampai nanti aku bisa mencari alasan untuk menolak lamaran itu.'' jelas Dharma.
''Kalau kamu yakin istikharah mu bukan apa-apa ketimbang Yai Musthofa. Kenapa kamu mau menolaknya? Banyak kalangan dari kita yang ingin menjadi bagian dari keluarga mereka. Kamu pun juga sudah bertahun-tahun mondok di sana. Coba saja, mungkin Ning Nada terbaik untuk mu." Tutur Zahra.
Dia tidak habis pikir kenapa sepupunya itu bodoh . Bisa - bisanya menolak lamaran yang begitu bagus.
''Aku ingin tanya, Jika kamu harus berhenti mencintai Gus Surya, apa kamu sanggup?'' Tanya Dharma. Ada keseriusan di manik kedua matanya.
Zahra diam. Tidak mungkin hal itu terjadi , dia saja hampir gila saat mendengar dia akan menikah dulu.
''Aku juga pernah mencintai seseorang sebelumnya. Tapi saat dia sudah menikah, cinta itu berlahan hilang. Dan tergantikan oleh sosok Mas Surya. Kau pun mungkin sama, lambat laun akan melupakan Layla." Terang Zahra.
Dharma tersenyum kecut. Dia melengos. Tidak ada yang bisa tahu bagaimana perasaannya sekarang.
''Sudahlah, pergi saja. Kau sama saja seperti keluarga lainnya. Hanya memikirkan martabat saja.'' Dharma berdiri dari duduknya. Dan ingin pergi. Merasa percuma berbicara dengan Zahra
''Loh loh...Jangan gitu lah. Aku hanya memberikan saran. Tapi, ya semua tergantung kamu. Nantinya juga kamu yang menjalaninya.''
Zahra mulai tidak enak hati karena menyinggung perasaannya.
''Ok.Terimakasih. Oh iya, selamat ya atas pernikahanmu. Doakan, semoga aku nanti bisa sepertimu. Mendapatkan orang yang aku cintai, tanpa melukai orang lain.''
Sejujurnya Zahra mengerti bagaimana galaunya Dharma. Dia tidak pernah melihat ia se kacau itu. Dia harus memilih antara cinta, atau keluarganya
Cinta yang baru saja kuncup. Kini di ujung ke hancurkan. Putik itu mulai berguguran tanpa bisa di pertahankan.
''Dengar aku. Mungkin dunia tidak berjalan seperti yang kamu inginkan. Tapi, tidak semua seperti itu. Kadang kala, dia juga berputar seperti yang kita pikirkan juga.'' Nasihat Zahra.
Dharma menatap Zahra. Dia masih menghargai sepupu nya , dan masih ingin mendengarnya.
''Ok. Jangan bahas itu lagi. Ayo kita pulang, sepertinya kamu di tinggal oleh suamimu.'' Ujar Dharma.
''Aku yang menyuruhnya pulang duluan. Meminta izin untuk menemuimu terlebih dahulu.'' Kata Zahra. Dia mulai bangkit dari duduknya dan mengikuti langkah Dharma.
''Hah! Kau begitu ingin tahu kisahku atau kau juga sebenarnya dulu pernah menyukaiku?!"
''Hahaha. Efek bucinmu seperti sudah membuat mu berpikir tidak waras.'' Timpal Zahra. Sambil menjewer telinga Dharma.
****
__ADS_1
Note : Dharma ada di scene ini saja . Dia akan menjadi tokoh di novel '' Tilap '' Nantinya ðŸ¤