
Mobil melaju dengan cepat menyusuri jalanan malam. Untungnya tidak terlalu padat, sehingga mereka bisa lebih cepat sampai di rumah.
Di depan rumah sudah banyak kerumunan warga. Membuat semakin was- was.
''Ada apa sebenarnya , kenapa para warga ada di sini juga?'' Tanya Zahwa semakin khawatir. Dalam benaknya sudah menari-nari hal-hal buruk yang sudah terjadi. Itu apa? dia juga belum mengetahui.
''Aku juga tidak tahu. Tapi, kenapa Zahra juga miscall?" Jawab Hanan. Dia sama khawatir. Dia tidak bisa mendukung sebenarnya apa yang sudah terjadi.
''Kamu malah mementingkan Zahra. Sekarang kakak mu dalam masalah."
"Justru itu, aku semakin bingung. Kenapa Mas Surya dan Zahra menghubungi kita secara bersamaan?!" Jelas Hanan. Masih saja Zahwa memikirkan hal lain.
Zahwa diam tak membantah lagi. Dia turun dari mobil dan membuka jalan untuk mobil mereka masuk.
''Permisi Bu, ada mobil yang mau masuk." Kata Zahwa pada beberapa ibu yang sedang berkerumun di depan gerbang rumah.
''La ini Zahwa. Mbak Mas Surya kok bisa Setega itu. Saya tidak menyangka jika dia bisa berbuat seperti itu." Kata salah satu ibu - ibu tersebut. Zahwa semakin bingung.
''Iya, gak nyangka. Astaghfirullah...." Sahut ibu lainya.
Zahwa semakin bingung. Ibu-ibu itu membicarakan hal buruk mengatai Surya dengan sumpah serapah. Zahwa ingin bertanya tapi warga tidak berhenti bicara.
Tin Tin Tin
''Maaf Bu, Bisa minggir. Kami mau lewat!" Seru Hanan. Dia geram dengan para warga yang masih saya berkerumun dan tidak memberikan dia jalan.
Melihat Hanan warga membuka jalan. Tapi masih saja berbicara semena-mena. Zahwa membuka gerbang yang belum sepenuhnya terbuka tidak peduli dengan omongan para warga dan mempersilahkan Mobil masuk.
"Mbak, jika Mas Surya seperti itu. Mendingan jangan tinggal di komplek ini lagi." Kata salah satu warga.
"Betul. Usir mereka!'' Seru warga lainya.
__ADS_1
"Zahwa!" Teriak Hanan. Dia sudah turun dari mobil dan melambaikan tangan untuk segera masuk.
''Maaf Bapak Ibu. Jika kami meresahkan kalian semua. Dan Mohon maaf sekali lagi, untuk meminta ibu dan bapak untuk pulang ke rumah. Saya akan menutup gerbangnya." kata Zahwa. Dia belum mengerti apa yang sedang terjadi. Kenapa Warga begitu marah pada Surya. Dan juga kenapa dengan Zahra. Apa harus hubungannya. Dengan terpaksa. Zahwa menutup gerbang rumah. Yang dia tahu sekarang dia harus menjauh masalah ini dari omongan para warga yang belum tentu benar adanya.
Zahwa berjalan ke arah rumah. Begitu terkejut lagi saat ada dua mobil polisi. Hanan menggandeng tangannya dia tidak kalah cemasnya.
''Ada apa ini mas? kenapa ada polisi segala ,l dan tadi para warga. Mereka semua menghujat Mas Surya." Tanya Zahwa cemas.
''Aku tidak tahu, semua jawabannya ada di dalam."Jawab Hanan. Dia tegang /, tapi masih mencoba menenangkan.
''Pak, berikan kami waktu. Mas Surya tidak mungkin melakukan hal itu. Kalian juga tidak bisa menangkap begitu saja. Bisa saja wanita ini yang berbohong!" Suara keras Zahra menggelegar sampai luas. Membuat Zahwa dan Hanan saling tatap . Semakin bingung dan khawatir.
''Aku yakin Mas Surya tidak melakukan hal yang keji, tidak ada saksi yang bisa menguatkan . Kalian bisa menangkap Mas Surya ketika dia sudah terbukti bersalah. Datangkan Saksi yang bisa menjamin tsiqqoh." tambah Zahra tidak lantang. Dia geram melihat ketidakadilan di depannya.
''Assalamualaikum..." Salam Zahwa dan Hanan bersama.
''Waalaikumsalam..."Jawab mereka
Mereka terperanjat melihat seisi rumah. Pak RT, RW dan para polisi. Elena dengan tangis sendu di pelukan oleh seorang perempuan yang belum mereka kenal. Surya yang berdiri dengan borgol di tangannya. Bik Asih, mengintip pasrah di balik tembok dia juga menangis. Dan ada dua orang lainnya semua lelaki yang entah siapa.
''Dia di tuduh sudah menghamili saudari Elena. Dan menyekapnya di rumah." Kata Pak Polisi.
Hanan menatap tajam ke arah Elena. Ada kemarahan yang membara.
"Sudah aku bilang dia itu ular. Bisa-bisanya dia berbuat seperti ini." Kata Hanan tanpa melepaskan tatapan pada Elena. Jika saja dia bukan perempuan, pasti Hanan sudah menonjoknya.
''Kakakmu sudah menghamili anak saya. Dia harus bertanggung jawab. Jika tidak, dia akan mendekam di penjara." Kata ibu yang sedang mendekap Elena yang sedang menangis. Dia ibu Elena.
''Oh. Anda ibunya ternyata. Memang buah tidak jatuh jauh dari pohonnya.'' Kata Hanan.
''Saya memang wanita penghibur, tapi anak saya tidak pernah sekalipun mengikuti jejak saya." Balas ibu Elena.
__ADS_1
''Dengarkan pak Polisi. Mereka wanita penghibur, mungkin saja dia hamil anak orang lain. Bukanlah sudah biasa mereka melakukan hal itu.'' Kata Hanan garang. Dia tidak peduli dengan perkataannya yang mungkin menyakitkan.
''Selama lima bulan terakhir Elena di tahan di rumah ini. Mereka tidak pernah membiarkan dia pulang, bahkan saat madam Nor memaksa dia pulang, mereka malah mengancam akan melaporkan ke polisi dan membubarkan lokalisasi kami.'' Bantah Ibu Elena. Dia sama liciknya dengan anaknya. Bermuka dua dan biasa berdusta.
''Kakakmu malah menolong anakmu, Bu! Jika saja tidak ada Kakakku. Anak mu sudah mati, dan sekarang kalian membalas kebaikan dengan melakukan ini. Ah ! Sungguh, sampah akan tetep menjadi sampah!" Hanan seakan kehilangan kesabarannya. Dia mengingat betul bagaimana Surya melindungi Elena. Dan selalu membelanya saat dirinya berkali-kali bilang jika dia adalah wanita jahat.
''Kalian menolong nya tapi kalian juga telah memanfaatkan kepolosan. Tangkap saja pak mereka semua.'' Perintah ibu Elena.
Suasana semakin tegang. Zahwa melihat ke arah Elena dengan tatapan innocent.
"Elena, selama ini kami mempercayaimu .Kami memberikan apa yang kamu butuhkan. Kami juga sudah menganggap mu sebagai keluarga. Bahkan Mas Surya juga membayar hutang-hutang ibumu. Menyiapkan mu kontrakan untuk kalian saat dia akan pergi. Dan ini balasannya? Kenapa kamu menangis? Untuk apa? Aku kecewa denganmu! Aku berkali-kali membel mu di depan suamiku. Tapi, ternyata aku bodoh. Aku tidak percaya. Sekarang kenapa kamu melakukan ini kepada kami? kepada Mas Surya? Apa salah kami? Jawab!" Hardik Zahwa dia begitu marah. Dadanya kian memanas. Wajahnya tegang.
Elena hanya menangis tanpa henti seakan dia memang korban dari perlakuan mereka. Dia tidak menjawab bahkan tidak berani menatap.
''Bawa saya saja pak, yang lainnya jangan." Ucap Surya tiba-tiba. Dia Seakan pasrah. Seketika Zahwa, Hanan, Zahra lunglai mendengarnya.
''Kak. Kamu tidak bersalah, yang harus di penjara mereka.'' Kata Hanan menahan polisi membawa kakaknya.
''Tenanglah,aku akan baik-baik saja. Kumpulan bukti sebanyak-banyaknya. Tapi untuk saat ini biarkan polisi melakukan tugasnya. Aku akan baik-baik saja." Tutur Surya.
Hanan menatap lemas. Kedua wanita lain di ruang itu Zahwa dan Zahra mereka juga menatap merana. Kenapa dia begitu tegarnya? Ada guratan kekecewaan tapi tidak ada rasa amarah bahkan rasa ingin melawan. Dia pasrah dan tenang.
''Mas, aku percaya kamu tidak melakukan hal itu. Aku janji akan membantu Hanan dan Zahwa menemukan bukti-bukti itu. Mas yang sabar, ya.'' Tutur Zahra. Entah sejak kapan dia menangis dia seakan merasakan sakit tak terhingga melihat Surya seperti itu.
''Iya. Kamu baik-baik, ya. Aku tidak apa-apa. Terima kasih sudah membelaku. Maaf kalau aku merepotkanmu." Balas Surya, dia memberikan pengertian dan menunjukan bahwa dia baik-baik saja.
"Izinkan aku ikut bersamamu.'' Pinta Zahra. Sejak kapan rasa sakit itu ada dia tidak tahu. Tapi saat melihat Surya semakin jauh dia tidak bisa menahannya.
''Kamu di sini saja. Sudah malam. Pulang dan istirahat. Pakai mobil ku jika pulang nanti atau mintalah Hanan dan Zahwa mengantarmu.'' Pesan Surya. Dia sudah akan di tuntun polisi keluar rumah.
Air mata berlinang begitu deras. Zahra menangis tersedu-sedu. Zahwa menghampiri dan menyenderkan tubuhnya kepadanya. Kedua wanita itu sedang seling menguatkan. Sedang Surya di sudah pasrah di bawa ke dalam mobil polisi masih sempatnya dia tersenyum membuktikan bahwa dia baik-baik saja.
__ADS_1
Hanan tidak bisa melakukan apapun kecuali melempar barang di depannya dengan marah.
Bapak RT dan RW menenangkan kami. Mereka meminta pamit berpesan jika mereka perlu bantuan mereka siap untuk itu. Setidaknya mereka masih percaya.Tidak seperti warga lainnya yang sudah tercemar dengan rumor begitu saja.