Hati Yang Terpilih

Hati Yang Terpilih
Episode 66


__ADS_3

Sore itu, Surya menghentikan mobilnya di halaman masjid besar pinggir jalan. Dia keluar dan melihat sekeliling masjid tersebut, meamastikan jika masjid itu adalah tujuannya. Langkah kakinya menuju sebuah serambi masjid tersebut, dia mendengar riuh lantunan ayat-ayat Al Qur'an. Di sana di melihat Zahra berada di tengah-tengah para anak yang melantunkan ayat suci Al Quran tersebut. Dengan senyum sumringah Zahra menuntun anak-anak tersebut .


Tanpa sadar Surya melangkah ke arah mereka. Zahra terkejut melihat kedatangan Surya. Namun, Surya langsung mengisyaratkan bahwa dia tidak perlu khawatir dan meneruskan mengajar anak-anak.


Surya memutuskan untuk menunggu di serambi depan, setelah sebelumnya dia menunaikan sholat ashar. Hampir setengah jam, akhirnya Zahra selesai mengajar anak - anak. Dia langsung menghampiri Surya setelah murid nya pulang semua.


"Mas Surya? kok bisa di sini ?" Tanya Zahra. Di tidak enak diri karena membuat Surya menunggu.


"Sengaja mencari mu, aku tanya Hanif tadi dan katanya kamu kalau sore mengajar anak-anak di Masjid ini." Jawab Surya.


"Kan bisa nelpon aku langsung, aku bisa datang ke kantor mas atau rumah mas. Jadi gak usah susah-susah nyariin aku." Kata Zahra.


"Tadi sudah mencoba telpon dan WhatsApp kamu. Tapi gak kamu balas."


"Masak?" Zahra tidak percaya dan langsung mencari ponsel dalam tasnya. Dan menemukan nya dalam keadaan mati.


"Kenapa? baterainya habis?'' Tanya Surya, dia melihat Zahra mencoba menyalakan ponselnya. Tapi tetap tidak bisa.


"Aku lupa charger tadi. Maaf ya," Jawab Zahra. dia menyesali kecerobohannya.


"Tidak apa-apa, santai. Toh dengan begitu aku bisa tahu kegiatan mu selain kuliah dan bekerja." Ujar Surya. Zahra tersenyum.


"Oh, iya? Ada perlu apa Mas Surya mencariku? Apa ini soal tawaran Abah?"


"Iya. Insya Allah aku menyanggupi. Tapi butuh waktu. Jangan sekarang."


"Alhamdulillah. Nanti aku sampaikan kabar ini langsung ke Abah. Beliau pasti senang."


Ada binar bahagia di wajah Zahra. Usaha dan Amanah Abahnya bisa ia jalankan dengan baik dan membuahkan hasil yang baik pula.


"Tapi Ra, apa aku boleh meminta syarat?" Tanya Surya.


Zahra memicingkan matanya dia mencari tahu apa yang menjadi syarat Surya.


"Apa Mas?" Tanya Zahra.

__ADS_1


"Ajari aku beberapa kitab-kitab pesantren . Setidaknya aku sampai di sana tidak dungu - dungu nemen." Jawab Surya. Dengan meringis.


"Bisa saja mas, tapi aku cuman punya waktu saat sore seperti ini. Malam aku sudah harus di rumah mas, gak boleh keluar kecuali kalo memang ada keperluan penting." Kata Zahra.


Meskipun dia jauh dari pantauan orang tua, dia tetap menuruti aturan orang tuanya. Menjaga martabat dan kehormatan orang tuanya.


"Oh baiklah gak papa. Tiap sore aku akan ke sini .Tapi jika perlu sedikit lagi waktu, bisakah kita di sini sampai habis magrib." Tawar Surya .


"Baiklah." Balas Zahra


"Alhamdulillah, tadi aku sudah bawa beberapa kitab. Tapi kamu lihat, apa kitab itu juga di ajarkan di pesantren mu atau tidak." Kata Surya. Tanpa menunggu dia menuju mobilnya dan mengambil beberapa tumpuk kitab yang ia maksud.


"Ini , ada Wassoya , Tagrib , Alala , safinatunnaja , tasrif ,dan nafsu shorof."


Zahra membuka-buka kitab di depan itu. Dia kagum melihat isi kitab tersebut, huruf Pegon berjajar rapi dan begitu mudah dia baca maknanya. Sesekali dia melihat ke arah Surya yang masih berbicara tentang kitab-kitab yang dia punya. Dia menganggap bahwa dia tidak begitu faham dan mempelajari nya saat dia masih SMA dan beberapa saat ia sudah di Cairo.


"Zahra, gimana? Apa kitab ini juga di pelajari di pesantren mu juga?" tanya Surya. Dia mengulangi pertanyaannya itu beberapa kali, Zahra seperti terfokus dengan kitab di depannya.


"Eh. Iya, mas. Kitab-kitab ini, semua di pelajari di pondok. Pada tingkat ibtidaiyah. Syukurlah, Mas sudah pernah mempelajarinya." Jawab Zahra. Dia belum percaya dengan apa yang dia ketahui sekarang. Laki-laki di depannya mempunyai banyak rahasia dan kejutan di dalamnya. Tidak salah jika Abahnya pernah menawarkan dirinya untuk menjadi menantunya. Mungkinkah ini masih hal kecil yang baru dia ketahui?


"Hai, Zahra ? Ada apa? kenapa melihat ku begitu?"


Zahra gelagapan . Sadar dari lamunan dan tatapannya. Telapak tangan Surya yang dia kibaskan di depan matanya membuatnya sadar.


"Ah,tidak. Tidak menyangka saja jika Mas Surya sudah mempunyai banyak kitab ini."


"Kamu ngenyek aku, ya..." Elak Surya.


Bisa-bisanya Zahra kagum pada dirinya yang sama sekali belum memenuhi syarat untuk masuk pesantren. Apalagi membantu mengembangkan. Padahal dia sendiri yang bilang, kalau kitab yang dia punya adalah kitab ibtidaiyah , yang artinya masih kitab kelas awal. Dia menjadi pesimis. Tapi dalam hatinya, dia ingin bisa mempelajari lebih dalam lagi. Dan bisa belajar kitab-kitab lainnya juga.


"Tidak mas, Ini surprise untuk ku. Aku kira malah mas belum pernah mempelajari kitab-kitab ini."


"Hehehe, nemen ya aku."


Zahra tersenyum. Di tidak pernah bermaksud merendahkan Surya. Bahkan sebaliknya, dia semakin penasaran dengan laki-laki di depannya itu.

__ADS_1


"Gak kok. Keren malah." Puji Zahra.


Keduanya tertawa bersama. Tanpa mereka sadari hari mulai sore, senja mulai menyapa.


"Besok saja kita mulai. Hari ini cukup Mukoddimah." Ujar Zahra. Surya mengangguk dia membereskan kitab-kitab tersebut. Dan segera mengembalikan ke dalam mobil.


Zahra melihat Surya menenteng Kitab tersebut dengan cara mendekap di dadanya sama seperti santri-santri lainya. Dan sebelum meletakkan di dasbor mobil dia mengecup kitab tersebut di bagian depan dan belakangnya. Aish, kenapa tiba-tiba dia terpesona melihat pemandangan tersebut, mungkinkah dia sedang merindukan pemandangan tersebut.


Di rumah dia biasa melihat santri melakukan hal yang sama seperti itu. Mereka sangat menghormati kitab-kitab tersebut, bahkan seperti menganggap kitab tersebut adalah harta berharga. Yang saat di tinggal saja, mereka akan menciumnya terlebih dahulu.


"Ra, mau cilok?'' tawar Surya dari kejauhan. Dia menunjuk ke arah penjual cilok di luar gerbang masjid tersebut. Di sana penjual cilok sudah di kerumunan oleh pembeli yang mayoritas anak-anak.


Zahra menjawab dengan anggukan. Dengan langkah pasti Surya menuju penjualan cilok tersebut, di mengantri dengan beberapa orang pembeli lainya. Sesekali dia bercanda dengan anak-anak yang juga sedang menunggu cilok mereka. Melihat itu semua, bibir Zahra tidak bisa berhenti mengembang.


Beberapa saat kemudian. Surya sudah membawa satu kantong plastik hitam. Berisi dua bungkus cilok yang sudah lengkap dengan bumbu dan sunduknya.


"Silahkan," Ujar Surya memberikan satu porsi kepada Zahra. Dia menerimanya.


"Aku punya cerita tentang cilok. Kamu mau mendengarkan?" Tanya Surya.


"Bagaimana ceritanya?"


"Dulu, saat aku di berkunjung di pesantren teman ku aku pernah mendengar ustadz menerangkan soal cilok. Aku tidak tahu apa itu kitab yang sedang dia bacakan kepada muridnya. Hanya saja aku mendengar penjelasannya."


"Mas pernah mondok?" tanya Zahra.


"Tidak. Saat itu aku hanya berkunjung. Dan kebetulan saat itu ada ustadz sedang membaca kan kitab dan aku sedikit mendengarkan dia menjelaskan kitab tersebut. Tapi yang aku ingat hanya soal cilok." Jawab Surya menjelaskan.


"Hahaha. Terus?" Zahra penasaran.


"Dia berkata sama muridnya. Jika kita itu harus bersyukur, banyak orang di luar sana mempunyai kekayaan, uang milyaran tapi tidak pernah merasakan nikmatnya. Sedang kalian, maksud ku muridnya itu, bisa merasakan nikmat yang luar biasa dengan hanya membeli cilok saja. Walaupun hanya dua ribu rupiah saja." Cerita Surya.


"Wah bisa jadi filosofi tersendiri itu nantinya." Ujar Zahra.


"Hal kecil, tapi luar biasa." Kata Surya.

__ADS_1


Zahra mengangguk. Keduanya menikmati cilok masing-masing. Ada yang bilang, kenikmatan pada cilok terletak pada serutan terakhir, apalagi saat memakannya itu langsung dari plastiknya.


__ADS_2