
''Jadi sayang. Karena projects mu selesai berkat Ku, hadiah apa yang kamu berikan?" Tanya Zahwa. Dia sedang mencuci piring setelah mereka makan malam. Hanan masih di meja makan, menikmati kopi nya dan juga koran di tangannya.
''Kamu mau apa?" tanya balik Hanan tanpa melihat Zahwa.
"Apa aja deh, terserah." Jawab Zahwa
"Kenapa wanita setiap kali di tanya ingin apa jawaban terserah. Jika lelaki memberikan senyum doang, wanita tetap mau." Ujar Hanan dengan menebar senyum untuk Zahwa.
"Apaan itu?" Sewot Zahwa.
"Katanya terserah. Ini juga pemberian Lo, senyum manis khusus untuk istri ku."
"Ya, yang lain. Apa gitu, senyuman? Apaan..."
"Hehehe. Aku sih sudah merencanakan, tapi takutnya kamu gak suka."
"Aku pasti suka. Semua hadiah mu selama ini aku menyukainya,'' Kali ini Zahwa berbinar. Membayangkan banyak kejutan atau hal - hal indah lainya.
"Ok. Sekarang bersiaplah," kata Hanan , dia lebih berbinar daripada Zahwa. Membuat Zahwa curiga.
"Apa maksud binar wajahmu? Aku curiga." Kata Zahwa. Kali ini dia sudah selesai membersihkan dapur.
"Katanya kamu akan menyukai apapun yang akan aku berikan? kenapa masih curiga saja. Ayolah!" Kata Hanan.
"Ok. Sekarang kita bersiap kemana?" Tanya Zahwa. Dia sudah menuju kamar mereka yang ada di lantai dua.
"Kita ke kamar." Jawab Hanan.
"Iya. kita ke kamar, bukankah kamu ingin aku bersiap. Setelah itu kamu mau mengajak ku kemana?" Tanya Zahwa.
"Ke kamar." Jawab Hanan lagi. Membuat Zahwa jengkel. Menurutnya suaminya tidak faham akan maksudnya.
"Iya, aku tahu kita ke kamar. Setelah itu kita ke mana? aku perlu berdandan seperti apa?" Tanya Zahwa. Mereka sudah di kamar, Zahwa sudah memilih pakaian di dalam lemarinya.
"Kita nggak Kemana-mana. Kita di sini." Jawab Hanan. Dia menghentikan Zahwa memilih baju.
"Lah, terus?" Pandangan Zahwa mulai curiga .
"Iya, di sini. Hadiahnya aku." Kata Hanan.
"Apaan sih Mas,bilang aja kalau gak mau memberikan aku hadiah. Gak papa. aku gak maksa."
"Mau? Hadiahnya terlalu istimewa bagiku, jadi ya? Aku bingung mau bilangnya." Hanan terlihat canggung. Membuat Zahwa semakin curiga dan penasaran.
"Apa? Bilang saja. Atau aku sendiri yang mengambilnya."
"Aku? Hadiahnya aku?"
"Hah!" Zahwa semakin tidak mengerti.
Hanan mendekati dirinya. Meraih tangannya mengelus - elus lembut
.
__ADS_1
"Emm... Janji jangan marah dulu," Kata Hanan.
"Ok. Aku tidak akan marah. Jadi apa?" Zahwa semakin penasaran.
Hanan menghela nafas. Dia seakan ragu untuk mengatakan sesuatu. Membuat Zahwa was-was dan penasaran.
"Aku pengen punya Anak.''
"Hah!'
"Iya aku pengen punya anak. Karena itu, aku bilang kalau aku hadiahnya. Aku ingin benih ku di terima tanpa adanya keterpaksaan, dengan penuh kesadaran dan juga cinta. Aku ingin benih ku benar-benar matang. Karena itu, maukah kamu mau mengandung anak-anak ku?" Kata Hanan penuh cinta. lembut dan berperasaan.
Zahwa masih diam, dia mencerna setiap kata dan tatapan manja. Antara terkejut dan terharu. Seringkali dia merayu, tapi tidak seindah ini.
''Sayang?" Panggil Hanan
"Ah. Jujur, aku terharu. Mas Hanan, aku harap kamu sedang tidak bercanda, atau merayu saja."
"Tidak. Jujur, beberapa hari aku ingin mengatakan ini. Tapi masih ragu."
"Kenapa?''
"Aku sedang menunggumu. Menerimaku sepenuhnya."
"Kamu masih meragukanku?" Tanya Zahwa sedih.
"Tidak. Masih merasa ngambang saja rasanya . Kau tau setiap kali aku melihat mu, terkadang bayangan dirimu dan Mas Surya masih ada di benakku. Begitu sebaliknya. Maaf, bukan berarti aku tidak mempercayaimu."
"Maaf ya Mas. Kalau aku masih saja sering membuat mu sakit hati. Tapi jujur, seperti apapun hubungan kita terbentuk. Aku tidak pernah berfikir lagi untuk meninggalkan mu, apalagi membagi cinta ku."
"I Love You too." Jawab Zahwa dengan memeluk Suaminya.
"Btw, Maaf ya mas jika aku menyakiti kamu lagi,'' Kata Zahwa dalam pelukan.
''Apa lagi?''
"Sebenarnya, habis magrib tadi aku Haid." Kata Zahwa dengan melepaskan pelukan. Hanan melengos pasrah. Mau bagaimana lagi, hal yang paling menyebalkan adalah ketika di momen seperti ini.
''Kenapa gak bilang?" Kata Hanan yang langsung merebahkan tubuhnya di kasur.
"Hehehehe. Kan gak tanya, Lagipula masih tadi kok." Balas Zahwa. Dia ikut duduk di ranjang. Memandang wajah suaminya yang nelangsa.
"Ya, sudahlah. Mau bagaimana lagi.Tapi benar sayang. Aku pengen punya anak." Kata Hanan . Dia menarik tubuh Zahwa hingga dia tengkurap di atas tubuhnya.
''Iya iya. Insya Allah."
''Sering aku melihat karyawan ku saat istirahat dia meminta izin untuk menjemput anaknya sekolah . Saat itu aku merasa, bahwa menjadi seorang ayah itu luar biasa. Dia bekerja, tapi masih peduli dengan anaknya. Ingin aku merasakan rasa sayang seperti itu.Rasa yang tak ingin kehilangan dan melindungi. Ah! Gak sabar aku!'' Ujar Hanan, dia gemas.
''Menjadi seorang ibu lebih super lagi. Dia mengandung, menyusui,mendidik dan bahkan dia rela menggantikan rasa sakit dari anaknya." Balas Zahwa tak mau kalah.
''Iya, iya. Wanita no 1. Ngomong-ngomong kamu ingin anak berapa? 10 15 atau berapa?'' Tanya Hanan. Zahwa mendelik.
''Memangnya aku kucing apa bisa melahirkan sebanyak itu.'' Jawab Zahwa sebal.
__ADS_1
''Hehehe kalau gak kuat berarti aku nambah istri lagi." Kata Hanan cengengesan .
''Awas aja kalau benar!" Zahwa mencubit dada bidang Hanan. Membuatnya malah tertawa lebar.
''Bercanda sayang. Aku cuma ingin kamu yang melahirkan anak-anak ku kelak. Emmmuach," Hanan memeluk Zahwa mesra dan mencium pipinya gemas
''Jika kamu ingin punya istri lagi, nunggu aku mati dulu. Setelah itu aku rela," Kata Zahwa.
''Usttt! Gak boleh bilang seperti itu, kita akan selalu bersama. Aku juga tidak akan menggantikan mu dengan siapapun. Hanya ada aku, kamu dan calon anak kita." Kata Hanan dengan meraba perut Zahwa. Seakan di dalam perutnya sudah ada janinnya.
''Uluh-uluh gombal suamiku sayang.''
"Gak gombal. Mana bisa aku gombal."
''Itu barusan."
''Itu hanya untuk kamu, aku gak bisa mengatakannya untuk orang lain lagi."
"Masak?'
''Serius!"
''Buktinya apa?'' Tanya Zahwa.
Hanan langsung mencium bibirnya, membuat Zahwa tidak bisa berkata ataupun bertanya.
''Sudah. Aku kalah," Kata Zahwa setelah lolos dari ciuman Hanan.
''Jangan lagi menanyakan bukti. Apapun aku sanggup membuktikannya." Kata Hanan dengan bangga.
Sejurus kemudian Ponsel Zahwa berdering. Dia bangkit dari posisinya dan meraih ponsel yang berada di Nakas.
''Siapa?'' Tanya Hanan.
''Bik Asih Mas, ada apa ya. Tumben?'' Jawab Zahwa dan segera mengangkat telpon tersebut.
''Mengganggu saja." Ujar Hanan. Dia menelusup kan tangannya di perut Zahwa. Menempelkan pipi di punggungnya.
''Kamu itu mas, bisa diam sebentar, gak?! Ini Bik Asih sedang telpon.'' Seru Zahwa karena sedikit risih .
''Aku diam. Gak ganggu! Cuman pengen gini aja." Katanya memelas seperti anak kecil. Zahwa pasrah
"Assalamualaikum, Bik. Ada apa?'' Tanya Zahwa
"Waalaikumsalam, Non. Maaf ganggu, Non. Tapi ini gawat, Mas Surya ... Tut Tut Tut...''
''Hallo, Bik? Bik... Bik..." Tidak ada sahutan. Wajah Zahwa menjadi tegang. Telpon terputus.
''Ada apa?" Tanya Hanan
"Gak tau mas, tapi bik Asih telpon nadanya ketakutan dan khawatir. Dia menyebutkan nama Mas Surya. Dan telpon terputus." Jawab Zahwa tegang.
''Coba telpon rumah." Kata Hanan. Zahwa menuruti apa perkataannya. Keduanya tegang . Tidak biasanya bik asih menelpon. Hanan mengambil ponselnya dan dia menemukan panggilan tak terjawab juga dari Zahra. Hanan memperhatikan layar ponsel kepada Zahwa. Keduanya bertahan tegang.
__ADS_1
''Kita ke rumah saja!'' Seru Zahwa
Hanan menyetujuinya. Mereka bergegas berkemas dan berangkat ke sana.