
Pagi sekali Zahra sudah mendatangi rumah Surya. Semalam dia tidak di perbolehkan untuk datang karena sudah terlalu malam.
''Assalamualaikum..." Salam Zahra.
''Waalaikumsalam..." Balas Bik Asih. Dia sudah membukakan pintu untuk Zahra.
''Bik Asih. Selamat pagi.'' Sapa Zahra.
''Pagi Mbak. Silahkan masuk." Balas Bik Asih.
Zahra masuk kedalam rumah. Duduk di sofa ruang tamu.
''Mas Hanan sama Mbak Zahwa ada Bik?'' Tanya Zahra.
''Loh, mereka sekarang tinggal ada di rumah Non Zahwa." Jawab Bik Asih.
''Iya, tapi bukanya kemarin ada di rumah sini . Saya kira mereka menginap di sini.''
''Tidak. Mereka langsung pulang.''
''Siapa Bik?'' Tanya Elena keluar dari kamarnya . Dia masih memakai piyama tidurnya. Dengan rambut di kuncir asal di belakang.
''Mbak Zahra.'' Jawab Bik Asih.
Elena melihat Zahra dengan senyum ramah. Sedang Zahra sudah merasa risih dengan hadirnya dirinya.
''Ada apa Mbak? nyari Mbak Zahwa atau Mas Hanan?'' Tanya Elena pada Zahra. Dia seperti tuan rumah yang menemui tamunya.
''Iya... Saya kesini untuk menemui mereka. Ternyata mereka tidak ada. Kalau begitu saya pamit saja.'' Ujar Zahra dia sudah akan beranjak.
''Kenapa tidak ngobrol dengan ku dulu. Lagipula teman calon suami ku juga pasti teman ku kan.'' Katanya dengan sok.
''Apa maksud perkataan mu?'' Tanya Zahra bingung..
''Jika bukan Surya, maka Hanan yang akan menjadi suami ku nanti. Tapi aku berharap, Mas Hanan lah yang akan menjadi suami ku . Dia sungguh menawan." Jawab Elena dengan birahi . Membuat Zahra jijik.
__ADS_1
''Apa maksud mu Elena. Kamu tidak akan pernah mendapatkan ke duanya. Mas Surya apalagi Mas Hanan . Kamu tidaklah pantas dengan mereka, jika sifat mu masih seperti itu.'' Kata Zahra.
''Terus aku harus bagaimana Mbak? Apa aku harus berhijab seperti mu, santun dan berpendidikan. Aku juga bisa? Bahkan aku akan melakukan itu jika salah satu dari mereka menginginkannya. Aku akan menjadi istri Sholehah aku akan menuruti apapun perkataan mereka. Aku bisa. Aku sanggup akan itu. Dan lagi, aku mungkin lebih menarik daripada Zahwa. Dia bahkan tidak tahu cara bermain di ranjang.'' Terang Elena
''Astaghfirullahhaladzim... Istikhfar... Kamu sudah kelewat batas.'' Kata Zahra. Dia tidak habis fikir dengan Elena. Sesama wanita seharusnya bisa saling menjaga, tapi tidak dia bahkan ingin menghancurkan kehidupan wanita lainya.
''Kenapa? Apa aku salah ? Apa aku tidak pantas mendapatkan lelaki seperti mereka? Aku juga wanita seperti mu,aku juga mempunyai perasaan. Kalian yang menganggap dirinya suci tidak akan pernah tahu bagaimana perasaan ku. Bagaimana impian ku? Apa salah jika aku belum berhijab? Hah aku bisa melakukannya.''
''Bagaimana kami bisa mengerti perasaan mu. Jika diri mu sendiri saja menjauh dari kami semua. Malah berbuat hal yang menjijikan seperti ini. Aku sebagai wanita malu. Maaf Elena, bukan ingin mengurangi atau apa, sebelum terlambat cepatlah tobat. Sudahi semua ini. Aku yakin mereka semua bisa memaafkan mu. Setiap orang berhak mendapatkan kesempatan." Tutur Zahra
''Apa yang kamu pikirkan mbak? Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Aku hamil dan aku ingin anak ku mempunyai ayah seperti Mas Surya. Aku ingin memiliki keluarga yang utuh. Aku ingin bahagia. Sama seperti keluarga lainya. Aku berhak akan itu. Aku tidak mau hidup ku dan anak ku sama seperti kehidupan ibu ku. Aku tidak mau.''
''Kenapa kamu bisa begitu yakin bahwa semua yang kamu lakukan adalah benar. Dan semua akan berakhir bahagia? Apa kamu pikir setelah membuat orang terluka kamu akan bahagia? Tidak! Hidupmu akan hancur! Apalagi Mas Surya bukalah ayah yang sebenarnya anak mu. Kamu bohong! Kamu hanya memfitnah Mas Surya. Untuk keuntungan mu sendiri. Untuk kebahagiaan mu sendiri. Kamu Egois Elena! '' Bentak Zahra.
''Stop Mbak! Iya Ini bukan anak dari Mas Surya. Bahkan aku tidak tahu ini anak siapa. Kamu puas sekarang!'' Balas Elena.
''Aku akan mengatakan ini kepada mereka semua. Kamu tidak akan bisa lari lagi Elena.'' kata Zahra seraya beranjak dari duduknya. Dia baru saja mendengar kebenaran.
''Apa yang akan kamu lakukan mbak? Mengatakan pada mereka bahwa aku mengandung anak orang lain dan bukan Mas Surya? bodoh sekali kamu Mbak . Bahkan kamu tidak memiliki bukti tentang percakapan kita. Kamu hanya akan di anggap mengada-ada.'' Kata Elena.
''Apa kamu mencintai Mas Surya Mbak?'' tanya Elena.
''Aku tidak harus mencintai seseorang untuk membongkar kejahatan.'' Jawab Zahra. Dia menatap Elena tajam.
''Oh sayang sekali mbak. Aku pikir kita akan bisa bekerjasama. Aku dengan Mas Hanan dan aku rela menyerahkan Mas Surya untuk mu .'' Kata Elena tidak tahu malu.
''Keduanya bukan milik mu. Ingat itu. Mereka juga bukan barang yang bisa di ambil dan di lempar begitu saja." Balas Zahra.
''Terserah! Tapi aku akan memiliki salah satunya.'' Kata Elena.
''Berbicara dengan mu aku bisa gila." Zahra pantas pergi tanpa berpamitan sama sekali.
Dia berjalan cepat segera masuk dalam mobilnya dan langsung mengendarainya.Menyusuri jalanan.
Dia menuju kantor polisi. Menemui Surya, dia harus menceritakan semuanya.
__ADS_1
''Tumben pagi?" tanya Surya setelah mereka bertemu. Dia masih sama seperti pertama kali dia temui kemarin. Hanya saja yang membuatnya sedih dia sudah berganti baju tahanan. Dia seperti penjahat lainnya.
''Ada yang ingin aku ceritakan.Aku tadi ke rumah mu dan bertemu dengan Elena.'' Jawab Zahra.
Sesaat setelah dia bertemu dengan Surya dan melihat keadaannya sekarang dia ragu. Apakah dia harus cerita tentang pengakuan Elena tadi atau tidak. Takut, saat Surya mendengarnya dia memilih di penjara saja. Dari pada harus melihat Hanan menjadi gantinya. Zahra tidak tega melihat Surya di hukum, sedang dia tidak bersalah sama sekali.
''Hay, kok ngelamun? Ada masalah?'' Tanya Surya. Lama melihat Zahra hanya berdiam, memandang kosong.
''Ah, tidak.'' Jawab Zahra. Sedikit gelagapan.
''Ada apa? Apa Elena berbuat macam-macam dengan mu?'' Tanya Surya khawatir.
''Dia gila mas. Gak waras, sinting.'' Jawab Zahra kesal.
''Ada apa Lo? kamu kok sampai berani bilang seperti itu."
''Sebenarnya, dia .. '' Agak ragu Zahra ingin mengatakan kebenaran. Tapi masih was-was dengan sekuensinya nanti.
''Kok gak di lanjutkan?''
''Sebenarnya tadi Elena mengakui jika anak dalam kandungannya bukan anak mu. Dia ingin kamu atau mas Hanan menikahi dirinya.'' Jawab Zahra.
''Kamu serius? Alhamdulillah..." Seru Surya gembira
''Tapi mas, kita tidak mempunyai bukti jika dia sudah mengakui kebohongannya.''
''Ada, kamu pergilah ke rumah Zahwa ceritakan semuanya kepada mereka. Mereka yang akan menyelesaikan semuanya. Terimakasih Zahra. Kamu sudah menyelamatkan aku.'' Ucap Surya
''Aku masih bingung? Tapi baiklah, semoga semuanya cepat terselesaikan." Balas Zahra
''Sekali lagi Terima kasih ya Ra.'' Ucap Surya
Matanya berbinar. Zahra memberikan senyum mengembang. Syukurlah. Jika memang obrolan dia dan Elena tadi bisa membantu membebaskan Surya. Walaupun di belum tahu juga bagaimana caranya. Sedang dia tidak mempunyai bukti lain.
Zahra menuruti Surya untuk segera pergi ke rumah Zahwa dan menceritakan semuanya.
__ADS_1