Hati Yang Terpilih

Hati Yang Terpilih
Episode 40


__ADS_3

Zahwa mengikuti kemana Hanan pergi. Dia sedang menyiapkan sesuatu di taman belakang, ada gazebo di tengah taman itu. Dia terlihat sedang membersihkan gazebo itu walaupun sebenarnya sudah terlihat bersih. Tapi dia memastikannya kembali .


"Ada yang bisa aku bantu?" Tanya Zahwa mencoba mencari tahu apa yang sedang ingin Hanan siapkan atau kerjakan.


"Tidak, terimakasih," Jawab Hanan. Dia menghindar Zahwa yang sedang berusaha berbicara dengannya.


Hanan kembali ke dalam rumah . Zahwa melihat gazebo itu dan sedikit membersihkan nya lagi.


Beberapa menit kemudian, Hanan sudah kembali dengan membawa beberapa cemilan di atas nampan. Masih menghiraukan Zahwa , dia meletakkan cemilan itu di pojokan gazebo itu.


"Apa akan ada tamu? Aku bisa membantu menyiapkan," tanya Zahwa. Dia menebak mungkin saja Hanan sedang menyiapkan gazebo itu untuk seseorang.


"Tidak perlu. Kamu pergi saja," jawab Hanan dia masih saja bersikap dingin.


Zahwa merasa Hanan kali ini sedang tidak ingin di ganggu. Sikap dinginnya kembali di perlihatkan lagi.


Dengan pelan Zahwa menuruti apa yang di katakan Hanan. Dia pergi , dan membiarkan Hanan sibuk sendiri.


***


Malam hari.


Zahwa masih belum bisa mengajak Hanan untuk berbicara dengan dirinya. Hanya kata " iya dan tidak "yang terlontar. Itu membuat Zahwa semakin tersiksa.


Lebih baik  bertengkar dari pada mendapatkan diam seperti itu.


Sehabis isya' beberapa teman Hanan bertamu. Karena itulah Hanan begitu sibuk menyiapkan segala sesuatunya tadi.


"Bik, apa sudah ada yang menyiapkan minuman di gazebo? " Tanya Zahwa. Dia pikir mungkin bisa membantu Hanan melayani teman-temannya.


"Sudah Non. Mbak Elena baru saja pergi membawa minuman," jawab bik asih .


Zahwa kecewa dia takut jika dia ke sana tanpa alasan akan menggangu Hanan dan teman-temannya. Terlebih Hanan masih marah kepadanya.


Zahwa berjalan mendekati pintu. Melihat keseruan Hanan dan teman-temannya. Dia melihat ada Alfin dan Zahra juga ada di sana.


"Ini istri mu, Nan? Kata Hanif kamu sudah nikah? " Tanya salah satu temannya itu. Membuat semua orang memperhatikan Elena yang sedang membawakan minuman untuk mereka.


"Bukan," Jawab Hanif cepat .


"Eh, bukan. Aku kira dia istri mu, cantik soalnya. " Kata temanya tadi.


Elena tersipu malu mendapati dirinya menjadi pusat perhatian teman-teman Hanan.


"Pergilah jika sudah selesai," Kata Hanan pada Elena.


Elena dengan senyum mengiyakan perkataan Hanan.


"Saya permisi dulu, selamat menikmati." Kata Elena sebelum dia pergi.


Semua terlihat tersanjung dengan kesopanan Elena. Dia terlihat lembut dan sopan kepada siapapun.


"Istri mu mana? Apa jangan-jangan dia jelek ya. Sampai kamu tidak ingin mengenalkan pada kami . Bahkan pernikahan mu saja kamu menyembunyikannya," lontar teman Hanan lagi.

__ADS_1


"Leo, diam! Jika kamu melihat istri Hanan pasti kamu akan menyesal mengatakan itu semua!" Bentak Hanif. Dia merasa bersalah, karena menceritakan tentang Hanan yang sudah menikah.


"Aku jadi penasaran. Apa dia lebih cantik dari Zahra? Kamu dulu menyukai Zahra karena kecantikannya kan, " Kata Leo.


Zahwa yang mendengar itu semua kaget. Matanya langsung tertuju pada perempuan cantik berhijab baby pink itu. Dia tersipu malu mendengar perkataan temannya yang secara gamblang dan terang-terangan.  Dua teman perempuan lainya, mulai menggodanya.


"Jika kalian sudah selesai bercanda. Bisakah kita mulai diskusinya, " Kata Hanan


Entah karena dia tidak ingin ada orang yang mengatakan hal buruk kepada Zahwa atau tidak ingin jika ada orang yang menggoda dirinya lagi dengan Zahra.


"Zahwa?!" Panggil Hanif. Dia mengetahui Zahwa sebelum dia sempat beranjak pergi.


Hanan menoleh kearah pintu di mana Zahwa sudah lama berdiri. Zahwa masih ragu untuk menyapa .


"Sini! Gabung dengan kita ! " Seru Hanif. Dia berjalan menghampiri Zahwa yang masih mematung.


"Hai, apa kabar? " Tanya Zahwa setelah Alfin sudah berada di hadapannya.


"Baik. Jangan terlalu formal. Ayo gabungkan dengan kita." Kata Hanif.


"Tidak. Aku sedikit lelah hari ini. Kalian lanjutan kan saja. Jika perlu sesuatu kalian bisa memanggil bik asih." Tolak Zahwa. Dia tidak ingin membuat Hanan semakin marah jika dia hadir diantara mereka. Lagipula, ada Zahra .


"Ah, Sayang sekali. Apa Hanan menyuruhmu bekerja atau melakukan hal yang berat. Jika iya kau akan memukulnya," Kata Hanif bercanda. Zahwa ikut tertawa kecil.


"Tidak. Malah sebaliknya, aku keluar dari pagi Berbelanja dan hanya jalan-jalan saja," Kata Zahwa.


"Oh, Begitu. Kalau begitu ayo ! Aku perkenalkan teman-teman yang lainya," Kata Hanif.


Zahwa tampak ragu. Karena Hanan tidak bergeming  sedikit pun. Tapi Hanif meraih tangan Zahwa, membuat nya tersentak. Ingin melepaskannya, tapi takut menyinggung perasaannya.


"Hai, salam kenal. Saya Zahwa," kata Zahwa memperkenalkan diri.


Mereka bergantian menyalami Zahwa satu persatu.


"Jika perlu sesuatu , jangan sungkan untuk mengatakan. Saya kedalam dulu. Terima kasih," kata Zahwa. Dia ingin segera beranjak.


"Kenapa terburu-buru. Gabung sama kita saja," Kata Leo. Dia yang tadi mengatainya merasa bersalah setelah bertemu dengan dirinya.


"Tidak, sebenarnya saya agak lelah hari ini. Maaf jika tidak bisa bergabung hari ini . Mungkin lain kali," tolak Zahwa.


Ada perasaan kecewa dari taman-taman Hanan . Termasuk Leo , walaupun dia tidak tahu juga. Apa perkataannya tadi terdengar oleh Zahwa atau tidak .


"Mbak Zahra. Boleh minta tolong, jika saya tidak ada dan eman-teman yang lain membutuhkan sesuatu. Jangan sungkan untuk mengambil nya sendiri. Anggap saja rumah sendiri," pesan Zahwa. Sedikit menekan di kalimat terakhirnya.


"Oh... Iya mbak. Terima kasih." Kata Zahra.


Ada hawa yang mencekam ketika kedua perempuan itu saling menatap.


"Aku permisi dulu. Selamat malam," pamit Zahwa. Dia tidak lagi ingin menunggu. Langsung pergi meninggalkan mereka semua.


Seperti di kode , istri pertama rela di madu,"  kata salah satu dari mereka. Berhasil membuat Hanif dan leo meninjunya.


"Kalian mulai saja diskusinya. Aku ada keperluan sebentar, " kata Hanan. Dia bergegas menyusul Zahwa.

__ADS_1


Hanan menaiki tangga , memasuki kamarnya . kosong, Zahwa tidak berada di kamar mereka . Hanan keluar dari kamarnya , mencari di penjuru ruangan lantai dua. Tapi tidak juga menemukan Zahwa.


Ruangan terakhir adalah kamar lukisan itu. Hanan segera masuk tanpa mengetuk. Benar saja Zahwa sedang terbaring meringkuk atas ranjang besar kamar itu.


"Zahwa," panggil Hanan .


Tidak ada jawaban. Bahkan Zahwa tidak bergerak sama sekali.


"Apa kamu sudah tidur?" tanya Hanan dia mulai mendekati Zahwa.


Betapa terkejutnya Hanan setelah melihat Zahwa sedang menahan suaranya. Agar tidak ada yang mendengar dirinya menangis.


"Hai, jangan menangis..." kata Hanan , dia membelai pipi Zahwa yang masih meringkuk.


Hanan mencoba membuatnya duduk dan kemudian memeluknya.


"Aku tidak marah. Jangan menangis," kata Hanan menenangkan.


"Bohong!" Seru Zahwa di sela iskaanya.


"Kamu boleh menghukumku jika aku melakukan itu," Kata Zahwa.


"Jangan merayu ku. Pergilah! Teman - temanmu pasti menunggumu,"


"Tidak. Aku ingin disini,"


"Sudah. Pergilah! " Seru Zahwa. Dia mendorong tubuh Hanan menjauh dari dirinya.


Hanan memeluknya lagi. Semakin erat, hingga Zahwa meronta pun tidak kuasa melepasnya.


"Tenanglah. Aku disini, aku tidak marah. Jangan menyalahkan dirimu sendiri. Apalagi merendahkan harga dirimu," Kata Hanan.


Hanan melonggarkan pelukannya saat Zahwa sudah mulai tenang dan tidak meronta-ronta.


"Aku sudah tidak apa-apa. Pergilah! " kata Zahwa. Dia menghapus air matanya.


"Aku ingin kamu pergi ke sana. Sungguh? " tanya Hanan meyakinkan.


"Temanmu sedang menunggumu. Pergilah! " Seru Zahwa.


"Baiklah, aku akan pergi . Tapi jangan menangis lagi." Pesan Hanan


"Tidak akan,"


"Baiklah," ucap Hanan.


Dia akan beranjak pergi. Namun di tahan oleh Zahwa. Pergelangan tangan Hanan di genggaman dengan erat.


"Hukumannya. Di larang tebar pesona! " Kata Zahwa.


Hanan tertawa. Dia kembali ke hadapan Zahwa.


"Apa kamu cemburu? jika iya, berarti kamu mulai mencintai ku," Kata Hanan

__ADS_1


Zahwa ingin memukulnya, tapi Hanan sudah cepat menghindar dan keluar dari kamar tersebut.


__ADS_2