
''Nduk, kok dereng Sampai- sampai. Acara ijab Qobul nya Ba'da Magrib."
Kyai Jauhari menelpon Zahra yang sekarang sedang dalam perjalanan pulang. Dia cemas, karena putri nya belum kunjung datang. Padahal akad nikahnya sebentar lagi akan di mulai. Apa jadinya jika mempelai wanitanya belum sampai juga.
''Abah. Zahra manut kaleh Abah. Zahra pun pasrah .Mboten nopo-nopo seumpami akad nikahnya mboten wonten Zahra."
''Tapi nduk?Kamu apa gak pengen tahu dulu siapa calon suami mu?''
''Insya Alloh Zahra menerima dia lillahitaala.Abah ampun khawatir, Zahra pun iklhas.''
Zahra mengucapkan kata ikhlas berkali-kali. Membantu Kyai Jauhari bimbang. Apakah keputusannya menikahkannya putri semata wayangnya itu benar atau sekarang dia sedang meninggikan ego nya.
Namun dalam hati kecil kyai Jauhari di sangat yakin. Jika laki-laki pilihnya nanti akan bisa membimbing putrinya bisa menjadi suami pasangan yang baik untuk dunia dan akhiratnya kelak.
''Sampean teko Endi?''
Kyai Jauhari menanyakan posisi Zahra lagi. Kini dengan ketegasan. Menerka, mungkinkah putrinya itu sedang menghindari takdirnya dan memang tidak menginginkan pernikahan ini.
Terdengar hempasan nafas berat dari Zahra. Dia memang sedang memandang nanar ke balik kaca mobil yang sedang melaju pelan itu.
Ingin dia berlari, namun itu tidak bisa ia lakukan. Abah nya adalah satu-satunya orang tuanya sekarang. Beliau sedang meminta sesuatu darinya, sesuatu yang akan mengubah hidupnya.
Selama ini, Abah tidak pernah meminta apapun. Bahkan selalu memberikan apapun yang dia inginkan. Bahkan saat dia meminta izin untuk melanjutkan kuliahnya di UCL. Kuliah di negara asing, yang jarang sekali dari keluarganya lakukan. Namun dengan bangga Abah mengiyakan. Tanpa sedikitpun bertanya, apalagi meragukan keinginannya.
''Aku saja yang bicara dengan paman.''
Hanif mengulurkan tangannya, meminta ponsel Zahra yang masih tersambung dengan kyai Jauhari.
Zahra menggeleng.
"Abah, apa boleh saya bicara sebentar dengan dia.'' Tanya seseorang, suara lelaki. Zahra tertegun, dia seperti mengenali suara itu. Dan kenapa , tiba-tiba hatinya bergetar setelah mendengar suara laki-laki itu. Siapa dia, apakah dia calon suaminya?
Terdengar gesekan dari ponsel tersebut, mungkin karena berpindah dari tangan empunya.
''Assalamualaikum...''
Deg. Kini suara itu begitu jelas. Dia mengingat suara itu. Suara yang dia rindukan juga. Tapi kenapa dia?
Masihkah belum puas dengan kenyataan yang menyayatkan hati. Dia juga akan menikah bukan, tapi kenapa dia yang berbicara dengannya sekarang.
Hatinya sudah tersungkur begitu dalam. Dan kini, dia harus terpukul berkali-kali lagi.
''Waalaikumsalam, Mas Surya...''
__ADS_1
Zahra menyebutkan nama dari seorang yang ada di balik telpon tersebut.
Terdengar tawa dari seberang sana, bisa terbayang. Jika Surya sedang tersenyum, karena Zahra langsung bisa mengenali suaranya.
''Kamu ada di mana? Masih lama?'' Tanya Surya tenang.
''Aku _
Zahra langsung melihat ke arah jalanan yang sedang mereka lewat. Mencari tahu, di mana posisinya saat ini.
''Aku sudah sampai perbatasan kota,''
Zahra langsung menjawab begitu saja.
Tidak ada yang bersuara. Keduanya diam, namun jaringan masih menyambungkan ke dua nomer ponsel mereka .
''Oh. Iya, selamat ya Mas Surya. Aku mendengar kabar, jika Mas Surya akan menikah juga.''
Zahra memberanikan diri, mungkin hanya saat inilah dia akan bisa mengucapkan selamat kepada laki-laki itu. Dia, tidak yakin jika nanti saat bertatap muka dengannya akan sanggup mengatakan hal tersebut.
Jangankan mengucapkan, mungkin untuk bertemu lagi saja,dia tidak mampu dan tidak ingin lagi. Zahra ingin mengubur dalam-dalam perasaan cintanya terhadap laki-laki tersebut. Sama seperti yang ia lakukan terhadap adiknya dulu.
''Hehehe. Terimakasih, tapi sepertinya pengantin ku tidak mau denganku.''
''Kenapa?'' Zahra khawatir. Membayangkan jika Surya saat ini sedang sedih. Dia terluka lagi oleh wanita,untuk ke dua kalinya.
''Karena sampai saat ini dia belum datang juga . Mungkin aku tidak pantas buatnya, mungkin juga sebenarnya dia tidak menginginkan pernikahan ini juga."
''Siapa dia Mas yang bisa melakukan itu kepada mu. Aku akan bicara dengannya,''
''Apa benar kamu mau berbicara dengannya?''
Zahra diam. Mana mungkin bisa. Bodohnya dia sedang berjalan menuju ke dalam jurang itu sendiri.
Tapi bukankah cinta memang seperti itu. Dia akan selalu membawa sakit di dalam kisahnya. Dan nasib kisah cintanya, sekarang sedang di uji oleh Alloh.
Mungkin Alloh ingin mengetahui seberapa dia mencintai hambanya itu.Mungkin dia ingin tahu, setelah berkali-kali di sakiti, dia masih ingin mengasihi atau berubah membenci.
''Siapa wanita itu?'' Tanya Zahra datar.
''Dia, yang sedang aku telpon saat ini.'' Jawab Surya.
Deg
__ADS_1
''Maksud mu Mas? Apa kamu juga sedang dalam panggilan telpon lainya?'' Tanya Zahra meyakinkan.
''Tidak. Aku sedang menelpon mu seorang.Tidak ada yang lain."
''Ap_apa yang kamu maksud, wanita itu adalah aku?'' Tanya Zahra.
Dadanya mulai bergemuruh. Menggebu-gebu ingin segera mendengar jawaban dari laki-laki yang sekarang membuat hidupnya campur aduk.
''Iya. Maukah kamu menikah dengan ku?'' Ucap Surya lembut , lantang dan juga menantang.
Zahra diam. Dia tidak bergeming, hatinya lusuh seketika. Masih tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar barusan.
''Ada apa?'' Tanya Hanif. Dia cemas saat melihat Zahwa bengong. Dia mengambil ponsel dari tangan Zahwa. Ingin tahu , apa yang sedang terjadi dengan dirinya.
''Assalamualaikum, Aku Hanif. Paman?Ada apa? Apa ada masalah?'' Tanya Hanif, dia mulai bertanya-tanya
''Waalaikumsalam....Aku Surya, apa Zahra baik-baik saja?''
''Saat ini dia baik-baik saja, tapi kenapa? ada apa dia tidak bereaksi apa-apa. Aku bingung harus bagaimana? Dan kamu, kenapa kamu yang mengunakan nomer paman?"
''Hah. Tanyakan pada Zahra? Apakah dia mau menerima ku sebagai suaminya. Jika tidak, aku akan mengatakan pada Abah yai. Untuk membatalkan pernikahan ini."
Ada nada kecewa dari suara Surya. Lagi-lagi, dia akan gagal menikah dengan wanita baik dan pilihannya.
''Drun, ngebut!" Seru Hanif langsung.
Badrun langsung tancap gas.Dia mengemudi mobil dengan cepat. Mendahului kendaraan lain yang tadi sempat dia dia biarkan menyalipnya.
''15 menit. Kami sampai, tunggu kami datang.'' Seru Hanif, dia memberikan jawaban itu pada Surya.
''Drun, tambah kecepatan.''
''Siap Gus!''
Sepertinya tidak hanya Hanif yang samangat, Badru sang sopir Abah yai. Dia seperti menjelma menjadi pembalap liar, dia tidak pedulikan kendaraan apa saja yang di depannya. Dia salip semua.
Kecepatan mobil sudah bertambah dua kali lipat dari awal perjalanan. Mobil itu berjalan layaknya angin.
''Drun..Jangan ngebut-ngebut .Kamu membawa separuh nyawa ku juga saat ini.'' Kata Surya pada Badrun.
Dan di dengar oleh semua penumpang dalam mobil tersebut.
''Siap komandan laksanakan. Saya jamin separuh nyawa anda aman dan selamat sampai tujuan.'' Jawab Badrun tegas.
__ADS_1
Dari semua candaan itu ada yang sedang tersipu malu. Sampai tidak ingin menampakkan wajahnya pada orang-orang di sekitarnya. Dia hanya menatap keluar jendela. Dan menikmati ritme detak jantungnya.