
Zahwa duduk terdiam di tepian ranjang. Hanan mengganti pakaiannya. Dia melirik Zahwa , dia masih saja terdiam. Kenapa dia begitu cepat berubah . Dia cepat senang , cepat marah juga , dan kadang langsung berganti sedih seperti itu.
"Aku bertemu mereka saat perjalanan pulang. Kata kak Surya dia di culik oleh preman.Kebetulan kak Surya lewat dan dia menolongnya. Jadi jangan berfikir negatif, " Kata Hanan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi .
"Begitu kah? Kasihan sekali dia," kata Zahwa. Kini dia terlihat prihatin kepada perempuan itu .
"Kenapa? apa ada yang membuat mu tidak nyaman?" tanya Hanan.
"Tidak! hanya terkejut. Tiba-tiba Mas Surya Surya eh maksudku kalian pulang kerja membawa seorang perempuan" Jawab Zahwa.
Dia tidak mungkin memberitahukan bahwa dia sedih . Karena ini pertama kalinya dia melihat Surya begitu peduli dengan perempuan lain , kecuali dirinya.
"Zahwa! " Panggil Surya. Dia sudah ada di depan pintu kamar mereka. Dengan cepat Zahwa menghampirinya.
"Ada apa?" Tanya Zahwa dengan segera.
Hanan memperhatikan dari jauh.
"Aku boleh pinjam bajumu. Untuk perempuan tadi . Ukurannya mungkin akan sama, " pinta Surya penuh harap.
Pandangan Zahwa nanar. Apa lagi ini? Dia meminta baju untuk wanita lain. Langsung di hadapannya.
Tanpa bersuara Zahwa menuju lemari pakaiannya. Memilih beberapa dan memberikan nya kepada Surya.
"Terima kasih," kata Surya seraya berlalu begitu saja. Tanpa menunggu zahwa bertanya atau menjawabnya.
"Sebenarnya ada apa? Kamu tidak suka perempuan itu memakai baju mu?" Tanya Hanan.
"Tidak. Aku tidak apa-apa. Hanya sedikit lelah, " kata Zahwa mencari alasan.
"Kamu melakukan apa sampai dikit- dikit lelah, dikit-dikit mengantuk, dikit-dikit marah." cibir Hanan.
"Aku sedang tidak ingin bertengkar," Kata Zahwa dingin.
Hanan berhenti untuk mencibirnya. Zahwa sudah tengkurap di kasurnya itu. Hanan duduk , bersandar di tepian lainnya, dia sendiri tidak tahu apa yang harus dia lakukan.
Terdiam , tidak ada yang berbicara. Hanan masih saja memperhatikan Zahwa . Yang masih saja pura-pura tidur.
"Kamu beneran tidur? Emm...sebenarnya tadi aku ingin mengajak mu keluar," Kata Hanan. Dia yakin Zahwa masih mendengarkan nya.
"Tapi sepertinya kamu sedang badmood," Lanjut Hanan.
Zahwa masih saja terdiam , membenamkan wajahnya kedalam bantal.
[Sekacau itukah saat dia cemburu ? Jadi marah-marah tadi bukan berarti dia sedang cemburu kepada ku . Ah ! Apa yang aku fikirkan]
__ADS_1
"Baiklah. Ayo kita keluar< " kata Zahwa kemudian . Dia bangkit dari tidurnya.
"Tidak sekarang aku yang lelah," tolak Hanan menggoda , pura-pura ingin tidur.
Zahwa melotot, bibirnya terkuncir maju ke depan. Dia seperti anak kecil , marah ketika apa yang dia inginkan tidak terpenuhi.
"Cepat bangun! Kau yang ingin mengajak ku. Aku tidak akan sungkan lagi. Akan ku buat kau menyesal karena mengajak ku," kata Zahwa. Dia memukul tubuh Hanan dengan bantal guling.
"Benar katamu. Aku memiliki istri yang kejam dan menyeramkan," ujar Hanan. Dia bangun dari tidurnya , berlagak menyesal.
"Sudah , ayok!" Seru Zahwa. Langsung meraih tangan Hanan, menariknya dari tempat tidur dengan paksa.
"Kamu tidak ganti baju? Aku akan malu jika harus jalan dengan mu dengan penampilan seperti itu . Acak-acakan sekali. Tidak bisakah kau sedikit berdandan," ujar Hanan. Sebenarnya walaupun hanya memakai gamis biasa saja Zahwa masih terlihat menawan. Tetapi kali ini dia ingin menghilangkan raut wajah masam nya gara-gara menahan tangis.
Dengan kesal , Zahwa mengambil baju ganti dari lemarinya. Pergi ke kamar mandi untuk berganti . Dan keluar, setelah terlihat segar. Merias wajahnya di cermin.
Hanan juga sudah berganti, dia memakai kaos dan jaket jins. Terlihat biasa, tapi karena wajah nya yang memang sudah tampan. Memakai apapun tetap terlihat istimewa.
"Ayo! Di larang protes!" Seru Zahwa. Dia mengambil tas selempang. Mengeluarkan isi dompet nya dan hanya memasukkan ponselnya.
"Kenapa kamu mengeluarkan isi dompet mu?'' Tanya Hanan, dia tidak mengerti apa yang di lakukan Zahwa. Kadang tidak bisa dia tebak.
"Agar tidak ada orang yang mencari alasan untuk aku membayar sendiri semua keperluan ku nanti saat di jalan." Kata Zahwa dengan ketus .
Hanan mendengus kesal , dengan terlihat terpaksa dia mengambil satu kartu lagi dari dalam almarinya. Memasukkan ke dalam dompet.
Zahwa tersenyum menang.
"Baiklah ayo kita berangkat . Semakin cepat semakin baik , dan cepat pulang, " kata Hanan dia keluar kamar duluan
"Belum berangkat , sudah memikirkan untuk cepat pulang," dengus Zahwa.
"Mau bagaimana lagi? Tidak ada orang yang ingin rugi," Kata Hanan
"Apa kau bilang? Aku belum membeli apapun kau sudah memikirkan untung rugi," bantah Zahwa.
"Sudahlah, ayo!'' kata Hanan. Dia menggandeng tangan Zahwa turun dari tangga. Mereka melewati ruang makan.
Di sana ada Surya dan tentu perempuan tadi. Dia sudah berganti pakaian milik Zahwa. Sedikit berbeda saat datang tadi dia sudah terlihat bersih, dan juga rapi. Rambut panjang nya dia kuncir di belakang. Memperlihatkan rahang jenjangnya yang putih mulus. Dia juga terlihat cantik.
"Kalian mau kemana?" Tanya Surya
"Berkencan ke kebun binatang!" jawab Hanan sembarangan .
"Untuk apa ke kebun binatang sore-sore seperti ini . Akan berbahaya," bantah Surya. Mempercayai omongan Hanan.
__ADS_1
"Tidak apa-apa. Jika kau mengkhawatirkan Zahwa , tenang saja. Ada aku kan bersamanya," kata Hanan.
Dengan acuh , dia langsung mengajak Zahwa keluar rumah. Mempersilahkan Zahwa masuk ke dalam mobil yang belum dia parkir tadi.
"Apa kita benar akan ke kebun binatang? Jam segini?" Tanya Zahwa tidak percaya. Dia melihat jam tangan di tangannya.
"Kenapa? Aku bilang akan mengajak mu keluarkan . Ke kebun binatang juga termasuk keluar," jawab Hanan santai.
Mobil sudah membawa mereka keluar dari pekarangan rumah.
"Jadi untuk apa kau meminta berdandan jika hanya untuk ke kebun binatang? " Zahwa yang kali ini yang menyesal karena mau saja menerima ajakan suaminya itu.
"Hahahaha, akan tidak bagus juga kan? Kalau kau terlihat lebih cantik dari pada mereka yang ada di kebun binatang " lontar Hanan.
"Sudah lah. Jika hanya untuk menghina ku aku pulang saja," marah Zahwa .
"Kau itu cepat marah, tapi juga cepat tenang , kadang juga tiba-tiba diam. Apa kau juga percaya aku akan mengajak mu ke kebun binatang ? Bahkan kebun binatang saja mungkin tidak akan menerima mu, "
Baru saja Zahwa berfikir baik , hanan sudah membuat nya berfikir negatif lagi .
"Maksudku, kebun binatang sudah tutup saat jam segini," lanjut Hanan .
Dalam hatinya puas membuat Zahwa marah seperti itu.
"Kenapa kau selalu membuat marah , bisa-bisa aku cepat mati jika terus bertahan dengan mu, " kata Zahwa.
Dia sudah agak tenang . Karena ternyata Hanan hanya bercanda soal mengajak nya ke kebun binatang .
"Bagus dong. Dengan begitu aku akan terbebas dari mu. Kau lebih buas, bahkan hewan di kebun binatang tidak sebuas diri mu," kata Hanan menjengkelkan.
"Et , jika kau pukul aku. Kau mengakui sendiri kau itu lebih buas," Sahut Hanan ketika Zahwa ingin meninjunya .
Zahwa terlihat tidak senang. Akhirnya mengurungkan niatnya. Dia memalingkan muka melihat jalanan dari kaca mobil .
"Aku hanya bercanda. Aku minta maaf. Suasana hatimu tidak baik hari ini. Karena itu nih," kata Hanan.
Itulah yang di maksud Hanan , dia memaksa Zahwa untuk bersikap tenang. Jika tidak , mungkin akan percuma dia mengajaknya keluar.
Dengan membuat nya marah , dan hanya ingin memikirkan perkataan nya saja . Itu akan sedikit mengecoh pikiran Zahwa untuk tidak memikirkan Surya lagi .
Zahwa melirik , Hanan menyodorkan kartu kredit miliknya. Dengan cepat Zahwa mengambilnya. Memasukkan ke dalam tas selempangnya.
"Aku akan buat kau menyesal membuat ku seperti tadi, " ancam Zahwa.
Hanan tersenyum. Tidak habis pikiir dengan istrinya itu.
__ADS_1