Hati Yang Terpilih

Hati Yang Terpilih
Episode 38


__ADS_3

"Eh, mbak Zahwa malu?" Goda Elena.


"Sebenarnya tidak yang seperti yang kamu pikirkan. Tapi, ah aku bingung menjelaskan." Kata Zahwa, dia menjadi mengingat kejadian tadi malam lagi.


"Tidak apa-apa, mbak. Apa kamu lupa, aku sebelumnya hidup lingkungan seperti apa. Hal seperti itu biasa aku lihat," Kata Elena. Dia juga kembali mengingat jati dirinya.


Zahwa mengangkat wajahnya dan melihat Elena. Ada perasaan iba pada gadis di sampingnya itu, tidak seharusnya dia mengerti hal-hal seperti itu sebelum dia menikah.


Zahwa terlihat mengatur nafasnya dan mulai mengontrol dirinya kembali.


"Sebenarnya aku belum melakukan itu , hanya tadi malam aku merasa mas Hanan ingin melakukannya," Kata Zahwa entah mengapa dia begitu percaya kepada Elena. Padahal baru saja dia kenal.


"Eh, kok bisa? Maksudku kalian sudah menikah lama kan ? Kenapa belum melakukan hubungan itu?" Tanya Elena, dia penasaran atau ingin tahu tidak terlihat dari wajahnya.


"Kami memang sudah menikah. Tapi saat itu karena terpaksa. Bisa di bilang begitu karena sebenarnya kami juga belum saling mengenal satu sama lain." Terang Zahwa.


"Apa kalian di jodohkan?"


"Iya, orang tua kami yang meminta pernikahan ini. Sebelum mereka meninggal setelah kecelakaan itu."


"Oh, maaf. Aku tidak tahu kejadian itu," kata Elena merasa iba.

__ADS_1


"Tidak apa-apa. Kami sudah baik-baik saja," balas Zahwa dengan senyum.


"Itulah kenapa mas Hanan masih terlihat menjaga jarak ," kata Elena. Dia seperti mengikuti sesuatu.


"Terlihat sekali ya. Jika kami masih sama-sama menjaga jarak?" Kali ini Zahwa terlihat ingin tahu anggap Elena terhadap dirinya dan Hanan.


"Iya. Aku kira kalian hanya sedang bertengkar saja . Karena itulah saat malam pengajian kemarin aku meminta bik asih bersama ku terus. Jika tidak pasti bik asih akan memilih jalan bersamamu. Kamu tidak memiliki waktu untuk bersama mas Hanan," jelas Elena.


"Wah! Jadi mengerjai ku?"


"Hehehe...Tapi sepertinya berhasil membuat kalian lebih dekat, kan? " Ujar Elena


Zahwa tersenyum dan mengangguk, mengiyakan pernyataan itu. Malam itu Hanan sampai menggendong nya pulang gara-gara high heels nya hilang. Tapi ketemu pada waktu paginya.


"Tidak! Tidak! Bukan aku. Kalau soal itu beneran bukan aku," Jawab Elena dengan cepat. Tidak ingin di salahkan.


"Hah! Aku jadi curiga, high heels itu beneran hilang atau memang sengaja di sembunyikan," kata Zahwa.


"Sudah jangan di pikirankan. Toh sudah lewat juga kejadiannya. Di ambil hikmahnya saja, kamu dan mas Hanan menjadi semakin lengket," kata Elena menggoda.


"Hah. Kamu, "

__ADS_1


Untuk pertama kalinya mereka terlihat tertawa bersama, seperti teman yang sudah lama tidak bertemu.


"Ngomong-ngomong , apa kamu sibuk? " Tanya Zahwa


"Setelah tinggal di sini aku tidak mempunyai kesibukan. Selain kadang membantu bik asih,"


"Baiklah kalau begitu. Aku ingin mengajak mu berbelanja. Sebagai permintaan maaf ku karena sikap ku saat pertama kali kita bertemu,"


"Wah! Aku tidak bisa menolak kalau itu," ujar Elena semangat.


"Hahahaha. Kalau begitu ayo kita bersiap!" Seru Zahwa.


Elena mengangguk. Zahwa bangkit dari duduknya, kemudian mereka berjalan bersama dan masuk ke kamar mereka masing-masing.


Setelah hampir satu jam mereka bersiap. Mereka sudah keluar dari kamar masing-masing. Elena yang hanya memiliki beberapa baju, memakai baju milik Zahwa yang dulu pernah ia berikan saat pertama datang ke rumah itu.


"Aku masih memakai bajumu, tidak apa kan?" tanya Elena melihat Zahwa yang memperlihatkan dirinya dengan pakaiannya.


"Tidak. Jika kamu suka ambillah," kata Zahwa dengan senyum. Dia sebenarnya tidak keberatan , tapi masih merasa aneh saja saat ada orang yang memakai bajunya.


"Terima kasih , jangan terlalu baik hati. Takutnya nanti aku akan mengambil semuanya dari mu," kata Elena. Dia mulai bercanda.

__ADS_1


Zahwa hanya tersenyum menanggapinya. Tidak menunggu lama, mereka menuju parkiran mobil dan meninggalkan rumah itu.


__ADS_2