Hati Yang Terpilih

Hati Yang Terpilih
Episode 110


__ADS_3

"Kenapa ini bisa terjadi. Tidak masuk akal, kau yang hamil aku yang mual-mual." Kata Hanan.


Seharian dia terbaring di atas kasur.Rasa mualnya kini bertambah dengan pening di kepala. Dia benar-benar tidak berdaya. Satu suapan saja akan membuatnya memuntahkannya kembali.


Dia hanya memakan makanan asam saja. Sudah beberapa kali zahwa mengupas mangga muda . Hanya mangga itu saja, yang bisa masuk dalam perutnya dan tidak dia muntahkan.


"Aku juga tidak tahu, kenapa kamu yang ngidam." Balas Zahwa.


Zahwa memijat kepala suaminya. Dia biarkan tubuh lemah itu terbaring di pangkuanya. Kasihan melihat suaminya yang begitu tak berdaya. Terbaring dengan menahan rasa sakit di kepala dan rasa mual di perutnya.


"Tapi syukurlah, aku akan lebih khawatir lagi jika kamu yang mengalami rasa sakit ini." Ucap hanan.


Zahwa terharu, suaminya begitu manis. Tapi, jika mereka bisa memilih zahwa pun tidak keberatan jika dirinya yang mengalami gejala-gejala tersebut. Toh, dia yang sedang hamil.


''Ini terjadi, karena kau terlalu mencintaiku." Kata zahwa. Dia tidak berhenti memijat kepala hanan


"Apa hubungannya?! Rasa mual dan cinta," geming Hanan.


"Bukankah, dokter bilang. Ngidam itu terjadi karena ikatan batin antara suami istri yang terlalu kuat."


"Baiklah, salahkan saja cinta. Lagipula aku juga tidak bisa berbuat apa-apa. Aku tidak meminta cinta itu, tapi dia tumbuh sendiri. Kau, juga kenapa terlalu mencintai ku. Andai kau tidak terlalu mencintai ku. Mungkin kamu yang akan mengalami ini semuanya sendiri." Gerutu Hanan.


''Kamu terlalu percaya diri tuan Hanan.'' Zahwa menekan lebih kencang kening Hanan saat dia berkata hal itu.


''Auu... sakit. Jangan terlalu kencang." Ujar Hanan kesakitan.


Zahwa kembali mengendorkan pijatannya. Tidak tega melihat suaminya.


''Apa kamu sudah menentukan vendor mana yang akan kita gunakan nanti?,'' Tanya Hanan.


Selain persiapan pernikahan kakaknya dia juga harus menyiapkan pernikahannya sendiri. Itupun dia harus menyesuaikan dengan keinginan istrinya.


Pernikahan yang tertunda, tapi syukurlah. Mereka tetap bisa merancangnya bersama-sama.


''Kita tentukan dulu tanggal berapa acaranya. Kita juga tidak tahu kan, setelah pernikahan kak Surya nanti, apakah kita bisa melaksanakan resepsi berdua atau tidak. Pertanyaan lainya, apakah calon kakak ipar ku nanti bisa sejalan dengan diri ku. Hah!" Keluh Zahwa.


''Jika tidak, kenapa harus membingungkannya? kita bisa tetap adakan resepsi sendiri. Ini pernikahan kita bukan, entah kak Surya mau ikut atau tidak terserah. Tidak akan menghentikan niat kita juga untuk mengadakan resepsi." Terang Hanan.

__ADS_1


Pijatan Zahwa membuat Hanan lebih baik . Rasanya ingin sekali di tidur. Tapi, Zahwa masih mengajaknya bicara.


''Aku masih menyesalkan, kenapa kakak mu itu tidak memilih Zahra saja. Dia lebih baik.'' Ujar Zahwa.


''Siapa yang tahu, baik dan buruk istri ku. Kau pun dulu menganggap kakak ku yang terbaik. Tapi kenyataannya sekarang, kau menikah dengan ku. Itu artinya, apa yang kau anggap baik,belum tentu terbaik untuk hidup mu.''


''Jangan samakan kisah kita dengan kakak mu. Itu sangatlah berbeda.''


''Apa yang berbeda. Sama saja. Kita berdua menikah, tanpa mengetahui satu sama lain sebelumnya. Kakak ku pun sama, mungkin takdir kita sama.''


''Tapi ada Zahra. Dia mencintainya, seandainya saja kakak mu bisa membuka hati untuk dirinya.''


''Pernah kah, kamu memikirkannya perasaan calon kakak ipar mu. Dia belum sampai di sini, tapi sudah memiliki musuh di rumah ini.''


''Apa maksudmu?'' Tanya Zahwa tidak mengerti.


''Andai kamu ada di posisi calonnya kak Surya. Apa yang kamu lakukan? Mungkin saja, dia juga menikah bukan karena cinta. Dia sama sepertimu, menikah karena perintah orang tua. Dia tidak tahu bagaimana suaminya kelak, dia juga tidak tahu apakah dia akan mencintainya apa tidak nantinya. Bukankah itu pernah kamu rasakan? Tapi sebelum melalui itu semua, dia harus menerima kenyataan, jika ternyata keluarga suaminya tidak menginginkan dirinya.'' Jawab Hanan.


Zahwa diam. Dia baru saja merasakan hal itu. Tidak di terima di tengah-tengah keluarga suaminya adalah hal yang paling menyakitkan bagi seorang menantu.


''Maaf, aku salah. Aku akan menerima kakak ipar ku.'' Ucap Zahwa memelas.


''Baiklah. Sayangku, kamu adalah terbaik.'' Kata Zahwa sambil memeluk suaminya.


''Aku sangat mencintaimu. Jadi aku tidak ingin kamu memiliki kebencian dalam dirimu. Apalagi kebencian yang tidak ada artinya.'' Kata Hanan. Sambil membelai rambut Zahwa lembut.


''Terima kasih banyak atas semua pelajaran, dan bimbingan mu.'' Ucap Zahwa.


''Aku butuh imbalan atas itu,''


''Imbalan? itu tugasmu, sebagai suami sayang."


''Tugas istri adalah menuruti suaminya.''


''Baiklah. Aku kalah, mungkin aku satu-satunya istri yang selalu mengalah pada suami.'' kesal Zahwa.


''Etss... gak boleh marah. Harus ikhlas.''

__ADS_1


''Apa yang kamu inginkan?"


''Hanya_'' Hanan menepuk-nepuk pipinya dengan telunjuknya. Dengan senyum simpul dan jahilnya .


''Cium?"


''Hanya itu?'' Tanya Zahwa.


''Iya. Mudah, kan?"


Dengan senang hati Zahwa langsung mencium Hanan. Namun dengan satu gerakan, Hanan langsung menindihnya. Zahwa berada di dekapan tubuhnya.


''Aduh,'' Keluh Zahwa. Dia terkejut dengan gerakan cepat suaminya. Hingga tubuhnya yang belum siap merasa sakit saat tertindih tubuh suaminya.


Hanan menatap Zahwa lekat . Mengurai rambut panjangnya, dan juga menghilangkan helaian di wajahnya. Dia tidak membiarkan sehelai pun menganggu pemandangan wajah istrinya itu.


Zahwa mengalihkan pandangan dari suaminya yang sedang menatapnya tajam. Dia mengatur nafas yang tersengal-sengal karena harus berbagi udara dengan suaminya.


''Aku akan terus membuat mu bertahan, bukan karena kesabaran, tapi karena rasa cinta.'' Ucap Hanan. Dia mengecup kening Zahwa lembut. Menatapnya lagi dan menenggelamkan wajahnya di leher istrinya. Menikmati aroma tubuh istrinya, dan juga mendengar nafas istrinya yang mulai tidak beraturan.


Tok tok tok


Pintu kamar di ketuk. Keduanya terkejut dan Zahwa segera mendorong tubuh Hanan ke samping.


"Siapa? Ada apa?" Tanya Zahwa setengah berteriak. Dia menuju pintu untuk membukanya seraya memakai hijabnya.


"Ada Aldian. Dia ingin bertemu dengan Hanan. Apa dia sudah mulai membaik?" Tanya Surya dengan celingukan melihat Hanan.


Namun sepertinya, Hanan sudah membaik , lebih baik malah tapi juga lebih buruk. Surya mendapatkan tatapan tajam dari adiknya itu. Seperti singa yang marah karena telah menganggu tidurnya.


Surya panik karena mungkin dia telah menganggu kegiatan adik-adiknya.


''Kami akan turun sebentar lagi kak,'' Kata Zahwa.


''Tidak, jika kalian _ maksudku, Hanan masih belum selesai, eh belum membaik aku akan katakan kepada Aldian untuk datang nanti lagi saja atau bisa menghubungi Hanan terlebih dahulu.'' Kata Surya gugup. Hanan masih menatapnya tajam dan penuh kekesalan.


''Tidak-tidak. Sebentar lagi, aku akan ke bawah . Iya kan, Yang?'' Tanya Zahwa menoleh ke arah suaminya . Hanan langsung memasang muka imut dan tersenyum manis.

__ADS_1


Hanan hanya mengangguk, Zahwa senang melihatnya.


''Ok ,baiklah. Aku pergi dulu.'' Pamit Surya dan langsung cepat-cepat pergi.


__ADS_2