
Pagi sekali Zahra sudah berkemas. Dia menyiapkan satu kotak makanan lengkap dengan minuman dan camilan. Sesekali dia melihat jam di dinding, memastikan jika dia tidak terlambat.
''Zahra, amu benar akan ke kantor polisi sendiri ? Aku tidak bisa mengantar. Aku harus mengurusi beberapa hal di kampus.'' Ujar Hanif. Dia sudah duduk di ruang tamu sejak tadi. Awalnya dia akan mengajak Zahra berangkat bersama ke kampus. Tapi sesampai di rumahnya Zahra sudah terlihat bersiap dengan banyak makan dia juga menceritakan kejadian yang menimpa Surya.
''Aku akan naik bus saja kalau begitu. Mobilku masih di bengkel.'' Kata Zahra.
''Lah, ya udah aku antar aja. Tapi aku langsung ke kampus nanti.''
''Gak telat. Arah kampus sama kantor polisi berlawanan Lo."
''Gak apa-apa. Aku bisa di gepok Pak De kalau biarin kamu jalan sendiri." Ujar Hanif
''Hahaha.Ya wes, Makasih Lo"
Keduanya akhirnya berangkat. Di jalan Hanif bertanya banyak hal tentang kejadian tadi malam. Zahra menceritakan dengan seksama, tanpa meninggalkan sedikitpun kejadian semalam.
''Elena memang cantik sih. Tapi tidak menyangka bisa seperti itu. Dia menemui kita saat di rumah Hanan.Bahkan teman-teman menganggap dia istri nya Hanan.'' Komentar Hanif .
''Malam tadi Mas Hanan juga sangat marah. Tapi dia juga yang menenangkan aku dan Zahwa. Kakak beradik itu hampir sama sifatnya. Sesaat mereka seperti singa yang menakutkan, akan tetapi sejurus kemudian mereka seperti angsa yang tenang-tenang saja. Padahal masalah ini sangat besar. Tuduhan pemerkosaan dan juga menyekap seseorang selama berbulan-bulan." Terang Zahra.
''Jika seperti itu berarti mereka sudah memiliki rencana untuk menghadapi Elena. Aku sangat mengenal Hanan,selam dia bisa tenang. Berarti dia mempunyai siasat yang akan membuat mereka menang."
''Saat mengantar ku pulang dia juga mengatakan cara-cara untuk melawan Elena.Tapi belum semuanya dia katakan kepadaku."
''Tenang saja.Mereka pasti baik-baik saja. Keluarga mereka mempunyai pengaruh besar, kalau hanya masalah seperti itu gampang.'' Kata Hanif santai.
''Kamu mah cuman ngomong. Coba kamu di posisi Mas Surya dan Mas Hanan. Palingan cuman bisa nangis dan mint tolong.'' Ejek Zahra.
''Ya enggaklah. Kalau aku jadi Surya ya aku nikahi aja Elena. Habis anak itu lahir, Test DNA. Jika terbukti bukan anak kandung ya damprat aja. Udah, selesai! Paling dia pengen uangnya Surya.'' Kata Hanif
''Elena mungkin ingin Mas Surya menikahi dirinya. Tapi kenapa sampai harus berbuat seperti itu. Diakan bisa berbicara langsung kepada Mas Surya." Sesal Zahra
''Mas Surya tidak mudah di goda itu jawabannya. Dia memang terlihat polos dan penuh belas kasihan. Tapi soal cinta dia tipe cowok yang setia."
''Dari mana kamu tahu?
__ADS_1
''Ya tahulah. Lawong dia setia sama pacarnya bertahun-tahun selama ini.'' Jawab Hanif.
''Mas Surya sudah punya pacar? Kamu tahu orangnya?'' Kali ini Zahra seperti pemburu yang sedang membidik mangsanya.Dia sangat fokus dengan topik saat ini.
''Kamu belum tahu cerita soal keluarga mereka?" Tanya Hanif. Membuat Zahra semakin penasaran . Dia menggeleng tanda ketidak tahunan.
''Padahal kan sudah menjadi rahasia umum. Mas Surya dan Zahwa dulu pacaran. Tapi saat orang tua Zahwa meminta kepada Orang tua mereka untuk menikahkan anaknya. Mereka mengira yang di maksud adalah Hanan bukan Surya." Terang Hanif. Zahra seketika terkejut. Pertama kalinya mendengar fakta tersebut. Dia mengingat pertama kali dia ketemu Zahwa. Awalnya memang tidak menyukainya, tapi saat mereka bertemu kedua kalinya dan melihat bahwa Zahwa ternyata baik dan bisa merawat Mas Hanan dia berubah pikiran. Dia mulai mengikhlaskan Hanan dengan Zahwa. Tapi kenyataannya lebih pahit. Ada hati yang lebih terluka dari pada dirinya saat itu. Dan dia tetap menahannya dan menyimpan sendirian. Oh...Mas Surya, Begitu mulia rasa cintamu.
"Hoi! Sdah sampai!'' Seru Hanif. Zahra gelagapan dan tersadar dari lamunannya.
''Jangan teriak! Aku mendengarnya.'' Protes Zahra. Dia membawa bawaannya dan segera keluar dari mobil.
"Hubungi aku jika ada apa-apa.'' Pesan Hanif sebelum dia pergi bersama mobilnya.Zahra mengangguk mengerti.
Setelah itu dia ke kantor polisi. Untuk pertama kalinya dia ke sana. Agak takut, tapi dia harus berani.
''Ada yang bisa saya bantu Nona?" Pertanyaan datang dari seorang polwan. Dia sedikit terkejut, dan kemudian lega ada orang yang bisa membantunya.
''Oh.Saya ingin menjenguk Seseorang. Namanya Surya." Jawab Zahra.
''Tunggu di sini. Saya akan panggilkan dulu.'' Kata polwan tersebut. Setelah itu dia pergi meninggalkan Zahra sendiri. Ada perasaan was- was tapi dia coba untuk tenang.
''Zahra!" Panggil Surya. Dia datang dengan di kawal dua polisi. Wajahnya lembam seperti habis di pukuli. Tapi dia tetap menampakkan senyum manisnya. Zahra seketika meneteskan air mata.
''Waduh... Kamu kenapa?" Tanya Surya.Dia sudah duduk di depan Zahra. Wajahnya seketika cemas melihat Zahra menangis. Dia tidak tega melihat wanita bersedih.
''Seharusnya aku yang bertanya begitu. Mas Surya kenapa? Apa mereka memukulimu?'' Tanya Zahra dia berusaha menghentikan tangisnya. Sejak kapan dia bisa menangisi seorang lelaki seperti ini.
''Aku tidak apa-apa.Kamu lihat kan aku baik-baik saja?"
''Itu luka lebam di kening dan pipi mu?" Zahra menunjuk pada luka-luka lebam di wajah Surya. Laki-laki di depannya sungguh malang. Dia harus menerima perlakuan yang tak seharusnya.
''Tidak apa-apa. Mereka sedikit memberikan aku pelajaran. Ini gak sakit. Lebih sakit kalau melihat mu menangis. Hehe...'' Canda Surya.
''Kamu, Mas! Masih saja bercanda," balas Zahra.
__ADS_1
''Hehe...Tapi gak semua cewek Lo yang aku gombalin."
''Iya deh aku percaya."
''Ada apa kamu kesini? Bukannya seharusnya di kampus?'' Tanya Surya.
''Urusan kampus gampang. Sekarang mendingan Mas Surya makan." Jawab Zahra dia membuka tas berisi kotak makan yang sudah ia siapkan tadi.
''Alhamdulillah, terima kasih. Tapi kamu gak usah repot-repot." Kata Surya.
''Gak repot. Mas Makan saja.'' Zahra mengambil satu porsi untuk Surya. Surya melihat itu seketika terkekeh. Membuat Zahra bertanya - tanya.
''Memang benar, ya...Selalu ada Hikmah di balik cobaan. Aku di penjara tapi aku seperti raja di siapin makan dan di jenguk banyak teman. Hehe'' Ujar Surya.
''Sudah banyak orang yang menjenguk Mas Surya?" Tanya Zahra
''Beberapa.Tapi tidak ada yang membawakan makanan sepertimu." Jawab Surya dengan senyum.
''Mas Hanan dan istrinya sudah ke sini?" Tanya Zahra tiba-tiba dia mengingat cerita Hanif.
''Hanan tadi malam sudah ke sini. Dia bersama pengacara keluarga kami. Pulang sudah lewat tengah malam. Mungkin dia akan datang lagi sore, sepulang dari kantor.'' Jawab Surya.
Zahra menanti Surya menyebut nama Zahwa. Tapi sepertinya dia tidak memikirkan itu. Dia menganggap Hanan dan Zahwa sama saja. Ada sebersit tanya dalam benak dan Hati Zahra. Apakah masih ada cinta untuk adik iparnya itu?
Tapi dia tidak mempunyai keberanian untuk menanyakan semuanya.
''Oh iya. Kamu jangan bilang soal aku di penjara ya sama Abahmu. Aku takut beliau ikut khawatir dengan masalahku. Insya Alloh, semoga aku bisa cepat keluar dari penjara sebelum waktu yang telah ku janjikan kepada beliau." Kata Surya.
''Ya Alloh Mas. Dengan kondisi mu seperti ini kamu masih memikirkan Abah.Sekarang fokus saja dengan masalah ini. Abah biar aku yang tangani." Balas Zahra. Tidak tahu, terbuat dari apa hati lelaki di depannya itu. Dia begitu kuat dan juga tegar. Bahkan dia masih saja memikirkan orang lain saat dirinya sendiri tertimpa masalah.
''Iya. Sekali lagi terimakasih. Satu lagi, jika tidak keberatan kamu jenguk aku setiap hari ya. Bawa kitab-kitab ku dan nanti kamu simak lagi bacaan ku " Kata Surya. Semakin membuat Zahra terkesima.
''Baiklah. Setiap hari aku akan ke sini," Balas Zahra.
''Tidak tahu bagaimana nantinya. Tapi saat di penjara pun tidak menjadi penghambat dirinya untuk memperdalam ilmu agama. Abah tidak salah jika memilihnya. Dan aku bersyukur bisa mengenal sosok lelaki seperti dirinya.''
__ADS_1
Batin Zahra