Hati Yang Terpilih

Hati Yang Terpilih
Episode 57


__ADS_3

"Kapan kamu mau pulang?" Tanya Hanan. Dia baru saja menyelesaikan makanannya.


Zahwa berfikir. Dia juga sedang mencuci peralatan makan yang habis digunakan untuk mereka barusan.


"Jika masih ingin di sini juga tidak apa-apa. Aku akan pulang ke rumah ini juga." Tambah Hanan tidak memaksa.


"Aku masih nyaman di sini. Lagipula kita perlu waktu untuk berdua dan juga menjaga jarak dengan Mas Surya." Jawab Zahwa.


Hanan menatap tidak senang. Zahwa masih saja menjadi kakaknya sebagai semua alasan kehidupan mereka.


Tanpa sepengetahuan Zahwa. Hanan sudah beranjak mendekati dirinya. Memeluk Zahwa dari belakang. Membuat Zahwa sedikit tercekat.


Lagi-lagi suaminya mulai berani semena-mena.


"Sudah siang. Seharusnya Mas segera bersiap berangkat kerja." Ujar Zahwa. Dia belum terbiasa dengan kenakalan suaminya tersebut.


"Tidak. Hari ini aku mau di rumah saja." Kata Hanan.


Dia mulai mendekatkan wajahnya pada leher Zahwa tanpa menyibakkan hijabnya. Itupun bisa membuat Zahwa sedikit bergidik geli.


"Jika kamu malas seperti itu jangan menyesal jika ada laki-laki lain yang akan suka rela menafkahinya. " Canda Zahwa. Tapi itu membuat Hanan ingin memberikan pelajaran untuknya.


Hanan menyibakkan hijab Zahwa dengan kasar dan menurunkan sebagian reslisting belakang baju Zahwa. Mulai menghujaninya dengan ciuman. Sontak membuat Zahwa berpaling dan menghentikan kelakuannya tersebut. Dia tidak habis pikir. Kenapa suaminya kini sangat agresif?


Zahwa memandangnya tidak suka.


"Kenapa? Aku suamimu, Kan? Toh kita juga sudah melakukannya." Kata Hanan. Dia tidak suka dengan Zahwa yang menolaknya seperti tadi.


"Aku tahu. Tapi juga lihat sikon dan tempatnya." Protes Zahwa.


"Sudahlah. Kamu memang terpaksa menikah denganku." Kali ini Hanan main perasaan. Dia pergi menaiki tangga dan menuju kamar mereka. Zahwa setelah merapikan baju dan hijab nya segera menyusul suaminya itu.


"Kamar ini juga! Semua tentang mas Surya!" Umpat Hanan. Dia muak melihat dekorasi kamar Zahwa yang memang mirip dengan kamar kakaknya.


Zahwa datang dengan perasaan bersalah. Dengan hati-hati Zahwa mendekati Hanan yang sudah duduk di tepian ranjang membelakangi dirinya.


"Jika kamu tidak suka dengan sikap ku tadi. Aku minta maaf." Kali ini Zahwa benar menyesalinya. Wajah melasnya menunjukkan itu.


"Kamu tidak mengerti Zahwa! Jika saja hati ku bisa bicara mungkin kamu tidak akan sanggup mendengarnya. Aku sudah lelah membuatmu mengerti bahwa aku juga ada. Dan aku suami mu." Lontar Hanan. Untuk pertama kalinya dia mengeluarkan unek-unek dalam hatinya. Zahwa semakin menyesal.


"Aku harus bagaimana? Agar kamu memaafkan aku." Tanya Zahwa.

__ADS_1


"Lupakan Mas Surya. Dan cintai aku!'' Jawab Hanan tegas.


"Aku sudah mencintaimu. Aku memilih mu. Apa itu belum cukup? " Ujar Zahwa.


"Belum. Kamu hanya tidak ingin pernikahan ini hancur. " Bantah Hanan.


Zahwa menangis mendengarkan perkataan Hanan . Masihkah dia salah dalam melakukan semua pengorbanan ini. Zahwa duduk bersimpuh di depan Hanan.


Hanan tidak tega melihat dirinya menangis. Hatinya goyah lagi dan mulai mengendalikan dirinya untuk tidak marah. Lebih sakit lagi saat melihat istrinya itu menangis.


"Kita jalan-jalan," Kata Hanan dengan nada cuek. Membuat Zahwa semakin tidak mengerti.


''Kamu sudah tidak marah?" Tanya Zahwa bingung.


"Masihlah. Aku akan menghapus semua kenangan mu dengan kakak ku. Dengan menghabiskan waktu berdua denganmu. Cepat bersiaplah!'' Jawab Hanan masih ketus.


Dia mengajak jalan. Akan tetapi seperti mengajak perang saja. Zahwa menuruti permintaan Hanan , dia cepat siap. Lagipula mereka memerlukan waktu berdua untuk lebih mengerti satu sama lainnya.


***


Di Rumah Surya.


Surya sudah berkemas untuk bekerja. Beberapa hari ini dia tidak bekerja karena urusan hati. Tapi tidak lagi , mungkin dengan bekerja dia akan lebih mudah melupakan semua kejadian dan kenyataan pahit yang dia alami.


"Tidak apa-apa. Mereka memang harus menghabiskan waktu bersama." Kata Surya. Dia sudah mengikhlaskan semuanya.


"Dan Mas Surya?" Tanya Elena.


"Aku? Aku tetep seperti ini. Haha " Jawab Surya. Dia sendiri belum tahu apa yang dia lakukan nantinya. Tapi yang pasti dia sedang menjalani hidup seperti yang harus dia jalani sekarang.


"Tidak ingin mencoba membuka hati untuk seseorang. Atau mungkin mencari istri?" Tanya Elena.


Surya berhenti mengikat sepatunya. Dia melihat ke arah Elena. Mencari tahu apa maksud dari pertanyaannya.


"Untuk sekarang aku lebih suka seperti ini. " Jawab Surya.


"Semoga setelah ini Mas Surya mendapatkan pengganti yang lebih baik lagi." Harap Elena.


"Amin..." Balas Surya. Dia sudah bersiap berangkat ke kantor.


Elena menyerahkan tas kerja Surya kepadanya. Surya menerima nya dengan senyuman dan mengatakan terimakasih.

__ADS_1


"Oh, Iya. Aku sudah menemukan tempat tinggal yang cocok untukmu. Jika nanti tidak sibuk. Kita bisa langsung ke sana nanti." Kata Surya sebelum dia berangkat.


"Maksudnya?" Elena tidak mengerti


"Aku sudah mengontrak kan rumah untukmu. Kamu juga bisa mengajak ibumu. Dan soal Madam Nur. Aku bisa melunasi hutang-hutang mu nanti. Jadi bersiaplah. " Jelas Surya.


Seketika membuat wajah Elena pucat. Entah apa yang membuat begitu.


"Maaf sebelumnya. Tapi kamu tidak bisa tinggal di rumah ini terus. Apalagi Hanan dan Zahwa juga tidak ada di rumah sekarang. Takut terjadi fitnah." Tambah Surya.


"Oh. Tidak apa-apa Mas. Saya juga sudah banyak merepotkan Mas Dan Semuanya." Balas Elena.


Tidak di ragukan Elena kecewa dengan keputusan Surya yang ingin dia pergi dari rumahnya. Sayangnya, Surya tidak menyadari itu.


Dia kembali ke dalam rumah. Mengambil ponselnya beberapa saat ponsel itu terhubung dengan nomer lainya.


"Kita perlu bicara. Temui aku di tempat biasa." Kata Elena dengan setengah berbisik .


Orang di dalam telpon seperti tidak menyetujui keinginan Elena. Beberapa kali Elena membujuknya dan berdebat dengan dirinya.


"Jam dua siang.Tidak ada waktu lagi!" Kata Elena memaksa.


"Ada apa Mbak Elena? Apa ada sesuatu? " Bik Asih masuk tanpa permisi.Kerena sudah terbiasanya juga dia masuk ke kamar Elena seperti itu.


"Bik Asih. Ah, tidak." Elena terlihat gugup. Dia menyembunyikannya ponsel nya dan memutuskan panggilannya.


"Sebenarnya Mas Surya ingin aku pergi ke dari rumah ini. Dia sudah menyiapkan kontrakan untuk ku dan juga ibu ku." Cerita Elena dengan expresi sedih .


"Oh...Sayang sekali. Padahal saya sudah senang Mbak Elena di sini." Kata Bik Asih.


"Terima kasih ya bik. Sudah menemani ku selama aku di sini." Ujar Elena.


Elena memeluk Bik Asih. Bik Asih menangis sedih, dia menyayangi Elena seperti anak kandungnya sendiri.


"Bantu aku untuk bersiap Bik." Kata Elena


Bik Asih dengan senang hati mengiyakan. Mungkin kini hari terakhir mereka akan bersama.


" Walaupun kadang aku merasa kamutidak menyukai Non Zahwa. Tapi sebaiknya Mbak Elena juga berpamitan dengan Non Zahwa." Tutur Bik Asih.


"Iya Bik. Aku akan berpamitan dengan Mbak Zahwa dan Mas Hanan juga. Bibi mau mengantar aku ke rumah mereka sekarang?" Tanya Elena.

__ADS_1


"Iya. Nanti agak siang saja ya mbak. Setelah pekerjaan Bik Asih selesai." Jawab Bik Asih.


Elena tersenyum senang. Mengisyaratkan sesuatu tapi entah apa itu. Setelah barang nya selesai di kemas dia membantu Bik Asih menyelesaikan pekerjaannya. Agar mereka lekas ke rumah Zahwa.


__ADS_2