Hati Yang Terpilih

Hati Yang Terpilih
Episode 46


__ADS_3

***


Malam hari


Keluarga Zahwa datang bertamu. Zahra kyai Jauhari dan Hanif dan satu sopir mereka.


Zahwa menjamu mereka dengan sangat baik, melihat yang datang bukanlah hanya seorang teman saja , tapi juga kyai besar yang kapan lalu memberikan ceramah di masjid mereka.


"Sakit OPO lee , (Sakit apa nak )?" Tanya kyai Jauhari pada Hanan yang masih terlihat pucat. Dia berusaha terlihat sehat di depan beliau.


"Hanya kecapean Abi," Jawab Hanan.


"Ojo sering di empet to pikirane kui . Ndang di brol ne wae. ( Jangan sering menyimpan banyak masalah dalam pikiran. Cepat di keluarkan saja)" Kata Kyai Jauhari dengan logat bahasa Jawa.


"Nggeh," Hanya itu jawaban Hanan.


"Surya. Bagaimana kamu? Udah dapat jodoh?" Tanya Kyai Jauhari kali ini kepada Surya.


"Doakan saja Abi. Semoga secepatnya bertemu jodohnya," Jawab Surya. Dia terlihat sopan tapi tegas dalam menjawabnya.


"Iya. Piye lek Karo Zahra. Zahra Yo anggel eram golek ane. Gak tau cocok ( Bagaimana kalo sama Zahra, Zahra juga sulit sekali mencari nya . Tidak pernah cocok ," Tawar Kyai Jauhari. Membuat terkejut semua orang yang ada di ruang itu.


Seketika Mata pada ruangan itu tertuju pada Zahra yang sejak tadi duduk diam. Zahra pun tidak kalah terkejutnya dengan penuturan Abahnya.


"Mohon maaf sekali Abi, bukanya mau nolak. Tapi Zahra terlalu baik buat saya. Kasihan jika harus punya suami seperti saya," Jawab Surya. Dia tidak perlu memikirkan dulu untuk menjawab tawaran itu.


Sudah pasti sebab dia masih belum bisa melepaskan kenangan antara dia dan Zahwa. Belum lagi keinginan yang kuat untuk kembali mendapatkan perempuan yang saat ini menjadi adik iparnya tersebut.


Terlebih dia tahu betul jika pernikahan Zahwa dan Hanan adalah sebuah kesalahpahaman.


"Abi mah...Mas Surya kan sudah punya calon. Iya kan Mas?" Kali ini Zahra yang hanya diam saja mulai berbicara.


"Loh Iyo to. la jarene mau jik Arep golek (Lah iya? Katanya tadi masih mau mencari )" Sahut Kyai Jauhari.


"Yang kemarin mungkin belum Jodoh saya," Ujar Surya dengan melirik Zahwa.

__ADS_1


Zahwa yang merasa langsung memalingkan mukanya.


Mereka berbincang-bincang cukup lama, setelah agak malam. Zahwa mempersilahkan mereka semua untuk makan bersama. Hari ini Zahwa sendiri yang memasak. Bik Asih menemani dan membantu sesuai permintaan Zahwa saja.


Semua memuji ke lezatan masakan Zahwa. Tidak ada yang tahu sebelumnya , jika Zahwa jago masak. Selama ini Bik Asih lah yang memasak untuk mereka.


Saat hendak pulang, Kyai Jauhari ingin berbicara serius dengan Hanan. Beliau ingin mereka berdua berbicara berdua saja.


Menunggu mereka berbicara, Zahwa dan lainya berbincang di ruang tamu.


"Mbak Zahwa , boleh kita bicara berdua? " Pinta Zahra.


"Boleh, ayo!" Balas Zahwa.


Mereka menuju teras depan , terdiam sejenak seperti menyiapkan nyali untuk saling berbicara.


"Maaf ya mbak. Aku salah faham kepada mbak saat pertama kali bertemu dulu . Aku bersikap buruk, mengira mbak hanya memanfaatkan Mas Hanan saja " Kata Zahra dengan wajah bersalah.


"Eh, kenapa? Aku tidak merasa kamu bersalah. Wajar jika seseorang bersikap begitu , apalagi kalian dulu kalian saling suka. Semestinya aku meminta maaf, jika bukan karena aku. Pasti kamu yang sedang di posisi ku , menjadi istrinya mas Hanan." Balas Zahwa , dia terus terang.


"Apa kamu menyukai Mas Hanan Zahra?" Tanya Zahwa.


Zahra diam. Bagitu mudahnya Zahwa menanyakan perasaan wanita lain, terhadap suaminya. Itupun tanpa rasa curiga sekalipun.


"Kata orang kami itu sama. Memiliki pola pikir yang sama , kebiasaan hidup yang sama dan kadang juga melakukan hal yang sama. Tapi dalam versi yang berbeda. Karena itulah, banyak orang yang suka dan menyetujui jika kami bersama." Kata Zahra


Dalam hal ini dia tidak boleh egois. Di hadapannya ada istri orang yang dia cinta. Membanggakan dirinyapun itu akan percuma saja.


"Oh. Aku melihat kamu dekat dengan Mas Hanan, walaupun tidak di pungkiri kepada Mas Surya juga. Aku senang akan itu , dan semoga aku juga bisa dekat dengan dirimu juga," Kini Zahwa yang merendahkan dirinya.


"Aku akan senang jika begitu. Kita berteman? Zahra mengulurkan tangannya kepada Zahwa. Dengan senyum mengembang Zahwa menerima uluran tangan Zahra.


Tidak lama mereka sudah beradu canda . Bertukar pikiran dan berbincang cukup lama. Hingga Abi Zahra dan Hanan keluar dari kamar dan kembali bergabung bersama mereka.


Kemudian mereka berpamitan. Ini adalah hari terakhir Kyai Jauhari berada di Jakarta.

__ADS_1


"Ingatlah, Kalian ini masih muda. Cari jodoh perlu istikharah dulu, tapi kalau sudah menikah gak usah perlu lagi Istikharah," Pesan Kyai Jauhari pada mereka semua.


"Doakan saja Abi." Balas Surya


" Aku doakan , Semoga kalian semua bisa gamblang atine " Doa Kyai Jauhari.


Setelah itu , Kyai Jauhari dan rombongan berpamitan dan meninggalkan kesan mendalam padan setiap orang. Termasuk Hanan , dia yang paling merasa kehilangan setelah beliau pulang.


"Tadi Kyai Jauhari bicara apa ?" Tanya Zahwa ketika mereka berada di kamar.


"Beliau hanya menyertakan kisah saja kepadaku," Jawab Hanan.


"Hanya kisah? Kenapa hanya kepada mu saja. Kisah apa yang beliau ceritakan?


"Kisah Nabi Muhammad Saw dengan Istri nya Siti Aisyah. "


"Aku ingin tahu , ceritakan!'' Seru Zahwa.


Dia sudah bersila di hadapan Hanan yang sudah mulai berbaring untuk tidur.


"Aku lelah. Besok saja."


"Ayolah. Sedikit saja," Rayu Zahwa. Dia memohon dengan wajah memelas dan cukup mengemaskan menurut Hanan.


"Baiklah, Kyai Jauhari Menceritakan. Suatu malam, Rasulullah berjalan pulang ke rumah dari masjid. Sesampainya di rumah, ‘Aisyah RA rupanya sedang tertidur lelap. Beliau lantas berupaya agar istrinya itu tidak tersentak bangun. Dengan perlahan-lahan, Rasulullah SAW membuka pintu rumah, sehingga membiarkan istrinya beristirahat. Nabi SAW bahkan memutuskan untuk tidur di luar kamar. Dan ternyata saat malam itu , Siti Aisyah juga sedang menunggu kepulangan Nabi Muhammad . Dia menunggu di depan pintu kamar mereka , hingga tanpa sadar beliau terlelap. Intinya, keduanya saling menunggu dan tidak ingin menggangu."


"Nabi Muhammad tidak tahu , jika istrinya tertidur di balik pintu karena menunggunya dan Aisyah tidak mengetahui jika Rasulullah tertidur di depan pintu kamar , karena tidak ingin mengusik tidurnya. " Lanjut Hanan.


"Oh , Romantisnya. Aku juga pernah mendengar cerita serupa. Tapi aku lupa akan cerita itu." Komentar Zahwa. Dia antusias ingin menceritakannya kepada Hanan. Tapi dia masih memerlukan waktu untuk mengingatnya.


"Kita lanjutkan besok, aku mengantuk." Kata Hanan , dia sudah menahan kantuk dari tadi. Terlebih karena efek obat.


"Sebentar, aku sedang mengingatnya," Cegah Zahwa seraya menarik selimut Hanan yang sudah dia tarik untuk menutupi dirinya .


"Apa-apa kamu ini. Aku sudah mengantuk , besok saja kita lanjutkan. Masih ada waktu." Ujar Hanan kesal dia benar-benar mengantuk dan ingin cepat tidur.

__ADS_1


__ADS_2